BERTUKAR RAGA

1017 Kata
"Sial ... Entah dosa apa yang telah kulakukan Hingga berurusan dengan lintah menyebalkan seperti mereka," gumam Chesa merutuk kesal. Sambil sesekali menghentakkan kakinya. Ingin sekali dia mencakar wajah kedua saudara kembar yang menyebalkan itu. Bagaimana tidak. Alexis memang membiarkan dia terlepas dari jeratan rantai Alden. Namun tubuhnya bertukar raga dengan Alexis. Saat ini, Chesa sedang memakai raga Alexis, Sementara Alexis memakai raganya. Sontak hal itu tidak hentinya membuat Alden tertawa geli. Hahahahah "Berhenti menertawakan ku!" bentak Chesa dengan tangan terkepal serta sorot mata yang tajam. Dia benar-benar merasa dipermainkan saat ini. "Baiklah baik." Alden mengangkat tangannya seakan menyerah. Namun wajahnya masih saja tersenyum geli. Sementara alexis, hanya datar dan acuh, seolah tak perduli dengan keadaannya seperti itu. "Kakak, boleh aku menyentuh itu," ucap Alden menunjuk dadanya, sengaja membuat Chesa kembali murka dan membulatkan matanya. "APAAAAA !! JANGAN .... KAU !! Jangan coba-coba menyentuh nya. Kau lintah sialan !!" Chesa memaki seperti orang yang frustasi. PLETAK Alexis menjitak kepala Alden yang tidak henti-hentinya menggoda Chesa. "Sudah cukup. Berhenti mengganggunya. Sekarang kita harus fokus ketujuan kita." Alexis menghentikan ucapannya dan menoleh kearah Chesa. "Kau ... Cepat tunjukkan jalan menemui mahkluk yang kau katakan itu. Jika tidak ... Maka aku tidak akan pernah mengembalikan wujud aslimu," ucap Alexis dengan ancaman yang kental. Chesa hanya mendengus sebal. Mau tidak mau dia harus menuruti semua keinginan sikembar ini. Chesa pastinya tidak ingin jika harus memakai raga mahkluk kegelapan itu terus menerus. Dan lagi ... Chesa sangat takut jika Alexis berbuat macam-macam dengan raganya. Chesa sampai bergidik ngeri membayangkannya. Sontak hal itu membuat Alexis menyeringai jahat. "Aku tahu apa yang ada dipikiranmu. Tenanglah, aku juga tidak berselera untuk menyentuhnya. Tapi ... Jangan salahkan aku jika aku lupa." ucap Alexis dengan santainya, seakan tak berdosa. "Dasar sialan !! Kau ini cenayang ya? Bisa mengetahui apa yang orang pikirkan," Ingin sekali Chesa mencekik Alexis saat itu juga karena begitu kesal. "Terserah." **** Sera membuka matanya secara perlahan. Matanya menatap bingung pada tempat yang terasa sangat familiar baginya. Suasana yang begitu remang, jauh dari cahaya terang. Begitu sepi dan sunyi. Sera ingat tempat ini. Ini adalah kamar yang dulu dia tempati selama menjadi tawanan Khazayn. "Ya, ini kamar Khazayn. Tapi kenapa aku berada disini?" batin Sera. Lalu dia ingat dengan serangan malam itu yang membuatnya hampir menjadi santapan mahkluk kegelapan. Pada saat itu, Khazayn menolongnya. Tapi ... Dimana pria itu sekarang? Sera langsung duduk. Sembari menatap kesekeliling kamar itu. Lalu pandangan nya tertuju pada sosok pria yang berjalan mendekatinya. Sorotan mata Khazayn yang tadinya nampak hampa kini berubah menghangat saat menatap Sera. "Bagaimana keadaanmu Sera?" "A-aku baik," ucap Sera sedikit gugup. Dia sendiri bingung apa yang membuatnya begitu gugup. Mungkin mengingat hubungan mereka akhir-akhir ini tidak baik. Khazayn menghela nafasnya dan semakin mendekat kearah Sera. Tangannya terangkat untuk menyentuh rambut Sera dan mengusapnya lembut. Namun seketika, dia teringat dengan ucapan Century. Dan hal itulah yang membuatnya menarik kembali tangannya. Sera hanya memperhatikan gelagat Khazayn yang aneh. Biasanya pria itu selalu menempel padanya, tapi kenapa sekarang berubah menjadi dingin dan datar. Apa Khazayn