BESREK

1008 Kata
"Sial ... Benang sihir itu dijaga oleh monster yang bernama Berserk. Monster itu adalah mesin pembunuh yang tak kenal ampun dan belas kasihan." Ucap Alden mengumpat kesal. Bagaimana tidak, dia sendiri tidak yakin apakah bisa melawan monster yang terkenal akan kebar-barannya ini. Tapi mereka sudah tidak punya pilihan. Bahkan monster itu sudah mencium kedatangannya. Mereka tidak bisa kabur, satu-satunya jalan hanyalah menghadapi monster itu. Berserk, digambarkan sebagai prajurit tanpa baju atau mengenakan kulit serigala. Sementara Chesa kembali mendesah letih. Sejak awal dia menginjakkan kaki di kastil ini. Semua mahkluk yang berada disini begitu mengerikan dan bar-bar. Jadi dia sudah merasa tidak heran lagi jika bertemu dengan yang lebih dari ini. "Ouh ... Apa aku ditakdirkan untuk mati konyol disini," ucap Chesa dengan raut kengeriannya. Chesa menelan ludahnya berkali-kali melihat monster yang disebut Alden dengan Berserk itu telah menatap mereka seperti predator yang kelaparan. Wajah bengis dari monster itu nampak jelas serta taring tajam yang siap mengoyak tubuh siapa saja yang berhadapan dengannya. "Chesa, kita harus bekerja sama. Sementara aku menghadapi mahkluk ini, kau fokuskan pada benang sihirnya. Dan langsung putuskan menggunakan apapun. Kau mengerti !" Ucap Alden setengah berbisik kearah Chesa. Namun Chesa hanya diam. Lalu mengangguk ragu untuk setuju pada ucapannya. Dengan suara geraman yang keras dan menggema. Monster itu telah menyerang Alden dengan sergapannya. Tak ingin tubuhnya terkoyak akibat taring Monster itu, Alden langsung menghindar dengan melesat cepat, sehingga tubuh monster itu menubruk benda keras yang ada disana. Dengan memukul-mukul tubuhnya sendiri seperti seekor gorila. Monster itu kembali menyerang Alden, kali ini dia berhasil menarik tubuh Alden dan membantingnya kesana kemari, sehingga membuat kepala Alden mengeluarkan darah dan tubuhnya yang terasa remuk. Alden hanya bisa berusaha untuk melepaskan dirinya dari monster itu. Saat sudah berhasil lolos. Dia mengerang karena merasakan sakit di kepala beserta disekujur tubuhnya. Namun monster itu kembali gencar, seolah tak memberi jeda sedikitpun pada Alden. Monster itu mengambil gada berpakunya dan siap menghantam tubuh Alden. Mata Alden terbelalak melihat kebrutalan monster itu, lalu dengan sigap dia berguling-guling kesamping untuk menghindari serangan gada berpaku itu. "k*****t !! Tidak bisakah kau membuatku menarik nafas sejenak. Dasar mahkluk tidak punya perasaan !!" Chesa sempat mencibir saat mendengar umpatan dari Alden yang menurutnya begitu tidak masuk akal. Dia pikir sedang melakukan ajang perlombaan harus memberi jeda untuk beristirahat. Dasar tol*l. Chesa langsung mengambil kesempatan untuk mencari cara memutuskan benang sihir itu, sementara Alden masih bisa bangkit untuk menyerang monster itu. "Terserahlah apa yang akan terjadi nanti, yang terpenting aku sudah berusaha." Gumam Chesa dengan bergetar ketakutan. Chesa mengambil sebuah belati dan menggesekkan nya. Namun belum sempat tangannya menyentuh benang itu, tubuhnya langsung terpental dan menabrak dinding dibelakangnya sehingga menghasilkan bunyi yang cukup keras. BRUKKK Auhhhh .... Chesa meringis kesakitan. Namun dia tidak patah semangat. Berkali-kali dia terus mencoba memutuskan benang sihir itu. Namun hasilnya tetap saja sama. Sihir itu tidak tersentuh sama sekali. Berkali-kali dia mencoba dan berkali-kali pula tubuhnya terpelanting jauh. Kini dia terkapar karena kelelahan sementara tubuhnya terasa remuk seolah tak dapat digerakkan. Nafasnya tersengal serta keringat bercucuran disekujur tubuhnya. Chesa