"Apa sebaiknya besok aku masuk kerja saja ya, sayang jika tidak masuk kerja gaji ku akan dipotong. Jika dipotong bagaimana aku bisa menabung dan menyisihkan sebagian uang untuk bayar rumah sakit kemarin. Rumah sakit kemarin itu pasti mahal." ucapku.
Tubuh yang belum pulih betul membuat ku segera terlelap hingga tak merasakan siang sudah berganti malam. Dan perut yang keroncongan memberontak minta diisi secepat mungkin.
Aku segera bangkit dan mencari sesuatu yang bisa ku makan, apa ajalah yang penting bisa mengganjal perut dan bisa membuat ku tidur lagi. Setelah dirasa cukup, aku melanjutkan kembali tidur dan memasang alarm terlebih dahulu agar tidak terlambat masuk kantor besok.
Kring....Kring....Kring.
Bunyi alarm yang ku pasang membangunkan tidurku dan itu artinya jam sudah menunjukkan pukul lima pagi. Bergegas mandi, menyiapkan sarapan ala kadarnya, mengisi perut sebelum berangkat kerja, dan pukul setengah tujuh aku sudah bersiap untuk berangkat dengan motor kesayanganku. Perjalanan dari kontrakan menuju kantor sebenarnya bisa ditempuh dalam waktu tiga puluh menit saja, namun itu jika laju kendaraan normal tidak macet. Menghindari macet tersebut, aku terpaksa harus berangkat lebih cepat dari semestinya, takut saja kalau si bos galak itu datang lebih dulu.
Tak lama, motorku sudah sampai di parkiran kantor tempat ku bekerja.
"Hai Sin, kemarin kamu kemana kok nggak ngantor?"
"Ah itu, anu..."
"Eh ada yang lebih aneh lagi, ada kabar yang buat izin untuk kamu itu si bos galak lho."
"Eh yang beneran kamu Sa?"
"Iya, kamu juga nggak percaya kan? Sama, aku juga nggak?"
"Ya sudah, ayo segera ke ruangan nanti telat dimarahi lagi. Kan nggak lucu sudah datangnya cepat eh taunya malah tetap telat juga." ucap ku nyengir.
"Ah ayo, lets go baby..."
"Lagakmu Sa, gaya omong orang barat macam pintar saja bahasa inggris."
"Eh emang itukan bahasanya, salah ya pengucapannya."
"Ya terserah mu deh, yuk capcus neng." ucapku sambil setengah menarik tangannya agar berjalan menuju ke ruangan kami.
Setelah sampai di ruangan ternyata bukan kami orang pertama yang datang, sudah mulai banyak orang. Yah memang begitulah aturan di kantor tempatku bekerja sangat diharamkan untuk datang terlambat. Maklum bosnya galak.
Tak lama nampak si bos galak berjalan menuju ruangannya dan terlebih dahulu melewati ruangan tepatnya meja kerjaku dengan Salsa. Pas dia melihat ke meja kerja ku, dan entah mengapa aku juga melihat padanya, terlihat dia mengerutkan kening dan tetap berjalan menuju ruangannya.
"Mbak Cindy kan?"
"Eh iya bu, ada apa?"
"Segera ikut saya ke ruangan direktur."
"Haa, apa buk?"
"Ikut saya ke ruangan direktur sekarang."
"Mati aku, kali ini apa lagi kesalahanku. Duh Gusti Allah apa lagi cobaan yang hendak kau berikan pada hamba ini."
"Sudah berdoa nya nanti saja, atau mbak mau jalan sendiri ke ruangan direktur?"
"Eh jangan buk, iya saya ikut ibuk saja."
Aku melirik ke arah Salsa yang juga sama terkejutnya denganku. Apa lagi kali ini yang akan dilakukan oleh si bos galak ini, pikirku.
"Langsung masuk saja mbak, sudah ditungguin sama calon suami eh pak direktur." ucap buk sekretaris sambil tersenyum sangat manis.
"Ha apa buk?"
"Sudah buruan sana, ntar kena omelin lagi. Mbak kena omelin, saya juga kecipratan omelan ntar."
"Ah iya bu, terimakasih." ucapku sambil masuk ke ruangan si bos galak. Terlihat dia sedang duduk di kursi kebesarannya sambil memeriksa berkas.
"Ehm duduk, dan tunggu sebentar sampai saya selesai memeriksa file ini."
"Eh iya pak." ucapku sambil berpikir duduk dimana ya, duduk di kursi yang ada di depan mejanya atau di kursi tamu?
"Hei, kenapa masih berdiri? Apa kamu mau pingsan lagi dan biar saya menggendong tubuh mu lagi?"
"Ah tidak pak, maaf." ucapku sambil tersenyum dan segera duduk di kursi tamu, ngeri juga jika duduk di dekatnya.
Tak lama terlihat dia menutup berkas dan membawa beberapa lembaran kertas menghampiri ku.
"Silahkan kamu lihat dan pilih sendiri."
"Apa ini pak?" tanyaku sambil menerima brosur yang diberikan.
"E ini kan buat acara pernikahan pak, kok bapak kasih ke saya? Emang siapa yang nikah pak?" ucapku polos sementara dia terlihat memukul jidatnya.
"Ah dasar gadis bodoh, apa kamu lupa bulan depan kita akan menikah?"
"Haaa." ucapku kaget setengah mati.
"Hahahahaha, bapak bercanda. Ini nggak lucu tau." ucapku dengan tampang masam.
"Apa kamu melihat saya bercanda, dan apa kamu menganggap pertemuan dengan orang tua saya juga bercanda. Kan kamu sendiri yang minta mau jadikan saya suami mu."
"Eh kapan pak? Rasanya saya nggak ada ngomong, lagian mana berani pak. Mimpinya ketinggian, kalau jatuh sakit pak." ucapku mencoba mencairkan suasana.
"Hah terserah. Yang jelas tentukan pilihanmu mana yang suka biar nanti Clara mengurusnya."
"Pak, saya nggak paham maksudnya apa ya pak?"
"Aduh, otakmu ketinggalan di mana sih. Bulan depan kita akan menikah Cindy Aprilia Putri bin Sujono."
"Haaa, bapak tau nama lengkap saya?"
"Apa lagi yang saya tidak tahu tentangmu, kamu pikir saya memilih calon istri asal comot haha? Tentu saja tidak, dasar bodoh."
Aku masih bingung, ini sebenarnya ada apa ya. Mimpi apa aku ya sehingga ketiban pangeran berkuda putih yang tampan dan kaya raya begini. Karena aku tidak juga memilih brosur hanya melihat saja, terlihat dia menelepon seseorang dan menyuruh masuk.
"Ada apa kak, eh pak?"
"Clara, tolong kamu bantu dia menentukan pilihan WO mana yang mau dipakai dan tema apa yang bagus buat acara pernikahan kami."
"Ha, kok saya kak. Itu kan harusnya kalian berdua yang memutuskan. Yang nikah kakak kok saya yang milih. Ada-ada saja."
"Sudah jangan banyak bicara, bantu dia memilih nanti kakak tambahin bonusmu."
"Benar ya kak, nambahin bonus awas saja klo cuma modus."
"Iya."
Aku bingung plus heran mendengarkan percakapan mereka yang sangat akrab bahkan terkesan bukan bos sama bawahannya.
"Sini mbak eh kakak ipar, adik ipar bantu." ucapnya cengengesan.
"Ha?" jawabku bengong.
"Sudah nggak usah bengong, kenalin Clara Wijaya putri semata wayang Wijaya Kusuma dan adik kesayangan dari Brama Putra Wijaya yang sebentar lagi akan jadi suami kakak."
"Haaa."
"Aduh kakak ini kok lemot banget sih, Kak Bram nemu dimana sih kakak ini?"
"Itu mungut di depan."
"Eh tunggu ibu sama pak bos ini saudaraan?"
"Iya, kakak ipar. Saudara kandung satu ayah satu ibu. Kan tadi sudah perkenalan."
"O, eh kok nggak ada kabar yang beredar tentang ibu dan bapak?"
"Ya memang nggak kak, karena dirahasiakan. Hanya orang-orang tertentu yang tahu dan sekarang tambah kakak satu orang lago yang tahu. Dan ingat rahasia ini nggak boleh ada yang tahu lo. Repot ntar kalo karyawan lain pada tahu."
"O, begitu."
"Ini kenapa malah bahas persaudaran sih, kakak panggil kamu ke sini buat bantuin dia. Buruan."
"Iya iya nggak sabaran amat sih yang mau nikah."
"Siapa yang nikah buk"
"Astaga oh Tuhan, ini calon siapa sih lemot amat. Kakak ganti gih otak calon istri kakak sama yang agak canggihan dikit." Ucap Clara mulai kesal dengan tingkahku yang polos bin lugu dan nggak mudeng alias nggak nyambung sama ucapan mereka.
"Hahaha, rasain kamu Clara. Sudah kamu saja yang milih. Yang mana menurut kamu bagus dan cocok langsung koordinasi saja. Selesaikan cepat, mama dan papa cuma kasih waktu sama kakak satu bulan Clara."
"Cie cie yang mau nikah bentar lagi."
Ucap Clara sambil melirik padaku yang memang sumpah asli aku belum paham ini beneran atau bohongan. Nggak mungkin kan tiba-tiba dapat rezeki nomplok paket komplit begini.
"Kak, aku suka yang ini deh. Gimana menurut kakak ipar bagus nggak?"
"Eh iya bagus."
"Ya sudah pakai EO itu saja, sekalian urus pakaiannya juga pokoknya semua urusan pernikahan kamu yang atur Clara."
"Lho kok Clara sendiri kak, kan yang mau nikah itu kakak."
"Nggak terima bantahan, besok kakak sudah terima laporannya."
"Ih mulai lagak diktatornya, kapan sih ada waktu luang buat Clara main sama teman."
"Ada habis selesai acara pernikahan kakak dan itupun kalau kakak nggak pergi bulan madu."
"Ah sama saja bohong kak Bram."
"Kembali ke meja mu Clara."
"Iya iya, habis manis sepah dibuang kayak lagu saja."
Clara keluar dari ruangan bos galak sambil membawa brosur pernikahan dengan gaya jalan seperti anak kecil yang lagi tidak dapat uang jajan.
"Em itu pak, saya ngapain ya disuruh kesini?"
"Astaga Sindy, jadi dari tadi kami bicara kamu nggak dengarin?"
"Dengar sih pak, cuma saya nggak yakin saja dan juga nggak mau mimpi ketinggian ntar kalo jatuh sakit pak."
"Siapa yang lagi mimpi Sindy, bulan depan kita akan mengadakan resepsi pernikahan sesuai permintaan mama dan papa saya. Oh ya satu lagi jika kita berdua tolong panggilan paknya diganti ya, saya kurang suka dengarnya."
"Ha, diganti dengan apa pak?"
"Terserah kamu, dan satu lagi bukankah saya suruh kamu istirahat? Kenapa kamu masuk kerja?"
"Bosan di rumah pak, lagian kalo saya izin yang ada gaji saya dipotong pak. Kan sayang uangnya pak."
"Hem ya sudah terserah kamu saja, jangan capek ya. Dan satu lagi nanti pulang bareng dengan saya."
"Ya pak."
"Kamu nggak dengar tadi omongan saya."
"Eh iya, baik mas."
"Nah gitu lebih bagus."
"Kalau begitu saya permisi pak, eh mas."
"Ya."
Aku kembali ke meja kerja dengan perasaan tak karuan sambil menepuk-nepuk pipi kali saja ini cuma mimpi kan.
"Eh Sin, kamu kenapa menampar-nampar pipi begitu?"
"Eh anu Sa, kamu pernah nggak mimpinya ketinggian?"
"Maksudnya?"
"Ya mimpi gitu ketemu pangeran yang tampan, kaya raya minang kamu buat jadi istrinya."
"Ya elah kamu Sin, kayak negeri dongeng saja. Kirain apa. Sudah kerjaan lagi banyak nih, jangan mikir yang aneh-aneh ntar kesambet baru tau rasa.
"Hooh iya deh, mungkin aku lagi halu kali ya Sa sampai mikir ke sana."
"Ya sudah kerja sana, ntar dipanggil lagi sama bos galak. I ngeri ah."
Ucap Salsa sambil fokus kembali ke pekerjaan yang memang lagi padatnya. Sementara aku masih mikir apa iya orang sekaya dan setampan bos galak itu mau menjadikan aku istrinya.
"Ah sudah lah lebih baik kerja daripada mikir yang aneh-aneh."
Aku memutuskan untuk fokus bekerja sehingga tak terasa sudah hampir mendekati jam pulang.
"Sin, kamu nggak pulang?"
"Ha, iya pulanglah masa nginap disini."
"Ya sudah buruan mau sama nggak turunnya."
"Iya tungguin Sa, takut ah sendirian disini."
"Buruan, lima menit."
"Yaelah galak amat si nona." ucapku sambil cengengesan dan dengan sigap merapikan pekerjaan sebelum memutuskan untuk pulang bersama Salsa.
Pas lagi jalan, tiba-tiba ada getaran dalam tas ternyata teleponku bunyi.
"Sa, kamu duluan deh. Aku mau angkat telepon dulu."
"Ya udah, hati-hati jangan kelamaan sudah mulai sepi nih."
"Iya, bentar kok."
***
"Halo, ini siapa?"
"Kemana saja kamu, lama amat?"
"Eh ini siapa ya, baru ngomong sudah langsung marah-marah."
"Apa kamu tidak menyimpan nomorku?"
"Nomor siapa lagi, penting emangnya simpan nomor kamu. Sudah, aku mau pulang."
tut tut tut....
"Ah dasar gadis lemot, apa dia nggak hapal suara calon suaminya sendiri?"
"Eh ada pak bos galak. Lagi apa pak? Belum pulang pak?"
"Apa kamu bilang? Bos galak? Cepat masuk atau mau saya seret kamu masuk ke mobil?"
"E apa-apaan nih pak. Kok main paksa terus sih. Nggak lucu ah pak lagian nggak enak juga diliatin sama yang lain. Ingat lho pak ini masih di kantor."
"Masuk atau mau saya gendong?"
"Iya iya, saya masuk. Motor saya bagaimana pak?"
"Gampang nanti biar sopir saya yang bawa."
"Dasar pria egois sukanya maksa terus/"
"Apa, kamu bilang apa tadi?"
"Nggak kok pak, ya sudah saya masuk nih."
"E duduk di depan, bukan di belakang. Kamu pikir saya ini sopir kamu!"
"Ye kali saja bapak mau jadi sopir saya. Jarang-jarang lho pak, saya mau disopiri."
"Itu emangnya kamunya yang nggak punya mobil, dasar aneh."
"Mau jalan nggak nih pak, kalo nggak saya keluar nih."
"E sudah mulai berani kamu ya ngancam saya. Ya sudah pasang sabuk pengamannya kita berangkat."
"Kemana pak?"
"Ikut saja, dan ingat jangan panggil saya pak."
"Baik mas pangeran tampan."
"Cih gayamu."
Aku tidak tahu mau dibawa kemana yang jelas ikut sajalah dulu, siapa tahu mau diajak makan atau apa gitu kayak anak muda sekarang. Aku sibuk menikmati pemandangan jalan kota yang padat dipenuhi kendaraan karena jam pulang. Suasana di mobil terasa sunyi dan kantuk mulai mendera rasanya tidak tahan untuk tidak tidur. "Ah tidur sebentar nggak apa-apa kali ya, toh si bos galak lagi fokus nyetir." gumamku dalam hati sambil atur ancang-ancang posisi tidur tanpa si bos galak tahu dan ternyata aku tidur beneran.
"Ayo turun kita sudah sampai."
"......."
"E ayo turun!"
"....."
"Aduh ini cewek ngerepotin banget sih, padahal sudah susah cari waktu buat makan berdua eh dianya malah tidur. Ya sudah deh tunggu sebentar saja siapa tau bentar lagi bangun."
"Kalau dilihat-lihat cantik juga, alami, natural nggak ada palsunya."
Tanpa disadari tangan si bos mulai mengusap kepala ku dan aku merasakan pergerakan tangannya hingga membuat ku terbangun.
"Hoam, sudah sampai pak eh mas?"
"Sudah dari tadi. Buruan turun."
"Eh iya mas, ini dimana ya?"
"Sudah turun dulu, setelah ini kamu ke toilet tuh bersihkan ada bekas di bibirmu."
"Bekas apaan, bapak ngapain saya tadi?"
"Ngapain apaan, itu kamu ngences ilernya keluar. Maluin saja masa cewek ileran."
Dengan cepat aku melihat ke kaca spion dan memeriksa benar atau nggak yang dibilang si bos galak dan eh ternyata...
"Hahahaha, kamu lucu kalau seperti itu."
"Ih dasar kurang kerjaan."
"Sudah, ayo masuk calon istriku." ucapnya sambil mengarahkan tangannya untuk aku gandeng.
"Ayo pegang tangan saya, apa kamu mau diculik orang disini?"
"Ih modusnya kebangetan." ucapku dan segera memegang tangannya lalu kami bersama berjalan ke dalam restoran.