masih marah dengannya? Pikirnya. "Sebaiknya kau pulang. Century akan mengantarmu," ucap Khazayn berbalik dan melangkah pergi. "Khazayn? Apa kau masih marah padaku?" tanya Sera tersungut-sungut. Khazayn menghentikan langkahnya dan kembali menatap Sera. Wajahnya kali ini lebih hangat dan tersenyum tipis. "Kenapa aku harus marah? Lupakan semua yang pernah terjadi diantara kita. Sekarang kau bebas melakukan apapun yang kau inginkan." Sera menatap bingung dan semakin tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar. Jujur saja, Sera tidak suka mendengar ucapan Khazayn barusan. Seolah dia sudah tak diinginkan lagi. Ah sial! apa yang aku pikirkan "Lalu kenapa kau menolongku? Dari mana kau tahu bahwa aku dalam bahaya malam itu?" Sera berdiri dan menatapnya penuh pertanyaan. "Aku hanya tidak sengaja lewat. Aku memperlakukan semua orang seperti itu," saut Khazayn datar. Seakan tidak menerima dengan apa yang baru saja Khazayn katakan. Sera berjalan mendekatinya dan mengangkat wajahnya seakan menantang pria itu. "Begitu ya? Baiklah, aku akan pergi sekarang juga. Tidak perlu ada yang mengantar," ucap Sera ketus. Gadis itu bahkan masih merutuk kesal karena Khazayn seolah tak perduli padanya. Sera keluar dengan langkah lebar dan membanting pintu dengan keras. Bodoh !! Kenapa aku kesal. Dan lagi ... Kenapa aku berharap pria itu mencegah kepergianku. Padahal aku sangat ingin sekali dicegah dan mendengar dia meminta maaf. Bodoh Bodoh Bodoh Ternyata hal semanis itu hanya ada di cerita novel yang sering k****a. Dan sangat berbeda dengan kehidupan nyata ***** Khazayn hanya menipiskan bibirnya menatap kepergian Sera. Jika saja keadaannya tidak seperti ini, pasti sudah sejak tadi dia mencegah kepergian Sera dan kembali mengurung gadis itu bersamanya. Namun benar kata Century. Dia tidak boleh egois. Jika Khazayn mempertahankan Sera, maka akan sangat sulit bagi mereka untuk saling mengikhlaskan jika nanti tiba saatnya mereka harus berpisah. Karena perasaan mereka yang semakin dalam. Saat ini, cukuplah Khazayn hanya melihat dan mengawasi Sera dari jauh melalui sebuah sihir yang dia buat dari beberapa helai rambut Sera, dari sanalah dia tahu semua pergerakan Sera. "Kau akan terbiasa pangeran," ucap Century yang mengerti apa yang dirasakan Khazayn saat ini. "Aku harap begitu Century." ucap Khazayn yang tengah memperhatikan Sera didepan sihir yang dia buat. Dia tahu bahwa Sera begitu kesal dengan sikapnya. Lalu matanya menangkap beberapa sosok yang mencurigakan tengah mendekati Sera. Dari perawakannya saja sedikit aneh. Mahkluk itu nampak pucat seperti dirinya. Tapi tidak terlihat menyeramkan, malah begitu tampan. Hanya saja mereka terlihat lebih muda dari Khazayn. ("Siapa mereka? Gelombang energi samar ini, aku bisa merasakannya. Tapi mereka begitu asing. Apa mereka juga mahkluk penghisap darah lainnya yang akan menyantap Sera?") batin Khazayn. Lalu pandangannya beralih pada sosok wanita yang pernah menyerangnya dulu saat dia harus menyelamatkan Sera waktu itu. "Century? Kau lihat wanita itu. Apa kau ingat bahwa dia yang waktu itu menyerang kita, si pemburu iblis." Century mengamati arah pandangan Khazayn, matanya membulat sempurna. "Benar pangeran. Aku sangat yakin dialah orangnya. Saat itu, aku pikir dia sudah mati saat bertarung melawanku. Aku benar-benar tidak menyangka dia masih hidup." "Apa yang ingin mereka lakukan kali ini. Gawatt !! Aku harus melihatnya sendiri kesana," ucap Khazayn segera menemui Sera dengan melesat cepat. ***BERSAMBUNG .....
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN