Dari pesan yang dia baca waktu itu, hari ini tepat dia akan bertemu dengan Zaro untuk makan malam bersama. Memikirkan untuk makan malam dengan pria kejam itu, membuat semua pikiran negatif mulai mengganggu ketenangannya. Sekali lagi gadis itu menggigit bibir untuk menenangkan diri.
Kana yang sedang duduk di sofa tiba-tiba terkejut kala pintu kamarnya terbuka. Dia melihat beberapa pelayan masuk ke kamarnya dan sekarang menuju ke arahnya.
"Mau apa kalian?" Seperti sifat Kana biasanya, dia akan waspada terhadap siapapun yang ada di sekitarnya. Kini dia berdiri di atas sofa dengan bantal sofa di tangan sebagai senjatanya. "Berhenti, Gak!" Teriak Kana membuat tiga pelayan wanita itu berhenti 2 meter darinya.
"Maaf, Nona. Kami di perintahkan segera membantu Nona untuk bersiap makan malam bersama Tuan Zaro." Salah satu pelayan menjawab dengan kepala menunduk.
"Tidak perlu, aku bisa sendiri," jawab Kana menolak cepat.
"Ini sudah pekerjaan kami dari sekarang untuk membantu, Nona. Jika kami tidak melaksanakan perintah maka, kami semua akan mendapatkan hukuman," wanita tadi kembali menjawab. Sepertinya dia adalah kepala pelayan teouhat dari baju yang dia kenakan berbeda dari dua lainnya.
Kana mengigit jempol kanannya seperti berpikir.
"Ya, Baiklah. Kalian boleh membantuku. Aku tidak ingin ikut berdosa jika kalian di hukum hanya karena aku tidak mau di bantu," jawab Kana pasrah.
Kana turun dari sofa dan berjalan menuju kamar mandi. Dia berniat untuk mandi terlebih dahulu sebelum mengganti pakaian. Namun, dia merasa aneh seperti ada orang yang mengikutinya menuju kamar mandi. Kana berbalik dan menemukan tiga pelayan yang ikut di belakangnya.
"Mau apa lagi kalian mengikutiku? Aku ingin ke kamar mandi," ucap Kana menghela napas.
"Kami akan memandikan, Nona."
Sontak Kana menyilangkan tangan di d**a, "Yaaakh! Ka-kalian ini kenapa? Aku sudah besar dan tau mengurus diriku sendiri."
"Maafkan kami, Nona. Tapi, memandikan Nona adalah salah satu dari tugas kami," jawab kepala pelayan itu lagi.
"Aku izinkan kalian untuk membantuku dalam hal yang lain. Tapi, tidak untuk satu ini bagiamana?" Kana meminta penawaran.
Terlihat tiga pelayan itu saling berpandangan sejenak lalu mereka bertiga mengangguk seperti telah menemukan jawaban.
"Baiklah, Nona. Tapi, biarkan kami menyiapkan air untuk anda mandi."
Kana berdiri di belakang tiga pelayan yang sedang sibuk menumpahkan cairan-cairan aneh ke dalam bak mandi. Terakhir pelayan itu menambahkan kelopak bunga mawar pink di atasnya, 'Apa itu racun supaya kulitku gatal-gatal atau melepuh? Ah, tapi tidak mungkin juga. Aromanya sangat harum seperti sabun mandi.'
"Silahkan, Nona. Air untuk Nona berendam sudah siap. Kami akan tunggu Nona di luar," Ketiga pelayan itu hendak pergi namun, Kana buru-buru memanggil membuat pelayan itu berhenti dan berbalik.
"Tunggu dulu, aku ingin tanya. Yang kalian masukkan tadi itu bukan zat kimia yang bisa membunuhku, kan?" Ucap Kana dengan polos.
Tawa kecil sedikit terdengar dari tiga pelayan, "Itu hanya sabun tradisional yang berkhasiat sebagai terapi yang menenangkan. Nona tidak perlu takut."
"Oh, oke. Kalian ... Boleh keluar," ucap Kana dengan senyum kaku. Dia malu pada dirinya sendiri karena bertanya seperti itu.
"Baik, Nona."
15 menit Kana habiskan di dalam kamar mandi hanya untuk berendam dan bermain-main busa. Dia seperti sedang berada di kamar mandi hotel. Dan jika saja pelayan itu tidak mengetuk pintu maka, Kana akan terus berendam, tidak ingat waktu.
Kini, Kana telah memakai gaun merah itu di ruang ganti dalam kamar mandi. Jangan lupa jika di luar dari kamar mandi adalah tempat yang berbahaya. Di sana banyak mata yang bisa melihat auratnya dan menimbulkan dosa bagi dirinya. Kana memakai sebuah kain panjang dan keluar dari sana menemui tiga pelayan itu.
"Nona, silahkan duduk di sini. Kami akan mengeringkan rambut dan mendandani Nona," ucap kepala pelayan itu.
Kana duduk dan menatap pelayan yang lebih nampak muda di banding kedua pelayan lainnya, "Jangan membuka kain ini, aku tidak ingin orang lain melihat rambutku. Kalian tidak melihat di kamar ini banyak CCTV? " Kata Kana karena pelayan itu hendak membuka kain penutup kepalanya.
"Maafkan kami, Nona. Kalau Nona takut jika orang lain melihat aurat Nona, CCTV ini telah di nonaktifkan untuk sementara waktu oleh Tuan Zaro karena hal ini." Jawab kepala pelayan.
Mulut Kana terbuka dan membentuk huruf O. Dia pun membuka kain di kepalanya dan membiarkan ketika pelayan itu membantunya dalam banyak hal untuk masalah perempuan. Salah satu yang Kana tak tau adalah Make up.
"Selesai, Nona silahkan membuka mata?"
Kana hampir saja tertidur karena menunggu para pelayan selesai mengurusi dirinya. Dan Kana terbangun dengan menemukan dirinya yang telah berbeda di pantulan cermin.
"Itu siapa?" Tanya Kana masih memperhatikan secara intens wajah di dalam cermin.
"Itu adalah Nona. Sangat cantik." Puji kepala pelayan dengan senyum ramah.
"Hahaha jangan tertipu, itu bukan wajahku yang sebenarnya. Itu hanya karena make up jadi wajahku bisa secantik itu. Ini tipuan," tolak Kana pada pujian yang dia terima tadi.
"Se-sebenarnya Nona malah lebih cantik tanpa make up. Wajah alami Nona sangat berseri." Puji pelayan yang paling muda.
"Iya, betul Nona. Aku bahkan iri oada wajah alami Nona Kana." Kata pelayan yang baru pertama kali bersuara.
"Sudahlah, jangan seperti itu. Semua yang telah ada pada diri kita adalah yang patut di syukuri. Jangan iri dengan fisik orang lain, oke?"
"Nona tak hanya baik namun, juga sangat rendah hati." Puji kepala pelayan.
"Hais, sudah kubilang jangan terus-terusan memujiku." Kata Kana mempoutkan bibirnya.
Kana tinggal memasang sepatunya dan semuanya akan selesai.
"Untuk hal ini kalian juga tidak perlu repot-repot. Kalian sudah bekerja keras sejak tadi," tolak Kana. Dia juga merasa tak enak hati jika dirinya diperlakukan layaknya seorang ratu. Padahal dirinya hanya orang biasa yang bernasib buruk menjadi tahanan Monster kejam.
Kana membawa high heels yang cukup tinggi itu ke arah tempat tidur. Di sana dia akan memasangnya. Namun belum sempat gadis itu sampai di tempat tidur tubuh Kana tiba-tiba jatuh tergeletak di atas lantai.
"NONA KANA!"
Teriakan tiga pelayan itu terdengar sangat terkejut dan panik. Mereka segera menuju ke arah Kana dan mencoba menyadarkan gadis itu.
"Kalian kenapa masih saja di sini? Cepat panggil bantuan!"
Dua pelayan itu berlari ke luar. Mereka langsung menuju ke ara ruangan Zaro dengan tergesa-gesa. Dan ketika sampai di sana, tak ada waktu mengatur napas yang ngos-ngosan, dan langsung mengetuk pintu. Tak lama pintu terbuka dan menampakkan Zaro di sana.
"Maafkan kami, Tuan Zaro." Dua pelayan itu duduk bersimpuh di lantai.
"Ada ada?" Tanya Zaro dengan nada dingin dan tatapan mata yang tajam.
"Nona Kana tak sadarkan diri di dalam kamarnya, Tuan."
-Bersambung....