1. Mimpi Tapi Nyata
"Mas, saya mau pesan makanan." pintaku pada seorang pelayan yang kebetulan melihat ke arahku. Dengan sigap pelayan itu pun berjalan ke arahku sembari menyambar menu, secarik kertas dan pena menghampiriku.
"Silahkan mbak, mau pesan apa?"
"Hem, saya mau pesan ini, ini dan ini ya mas." ucapku sambil menunjuk menu yang aku inginkan.
"Baik mbak, silahkan ditunggu sebentar ya mbak."
"Hem iya, mas."
Sembari menunggu, aku membuka HP Sekedar membaca atau melihat media sosial yang kebetulan bisa mengusir suntuk ketika menunggu.
"Maaf mbak, ini menunya sudah siap."
"Ah ya." ucapku kaget, ternyata menu yang ku pesan tadi sudah tertata rapi di meja.
"Silahkan dinikmati mbak, semoga mbak suka dengan menu dan pelayanan kami. Saya permisi mbak." ucapnya sembari berlalu pergi sambil membawa nampan.
Dengan sigap, aku mulai memindahkan makanan tersebut ke dalam mulut. Entah memang karena lapar atau memang makanannya enak, dengan cepat menu tersebut langsung habis tak bersisa pindah ke dalam perutku.
"Ah kenyang, lumayan menunya enak dan banyak variasi juga." gumamku. Setelah melepas rasa kenyang dan lelah yang mendera baru akhirnya aku memutuskan untuk pergi dari restoran tersebut dan sebelumnya tentu membayar makanan yang sudah ku makan tadi.
"Kan nggak lucu habis makan langsung kabur bisa-bisa aku diteriaki maling oleh pelayan tadi." gumamku sambil tersenyum tipis.
Aku berjalan keluar dari restoran tersebut dan berjalan menuju motor matic yang ku parkir cantik di parkiran restoran.
"Gawat, sudah hampir masuk jam kantor. Wah bisa kena semprot bos galak ini." gumamku dengan tergesa-gesa menghidupkan motor dan segera memacu kecepatannya agar secepat mungkin bisa sampai di kantor tempat ku bekerja.
Tak butuh waktu lama, akhirnya sampai juga di parkiran kantor. Dengan sangat tergesa aku setengah berlari menuju ruanganku agar tak terlambat atau paling tidak pas si bos galak lewat aku sudah duduk di meja kerjaku dengan tersenyum cantik padanya.
Aku yang notaben karyawan baru beberapa hari bekerja tidak tahu siapa bos galak yang sering dibisiki rekan kerja sebelahku.
"Ah Sindi, untung saja kamu segera datang. Klo si bos galak itu melihat ada meja yang kosong satu departemen ini bisa kena semprot."
"Ah masa sih seblak itu." jawabku nggak percaya.
"Emang ada ya manusia seperti itu, sini kasih aku biar ku jadikan suami." ucapku sembarangan sambil cengengesan pada Salsa yang entah mengapa wajahnya sedikit pucat dan seperti memainkan bibirnya.
"Eh, bibir lo kenapa sa?"
"Maaf pak, saya pamit kembali ke meja." ucap Salsha sembari menundukkan kepala dan pergi kabur ke mejanya meninggalkanku diam terpaku seperti besi yang sudah karatan yang jika diterpa angin langsung roboh.
Dengan memberanikan diri, aku memutar kepala serta badan ke arah bos galak yang sering dibicarakan rekan kerja ku. Dan tara jantungku serasa melompat jatuh ke luar dari organ tubuhku.
"Kamu ke ruanganku sekarang!"
“Ba baik Pak." ucapku terbata dengan melirik ke arah Salsa yang telah kabur ke mejanya. Sementara si bos galak tak terlihat lagi batang hidungnya entah pakai ilmu ala-ala ninja kali sehingga dengan sangat cepat dia hilang dari penglihatanku.
Aku terus melihat ke arah Salsa mencoba mencari tahu apa ada yang salah, kenapa tiba-tiba aku dipanggil ke ruangan bos yang galak itu. Namun jawaban yang ku dapat hanya gelengan kepala dari Salsa tanda tak tahu juga apa yang terjadi.
"Ya sudahlah, hadapi saja. Toh palingan juga dipecat dan cari kerja lagi."gumamku.
Aku berjalan gontai ke arah ruangan bos galak yang berada tak jauh dari departemen.
Tok tok tok, ku ketuk pintunya sebelum masuk. Diam terpaku berdiri didepan pintu ruangannya menunggu dipersilahkan masuk.
"Maaf mbak ngapain disini?"
"A anu buk, saya dipanggil untuk keruangan pak Direktur."
"Oh ya sudah tunggu sebentar ya, atas nama siapa ya mbak?"
"Ah saya Sindi, buk."
"Hem baiklah tunggu sebentar ya." ucapnya berlalu pergi dan masuk ke ruangan tersebut.
Penampilannya yang sangat modis dengan tinggi semampai dengan wajah yang sangat cantik.
"Ah sungguh ciptaan Tuhan yang sempurna" gumamku.
"Mbak, silahkan masuk. Sudah ditunggu di dalam."
"Maaf buk, kira-kira saya kesini disuruh kenapa ya?" tanyaku hati-hati takut salah bicara, namun jawaban dari cewek yang ku tanya hanya tersenyum jahil.
"Mbak coba tanya saja sama pak Direktur di dalam, kali saja mungkin mau ajak mbak nikah." ucapnya sambil tertawa dan pergi ke mejanya.
"Ah nggak lucu buk," jawabku dengan wajah yang memelas dan lutut yang mulai goyah. Rasanya kakiku mengecil dan tak mampu menopang berat tubuhku.
"Oh Tuhan, apalagi salahku kali ini." gumamku dalam hati. Aku berjalan dengan langkah sangat gontai dan sangat lambat, rasanya ingin kabur saja dari sini. Tanpa terasa aku sudah berdiri di dalam ruangannya dengan posisi kepala menunduk.
"Silahkan duduk."
"Ha apa pak?"
"Duduk."
"O iya duduk." jawabku tersenyum kecut.
Aku sangat grogi tiba-tiba dia melihat ku dengan tatapan yang mematikan namun teduh, entah mengapa tanpa sengaja aku menatap mukanya dan beradu pandang dengan mata elangnya.
"Ah matanya, seperti ada sesuatu yang menarikku untuk tetap berlama-lama di sini." pikirku.
"Hei!"
"A iya pak, ada apa?" jawabku terbata.
"Setelah ini silahkan kamu bersiap-siap, Saya tunggu tiga puluh menit lagi di parkiran."
"A apa pak, apa saya dipecat? Salah saya apa pak?" tanyaku tergagap, masa iya baru bekerja beberapa hari sudah dipecat.
"Siapa yang memecatmu, apa telingamu bermasalah atau apa perlu saya ulangi lagi!"
"Ti tidak pak, baik saya akan bersiap segera." ucapku terbata sambil melihat ke kertas yang dipegangnya selintas terlihat seperti fotoku di berkas kertas itu. Namun karena gugup, aku tidak berpikir yang macam-macam.
"Ya sudah, silahkan keluar."
"Ba baik Pak."
Aku berlalu keluar dan menuju ke meja ku sambil berpikir "rasanya suara dan wajahnya tidak asing, rasa-rasa pernah bertemu, tapi dimana ya?" pikirku.
"Ah sudahlah, yang penting siap-siap dulu saja. Jika terlambat bisa-bisa kena marah lagi." gumamku dengan sigap membereskan meja kerja dan tasku.
"Eh Sindi, mau kemana?"
"Eh kamu sa, ngagetin aja. Ntah, aku juga nggak tau nih mau kemana. Kamu mau ikut nggak?" tawarku.
"Ogah, takut sama bos killer."
"Ah ya sudah, aku duluan ya."
"Ho Oh." ucap Salsha dengan wajah sedikit bingung melihatku pulang pas jam kerja.
Kulirik jam tangan ku terlihat masih sisa sepuluh menit, "cukuplah untuk sampai ke parkiran" pikirku.
Dengan sangat tergesa-gesa aku setengah berlari menuju parkiran dan terlihat bos galak tadi sudah menungguku dengan setelan jas kantornya, "ternyata tampan juga dipandang." gumamku dan entah mengapa terbesit senyum di bibirku sambil melihatnya.
"Lama amat kamu sampainya."
"Maaf pak, belum juga tiga puluh menit pak."
"Hem, masuk."
"Ba baik pak, eh tunggu pak kita mau kemana?"
"Sudah naik saja."
"Motor saya gimana pak?"
"Gampang, nanti biar sopir yang bawa. Mana kuncinya?"
Aku dengan bodohnya menyerahkan kunci motor kesayanganku pada bos galak yang dingin ini. Dan dengan sigap dia menyerahkan kunci tersebut ke sopir dan berbicara, entah apa yang mereka bicarakan.
"Pasang sabuknya."
"Eh iya pak."
Diam tidak ada suara selama di perjalanan, dan mobil berhenti di depan sebuah butik yang menurutku cukup eh salah sangat mahal untuk ukuran orang seperti ku.
"Turun."
"Eh iya pak."
"Ngapain ya aku diajak kesini, mau ngapain coba. Apa jangan-jangan dia mau menemui pacar atau sejenisnya dan berniat menjadikanku pelayannya kali ya" pikirku.
"Selamat datang di butik kami pak, ada yang bisa kami bantu pak?" tanya pelayan padanya.
"Hem, tolong berikan wanita ini baju yang cocok untuknya."
"Ha?" aku kaget mendengar omongan si bos ini, "Baju yang cocok untukku." maksudnya apa ini
"Baik pak, silahkan ditunggu sebentar pak."
"Hem iya." jawabnya singkat.
"E maaf pak, ini maksudnya apa ya?" tanyaku dengan penuh selidik namun usahaku sia-sia karena terlanjur sudah ditarik dan dengan sedikit di dorong oleh para pelayan.
Ada beberapa pelayan yang sibuk mondar mandir membawakan baju dan memintaku untuk mencobanya. Dengan masih keheranan dan pertanyaan yang sangat banyak di benakku, aku menurut saja mengikuti arahan mereka. Ku ganti dan ku coba pakaian demi pakaian dan berjalan bak model memperlihatkan pada bos galak ku ini. Entah sudah berapa banyak baju yang ku coba dengan gelengan kepala dari si bos galak ini, Jujur, aku sangat lelah dengan semua drama ini. Dan akhirnya ada juga baju yang membuat dia tersenyum dan memberikan jempol tanda suka pada pelayan.
Setelah ku lihat di kaca besar yang terpajang di depanku, dan aku memperhatikan tubuhku sendiri.
"Cantik, sungguh cantik." gumamku. Ternyata pilihannya jatuh padu baju gaun berwarna hitam selutut dengan taburan kerlap kerlip seperti lampu disko.
Setelah baju, aku di bawa oleh pelayan duduk dan terlihat pelayan yang lain sudah menunggu dengan sepatu hak tinggi sudah menunggu, entah tujuh atau sepuluh senti tingginya.
"Mati aku, bagaimana cara pakainya itu sepatunya tinggi amat," gumamku.
Setelah ada yang pas di kakiku dan ternyata tingginya hanya lima centian lah ku rasa aman tidak repot. Aku dipaksa mencoba beberapa perhiasan kalung dan giwang mengikuti gaun yang ku pakai dan tak lupa pula rambutku ditata dengan cantik. Aku mengerjapkan mata tak percaya melihat sosok wanita cantik yang berada di cermin menatapku. Belum habis mengagumi diri sendiri, aku sudah dibawa kembali menuju ke tempat si bos galak berada. Awalnya dia acuh saja dan pas melihatku tiba-tiba dia berdiri memandang takjub padaku.
"Halo Pak." ucapku membuyarkan lamunannya.
"Ah iya, sudah selesai. Ayo berangkat." ucapnya sambil memberi kode pada pelayan entah apa yang aku tidak mengerti.
"Pak, maaf sebenarnya kita mau kemana ya, dan ini kenapa saya harus berganti pakaian?"
"Sudah, kamu ikut saja. nanti kamu cukup menjawab iya dan anggukan kepala saja apa yang saya ucapkan. Kamu paham?"
"Eh iya paham pak." jawabku gugup, aku berpikir setengah mati mau kemana ini, kenapa aku hanya diminta menjawab iya dan anggukkan kepala.
"Dia tidak menjual ku nantikan." pikirku.
Setelah berkendara sekitar tiga puluh menit, mobil berhenti didepan sebuah restoran mahal.
"Turun, ingat cukup jawab iya dan anggukan kepala."
"Ah iya pak, beres." jawabku sambil mengacungkan jempol.
"Dan satu lagi jangan panggil saya pak, tapi mas."
"Ha, maksudnya apa ya pak?" Tiba-tiba dia melihat tajam padaku.
"Menurut saja apa yang saya katakan."
"Eh baik pak, mas." jawabku gugup.
"Aduh apa ini, ya Tuhan drama apa ini yang sedang ku jalani." pikirku.
Dan entah mengapa si bos galak ini membimbing tanganku masuk menuju restoran mahal ini dan membuat aku semakin merasa aneh dan canggung.
"Ini tidak mimpi kan?" gumamku sambil menepuk pipiku.
"Kamu tidak mimpi." ucapnya kaku.
"Ah iya tidak mimpi." jawabku sambil tertawa terpaksa menutupi rasa grogi yang dari tadi melanda.
"Halo mom, dad." sapanya sambil bersalaman pada kedua orang yang berada didepanku. Tampilan yang sangat mewah mampu menutupi usia mereka sepertinya.
"Halo boys, siapa ini? Tumben kamu bawa wanita menemui kami."
"Hem, kenalkan dia Sindy calon tunanganku."
"Ha apa pak?" tanyaku setengah berbisik sambil melihatnya dengan terkejut tak percaya dengan ucapannya.
"Ayo salam dulu dengan orang tua ku."
"Eh iya, salam om, tante. Kenalkan Sindy." ucapku sambil menyalami kedua orang didepanku dengan wajah senyum semanis mungkin.
"Oh Tuhan, lebih baik aku kerja jadi kuli panggul daripada berada di suasana seperti ini." pikirku.
"Silahkan duduk nak Sindy."
"Baik tante, terimakasih ."'
"Silahkan pesan mau makan apa?"
"Eh iya om, saya ikut sama pesanan mas saja." jawabku, mas siapa aku pun tidak tau namanya.
"Oh ya sambil menunggu makanan datang, benar kamu ini tunangannya bocah ini?"
"Ah iya benar om. Saya calon tunangannya." jawabku dengan suara sangat yakin entah keberanian darimana tiba-tiba aku bisa seyakin itu menjawab pertanyaan yang begitu penting.
"O." ucap mereka serempak sambil manggut-manggut dengan senyum mengambang.
"Akhirnya mam, anak kita semata wayang ini memutuskan melepaskan masa lajangnya juga."
"Iya pa, mama senang banget. Ah akhinya saat-saat yang dinantikan segera datang juga. Kapan kalian berencana melangsungkan pernikahan, nggak usah tunangan langsung nikah saja ya kan pap?"
"Iya langsung saja, bagaimana bulan depan."
"Ya bulan depan aja Pa, semakin cepat semakin baik. Mama takut nanti kalau lama-lama yang ada nih anak berubah pikiran."
Mereka terlihat sibuk bicara dan entah mengapa tiba-tiba aku tidak mengerti sama sekali apa yang mereka bicarakan dan aku merasa berada di tengah-tengah pasar dengan suara yang sangat bising. Dan tiba-tiba saja nafasku sesak dan pandanganku mulai kabur tak tentu arah. Dan akhirnya aku merasakan tubuhku rasanya melayang dan akhirnya....
Bruk,
Aku jatuh pingsan tepat di saat makanan sudah disajikan pelayan. Entah mengapa semua tiba-tiba dan ini membuat ku sangat terkejut. Tak pernah ku bayangkan jalan hidupku seperti ini, seperti kisah dongeng saja yang judulnya itik buruk rupa berubah menjadi angsa cantik.
Entah berapa lama aku pingsan dan entah bagaimana pula cara makannya, aku pun tidak tahu. Ketika aku buka mata terlihat ruangan yang serba putih tapi terlihat mewah di mataku. Dan ketika aku mau bangun, rasa ada yang menusuk pergelangan tanganku.
"Ah, sakit. Ternyata infus." pikirku sambil menoleh ke tangan ku yang terpasang infus.
"Dasar orang kaya, apa-apa selalu dibesarkan. Di kampung ku saja orang pingsan cukup di kasih minyak angin atau di cipratkan air juga sudah bangun." pikirku.
"Sudah bangun?"
"E iya pak, sudah bangun."
"Maaf, saya membuatmu begini." ucapnya dan terlihat ada guratan penyesalan di mukanya.
"Eh tak apa pak. Saya juga tahu, bapak cuma memanfaatkan saya kan untuk membohongi kedua orang tua bapak?" tanyaku tak ingin berharap yang manis-manis, karena siapa coba wanita yang tidak mau menjadi istrinya tapi sayang galaknya, ngeri-ngeri sedap.
"Saya memang dipaksa oleh mereka untuk menikah, dan pertemuan kemarin merupakan saat terakhir bagi saya untuk membawa calon saya sendiri. Jika tidak mereka akan mencarikan pasangan untuk saya dan tentunya itu sesuai selera mereka."
"Tu tunggu pak, pertemuan kemarin. Maksud bapak..."
"Ya, kamu sudah pingsan satu hari satu malam. Tadinya kedua orang tuaku disini menunggu kamu siuman. Tapi karena kamu tak kunjung bangun akhirnya mereka memutuskan pulang."
"Cukup lama juga, saya tertidur disini. Eh maaf pak ini, biaya kamarnya berapa ya satu malam? Saya baru bekerja pak, takut nanti tabungan yang saya punya tidak cukup." ucapku.
Pletak, dia memukul kening ku dan anehnya itu tidak sakit. Eh dia tersenyum padaku.
"Biaya disini saya yang tanggung, kamu kan calon tunangan dan sebentar lagi akan menjadi istri saya."
"Haa," jawabku kaget sambil memegang kepala ku yang tidak pusing juga.
"Eh tunggu jangan pingsan lagi." ucapnya buru-buru.
"Ha, siapa yang pingsan pak?" tanyaku.
"Ya kamu yang pingsan kayak kemarin lagi."
"Ah tidak, saya tidak pingsan pak cuma pusing aja. Mimpi apa saya kemarin ya. Pak, saya mau pulang saja pak. Rasa-rasanya ini terlalu aneh. Takutnya saya mimpi betulan pak." kataku yang masih bingung dengan keadaan.
"Baiklah, saya akan temui dokter dulu. Jika mereka bilang kamu sudah tidak apa-apa maka saya akan antar kamu pulang."
Dan segera ia berlalu ke luar ruangan meninggalkanku yang masih lengkap dengan rasa heran ditambah bingung.
"Keadaan seperti apa ini, mimpi kali ya? Masa sih, orang setampan dan setajir dia mau sama wanita seperti aku ini. Cantik nggak, tajir nggak, berpendidikan juga tamatan sarjana dari kampung pula. Apanya yang mau dibanggakan. Eh tunggu, kalau cantik mungkin iya kali ya." ucapku bicara sendiri.
"Ah sudah lah bikin pusing saja, mana tau ini cuma lelucon orang kaya. Orang kaya kan bebas bikin lelucon apa saja lha kita yang nggak punya apa-apa ini mikir kali bikin lelucon kayak gini, baju mahal, restoran mahal uang dari mana coba." omonganku semakin tak karuan.
Dan ternyata ada suara pintu dibuka, aku langsung pura-pura diam saja sambil mata menuju layar televisi didepanku.
"Kata dokter, kamu sudah boleh pulang. Kondisimu tidak apa-apa."
"Memang saya tidak apa-apa pak." jawabku.
Aku langsung berdiri dan maunya berjalan tapi dengan cekatan dia menggendong tubuhku ala orang barat entah apa namanya.
"Pak, turunkan saya. Saya bisa jalan pak."
"Sudah kamu diam saja, oh ya jangan lupa pegangan nanti jatuh."
"Ha," jawabku melongo namun tangan ini entah kenapa menurut dengan ucapannya.
Tak lama, kami sampai di mobil. Dia minta bantuan pada satpam untuk membuka pintu dan dengan sangat hati-hati mendudukkanku di kursi mobil seperti barang porselen yang mewah saja, pikirku.
Dia mulai menyetir mobil, suasana di mobil diam tak ada suara sibuk dengan pikiran masing-masing.
"Eh." ucapku kaget ketika melihat jalan menuju rumahku, "darimana si bos galak ini tau rumah kontrakan ku," pikirku.
Setelah berhenti tepat di depan rumah petak yang memang untuk rumah kontrakan, dia tergesa-gesa membuka pintu mobil dan membuka pintu mobilku. Dan sepertinya hendak menggendong ku lagi, entah ketagihan mungkin ya.
"Eh tidak usah pak, saya bisa jalan sendiri. Tidak enak dilihat yang lain." gumamku sambil melihat tetangga kiri kanan pada keluar melihat mobil mentereng parkir di depan kontrakan. Entah apa yang mereka pikirkan, yang jelas aku merasa sedikit was-was.
"Pasti habis ini, aku bakalan jadi bahan gibahan mereka." pikirku.
"O, baiklah. Silahkan turun tapi hati-hati." ucapnya sambil tangannya membantuku turun.
Entah dapat kunci kontrakanku dari mana, tiba-tiba dia sudah membuka pintu dan menyuruhku masuk.
"Maaf. Saat kamu pingsan kemarin, saya membuka tas mu buat mencari nomor atau apa yang bisa saya hubungi ternyata tidak ada."
"O," jawabku singkat dengan wajah yang masih bingung.
"Terima Kasih pak, sudah mengantarkan saya. Em itu bapak boleh kembali kok. Saya sudah tidak apa-apa." kataku mengusirnya dengan sopan. Bagaimanapun juga ini rumah kontrakan yang dindingnya itu menempel dengan dinding lain dan berjejer. Takutnya semakin lama tuh mobil bagus parkir di depan kontrakan ini, maka semakin bahaya dan terancam nyawaku.
"O, baiklah. Nanti kalau ada apa-apa hubungi saya. Saya sudah menyimpan nomor yang bisa kamu hubungi di teleponmu."
"Eh iya pak," jawabku bingung.
"Saya pamit, jangan lupa jaga kesehatan cepat pulih dan satu lagi, jika kamu masih belum merasa sehat tidak usah masuk dulu."
"Eh baik pak." jawabku masih bingung.
Dan dia berlalu keluar meninggalkanku, dia juga menutup pintu rumahku dan dengan sigap aku mencoba melihat dari jendela kepergian si bos galak ku ini, terlihat dia tersenyum sambil menganggukan kepala pada tetangga yang melihat sebelum masuk mobil dan berlalu pergi.
"Ah, sudah pergi ternyata. Ini beneran bukan sih." ucapku sambil menampar pipi sendiri dan entah mengapa rasanya sakit juga.
Belum juga, aku sempat merebahkan tubuh di kasur tiba-tiba pintu kontrakan ku dibuka dan terlihat para tetangga masuk.
"Sin, itu siapa cakep bener?"
"Nemu dimana? Ada lagi nggak kayak begituan?"
Pertanyaan aneh yang mereka sodorkan membuat ku tambah pusing.
"Eh itu bos aku, sudah kalian pada pulang jangan mikir macam-macam, aku mau istirahat." usirku sambil mendorong mereka semua keluar.
"Ye kamu Sin, nanya saja pelit amat sih. Dapat rejeki bagi-bagi kita kenapa?" ucap mereka serentak tak terima aku usir keluar.
Dan setelah mereka keluar semua dengan sigap aku mengunci pintu dari dalam takutnya nanti masuk lagi tamu tak diundang dan nyerocos sembarangan.