9. Pengakuan Suamiku

1422 Kata
Rasa yang telah lama terkubur kembali menyeruak di d**a menimbulkan sesak di d**a Bram hingga akhirnya Bram memutuskan untuk menelepon Raisa. “Halo Bram, ada apa?” “Halo Raisa, sudah tidur?” “Belum, aku kepikiran kamu.” “Masih sama seperti dulu ya, masih suka gombalin aku.” “Hem, entahlah. Sejak bertemu tadi kepikiran kamu terus. Kamu belum tidur?” “Belum. Aku juga mikirin kamu, ingat masa-masa indah kita dulu.” “Ah kamu Bram.” “Yaudah sekarang tidur ya sudah malam.” “Hem iya.” Setelah menelepon Raisa, Bram memutuskan untuk kembali ke kamarnya segera menyusul tidur istrinya. Sesampainya di kamar, Bram merebahkan badannya di samping Sindy yang masih tertidur pulas. Entah mengapa hati Bram merasa kosong dan hampa ketika melihat wajah Cindy dan malah terbesit bayangan Raisa di benaknya. Berkali-kali Bram mencoba menutup mata namun yang ada pikirannya malah melayang ke masa-masa indah bersama Raisa. Akhirnya Bram memutuskan untuk keluar dari kamar menonton televisi hingga kantuk menyerang dan tertidur dengan posisi di depan televisi yang masih menyala. Jam sudah menunjukkan pukul lima pagi yang biasanya Sindy sudah bangun dan menjalankan kewajibannya sebagai umat muslim. Setelah membersihkan badan dan beribadah, Sindy biasa membantu bi Minah membuatkan sarapan di dapur. Ketika berjalan, Sindy tertegun melihat sosok yang dikenalnya di depan televisi masih tertidur. “Mas Bram kenapa bisa tidur disini? Jam berapa dia kembali? Kemana saja dia kemarin, hingga meninggalkan ku begitu saja?” banyak pertanyaan bermunculan di benak Sindy yang membuat Sindy merasakan kepalanya sedikit berdenyut. Lama tertegun akhirnya Sindy memutuskan untuk ke dapur saja. “Bi, jam berapa mas Bram kembali?” “Malam non sekitar jam delapan mungkin, bibi juga nggak ingat betul.” “O, terus ada nanyain saya nggak bi?” “Eh iya non, kebetulan non juga sudah tidur.” Tak terasa sarapan sudah siap tertata dengan rapi di meja makan, Bram pun sudah terlihat rapi dengan atasan kantornya. “Masak apa hari ini bi?” “Itu Tuan, nyonya lagi pengen makan nasi goreng dengan ceplok telur jadi bibi buat sarapan itu saja.” “O, ya sudah.” “Ayo mas, makan.” “Iya.” Bram dan Sindy makan dengan fokus sama-sama diam sibuk dengan makanan masing-masing. “Mas kemaren kemana pergi tiba-tiba?” “Kapan?” “Kemaren pas aku lagi milih baju, kenapa aku ditinggal begitu saja?” “Astaga Sin, maaf mas lupa kalau ada kamu. Maafin mas ya sudah ninggalin kamu begitu saja.” “O ya sudah nggak apa-apa.” “Ya sudah, kalau begitu mas berangkat dulu ya.” “Ya.” Bram memutuskan untuk langsung berangkat ke kantor sementara Sindy merasakan ada perasaan aneh yang mengusik hatinya entah karena bawaan si cabang bayi atau ada hal lainnya. Namun, ada seberkas rasa kecewa di hatinya ketika mendengar jawaban dari suaminya sendiri yang tega meninggalkannya seorang diri dan harus berjuang kembali ke rumah. Entah mengapa ada sesuatu yang menurut Sindy aneh pada suaminya, mungkin hanya perasaan nya saja yang akhir-akhir ini sensitif. Bram memacu mobilnya menuju ke area yang berlawanan dari kantornya. Tiba-tiba saja tanpa sadar Bram malah mengendarai mobil menuju rumah Raisa. Dia baru tersadar ketika mobil sudah berada di depan rumah Raisa dan kebetulan juga Raisa hendak keluar dari rumahnya. “Bram...” “Eh Raisa, kamu nggak keberatan kan aku datang?” “Em nggak sih, tapi aku mau keluar.” “Ya sudah biar aku yang antar ya. Kamu mau kemana?” “Aku mau keliling saja Bram, mau cari pekerjaan.” “Wah kebetulan di kantorku lagi butuh sekretaris, rasanya kamu cocok untuk posisi itu.” “Benarkah?” “Iya, kalau kamu mau sekarang pun juga bisa?” “Wah serius nih kamu beneran?” “Iya, kapan aku pernah bercanda sama kamu Raisa, wanita yang mampu menggoyahkan imanku.” “Hahaha, kamu mulai lagi deh gombalin aku. Awas loh nanti ada yang cemburu.” “Hahaha, ya sudah kalau begitu kita langsung ke kantor ku saja.” “Baik.” Bram memutuskan memberi pekerjaan pada Raisa tanpa berpikir panjang lagi karena dia pun juga tidak mau membiarkan Raisa meninggalkannya lagi seperti dulu. Perasaan yang lama dikuburnya dalam-dalam kembali hadir seiring dengan seringnya pertemuan mereka. Bram dan Raisa sekarang sudah bekerja dalam satu kantor, meja Raisa berada tepat di depan ruangan Bram sehingga Bram bisa mencuri pandang melihat kegiatan Raisa. Karena seringnya bertemu membuat mereka semakin akrab hanya saja di dalam kantor Bram dan Raisa bersikap wajar seperti atasan dengan bawahan hingga tidak menimbulkan kecurigaan banyak orang yang mengetahui bahwa Bram sudah menikah dan tak ada seorang pun yang membahas masalah Bram sudah menikah karena di dalam kantor melarang adanya karyawan yang bergosip dalam jam kerja. Seiring berjalan waktu kedekatan mereka semakin intens, bahkan Bram pun sangat sering main ke rumah Raisa hingga pulang larut malam dari rumahnya dan ini menimbulkan kecurigaan pula bagi Sindy disaat kehamilannya semakin membesar yang seharusnya mendapatkan perhatian suaminya lebih ekstra malah tak jarang mendapatkan sikap dingin dari suaminya. Bram sampai di rumahnya sering sudah larut malam dan berangkat pagi-pagi sekali hingga waktu untuk Sindy pun sudah tak ada, tak jarang Sindy hanya menghabiskan waktu dengan bicara sama bi Minah atau kembali mengusik hobi lamanya membaca novel online. “Bi, mas Bram akhir-akhir ini kok sering pulang malam ya bi?” “Mungkin saja pekerjaan bapak di kantor lagi banyak non.” “Ehm iya juga mungkin, tapi masa iya nggak ada waktu untuk saya bi.” “Yang sabar ya non.” Mengingat usia kehamilan Sindy sudah mulai membesar sehingga dia diharuskan untuk kontrol rutin setiap bulannya dan lagi-lagi kontrol bulan ini pun dia harus pergi sendirian karena Bram beralasan ada klien penting yang harus ditemuinya. Pada saat pulang setelah kontrol tiba-tiba Sindy merasakan perutnya bergejolak ketika melihat jajanan di pinggir jalan dan memutuskan untuk berhenti sebentar. “Pak, kita mampir dulu ya disana. Saya pengen makan bakso sama kelapa muda.” “Baik non.” Ucap sopir segera menepikan mobil mencari tempat untuk parkir. Dengan dibantu sopir yang mengantri memesan makanan, Sindy tidak perlu repot-repot berdiri lama cukup menunggu di meja yang sudah tersedia saja. Tak lama pesanannya pun datang dan Cindy melahap dengan sangat nikmat merasakan nikmatnya makanan yang ada di depannya. Ketika dia hendak berjalan keluar dari tempat makan bakso, Sindy melihat ada orang yang sangat dia kenal. “Mas Bram, bukannya itu mas Bram. Siapa perempuan di sampingnya, kenapa mereka akrab sekali dan kenapa perempuan itu memegang tangan mas Bram?” beribu pertanyaan muncul di benak Sindy menebak-nebak apa gerangan yang terjadi, ada hubungan apa diantara mereka berdua. Pertanyaan yang begitu banyak dan dorongan perasaan ingin tahu membuatnya mengikuti Bram masuk ke dalam sebuah restoran. Tampak Bram memberikan pelayanan pada wanita tersebut melebihi pada dirinya membuat Sindy semakin curiga. “Mas, siapa dia mas?” gumam Sindy dalam hati dan ikut mengambil tempat tak jauh dari mereka dengan menyamar sambil berpura-pura membaca majalah untuk menutupi wajahnya. “Sayang, kamu mau makan apa?” tanya Bram. “Apa saja deh yang penting makannya sambil lihat mukamu.” “Kamu bisa saja gombalnya.” Mereka memutuskan memesan makanan yang spesial di restoran tersebut untuk mereka santap tanpa menyadari kehadiranku. Sesak rasanya melihat dan mendengar percakapan mereka, tidak mungkin mereka hanya teman biasa tanpa adanya hubungan yang spesial jika bicaranya saja sedekat itu, pikir Sindy. “Oh ya sayang, aku mau serius denganmu. Aku tidak mau lagi kehilanganmu.” “Kamu serius Bram, tidak lagi bercanda kan?” “Gak aku serius. Aku sudah memikirkannya matang-matang dan rencananya minggu depan aku akan menemui orang tuaku untuk membicarakannya.” “Tapi Bram, apa kamu yakin orang tuamu mau menerimaku?” “Aku yakin sayang mereka akan menerimamu, tapi apa kamu mau menjadi istri keduaku?” “Maksud kamu apa sayang?” “Iya, aku sudah punya istri Raisa. Tapi kamu harus percaya padaku, aku tidak mencintainya sedikitpun, rasa sayang dan cintaku hanya untukmu. Aku janji walaupun kamu menjadi istri kedua ku tapi kamu di hatiku akan tetap menjadi yang pertama.” “Kamu serius Bram, aku juga sangat mencintaimu dan tidak mau berpisah lagi tapi aku juga tidak mau menjadi perusak rumah tanggamu.” “Kamu tenang saja, soal istriku biar menjadi urusan ku. Oh ya namanya Sindy.” Mendengar pengakuan suamiku yang meminta wanita itu menjadi istrinya dan mengakui tidak pernah mencintaiku membuat tubuhku lemah tak berdaya dan akupun merasa tidak sanggup untuk mendengar lebih lagi percakapan mereka. Aku memutuskan untuk pergi dari sana secepat mungkin ke mobil dan kembali ke rumah untuk menumpahkan semua rasa sesak di d**a.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN