7. Teman Masa Lalu (2)

1722 Kata
Mereka segera berangkat menuju ke rumah baru yang sudah disiapkan semuanya oleh Bram dan tentu saja Sindy tidak tahu menahu. “Ayo sayang turun, kita sudah sampai.” “Mas, ini rumah siapa?” “ini rumah kita bersama anak-anak nanti. Ayo masuk, semua barangmu sudah mas siapkan.” “Ah ya, terimakasih mas.” Bram membawa Sindy melihat isi rumah mereka, rumah yang akan menjadi sumber kebahagiaan mereka bersama keluarga kecil mereka nantinya. Tak terasa waktu pun berlalu dengan cepat, hari-hari yang mereka lewati bertambah bahagia dengan adanya kabar kehamilan dari Sindy, seluruh keluarga besar Wijaya merasakan bahagia yang amat sangat. Sebagai istri yang lagi hamil muda, Sindy pun merasakan tingkahnya lebih manja pada Bram. Dia akan gampang sekali menangis dan bahkan melarang Bram untuk ke kantor hanya sekedar menemaninya untuk makan saja. Setelah melewati trimester pertama, kebiasaan Cindy sudah mulai berkurang. Bram sudah mulai leluasa untuk pergi ke kantor.  Bram menempatkan pelayan wanita di rumahnya untuk membantu dan menjaga Sindy ketika dia ke kantor, yang lain pun sering berkunjung ke rumah mereka sekedar membawakan cemilan buat ibu hamil. Semenjak menjadi istri, Sindy tidak diizinkan lagi bekerja hanya fokus di rumah menanti suami pulang kerja. Hari-hari pun mereka lewati dengan penuh suka cita, dan tak terasa sudah masuk usia kehamilan trimester kedua. Sindy yang sibuk fokus di rumah sementara Bram sudah mulai melakukan rutinitasnya sebagai bos seperti biasa. Hanya bedanya sekretarisnya bukan lagi Clara adiknya tapi Bram mengangkat asisten baru untuk mendampinginya dikarenakan Clara mendapat perintah dari papanya untuk memimpin cabang perusahaan mereka di daerah lain. Asisten baru Bram merupakan orang kepercayaan papanya dan juga merupakan sahabatnya sendiri dari kecil hingga tak jarang mereka seperti saudara saja. *** Dengan seiring berjalan waktu, tidak terasa kehamilan Sindy sudah mulai terlihat dan berat badan Sindy pun juga sudah mulai bertambah. Hal ini pun menjadi kebahagiaan tersendiri oleh Bram ketika melihat tubuh istrinya yang dulunya kurus menjadi lebih berisi. “Mas, kayaknya baju ku sudah banyak yang nggak muat deh.” “Ya sudah, nanti sepulang mas kerja kita cari baju nya.” “Oke mas, tapi jangan lama pulangnya agak cepat ya biar nggak kemalaman nanti perginya.” “Iya, nanti mas usahakan pulang cepat. Mas berangkat dulu ya, nanti mas hubungi lagi.” “Hmm iya mas.” Ucap Cindy dan mengantar suaminya ke mobil. Telah menjadi kebiasaan Bram jika bepergian akan mengecup kepala Sindy baru kemudian pergi. Dan hal itu pula yang membuat Sindy merasakan menjadi wanita yang paling bahagia karena perlakukan Bram. “Rud, apa jadwal saya hari ini?” tanya Bram pada asisten yang juga sahabatnya. “Jadwal hari ini tidak begitu padat bos, hanya ada pertemuan dengan klien makan bersama siang nanti.” “Ada jadwal penting nggak atau pekerjaan yang mendesak?” “Nggak ada bos, untuk hari ini jadwalnya santai bos.” “Ya sudah, pertemuan dengan klien nanti kamu saja yang mewakili. Saya mau pulang cepat nanti.” “Baik bos.” Ucap Rudi segera menyusun pekerjaan yang akan dikerjakan di meja bosnya. “EH bro, tumben cepat pulang?” ucap Rudi lagi yang sudah mengubah gaya bicara nya tidak lagi pakai bos, karena memang mereka berdua membedakan gaya bicara saat bekerja dengan bicara saat menjadi teman. “Ini, istriku lagi mau diajak jalan.” “Wah suami siaga ternyata.” “Itulah enaknya jadi suami, makanya kamu cari pasangan lagi bro. Mau sampai kapan jadi bujang lapuk begini.” “Hahaha, sampai dapat tambatan yang mampu menggetarkan hati bro.” “Ya ya ya, terserah kamu lah bro. Asal jangan kelamaan, jodoh itu perlu dicari bro bukan ditunggu kapan datangnya.” “Ya, santai bro. Atau barangkali ada nggak kembaran atau saudara istrimu bro biar comblangin sama gua.” “Nggak ada, istriku nggak punya saudara. Lagian kalaupun ada, saya nggak akan kasih ke kamu.” “Hahaha, ya sudah nih bos silahkan diperiksa. Saya mau balik dulu ke ruangan.” Ucap Rudi sambil berlalu keluar ruangan. Sementara itu di rumah, Sindy yang notaben sudah tidak bekerja lagi hanya menghabiskan waktu dengan menonton televisi, main game, atau sekedar baca novel online. Hanya itu yang bisa mengisi kegiatan hariannya karena Bram melarang dia bekerja dan juga mengerjakan pekerjaan rumah sudah ada yang mengerjakan. Sindy hanya mengerjakan apa yang dibutuhkan oleh suaminya seperti menyiapkan sarapan atau pakaian yang akan dipakai saja. Ketika suntuk maka Sindy akan mencoba berkreasi memasak di dapur dan tentu saja tanpa sepengetahuan suaminya pada saat Bram tidak di rumah. “Ah enaknya ngapain ya, ini siaran televisinya nggak ada yang bagus. Ehm baca novel online saja deh buat ngusir suntuk, mas Bram juga masih lama lagi pulangnya.” Ucap Sindy sambil mengambil telepon genggamnya dan segera membuka salah satu aplikasi yang menyediakan bacaan novel yang bagus dapat menguras air mata juga mengocok perut karena lucu. “Kayaknya ini bagus deh ceritanya, baca yang ini saja deh.” Ucap Sindy ketika muncul sebuah novel di beranda aplikasinya yang berjudul “Maaf, Aku Tak Sanggup diMadu”. Sedang asik baca, ada telepon masuk dari Bram. “Halo mas” “.....” “Oh baik mas, aku segera siap-siap.” Sindy menutup telepon dan bergegas membersihkan diri dan berganti pakaian. Di telepon tadi Bram mau mengajaknya siang ini untuk makan diluar sekalian membeli perlengkapannya yang sudah banyak kekecilan. Walaupun Sindy memiliki suami yang kaya namun tidak serta merta gaya hidupnya berubah tapi tetap sederhana, jika masih bisa digunakan atau masih layak pakai maka dia tidak akan beli yang baru jika tidak suaminya yang membelikan. Setelah lewat tiga puluh menit, Bram akhirnya datang menjemput Sindy. Karena senangnya Sindy berlari ke arah Bram dan langsung masuk mobil tanpa membawa tas atau pun teleponnya. “Kita mau kemana mas?” “Lain kali jangan lari-lari lagi nanti kalau jatuh bagaimana?” ucap Bram menasehati Sindy yang senang entah kenapa ketika melihat mobil Bram menjemputnya. “Iya mas, nggak tau kenapa pengen cepat-cepat dekat mas saja.” “Ya sudah, yuk kita berangkat sudah lapar kan.” “Iya.” Ucap Sindy sambil bergelayut manja di tangan Bram. Mereka memutuskan makan di sebuah restoran yang menyediakan makanan laut khas dengan lobsternya. Setelah puas mengisi perut, akhirnya Bram membawa Sindy ke sebuah pusat perbelanjaan yang lengkap dan besar. “Turun dulu ya, mas parkir mobil dulu. Tunggu disini jangan kemana-mana.” “Iya mas.” Bram segera berlalu menuju parkiran mobil dan bergegas kembali menuju ke tempat Sindy. “Ayo, kita ke dalam.” “Ya mas.” Ucap Sindy sambil memegang tangan Bram. Mereka berjalan dengan bergandengan tangan, tampak Sindy merasa sangat senang dengan perlakuan Bram mau menemaninya berbelanja keluar. “Sin, kita masuk ke butik itu ya. Katanya bajumu sudah banyak yang sempit. Silahkan pilih mana yang kamu suka ya.” “Hem, iya mas.” Jawab Sindy dengan senyum penuh bahagia. Sindy segera melangkahkan kakinya menuju baju yang berjejer sangat banyak sekali, sementara itu Bram memutuskan untuk duduk menunggu istrinya memilih baju. Tampak Sindy mengambil, mencoba ke badannya kemudian meletakkan kembali baju tersebut. Hal itu terus terjadi berulang kali, entah apa yang dipikirkan Sindy hingga ia meletakkan kembali baju yang telah dipasang ke badannya. “Kenapa diletakkan lagi?” “Eh itu mas, kayaknya kurang pas deh aku pakainya, terlalu mewah mas. Kita pindah saja ya, cari yang lebih sederhana saja daster juga nggak apa-apa.” “Ya ampun Sindy, ternyata di pikiran mu seperti itu. Sin, suami mu ini uangnya tidak akan habis dengan kamu membeli baju ini.” “Ta tapi mas....” “Sudah jangan pikir lagi, kamu ambil saja mana yang kamu suka, soal harga jangan dipikirkan lagi masa iya kesini buat beli daster. Ada-ada saja kamu Sin.” Ucap Bram sambil tersenyum gemas sama tingkah istrinya yang terlalu perhitungan dengan uang, memang bukan salah Sindy juga menjadi seperti itu karena hidupnya yang mengalami kesusahan sejak ia kecil mengajarkan bagaimana caranya menghargai uang. “Ah baiklah mas, boleh ambil semua yang aku suka ya, nggak peduli berapapun banyaknya.” “Iya, ambil apapun yang kamu suka.” Ucap Bram. Sindy kembali sibuk dengan memilih baju, semua yang menurutnya bagus diambil. Pindah dari rak satu ke rak yang lain, pilih baju dari setiap rak membuat Sindy sibuk sendiri dengan pilihan baju yang sangat banyak sementara Bram melihat keadaan sekitar. Ketika dia sedang melihat ke arah luar butik, tiba-tiba saja Bram berdiri dan bergegas keluar. Entah apa yang dilihat Bram, hingga ia bergegas ke luar dan meninggalkan Sindy yang tengah sibuk memilih baju dan tidak menyadari kepergian Bram. Setelah puas memilih dan baju yang dipilih juga sudah cukup banyak, Sindy memutuskan untuk menyudahi acara memilih bajunya dan pergi ke tempat Bram duduk. Namun, sesampainya di tempat Bram duduk menunggunya tadi ia tidak menemukan Bram, bahkan Sindy sudah mencari di area sekitar tetap hasilnya nihil. Sementara itu pegawai butik sudah mulai berbisik-bisik melihatnya, entah apa yang ada di pikiran mereka. Sindy kemudian memutuskan bertanya kepada salah seorang pegawai tentang kemana pergi suaminya. “Mbak, maaf lihat suami saya tadi nggak yang duduk menunggu disini?” “Oh itu bu, tadi tiba-tiba berlari keluar buk dan belum kembali.” “O begitu ya, ya sudah saya tunggu saja.” Sudah lebih dari tiga puluh menit Sindy menunggu, bahkan pegawai butik sudah mulai kelihatan tidak suka padanya mengingat pakaian yang sudah diambilnya lumayan banyak. “Gimana bu, apa pakaiannya sudah bisa kami bungkus?” “Hem itu mbak, boleh tunggu sebentar lagi nggak. Suami saya belum datang dan kebetulan saya juga nggak bawa dompet.” “Alah lagak mau beli baju, kalau nggak punya uang jangan kesini buk. Lagak seperti orang kaya ternyata cuma mau cuci mata saja.” Ucap pegawai sambil mendengus kesal dan meminta bantuan rekannya yang lain untuk mengembalikan baju-baju yang sudah diambil Sindy. “Maaf mbak, saya benar-benar minta maaf.” “Sudah mbak, silahkan keluar dari butik kami. Kami tidak punya waktu melayani mbak untuk main-main.” Ucap pegawai butik kesal. Dengan sangat terpaksa akhirnya Sindy berjalan keluar dari butik dan tidak tahu mau kemana karena dia tidak punya uang sepeserpun dan juga tidak bawa telepon. Lelah menunggu akhirnya Sindy memutuskan berjalan kaki menuju rumah, karena dia juga tidak tahu mau kemana. Sementara itu Bram yang tiba-tiba berlari keluar ternyata melihat seseorang yang sangat ia kenal. Demi memastikan penglihatannya, Bram langsung mengejar kemana perginya orang tersebut. Bram terus mengikuti kemana perginya orang yang melihat dan mengamati bersama siapa orang yang diikutinya.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN