10. Anakku sayang anakku malang

1011 Kata
Sesampai di rumah Sindy berlarian ke dalam kamar membiarkan bi Minah yang keheranan melihat dia berlari. “Mang, nyonya kenapa?” “Em itu bi, tadi pas nyonya lagi makan bakso lihat tuan sama perempuan lain dan nyonya mengikuti mereka. Mamang nggak ikuti tuan sih cuma nyonya saja, mamang nunggu di mobil tapi pas keluar dari restoran itu nyonya sudah seperti itu bi.” “Oh ya sudah mang, bibi masuk dulu mau lihat nyonya.” “Iya bibi sekalian boleh minta bikin kopi nggak.” “Iya, nanti bibi antar.” “Sip dah.” Bi Minah memutuskan untuk melihat Sindy, dia merasa kasihan dengan kondisi majikannya disaat sedang hamil besar malah mendapat perlakuan suami seperti ini. Sebenarnya bi Minah sudah mengetahui dan curiga dengan majikan laki-lakinya punya perempuan di luar dikarenakan kebiasaan majikannya berubah total beberapa bulan ini, ditambah pula majikannya sering berdiam lama-lama di ruang kerjanya sambil menelepon. “Non, ini bibi non. Non buka pintunya ya.” Pinta bi Minah membujuk majikannya dikarenakan Sindy mengunci pintu dari dalam. “Iya bi, ada apa?” “Buka pintu non, bibi mau masuk?” “Maaf bi, Saya mau istirahat nanti saja ya.” “Oh ya sudah non, kalau ada apa-apa non panggil bibi ya.” “Ya.” Bi Minah terdiam di depan pintu kamar majikannya, hatinya teriris mengetahui bahwa majikannya sedang bersedih. Bi Minah sudah menganggap Sindy seperti anaknya sendiri, maklumlah karena bekerja bi Minah harus rela berpisah dengan anaknya di kampung. “Kasihan kamu non, andai wanita itu tidak datang kembali pasti rumah tangga mereka bahagia sekali karena sebentar lagi akan hadir si buah hati mereka.” Gumam bi Minah sambil berlalu kembali ke dapur mengerjakan pekerjaannya. Sementara itu Bram masih asik bersama Raisa menghabiskan waktu hingga malam, mereka sudah membicarakan rencana pernikahan mereka dan Bram pun sudah menelepon orang tuanya yang sedang berada di luar negeri. Orang tuanya marah besar terlebih mamanya tidak terima jika Bram menikah lagi apalagi dengan kondisi Sindy sedang hamil besar, namun semua itu tidak digubris oleh Bram bahkan Bram berani menikahi Raisa izin atau tanpa izin dari kedua orang tuanya dan bisa dipastikan izin dari Sindy tidak akan berpengaruh. “Sayang, sudah malam saya pulang dulu ya.” “Iya, sampai jumpa besok. Em sayang, cepat halalin aku ya biar kita bisa sama-sama terus nggak kayak gini. Aku kangen kamu jika sendirian di rumah.” “Iya sayang, sabar ya semuanya sedang diurus.” Ucap Bram sambil mengecup kepala Raisa dan pamit untuk pulang sementara jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Tiga puluh menit berkendara Bram sampai ke rumah, dan segera menuju kamarnya rencana untuk membersihkan diri baru istirahat tidur. Dia melihat ke arah tempat tidur dan terlihat Sindy dengan perut besarnya tertidur. Semenjak Bram dekat dengan Raisa, semenjak itu pulalah Sindy jarang mendapatkan perhatian walau hanya sekedar ditanya sudah makan atau belum karena Bram pergi pagi-pagi sekali dan pulang sudah larut malam. Ketika Bram hendak merebahkan tubuhnya, Sindy menyadari ada pergerakan hingga menyebabkan ia terbangun. “Em sudah pulang mas, jam berapa ini mas?” tanya Sindy sembari mengucek-ucek matanya. “Sudah hampir jam sebelas, tidurlah kembali sudah larut.” Ucap Bram singkat. “Iya mas. Mas, aku kangen.” Ucap Sindy sambil mendekatkan tubuhnya memeluk Bram namun Bram berusaha mengelak dengan mencoba memindahkan tangan Sindy ke tempat lain. “Tidurlah, mas capek lagian ini sudah larut malam.” “Ta tapi mas...” ucap Sindy mencoba membantah namun Bram sudah terlanjur mengambil posisi tidur dengan membelakanginya.  Tanpa disadari Sindy, air matanya lolos begitu saja tanpa permisi dan akhirnya Sindy hanya bisa tidur kembali dengan menatap punggung suaminya. Entah seberapa dalam luka yang digores oleh Bram untuknya. Disaat sedang tidur, tiba-tiba telepon Bram berbunyi. “Halo.” “....” “Ah ya, sebentar aku akan kesana segera, jangan takut ya.” Sindy berusaha tegar melihat perubahan sikap suaminya, melihat gerak gerik suaminya akan pergi Sindy mencoba menahannya. “Mas mau kemana malam-malam begini?” “Mas ada perlu sebentar, kamu tidur lagi saja tidak usah tunggu mas.” “Mas boleh nggak tetap disini temani aku, aku takut mas. Ini sudah masuk usia persalinan, akupun sudah sering kontraksi palsu mas, nanti tiba-tiba lahiran bagaimana?” “Ya kan tinggal ke rumah sakit.” “Iya ke rumah sakitnya sama siapa mas? Aku mana bisa pergi sendirian.” “Jangan manja kamu, biasanya juga sendiri. Kan ada bi Minah juga tu sopir ada, lagian sopir kita kan selalu ada dirumah nggak nganter mas.” “Mas boleh nggak malam ini mas temani aku ya, aku takut mas nanti tiba-tiba perutku sakit.” “Nggak bisa Sindy, mas harus pergi.” “Kemana sih mas, malam-malam begini apa nggak bisa besok saja?” “Ah kamu cerewet ya, sudah tidur saja mas mau keluar.” Ucap Bram sedikit membentak dan sukses membuat Sindy kembali meneteskan air mata tanpa bersuara lagi, sementara itu Bram berlalu begitu saja tanpa merasa ada rasa penyesalan telah menyakiti hati istrinya. Bram dengan sangat tergesa bergegas memacu mobilnya menuju ke rumah Raisa. Ya, Raisa menelepon Bram dengan alasan dia takut ada hujan badai ditambah petir. Bram memang paham dengan kebiasaan Raisa, apa yang dia suka, apa yang tidak dia suka, apa yang membuatnya takut salah satunya hujan petir seperti malam ini. Namun, celakanya Bram malah melupakan tanggung jawabnya sebagai suami yang istrinya akan melahirkan. Hujan terus turun dengan petir yang menggelegar membuat jalan menjadi licin dan ini tentu saja membuat Bram sedikit geram, Bram membayangkan Raisa yang sedang ketakutan dan dia melupakan istrinya yang tengah menangis. Sindy terus menangis tak henti, dia menangis dalam diam hanya air mata yang menandakan dia sedang menangis. Menangis dalam diam membuat siapa saja akan sesak merasakannya, karena terlalu lama menangis membuat perutnya bergejolak dan sangat sakit hingga membuat Sindy menjerit kesakitan. Dengan sedikit tertatih sambil menahan sakit, Sindy berusaha menelepon Bram namun usahanya gagal. Berkali-kali Sindy mengulangi panggilan namun usahanya sia-sia karena Bram sibuk menenangkan Raisa yang histeris ketakutan dengan hujan badai. Panggilan yang tidak dijawab membuat Sindy akhirnya memutuskan keluar dari kamar pergi meminta bantuan kepada bi Minah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN