"Lepaskan aku !! Kalian lintah menyebalkan." Wanita itu terus memberontak dan menatap kedua saudara kembar itu dengan tatapan benci.
"Siapa kau? Kenapa kau memburu kami?"
Alexis bertanya dengan nada dingin serta aura yang mengerikan. Matanya menyorot tajam seakan mengintimidasi musuhnya itu.
"Namaku Chesa, Aku dibayar untuk memburu mahkluk seperti kalian," ucap gadis itu dengan angkuh sembari terus memberontak dari rantai yang menjerat tubuhnya.
"Sudahlah kakak, tidak penting bertanya siapa wanita ini. Lebih baik kita habisi saja dia sekarang," ucap Alden seolah tidak sabar.
"Tunggu Alden. Aku rasa kita bisa memanfaatkannya untuk membantu kita mencari Khazayn."
"Hey Chesa, jika kau ingin selamat maka jawab pertanyaanku dengan jujur. Apa kau pernah berurusan dengan mahkluk penghisap darah yang memiliki gelombang energi luar biasa kuat dan pekat. Alat pendeteksi mu pasti pernah menemukannya bukan?" tanya Alexis menunjuk alat pendeteksi Chesa.
Chesa nampak diam sejenak mendengar nya. Gelombang energi yang terlalu kuat hanya pernah satu kali dia temui. Pada saat bertemu Pria berwajah pucat dan memiliki postur tinggi serta warna mata kelabu. Ya, dia pernah bertemu dengan pria itu di toilet wanita. Chesa yakin bahwa mahkluk itulah yang dimaksud oleh sikembar ini, pikirnya.
"Aku tahu. Aku pernah bertemu dengannya. Tapi ...
Kalian harus melepaskan aku dulu. Akan ku antarkan kalian padanya," ucap Chesa nyaris memelas. Namun sikap arogannya masih saja terlihat jelas.
"Cih, kau pikir kami bodoh ! Kami tahu apa yang ada dipikiran otak licikmu itu. Kau pasti akan kabur jika kami melepaskan mu." saut Alden sinis.
"Aku tidak akan kabur," ucapnya tersungut-sungut.
Alexis menyipitkan matanya memikirkan rencana yang bagus agar wanita ini tidak kabur.
"Baiklah aku akan melepaskanmu," ucap Alexis dengan seringai jahatnya. Alden mengerti apa yang dipikirkan oleh Alexis hingga pria itu juga ikut tersenyum jahat dengan rencana mereka pada gadis ini.
Sementara Chesa, perasaannya mulai tidak enak menatap kedua mahkluk kembar itu secara bergantian.
SIAL ...
****
"Sera, apa kau yakin ingin pulang sendirian. Ini sudah cukup larut," ucap Arnold sembari melirik jam ditangannya.
"Iya kakak aku pulang sendirian saja. Lebih baik kau antar saja pacarmu pulang," ucap Sera sembari melirik wanita yang tengah bergelayut manja pada Arnold. Wanita itu tersenyum miring melihat Sera dengan pandangan merendahkan.
Bukannya dia tidak ingin. Hanya saja
Sera akan sangat tidak nyaman berada diantara mereka jika Sera menyetujui keinginan Arnold untuk mengantarnya.
"Sudahlah sayang, biarkan saja dia. Lagi pula dia sudah besar, dia pasti bisa menjaga dirinya sendiri. Benarkan Sera," ucap Wanita itu menatap tajam Sera.
Sera hanya mengangguk pelan dan tersenyum tipis menanggapinya.
"Baiklah Sera, jaga dirimu. Jika terjadi sesuatu segera hubungi aku." ucap Arnold menyentuh lembut bahu adik tirinya itu.
"Baiklah kakak."
Setelah kepergian mereka. Barulah Sera beranjak dari sana. Saat keluar dari kantor, Sera baru menyadari bahwa jalan sudah teramat sepi. Sera bahkan kesulitan mencari taxi disana.
Dengan sangat terpaksa, Sera harus berjalan kaki menuju halte terdekat. Sementara dijalanan yang dia lewati semakin terasa sepi serta aura yang cukup menyeramkan, membuat tubuhnya bergidik ngeri.
Semakin jauh Sera melangkah maka semakin terasa aura mengerikan disana. Sampai akhirnya Sera mendengar suara kekehan yang terdengar samar. Namun terasa begitu dekat.
Tanpa memperdulikan Suara itu, Sera semakin mempercepat langkahnya. Tubuhnya bergetar karena merasa ketakutan.
"Sial, kenapa aku merasa tidak sampai sampai ketujuanku sejak tadi. Padahal halte nya tidak terlalu jauh," Sera merutuk kesal diiringi rasa takut yang teramat sangat. Sera memeluk dirinya sendiri sembari menatap waspada pada sekitar tempat itu. Langkahnya yang menurutnya sudah cepat, namun kenyataannya sangatlah lambat. Hingga membuat Sera terengah.
Sampai akhirnya ....
Whusssshhh
Aaa
Sekelebat bayangan seakan menabraknya hingga membuatnya terjingkat kaget.
"Astaga !! Apa itu tadi?"
"Hehehe,"
Suara kekehan itu semakin terdengar jelas saat Sera semakin mempercepat langkahnya.
Tiba-tiba saja sosok mengerikan sudah berdiri dihadapannya.
Aaaaaa
Sera berteriak ketakutan saat menyaksikan mahkluk yang berdiri dihadapannya. Sosok pria bertubuh jangkung dengan wajah pucat serta taring yang nampak tajam. Bahkan kuku kuku mahkluk itu tidak kalah mengerikan. Urat-urat kebiruan diwajahnya terlihat jelas.
Sera ingin kembali berteriak, namun suaranya tidak keluar, hanya mulut yang terbuka lebar. Bahkan tubuh Sera terasa sangat kaku, sulit untuk digerakkan. Sosok itu kini berubah semakin mengerikan saat dia menunjukan taringnya.
"Heheh, aroma darah yang nikmat. Kau akan menjadi hidangan pembukaku malam ini gadis kecil," ucap mahkluk kegelapan itu dengan seringai jahatnya.
Tanpa menunggu lagi, mahkluk itu langsung menarik Sera dan mencengkram tubuhnya kuat. Wajahnya mendekat kearah leher Sera yang dia buka lebar dan bersiap untuk menancapkan taringnya disana.
Sementara Sera sudah bergetar hebat. Dia sangat ketakutan sampai tidak bisa berbuat apapun, selain memejamkan matanya. Berharap semua yang terjadi hanyalah sebuah ilusi semata.
CRASHHHH
Aaaaa
Suara sabetan pedang dan teriakan mengerikan menggema disana. Sera memberanikan diri membuka matanya melihat apa yang terjadi sebenarnya. Apa ada malaikat yang baik hati menolongnya kali ini, pikirnya.
Pandangannya tertuju pada sosok mahkluk yang tadi sempat mencengkram nya. Mahkluk itu tengah terkapar dengan luka yang menganga lebar.
Lalu pandangan Sera beralih pada sosok pria yang tengah memegang sebuah pedang dengan darah hitam mengalir dipedang itu.
"Khazayn?"
Dalam waktu sepersekian detik, Khazayn sudah melesat dan berada dihadapan Sera. Dan membawa wanita itu kedalam pelukannya.
"Aku harap aku tidak terlambat Sera. Kau baik-baik saja kan?"
Sera hanya mengangguk dan menatapnya tidak percaya. Bagaimana bisa Khazayn tiba-tiba muncul? dari mana Khazayn mengetahui dia berada disini?
Namun belum sempat Sera berfikir semakin jauh. Mata Sera membulat melihat Mahkluk yang tadi telah bangkit dan bersiap menerjang Khazayn.
Mahkluk itu nampak murka, sembari menahan rasa sakit ditubuhnya. Kukunya yang tajam seakan telah siap merobek tubuh mereka sampai tak tersisa.
Entah karena melihat arah pandangan Sera atau memang prediksi Khazayn yang hebat. Secara reflex Khazayn menarik Sera dan membawanya menghindari serangan mahkluk itu. Sera yang hanya terdiam kaku seperti patung. Merasa tubuhnya melayang didalam pelukan Khazayn.
Dengan gerakan secepat kilat, Khazayn kembali menyerang mahkluk tadi dengan menerjangnya sampai terpental lalu mendekatinya dan menarik tubuh mahkluk itu untuk bangkit.
Dalam waktu sepersekian detik, Khazayn menghantam leher mahkluk itu hanya dengan sekali tebasan pedang. Sampai akhirnya kepala mahkluk itu terlepas dari tempatnya.
Sera terbelalak sembari menahan mual, melihat kejadian mengerikan itu. Ditambah lagi melihat mata mahkluk itu yang terbuka lebar. Membuat Sera limbung Sampai akhirnya kehilangan kesadaran nya