nampak menyerah dan pasrah atas apa yang akan terjadi nanti. Mungkin dia tinggal menunggu giliran monster itu untuk mencabik-cabik tubuhnya menjadi tak berbentuk lagi. Membayangkan hal itu membuat Chesa bergidik ngeri. Sementara itu, Alden mengeluarkan rantai sihirnya dan melilitkan ketubuh monster itu. Mata Alden membulat yang menandakan betapa terkejutnya dia karena monster itu dengan mudah melepaskan dirinya dari jeratan rantai sihir Alden yang menjadi senjata utamanya. Bahkan sesekali membalas serangan Alden. Namun sehebat-hebatnya monster yang bernama Berserk itu. Dia tak mampu juga mengimbangi serangan Alden yang kali ini semakin cepat berkali-kali lipat. Meski darah telah mengucur, namun Alden tidak akan berhenti disitu saja. Dengan serangannya, Alden sudah membuat Berserk kewalahan. Alden bahkan sudah berkali-kali menancapkan sebuah belati di punggung monster itu. Namun monster itu semakin ganas dan bringas. Meski begitu, serangan monster itu kini telah berubah menjadi asal-asalan. Keseimbangan nya menurun, hal itu tidak disia-siakan oleh Alden. Dia langsung mengeluarkan kembali rantainya dan menjerat tubuh monster itu, menarik kuat rantai sihir itu sampai tubuh monster itu remuk dan berbunyi. KRAKK Monster itu ambruk. Namun Alden yakin monster itu masih hidup. Sebab itulah dia mengeluarkan pedangnya dan menancapkan pada Monster yang nampak tergeletak menyedihkan itu. Tidak cukup satu kali Hujaman saja, Alden melakukannya berkali-kali sampai darah hitam yang menyembur keluar mengenai tubuh Alden. Dan memercik wajahnya. Aaaaaarghhhhhhhh Chesa segera bangkit dan menutup telinganya saat mendengar suara teriakan kesakitan dari monster itu menggema. Teriakan yang begitu pilu dan memyakitkan sehingga mendengar nya saja membuat siapapun bergidik ngeri. Sampai akhirnya teriakan itu meredam, seiring dengan kematian monster yang bernama Berserk itu. Monster itu mati dengan kondisi menyedihkan. Matanya terbuka lebar sementara tubuhnya hancur tak berbentuk lagi. Lalu mereka dikagetkan dengan terputusnya benang sihir yang secara tiba-tiba. Membuat keduanya saling menatap bingung. Rupanya sihir itu telah disambungkan dengan Berserk, monster mengerikan dan juga brutal. Typon yang merasa bahwa tidak akan ada yang mampu melawan Berserk sehingga benang sihir itu akan tetap aman. Namun kenyataannya saat ini Berserk telah mati. Dan benang sihir itu telah terputus. Mereka yakin bahwa Serafina saat ini telah sadar. "Jika aku tahu akan seperti ini, maka aku tidak perlu repot-repot mencari cara untuk memutuskan benang sialan itu. Tubuhku pastinya tidak akan seremuk ini," rutuk Chesa memegang beberapa bagian tubuhnya yang masih terasa nyeri. Sementara Alden justru menoyor kepala Chesa karena kesal. "Dasar kau ini !! Seharusnya kau merasa senang karena lewat dari Kematian saat ini !" Meski Chesa ingin sekali mengutuk Alden saat itu juga. Namun dia mengurungkan nya. Bagaimana pun juga Alden benar, dia seharusnya cukup lega karena terlepas dari monster mengerikan seperti Berserk. "Tapi kita tidak boleh senang dulu. Masih ada Typon yang masih hidup, entah bagaimana keadaan Alexis dan Khazayn saat ini. Kita harus segera kesana untuk membantu mereka." Tanpa menunggu lagi, Alden langsung menarik tangan Chesa untuk melesat kembali menemui Khazayn dan kakaknya sebelum terlambat. Tidak membutuhkan waktu yang lama. Mereka akhirnya sampai. Pandangan Alden mengarah pada Alexis yang nampak carut marut. Sementara Chesa membelalakan matanya saat melihat seseorang yang tergelak dilantai dengan mata terpejam. Tubuhnya kaki seketika. KHAZAYN ......
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN