Dua hari setelahnya, beberapa orang laki-laki dan perempuan masuk ke dalam kamarnya dengan membawa beberapa koper entah isinya apa. Kana hanya bisa mematung di tempatnya karena saat ini Kana baru selesai membersihkan diri. Untung saja Kana telah lengkap dengan pakaiannya saat orang-orang itu masuk.
Tak lama sosok Roand masuk paling terakhir dan menunu ke arahnya.
"Apa semua ini?" Tanya Kana pada Roand.
"Ini hanya beberapa persiapan untuk menuju hari pernikahan Tuan Zaro dan Nona sendiri," jawab Roand.
"Aku tidak pernah setuju untuk menikah!" Tekan Kana menatao Roand tajam.
"Saya rasa semua sudah jelas Nona Kana. Mau atau tidaknya anda, pernikahan ini akan tetap berlangsung."
Tangan Kana kembali mengepal dan Roand menyadari itu. Dia tidak takut jika saja Kana langsung menyerang dirinya. Dia malah tersenyum puas melihatnya.
"Kalian semua cepat bekerja dan laksanakan perintah dari Tuan Zaro. Pilihkan Nona Kana gaun pengantin yang sesuai dan juga cincin pernikahan. Biarkan Nona Kana memilih semua yang dia inginkan," Ucap Roand mundur ke belakang dan memberikan ruang untuk desainer terkenal itu maju dan melakukan tugasnya. Begitupun dengan pemilik toko perhiasan pernikahan yang didatangkan langsung oleh Zaro ke mansionnya.
Kana tak bisa berbuat apa-apa saat ini. Dia pasrah dengan apa yang sekarang di lakukan orang-orang suruhan Zaro saat dirinya di suruh untuk mencoba beberapa gaun pengantin yang sangat mewah. Begitupun dengan mencoba cincin, hingga pilihan Kana jatuh pada cincin emas putih yang terlihat sederhana dengan satu permata merah kecil di atasnya.
"Semua tugas kami sudah selesai, Tuan." Ucap Kepala perancang busana kepada Roand yang sejak tadi berdiri bersandar di daun pintu kamar dan memperhatikan semuanya dari tempatnya.
"Bagus, kalian semua boleh keluar sekarang," kata Roand.
"Baik, Tuan."
Dan beberapa orang itu pun keluar dari kamar tersebut dan meninggalkan Kana beserta Roand yang masih berada di sana.
"Semua pilihan Nona terlihat sederhana sekali. Tapi, jika Nona ingin menukarnya akan saya lakukan," Kata Roand menilai semua pilihan Kana mulai dari gaun dan cincin yang terlihat biasa saja.
"Aku menyukai kesederhanaan. Lagipula, semua barang-barang itu tidak akan ku pakai nantinya. Aku yakin pernikahan ini tidak akan terlaksana," Kata Kana melipat tangan di d**a dan tersenyum sebelah sudut bibir.
"Jika Nona yakin dengan hal itu. Maka, saya juga sangat yakin jika pernikahan ini akan terwujudkan. Kita lihat saja nanti!" Tekan Roand ikut tersenyum satu sudut bibir.
Kana menipiskan bibir secara bersamaan dengan tatapan matanya yang cocok dengan Roand saat ini. Mereka sama-sama saling menatap tajam seakan memberi peringatan pada masing-masing.
"Baik, kita lihat saja nanti!" Kana membuang muka dan masuk ke dalam kamar mandi. Hanya tempat itu saja yang aman dan dia miliki untuk tempat bersembunyi.
Beberapa menit kemudian Kana keluar dari kamar mandi. Namun, dia terkejut kala mendapati sosok gadis yang beberapa waktu lalu datang ke kamarnya dengan ramah tapi, sekejap kemudian dia berubah menjadi murka padanya.
"Untuk apa lagi kamu kemari?" Tanya Kana pada gadis yang bernama Naoni, adik kandung dari Zaro.
"Aku ingin minta maaf sama Kakak tentang waktu itu. Aku benar-benar tulus ingin meminta maaf, makanya datang ke sini," ucap Naoni menundukkan kepalanya dalam.
"Baguslah kalau kamu sadar dengan kesalahanmu waktu itu," Kana berjalan menuju sofa dan duduk di sana. Beberapa menit keadaan di sana hening, "Tidak ada lagi yang perlu di bicarakan, kan? Kalau begitu lebih baik kamu keluarlah. Nikmati kebebasanmu di luar sana, jangan seperti aku yang malah berada di penjara ini layaknya tahanan."
Wajah Naoni terangkat dan dengan langkah pelan berjalan ke arah Kana. Naoni pun duduk di samping Kana dan memegang tangan gadis itu.
"Aku dengar kakak akan menikah dengan Kakakku?"
"Oh, hahaha ... Kamu jangan salah paham dulu. Tak ada yang ingin menikah dengan Kakakmu itu. Kamu hanya salah dengar informasi, tuh," tawa Kana melepaskan tangan Naoni dari tangannya.
"Aku tidak mungkin salah informasi Kak, Kana. Sekarang saja buktinya sudah jelas. Mansion ini telah di hias dan kursi pelaminan yang telah ada di bagian aula besar, dan juga beribu undangan pernikahan telah di sebar juga oleh Kak Zaro. Apa itu belum cukup menjadi bukti nyata kalau Kak Kana akan menikah dengan Kakakku?"
"Kenapa Kakakmu itu sampai segila itu? Aku sudah bilang tidak akan pernah menikah dengannya!" Bentak Kana pada Naoni secara tak sadar. Darahnya seketika mendidih mendengar ucapan Naoni yang membeberkan bukti-bukti pernikahannya akan terlaksana, "Beritahu Kakakmu itu kalau aku tidak mau menikah dengannya lagi! Aku sudah capek berbicara pada pria kejam itu," Sambung Kana.
"Tidak ada siapapun yang bisa membatalkan keinginan Kak Zaro jika dia sudah berkata akan melakukannya Kak," jawab Naoni menatap iba pada Kana yang langsung beristighfar.
Kepala Kana bersabda pada Sofa seakan dia juga tak bisa lagi menopang tubuhnya saat ini.
"Kak Kana yang sabar ya, Kalau Naoni boleh minta satu keinginan pada Kakak boleh tidak?" Tanya gadis itu.
Kana duduk dengan tegak dan menatap Naoni, "Apa itu?"
"Menikah dan bertahan di sisilah Kak Zaro. Aku yakin cepat atau lambat Kak Zaro akan mencintai Kak Kana dengan tulus nantinya ...."
Kana lagi-lagi termenung di dalam kamar itu. Bedanya saat ini gadis itu tengah memandang ke arah bulan dan bintang yang setiap malam menjadi temannya. Kana masih tak bisa merasakan udara luar karena saat ini saja dia bisa melihat benda-benda langit itu dari kaca kecil lewat kaca jendela kecil yang ada di kamarnya.
"Bagiamana keadaan Nenek ya? Aoa Nenek baik-baik saja?" Memikirkan tentang Neneknya, dia pasti sangat mengkhawatirkannya sekarang karena menghilang tanpa kabar. Apalagi sudah hampir dua minggu dia tak mengabari Neneknya karena ponsel dan barang-barangnya di ambil Zaro.
"Nenek baik-baik ya di sana ... Doakan Kana supaya bisa kembali sama Nenek." Doa gadis itu lalu menghampiri tempat tidurnya.
Matanya terlalu pekat dan tak bisa dia tahan lagi. Akhirnya alam bawah menarik Kana untuk mulai bermimpi.
Tak lama sejak Kana tertidur pintu kamar itu terbuka dan suara langkah kaki terdengar mendekati gadis itu. Sosok itu berdiri di samping ranjang dan menatap lurus pada Kana. Dia yang tak lain adalah Zaro sebenarnya sejak tadi mengamati Kana dari Cctv kamar, dan dia ke sini setelah gadis itu tertidur agar tak terjadi percekcokan malam-malam.
Setelah puas menatap wajah Kana, Zaro merogoh saku jasnya dan mengeluarkan sebuah surat di sana. Lalu Zaro menyimpannya tepat di samping bantal Kana. Sebelum dia memutuskan untuk keluar, Zaro berkata menyerupai sebuah bisikan pelan,
"Ini belumlah permulaan, Kana."
-Bersambung....