Dengan cepat aku melihat ke kaca spion dan memeriksa benar atau nggak yang dibilang si bos galak dan eh ternyata…
"Hahahaha, kamu lucu kalau seperti itu."
"Ih dasar kurang kerjaan."
"Sudah, ayo masuk calon istriku." ucapnya sambil mengarahkan tangannya untuk aku gandeng.
"Ayo pegang tangan saya, apa kamu mau diculik orang disini?"
"Ih modusnya kebangetan." ucapku dan segera memegang tangannya lalu kami bersama berjalan ke dalam restoran.
Kami berjalan masuk ke dalam restoran, dan entah mengapa aku dengan santainya bergelayutan manja di tangannya. Ketika aku menyadari kebodohan yang ku lakukan sendiri dan segera menarik tanganku.
"Sudah, biarkan saja tanganmu disitu. Nggak ada yang marah kok."
"Ih malu tau pak, diliatin banyak orang."
"Jangan panggil pak lagi, atau kamu mau saya paksa nikah sekarang?"
"Hah, nggak. Saya masih waras pak eh mas."
Aku terlihat keki dan malu. Kenapa bisa kelakuan ku bodoh sekali. Bergelayutan manja di tangannya seakan-akan suami sebenarnya saja.
"Ayo duduk."
"E, nggak salah pak eh mas tempatnya disini."
"Nggak salah, ini benar tempatnya."
"Katanya cuma makan, tapi kok tempatnya begini. Apa disini lagi ada acara ya?"
"Iya, ada acara lamaran."
"O."
Aku hanya mengangguk-angguk tanda paham pura-pura mengerti saja dengan apa yang dibicarakan bos galak ini. Dalam pikiran ku bagaimana caranya agar cepat pulang dan bisa rebahan. Tak lama, terlihat pelayan sibuk menata makanan di atas meja. Jika dipikir-pikir penataan mejanya seperti meja orang lagi kasmaran.
"Ayo dimakan, nanti keburu dingin atau keburu diambil orang jika cuma diliatin begitu."
"Eh iya mas." ucapku tergagap masih bingung ini sebenarnya ada apa ya, kenapa meja makan dirias kayak lagi ada acara lamaran atau apalah aku juga tidak tahu namanya, maklum saja tidak pernah merasakan yang seperti ini. Pada saat lagi asik makan, terlihat si bos galak kasih kode apaan pada pelayan yang aku tidak mengerti dan tiba-tiba saja lampu mati. Sumpah, aku takut banget dengan gelap. Mau teriak rasanya malu, nggak teriak takut banget. Akhirnya, aku memutuskan untuk menutup muka dengan kedua tanganku sambil menekuk lutut di atas kursi yang tadinya ku duduki. Tak lama lampu digantikan dengan cahaya lilin yang berbaris, karena ada cahaya maka aku mulai membuka mata dan melihat ke sekeliling.
"Eh kenapa kok cuma aku sendirian, bos galaknya mana? Mana ini belum bayar lagi, wah kebangetan nih si bos ninggalin kayak gini nggak lucu." ucapku kesal karena takut dan kesal ditinggal sendirian.
Cukup lama aku perhatikan area sekitar untuk mencari keberadaan si bos galak, nggak mungkin juga kan aku keluar duluan dengan makanan yang belum dibayar. Lelah lihat kiri, kanan, muka, belakang dan akhirnya aku memutuskan untuk duduk sabar menanti dengan mata melihat makanan di atas meja.
"Enak sih makanannya, apa nggak sebaiknya dimakan saja ya. Sayang jika dibuang, tapi jika si bos galak nggak balik gimana, aku bayar pakai apa coba?" gumam ku berpikir sendirian.
"Ah sudah deh, makan saja dulu. Soal bayar urusan nanti saja, yang penting perut tengah diisi dulu. Biarin deh nggak pulang malam ini jadi tukang cuci piring disini." ucapku sambil nyengir dan langsung melahap apa yang ada di depanku, maklum lah perutku sudah mulai keroncongan dengan berbagai drama dunia hayal yang aku dapatkan hari ini.
Asik makan, tiba-tiba ada lampu sorot yang hidup dan entah datang dari mana di tengah-tengah lampu ada seorang pria yang lagi membelakang ke arahku. Karena penasaran tuh pria siapa, aku hentikan aksi makannya dulu dan fokus melihat pertunjukkan yang ku pikir mungkin ada sulap kali.