Dua Puluh Satu: Mengalah

1168 Kata

“Selamat dat-“ Aksa yang sedang melap meja-meja di restoran menoleh ke arah pintu saat denting belnya berbunyi. Pemuda itu terdiam, melihat ayahnya berdiri dengan gaya kaku khasnya. Tidak ada raut khawatir ataupun lega di wajahnya, wajah kaku. Tapi ia bisa melihat lingkaran hitam di bawah mata Wahyu dan kerutan di dahinya yang semakin terlihat jelas. “Saya pesan,nasi goreng kambing. Sama kopi panas satu.”Ucap Wahyu lalu, sembari menarik kursi di dekatnya. Beberapa pengunjung yang mendengar ucapannya sontak mengernyitkan dahi. Nasi goreng kambing dan kopi panas? Rasanya itu tak cocok untuk menu sarapan seperti ini. “Ada lagi Pak?”Tanya Aksa lagi, mulai merasa tak nyaman akan atmosfer mengintimidasi yang menguar dari Wahyu. “Atau mau ganti pesanan saja?” “Tidak.” Wahyu menatap putra sulu

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN