Jihan sudah empat jam menunggu kepulangan suaminya, dari sejak pukul delapan malam Jihan setia duduk manis di ruang tamu berharap Elvan segera menunjukkan batang hidungnya. Akan tetapi hingga pukul dua belas tengah malam, Elvan tak kunjung datang. Nomor ponselnya pun tidak aktif, hingga susah bagi Jihan mencari lokasi sang suami melalui GPS di benda canggih milik Elvan tersebut. "Astaga, Mas. Kemana lagi kamu pergi? Apa kamu masih berusaha mencari keberadaan wanita itu?" gumam Jihan lirih. Rasa khawatir bercampur sedih bersatu padu dalam relung hatinya. Kecewa karena Elvan begitu besar mencintai wanita lain bukan dirinya. "Ya Tuhan, apa aku bisa kuat menahan semua luka ini? Apa aku bisa tegar melihat kesakitan yang dirasa oleh suamiku sebab kehilangan orang yang dia cinta? Sudah benar

