Sosok Zaro berjalan tegas menuju tempat yang akan dia tuju di mansion miliknya. Pakaian formal yang dia kenakan mendominasi merah dan putih mengeluarkan aura ketampanan Zaro yang tidak bisa di bantah. Kini langkahnya berhenti tepat di depan sebuah kamar, dan tanpa menunggu waktu dia membuka kunci dan masuk ke dalam sana.
Pandangannya langsung tertuju pada Kana yang saat ini juga sedang menatap dirinya dari tempatnya berada.
"Jangan menatapku seperti ingin membunuhku, Kana. Kemarilah, bukannya kita akan makan malam bersama hari ini?"
Kana membuang muka dan mengeluarkan hembusan napas panjang. Kana mengangkat sedikit gaun merah yang dia kenakan dan sekarang menuju ke arah Zaro.
Ini semua atas permintaan Zaro, setelah undangan pertama di gagalkan oleh Kana sendiri dengan berpura-pura sakit, Zaro kembali mengundangnya untuk kedua kalinya. Kana tak bisa lagi membuat banyak alasan karena Zaro akan melakukan cara apapun untuk membuat Kana melakukannya.
"Ayo jalan!" Ucap Kana saat telah sampai di hadapan Zaro.
"You are so beautiful," puji Zaro yang membuat Kana memutar mata.
'Apa dia pikir aku akan suka pujiannya? Haha ... Maaf saja, aku bukan gadis yang mudah baperan ya!' balas Kana dalam hati.
Kini Zaro membuka pintu menggunakan sidik jarinya dan pintunya terbuka. Nampaknya apa yang Kana ingin lihat selama ini.
Zaro menjentikkan jari di depan wajah Kana hingga akhirnya gadis itu tersadar, "Jangan hanya diam, cepat ikuti aku!"
Kana berdehem sejenak lalu mulai mengikuti langkah Zaro. Namun, sedetik kemudian dia terkaget ketika melihat ada beberapa orang yang sedang mengikutinya dari belakang dan berjalan bersamanya.
"Siapa mereka ini?" Tanya Kana menatap orang-orang berpakaian hitam itu dengan sinis.
"Mereka adalah bodyguard yang aku perintahkan untuk selalu mengawasimu selama kau tak berada di kamarmu. Jadi, buang semua rencana pelarianmu karena semua itu akan percuma saja."
Tangan Kana mengepal kuat mendengar ucapan Zaro. Dia benar-benar tidak bisa bebas dari tempat ini.
"Cih, dasar pria Monster!" Maki Kana dengan suara bisikan.
Zaro berjalan paling depan dan Kana berada di belakang pria itu. Kana merasa sangat risih dengan empat orang pria yang akan terus mengawasi setiap gerak geriknya, termasuk Zaro.
'Tenanglah Kana, kamu harus tenang dan berpikir positif. Kita lihat bagaimana nantinya,' katanya mengepalkan tangan kuat.
Sementara itu, langkahnya sudah semakin jauh dari kamarnya dan Kana semakin diperlihatkan keindahan dari tempat tinggal Zaro. Pandangan matanya menyapu seluruh tempat yang dia lewati dan Kana semakin di buat kagum dengan banyak hal yang dia lihat.
Ternyata inilah penampakan mansion Zaro? Kana baru pertama kali melihatnya langsung dan cukup dia akui jika Zaro adalah orang yang sangat kaya karena rumahnya pun seperti kerajaan meski Kana baru melihat sebagian dari tempat ini.
Bruk!
Kana menubruk punggung Zaro karena tak melihat jika pria itu telah berhenti di sebuah ruangan.
"Sepertinya kau tidak fokus pada jalanmu gadis kecil? Kau sedang memikirkan apa hm?" Tanya Zaro yang kini sudah berbalik menatap dirinya.
"Tidak ada!" Jawab Kana cepat dengan gelengan kepala.
Hal itu membuat Zaro tertawa geli, "ikut aku!"
Zaro langsung menarik tangan Kana dan masuk ke dalam ruangan yang ada di hadapannya. Kana tentu saja kaget dengan perlakuan Zaro yang secara tiba-tiba itu.
"Hei, lepaskan tanganku!" Kana menyentak tangannya agar terlepas dari genggaman Zaro, "Enak aja pegang-pegang. Bukan mahrom tau!"
Seketika Kana sadar di mana sekarang dia berada. Tempatnya berpijak seperti sebuah restoran namun, di dalam mansion. Kana berputar-putar dan mengamati sekelilingnya dengan intens.
"Duduk!" Suara Zaro terdengar membuat Kana menyelesaikan acaranya yang asik mengamati setiap interior ruangan itu. Seorang pelayan Laki-laki datang menghampiri mereka, "Pesanlah apa yang ingin kau pesan!" Melemparkan sebuah buku menu ke hadapan Kana.
Kana membuka buku menu tersebut dan melihat-lihat jajaran makanan dan minuman yang ada di sana, "Apa semua ini halal? Aku tidak akan mau makan jika ini haram," katanya menatap Zaro untuk menunggu jawaban.
"Biar aku pesankan!" Balas Zaro mengambil buku menu tersebut dan memilih dengan cepat. Kemudian pelayan itu pergi untuk menyiapkan pesanan Tuan rumah.
"Kita di sini untuk membahas acara pernikahan kita," kata Zaro mengambil atensi Kana sepenuhnya.
"Sudah berkali-kali aku katakan jika aku tidak mau menikah denganmu. Apa kau tak mengerti bahasaku?" Sinis Kana.
"Kalau begitu sebutkan syarat apa yang harus aku lakukan agar kau mau menikah denganku."
"Tak ada syarat, karena aku memang tak mau menikah, titik!" Memukul meja dengan cukup keras.
"Kau kenal foto ini?" Tiba-tiba Zaro melemparkan sebuah foto ke hadapan Kana. Gadis itu pun langsung mengambilnya dan melihat foto itu, betapa terkejutnya dia saat mengetahui itu adalah foto, Neneknya.
"Kau pasti sangat mengenalnya, kan? Bagaimana kalau aku sedikit bermain dengannya?"
Suara kursi yang terbanting keras karena Kana yang seketika berdiri dan maju ke hadapan Zaro. Namun, saat dia akan menyentuh kerah kemeja pria itu beberapa tangan langsung menahannya, dan itu tak lain adalah bodyguard Zaro.
"Lepaskan! Aku akan menghajar pria ini, beraninya dia ingin melukai Nenekku! Dasar pria Monster! Lepaskan aku!" Suara jeritan Kana yang mengamuk dengan meronta-ronta meminta di lepaskan.
Amarah Kana tak bisa dia tahan lagi ketika mengetahui Zaro akan menjadikan neneknya sebagai korban selanjutnya kekejaman nya.
"Kalian bertiga keluar, aku bisa menanganinya sendiri," perintah Zaro.
"Tapi, Tuan ...."
"Lepaskan dia dan keluar dari sini!" Ketika Zaro telah mengulang kalimatnya dua kali itu artinya adalah perintah mutlak dan ya bisa di bantah lagi.
Ketiga bodyguard itu menunduk sebelum melepaskan tangan Kana dan keluar dari ruangan itu.
"Dasar monster!" Kana berteriak seiring langkah cepatnya yang menuju pada Zaro.
Ketika tangan Kana hendak melayang ke pipi itu, Zaro lebih dulu menahan dua tangan Kana dan membalikkan tubuh gadis itu.
Zaro mendekatkan bibirnya ke arah telinga Kana dan berbisik, "Yah, aku memang monster, Kana. Aku bisa kapan saja melukai Nenekmu ataupun kamu saat aku menginginkannya. Tapi, andai saja kau menurut padaku, aku tidak akan melakukan hal buruk pada orang yang kau sayangi. Namun, kau begitu keras kepala Sayang, tak ada pilihan lain selain ...."
"Jangan sakiti Nenekku, kumohon. Jangan ... Hiks ... Hanya dia yang ku punya. Aku mohon, Zaro ...."
Kata-kata Zaro terhenti mendengar suara lirih dari gadis di hadapannya. Apalagi ketika Kana memanggil namanya seakan ada sengatan yang di rasakan oleh Zaro.
"Kalau begitu mari kita bernegosiasi, Kana. Katakan apa yang bisa kau berikan agar aku menggagalkan niatku menyakiti Nenekmu?"
Kana terdiam beberapa saat sebelum memutuskan, "Baik, aku akan mau menikah denganmu. Tapi, dengan satu syarat!"
"Hahaha ... Kau memang gadis licik yang tidak mau di rugikan, hm? Baiklah aku akan mendengarkan syaratmu, katakan!"
"Kita harus ke kampung halamanku dan meminta Izin pada Nenekku untuk pernikahan ini. Aku tak punya orang tua, setidaknya dengan restu darinya aku akan sedikit bahagia menjalani pernikahan dan rumah tangga ini. Kumohon ...."
-Bersambung....