Masa Lalu

1261 Kata
"Permisi..." Raka melangkah masuk. Seperti yang dijelaskan Rayhan sebelumnya, perpustakaan ini benar-benar suram. Memang dimana-mana, perpustakaan selalu sepi. Tapi aura disini sangat tidak enak. Seandainya perpustakaan ini buka sampai malam hari, mungkin akan banyak kisah horor yang menyebar. Raka melirik pada meja besar di dekat pintu masuk. Satu set peralatan komputer dan alat-alat tulis berserakan di sana. Seorang laki-laki dengan tubuh besar meliriknya tajam. Raka menarik senyum sopan dan menunduk sedikit. "Kartu?" "Huh?" "Kamu belum pernah kemari? Siapa saja yang masuk ke perpustakaan lantai tiga ini wajib menyerahkan kartu izinnya." Raka mengusap belakang lehernya. "Ah, begitu. Maaf, saya baru masuk hari ini. Jadi, saya belum punya kartu." Kening penjaga perpustakaan itu berkerut. "Baru masuk? Di pertengahan semester begini?" "Y-Ya... Hahaha." "Kalau begitu kemarilah, biar ku data identitasmu supaya kamu juga punya kartunya." "Oh, baik." Raka menarik kursi kayu di hadapannya. "Namaku Dwi, aku penjaga perpustakaan lantai ini. Nama lengkapmu?" "Raka Hanenda." "Kamu ada KTP?" Raka merogoh saku celananya. "Ada Pak. Ini." Pak Dwi tak lagi berbicara pada Raka dan hanya fokus mencatat identitas Raka pada selembar kertas HVS. "Pak Dwi?" "Hm?" "Itu, tadi pagi ada yang jatuh dan lehernya patah. Bapak tahu?" Pak Dwi berhenti menulis, ia melirik wajah Raka sebentar. "Kenapa?" "Eh? Yah... Sebenarnya tidak apa-apa sih. Tapi, saya hanya merasa terganggu karena ini hari pertama saya masuk sekolah ini dan langsung ada tragedi seperti itu." Pak Dwi menyeringai. "Biasakanlah. Hal seperti itu sudah biasa terjadi sejak dulu." "Hah?" Sebelumnya Rayhan mengatakan kalau kakak kelasnya pernah bunuh diri beberapa tahun lalu. Sekarang, pak Dwi mengatakan hal seperti ini sudah biasa terjadi. "Tak perlu dipikirkan, fokus saja dengan belajarmu." "Memangnya hal seperti ini sudah berulang kali terjadi?" Pak Dwi mengangguk. "Semuanya kecelakaan?" "Ada yang bunuh diri. Entahlah benar bunuh diri atau dibunuh atau mungkin kecelakaan. Kenapa kamu penasaran?" Raka menarik sudut-sudut bibirnya, membentuk senyum lebar. "Nggak ada maksud apa-apa kok, Pak. Sebenarnya, tadi teman saya juga mengatakan hal yang sama. Saya hanya sekadar penasaran saja." "Begitu. Lupakan saja." "Kenapa?" Pak Dwi mengangkat bahu. "Tidak terlalu penting untuk masa depanmu 'kan. Lagipula, semua tragedi itu sudah lama berlalu. Juga, kamu baru saja kemari 'kan." "Iya sih, Pak. Maaf, saya hanya begitu tertarik saja dengan kisah-kisah misteri. Rasanya mengalami langsung dengan hanya menonton lewat tayangan atau membaca saja sungguh berbeda. Adrenalin saya terpacu." jelas Raka menggebu. Pak Dwi mengernyit. "Jadi kamu ingin tau karena suka dengan hal-hal seperti ini?" "Hehehe." Raka nyengir lucu. "Makanya pak, saya mohon bapak menceritakannya pada saya. Soalnya saya juga belum punya teman-teman baru." Pak Dwi menghela napas. "Oke. Kalau tujuan mu hanya karena penasaran saja ya tidak masalah." Raka bersorak girang dalam hati. Terpujilah wajahnya yang mudah sekali memasang ekspresi ceria nan polos. "Hm..." pak Dwi mengusap-usap dagunya. "Jadi ku mulai darimana ya." gumamnya. "Memangnya pak Dwi mulai bekerja disini sejak kapan?" "Sudah lama. Mungkin sepuluh atau lima belas tahun lalu, aku agak lupa. Saat aku pertama kali masuk kerja kemari juga kejadian seperti ini pernah terjadi." "Eh? Benarkah?" "Ya. Tapi yang itu tidak sebegitu ramai sih. Ku rasa yang waktu itu benar hanya kecelakaan. Aku ingat satu peristiwa yang benar-benar heboh waktu itu. Kejadiannya belum lama kok, dua tahun yang lalu." "Dua tahun lalu? Berarti anak-anak yang menjadi teman seangkatanku sekarang tau kejadian itu." Pak Dwi mengangguk. "Tapi ku rasa semuanya tutup mulut soal kejadian itu." "Kenapa? Apa terindikasi kematian itu karena pembunuhan?" Pak Dwi mengangkat bahu. "Aku tak terlibat terlalu banyak dengan kejadian itu. Waktu itu, memang pernyataan resmi sekolah bahwa kasus itu murni bunuh diri. Tapi, entahlah banyak sekali hal yang janggal." "Janggal?" "Angkatan di bawahmu sekarang tidak tahu soal kasus itu. Atau kalaupun mereka tau, mereka hanya akan tau bahwa yang waktu itu bunuh diri. Juga, mereka tidak tau bahwa ada dua orang yang mati waktu itu." "D-dua? Kenapa?" "Ku rasa, kematian yang kedua bisa dibilang bunuh diri, tapi yang pertama terlalu janggal." Raka meremat ujung seragamnya. Berbagai pikiran buruk tentang Rayhan memenuhi kepala. Dia seangkatan dengannya yang dengan kata lain pasti tahu pasti tentang kasus dua tahun silam. Lalu, kenapa dia berusaha keras mencegah Raka untuk tahu? "Maksudnya?" "Kematian pertama adalah seorang gadis. Aku tidak mengerti kenapa dia bermain-main di atap padahal kunci akses kesana selalu dipegang oleh pihak keamanan sekolah. Paling banter dibawa oleh tukang bersih-bersih." "Kenapa bapak pikir kematian gadis itu aneh?" Pak Dwi menghela napas. "Pertama seperti yang ku jelaskan tadi, darimana ia mendapatkan akses kunci ke atap sementara saat diperiksa di jasadnya, dia sama sekali tak membawanya. Kunci itu dinyatakan hilang begitu saja. Tidak mungkin dia membuangnya saat berada di atap 'kan. Kamu pasti belum tau atapnya seperti apa. Tapi atap sekolah ini menghadap ke lapangan basket dan lapangan tenis, kalaupun dia melemparkan kunci itu, pasti dengan mudah ditemukan karena kedua lapangan itu ada lantainya 'kan. Tidak mungkin kuncinya tersembunyi." "J-jadi bapak pikir ada seseorang yang membawanya ke atap dan orang itulah yang menghilangkan kuncinya?" "Yah... Itu baru asumsiku saja sebenarnya. Dua tahun sudah berlalu dan aku tidak pernah bisa melupakan kejadian itu. Pihak sekolah juga terkesan menutup-nutupi semuanya, alasannya klise, mereka tidak mau sekolah di cap lalai dalam menjalankan tugasnya sebagai tempat belajar yang aman, dan nyaman." Raka semakin tertarik dengan kisah ini. Detail yang selalu Rayhan larang untuk tahu. "L-lalu alasan lainnya?" "Ada robekan di ujung seragamnya, juga bekas merah di pergelangan tangan." Raka membelalak. "Bukankah bekas merah itu bisa jadi tanda kalau seseorang mencengkram pergelangan tangannya?" Pak Dwi mengangguk. "Ya. Aku juga berpikir seperti itu sejak hari itu. Robekan di bajunya juga tampak aneh. Seluruh pakaiannya tampak halus dan rapi, bahkan rok miliknya masih tampak rapi ketika ia sudah jatuh di bawah, tapi ujung pakaiannya sangat kusut seperti baru saja digenggam atau ditarik-tarik." "Bapak mengutarakan semua ini ke pihak sekolah?" Pak Dwi mengangguk. "Aku sempat mengadukan kecurigaan ku pada pihak sekolah, tapi mereka tidak terlalu percaya. Ada satu guru yang percaya denganku dan juga sama-sama mencurigai kalau kematian itu pembunuhan. Tapi, entah kenapa seminggu kemudian guru itu dipindahkan ke sekolah cabang di luar kota." "Kok gitu? Kenapa pihak sekolah terkesan menutupi segalanya? Bagaimana jika kejadian waktu itu benar-benar pembunuhan? Bukankah pihak gadis itu yang dirugikan, sementara si pembunuh berkeliaran bebas." "Aku juga mengatakannya pada pihak sekolah tapi malah aku terancam dipecat kalau terlalu ikut campur. Aku tidak bisa meneruskannya, aku butuh pekerjaan ini untuk membiayai keluargaku." Raka menggigit bibirnya. "Lalu yang kedua?" "Aku pikir yang kedua mungkin bunuh diri, tapi aku merasa dia berhubungan dengan gadis yang mati sebelumnya." "Hah?" Pak Dwi menumpukan wajahnya pada telapak tangan. "Aku tidak mengerti, semuanya abu-abu. Bisa jadi yang mati kedua cukup dekat dengan yang pertama, pacarnya mungkin, atau teman dekatnya jadi dia merasa sedih dan ikut bunuh diri karena pernyataan resmi sekolah kasus gadis itu murni bunuh diri." "Apa bapak mengenal keduanya?" Pak Dwi menggeleng. "Aku hanya sebatas tau namanya. Mungkin ada di buku tahunan yang lama. Memangnya kenapa?" Raka memasang senyum polos andalannya. "Saya hanya penasaran, pak. Seperti yang saya katakan sebelumnya, saya suka hal-hal misterius begini. Jadi, jika bapak memiliki pengalaman misterius dan bingung untuk menceritakannya kepada siapa, bapak bisa bicara denganku. Teman se-hobi sepertinya menyenangkan." Pak Dwi mengangguk dan tersenyum kecil. Kesan premannya sirna seketika. Ia menarik kartu kecil dari mesin pencetak. "Ini kartumu. Pakai saja kartu ini kalau mau kesini, tak perlu tanda tangan guru, aku memberimu akses khusus." Wajah Raka berbinar. "Wah! Makasih pak." "Ya, ku rasa aku cukup senang dengan responmu terhadap kasus ini. Kita bisa membahasnya lain waktu lagi." Raka mengangguk semangat. "Baik! Kalau begitu, saya mau mencari buku dulu. Permisi." Raka melangkah semangat menuju rak-rak buku besar. Ia menarik sebelah sudut bibirnya, membentuk senyum asimetris. Tujuannya mencari informasi telah sukses. O||O
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN