Suara barang-barang yang dibanting terdengar jelas, memantul di setiap sudut ruangan. Pecahan kaca berserakan di lantai, suara logam menghantam dinding, semuanya bercampur dengan isakan yang memilukan. “Tolong berhenti, Bel! Semua barang-barang di rumah ini akan habis tidak tersisa kalau kamu terus melakukan itu.” Rima berdiri beberapa langkah dari sahabatnya, kedua tangannya terangkat, seolah bersiap menahan jika Isabella kembali mengamuk. Nada suaranya lelah, matanya memerah karena ikut menangis sejak tadi. Ia lelah melihat Isabella yang tak juga berhenti, seakan seluruh isi hatinya tumpah bersama serpihan kaca di lantai. “Aku tidak akan berhenti! Aku nggak akan berhenti!” teriak Isabella dengan suara parau, tubuhnya bergetar hebat. Air mata terus mengalir di pipinya yang kini tampak k

