Terlihat seorang wanita yang lagi sibuk memilih pernak-pernik perlengkapan wanita, dan Bram terus mengikutinya.
Setelah yakin dengan penglihatannya, jika itu adalah orang yang sangat ia kenal barulah Bram memutuskan untuk mendekatinya.
“Gelang itu cocok untukmu, sesuai dengan warna kulitmu.”
“E terimakasih atas sarannya.” Ucap wanita tersebut sambil melihat ke arah Bram.
“........”
Seketika suasana hening tercipta sibuk dengan pikiran masing-masing.
“Ini beneran kamu kan Raisa?” ucap Bram dengan wajah sumringah bahagia.
“Bram....” jawab wanita tersebut tak kalah bahagia dengan linangan air mata tiba-tiba saja di pelupuk matanya.
Raisa adalah cinta masa lalunya yang kandas akibat hilang kontak karena Raisa tiba-tiba saja menghilang dan membuat Bram terpuruk dengan rasa patah hati yang begitu dalam hingga dia tidak pernah lagi merasakan getaran cinta terhadap wanita manapun sampai ia harus dipaksa menikah oleh sang mama demi melepas status lajangnya.Keduanya tampak terpaku tanpa berkata-kata, hanya bahasa isyarat yang membuat mereka mampu berkomunikasi. Rasa haru tak percaya dapat bertemu kembali membuat keduanya terdiam hingga akhirnya Bram mengulurkan tangan untuk berjabat tangan.
“Bram, ini kamu Bram.”
“Iya, Raisa. Aku Bram mu yang dulu, aku yang sepenuh hati mencintaimu dan meratapi kepergianmu.”
“Ah Bram...” ucap Raisa dan berakhir di pelukan Bram dengan tangisan di dalam pelukan Bram tersebut.
“Maaf.” Cicit Raisa nyaris tak terdengar.
Keduanya larut beberapa saat dalam pelukan hingga akhirnya mereka saling melepaskan pelukan dan saling menatap.
“Aku kangen kamu sayang.” Ucap Bram, rasanya dia kembali di masa-masa ketika masih bersama Raisa.
“aku juga, kangen sangat-sangat kangen kamu.”
“Kamu kesini bersama siapa?”
“Sendiri.”
“Ya sudah, kita cari tempat duduk dulu yuk. Banyak yang harus kita bicarakan.”
“Ya, memang banyak yang harus kita bicarakan.”
Mereka berdua memutuskan untuk mencari tempat duduk dan pilihan mereka jatuh ke tempat makanan siap saji yang ada disana. Dan satu hal yang Bram tidak sadari dia telah melupakan keberadaan istrinya yang tadi bersamanya.
Puas berbicara panjang lebar dan waktupun sudah tidak siang lagi, Bram menawarkan untuk mengantarkan Raisa pulang ke rumahnya sekalian Bram juga ingin tahu dimana Raisa tinggal sekarang.
“Nggak mampir dulu Bram?”
“Lain kali saja ya, kamu sendirian?”
“Ya, semenjak papa dan mama meninggal aku tinggal sendirian dan ini juga baru beberapa hari pindah kesini jadi masih sedikit berantakan.”
“Oh ya terlihat sih masih ada kardus yang menumpuk. Kapan-kapan bolehkan aku main ke sini?”
“Ya boleh, pintu rumah ini terbuka lebar untukmu Bram.” Ucap Raisa dengan nada penuh penekanan.
Akhirnya Bram memutuskan kembali ke rumahnya. Sementara itu, Sindy dengan susah payah kembali ke rumah dengan berkali-kali menumpang pada orang yang lewat yang kebetulan searah menuju ke rumahnya hingga ia sampai di depan rumah dengan keringat dan lelah yang sangat hingga kakinya tak mampu lagi berjalan sekedar masuk ke dalam rumah.
Sindy ditemukan dalam keadaan sudah tidak sadarkan diri tergolek di teras depan rumah oleh Bi Minah, pembantu yang selalu menemani Cindy di rumah. Melihat Sindy yang tergeletak di lantai membuat bi Minah kaget dan segera meminta bantuan pada yang lain untuk mengangkat tubuh nyonya mereka.
Bi Minah membantu menyadarkan Sindy dengan bantuan minyak angin hingga akhirnya Sindy sadar dan meneteskan air mata yang membuat bi Minah heran setahunya tadi nyonya nya pergi bersama tuannya kenapa nyonyanya pulang sendirian dalam keadaan pingsan di teras pula.
“Bi....” ucap Sindy meneteskan air mata.
“Tak apa nyonya, nyonya sekarang sudah di rumah. Apa yang terjadi, kenapa nyonda sendirian?”
“Mas Bram pergi meninggalkan saya bi, tidak tahu kemana.” Ucap Sindy meneteskan air mata, perih rasanya mengingat ia ditinggal suami dan harus berjuang untuk kembali ke rumah karena tidak membawa apapun dan sialnya tidak ingat nomor yang bisa dihubungi. Ditambah lagi tidak ada satupun kendaraan yang mau mengantarkan Sindy karena alamat yang dituju adalah perumahan elit, sopir taksi online tidak percaya jika Sindy adalah penghuni dari perumahan elit tersebut.
“Ya sudah nyonya, ndak usah menangis lagi. Sabar ya, mungkin tuan ada keperluan yang mendesak hingga meninggalkan nyonya. Ya sudah nyonya mandi dulu biar agak segar.”
“Ya bi.” Sindy segera berlalu ke kamar mandi dengan dibantu bi Minah, akibat berjalan terlalu lama membuat kakinya sedikit membengkak ditambah kondisi badannya yang tengah berbadan dua.
Setelah selesai mandi, Sindy memutuskan untuk istirahat karena kelelahan akhirnya ia tertidur. Jam delapan malam, mobil Bram tampak memasuki parkiran rumah sementara Sindy masih terlelap dalam mimpinya.
“Sindy mana bi?”
“Ada di kamar tuan.”
“O. Bi nanti tolong buatkan saya kopi dan antar ke ruang kerja ya.”
“Baik tuan.”
Bram berlalu menuju kamarnya meninggalkan bi Minah yang masih keheranan melihat sikap tuannya.
“Apa tuan hilang ingatannya, masa meninggalkan istri di tempat perbelanjaan.” Gumam bi Minah sambil berjalan ke dapur untuk membuatkan kopi.
Bram melihat Sindy yang tengah tidur lelap menganggap tidak terjadi apa-apa berjalan santai menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya yang lelah seharian.
Setelah selesai membersihkan diri, Bram memutuskan untuk ke ruang kerjanya melihat pekerjaan yang belum sempat dia periksa. Bram menyesap kopi yang sudah disiapkan bi Minah untuknya dan entah mengapa pikirannya melalang buana pada masa-masa ketika dia masih bersama Raisa.