Zaro memperhatikan dari jarak yang cukup jauh, di mana sosok Kana sedang di periksa oleh dokter yang telah sampai beberapa menit yang lalu. Dia adalah dokter Davin, sebagai dokter pribadi keluarga Xander.
"Bagaimana keadaannya, Dok Dav?" Tanya Roand yang tepat berada di samping Davin.
"Gadis ini ...."
Belum sempat David menyelesaikan ucapannya, tiba-tiba Zaro menyela dengan cepat, "Kita bicara di luar, Dav."
"Baik, Tuan."
David mengikuti langkah Zaro yang telah lebih dulu keluar dari kamar Kana. Ternyata Zaro membawa Davin ke ruangannya dan mereka berdua mulai berbincang di sana.
Sementara itu, Roand dan kepala pelayan yang mengurus Kana masih ada di dalam kamar Kana.
"Lebih baik kamu keluar dari sini," ucap Roand tertuju pada Kepala pelayan yang bernama, Liasa. Dia adalah wanita berusaha hampir 40 tahun dan telah bekerja di keluarga Xander sudah sejak lama.
"Baiklah, Tuan. Saya permisi ...." Liasa menunduk sebelum akhirnya dia ikut keluar dari kamar tersebut dan menutup pintu, meninggalkan sosok Roand dan Kana, yang masih belum sadarkan diri di tempat tidurnya.
Roand berjalan mendekati ranjang Kana. Lalu dia menundukkan kepala hingga menatap jelas wajah gadis itu. Tak cukup berapa lama dia dalam posisi itu, akhirnya dia mengangkat kembali wajahnya. Tanpa ada suara yang dia ucapkan, Roand keluar dari kamar tersebut dengan senyum sinis yang samar di wajahnya.
Di hari berikutnya, Kana telah kembali sehat seperti semula. Saat ini dia sedang duduk bersandar di kepala ranjang sejak beberapa menit yang lalu. Suara pintu yang di buka membuat gadis itu menoleh ke arah sana. Dan di sana, sosok Zaro sedang berjalan menuju ke arahnya dengan tatapan seperti biasanya.
"Hai, kau sudah sehat kembali rupanya?"
Entah itu sebuah pertanyaan atau pernyataan yang di lontarkan oleh Zaro. Karena Kana tak bisa mencerna apa yang pria itu maksud.
"Apa urusanmu denganku? Tidak usah sok peduli padaku," sinis Kana memalingkan wajahnya.
Suara tawa ejekan itu keluar dari mulut Zaro. Pria itu semakin mendekat dan kini duduk di tepi ranjang Kana.
"Aku ingin memberitahumu satu rahasia, apa kamu tau apa itu?" Ucapan Zaro menarik perhatian Kana. Gadis itu perlahan memutar wajah dan menatap pria di hadapannya.
Kening gadis itu mengeryit ketika Zaro sudah semakin dekat ke arahnya, "Kau mau apa! Jangan macam-macam padaku, ya!" Jerit Kana mendorong bahu Zaro dan menghindarkan wajahnya dari pria itu.
"Aku akan membisikkannya kepadamu kemarilah ..." dan Zaro pun membisikkan sesuatu di telinga Kana dengan suara yang dingin,"Jangan pernah mencoba menipuku dengan berpura-pura sakit. Kau pikir dengan melakukan itu kau bisa keluar dari tempatnya ini? Bermimpi saja, Kana."
Di bawah selimut dua tangan Kana terkepal setalah mendengar ucapan Zaro. Seketika itu juga rencananya gagal total. Kana hanya berpura-pura sakit agar Zaro membawanya ke rumah sakit, dan ketika itu terjadi maka Kana akan melarikan diri dari jeratan yang membelenggunya. Tapi, ternyata semua itu dengan mudah di ketahui oleh pria tersebut.
"Kau menangis karena aku mengetahui rencanamu? Haha, sungguh lucu. Ingat, kau itu bukan tandinganku gadis kecil," kata Zaro berdiri dari sana.
"Kau pikir aku gadis yang lemah, hah? Kalau kau pria jantan, maju dan lawan aku! Kau melakukan semaumu, kau pikir kau itu siapa, hah? Apa hak dirimu mengurungku di sini!" Kana berdiri dan menantang Zaro. Dia juga meluapkan semua yang mengganjal di hatinya. Tangannya terkepal erat dengan mata yang mengeluarkan sorot kemarahan.
Prok ... Prok ... Prok ...
Zaro bertepuk tangan terlihat senang melihat kemarahan gadis itu. Saat ini tinggi mereka hampir sama, karena Kana yang berdiri di atas ranjang, "Wow, aku cukup suka dengan keberanianmu. Ku aikui kau gadis yang licik dan juga pemberani, Kana."
Plak!
Tamparan di layangkan Kana ke pipi Zaro begitu saja. Hingga wajah pria itu tertoleh ke samping karena hal tersebut, "Jawab aku, Monster! Kenapa kau mengurungku di penjara ini?!" Jeritnya.
Mata Zaro menyipit dan dengan sekali menangkap Kana dan menidurkannya di atas ranjang dengan kasar. Zaro ada di atas tubuh kana dengan memerangkap Kedua tangan gadis itu di satu genggaman tangannya.
"Beraninya kau melakukannya gadis licik. Baiklah ... Kau akan menerima hukuman atas perbuatanmu tadi!"
Mata Kana langsung membulat kala Zaro dengan sekali tarikan melepaskan jilbab yang menutupi rambutnya. Kini terpampanglah wajah gadis itu seutuhnya dengan rambut panjangnya yang berhamburan.
Zaro terdiam beberapa saat melihat sebuah kecantikan alami yang terpancar dari wajah Kana. Namun, tak lama senyum smirknya mengembang di wajahnya.
"Aku tak menyangkah kau secantik ini. Ternyata kau menyembunyikan kecantikanmu di balik kain itu, hm?"
"Apa yang kau lakukan! Lepaskan aku, lepaskan!" Kana memberontak hebat dengan berusaha keras hingga akhirnya dia bisa menyingkirkan Zaro dari atas tubuhnya dengan menggulingkan pria itu ke sampingnya.
Secepatnya Kana turun dari kasur dan menarik selimut untuk menutupinya kepalanya, "Dasar Monster! Kau tidak hanya jahat, tapi juga pria b***t!" Teriak Kana murka.
Dengan santai Zaro berdiri dan Kana yang waspada langsung berlari ke arah seberang ranjang. Hal itu justru membuat Zaro mengeluarkan sedikit suara tawa lucu dari bibirnya.
"Apa kau pikir aku begitu?" Tanya Zaro masih dengan senyum samar di wajahnya.
"Yah! Kau itu tidak ada bedanya dengan kebanyakan pria di luar sana. Beraninya kau mau melecehkan wanita tanpa menikahinya dulu! Dasar monster!" Maki Kana entah yang keberapa kali dia memanggil Zaro dengan sebutan monster.
"Kalau begitu kita akan menikah satu minggu lagi."
"Kau gila, ya! Astagfirullah, aku yang pasti sudah gila harus terperangkap di sini. Tarik kembali kata-katamu itu karena aku tidak akan mau menikah dengan pria monster sepertimu!"
"Terserah apa katamu, Kana. Karena yang sebenarnya, aku sudah menyiapkan pernikahan kita dengan matang. Mau atau tidak kau, kita akan tetap menikah." Ucap Zaro dengan raut wajah yang serius.
"Aku tidak mau! Sampai kapanpun aku tidak akan mau!" Jerit Kana di tempatnya. Dia bahkan menendang ranjang tanpa alas kaki.
Zaro mengecek jam di tangannya lalu dia menatap kembali Kana, "Aku tidak ada waktu mendengar penolakanmu karena masih banyak urusan yang harus aku selesaikan. Persiapkan dirimu untuk hari pernikahan kita satu minggu lagi. Sampai jumpa, Kana!"
Zaro berjalan menuju pintu kamar dengan cepat Kana mengejar pria itu namun, terlambat karena Zaro telah menutup pintunya kembali.
"Zaro! Aku tidak sudi menikah denganmu! Tidak akan pernah!" Katanya sambil menggedor-gedor pintu kamarnya.
Beberapa menit kemudian Kana terlihat lemah dan duduk bersandar di daun pintu.
"Ya, Allah ... Sekarang aku harus bagaimana? Aku tidak ingin menikah dengan Pria kejam itu. Aku hanya ingin menikah sekali seumur hidup dengan pria yang aku cintai. Tolonglah Hamba Mu ini, Ya Allah ...." Suara lirihan hati milik Kana yang tak ada siapapun tahu selain dia dan yang kuasa.
-Bersambung....