SERANGAN SI PEMBURU IBLIS

1001 Kata
Sudah beberapa minggu Sera disibukkan dengan pekerjaan dikantor ayahnya. Keputusan untuk kembali keperusahaan itu membuat Sera merasa bahwa dia masih berada bersama ayahnya disana. Namun meski begitu. Dia tidak menerima keinginan Arnold untuk tinggal bersama dimansionnya, Meski Sera sangat ini. Sera lebih memilih untuk tinggal di Apartemen sendirian. Dia tidak ingin merepotkan Arnold jika terus berada disana. Sejak insiden waktu itu, Sera tidak pernah lagi bertemu dengan Khazayn. Lelaki itu menghilang begitu saja, bagai ditelan bumi. Dan entah mengapa hal itu membuat Sera merasa uring-uringan. Sera bahkan tidak bisa konsentrasi dalam pekerjaan nya. Aarrghhh Sera melempar asal pena yang dia pegang. "Sial, kenapa aku selalu memikirkan pria itu? Bodoh !! Seharusnya aku senang pria itu menghilang dan berhenti mengganggu ku," gumam Sera merutuk kesal. Nyatanya setiap kali gadis itu berusaha untuk melupakan Khazayn, maka bayangan Khazayn semakin memenuhi pikirannya. Hal itulah yang membuat Sera merasa kalut dan gusar. "Apa aku terlalu berlebihan padanya? Tidak. Biarkan saja. Jika aku meminta maaf, dia pasti merasa besar kepala. Biarkan saja, dia berpikir bahwa yang dia lakukan tidaklah benar" Tanpa Sera sadari, sejak tadi Arnold memperhatikan tingkahnya yang aneh. Arnold berdiri membelakangi pintu dengan bersidekap. "Ada apa Sera?" tanya Arnold penasaran. "Ah, kakak? Sejak kapan kau disana?" Arnold menyipitkan matanya memperhatikan gelagat Sera yang aneh. "Aku melihatmu bicara sendirian. Apa kau baik-baik saja?" tanya Arnold memastikan. "Aku? Bicara sendiri? Em, aku baik-baik saja. Aku hanya sedang bernyanyi pelan tadi," ucapnya dengan menaikan bahu. "Apa kau merindukan pria itu Sera?" Kini Arnold berbicara dengan nada lembut. Seakan memaksa Sera untuk terbuka padanya dan tidak menyembunyikan apapun darinya, bagaimana pun juga dia kakaknya. Tidak boleh ada yang dirahasiakan darinya. Sera mendesah letih. "Aku rasa tidak. Aku rasa juga iya. Entahlah ... Aku sendiri bingung dengan perasaan ku sendiri. Aku masih belum bisa memaafkan perbuatannya yang membunuh Merlyn seenaknya," ucap Sera menatap lurus kedepan. Seolah sedang mengingat segala sesuatu tentang Khazayn. "Tapi kau tidak bisa memungkiri bahwa kau juga merindukan nya." ucap Arnold mengambil Tempat duduk dihadapannya. Sera hanya menunduk dan mengangguk kecil. Namun raut wajahnya terlihat murung. Hal itu membuat Arnold mengacak rambutnya dan tersenyum tipis. "Dengar Sera. Terkadang kita harus melakukan sesuatu hal yang buruk demi melindungi orang yang kita cintai. Aku rasa ... Khazayn sedang berusaha melindungimu dari Merlyn. Dia melakukan itu agar tidak ada lagi yang membahayakan keselamatan mu. Meskipun aku juga marah karena dia telah membunuh adikku. Namun disisi lain perbuatan Merlyn juga sangat fatal. Dan itu adalah hukuman untuknya." ucap Arnold dengan segala kelembutan nya. Sera mengangkat wajahnya dan menatap Arnold dengan nanar. Gadis itu seakan terhenyuh dengan setiap ucapan kakaknya. Dia bahagia, untuk pertama kalinya kakak tirinya peduli padanya. "Jadi maksud kakak, Khazayn hanya melakukan yang terbaik untukku?" Arnold mengangguk menanggapinya. "Sudahlah Sera, Jangan terlalu dipikirkan. Lebih baik kau kerjakan hal yang lebih penting dari pada memikirkan pria itu." Arnold lansung berdiri dan melangkah pergi meninggalkan Sera diruangannya yang masih sibuk dengan pikirannya sendiri. "Aku sangat ingin untuk berhenti memikirkannya kak. Tapi aku tidak bisa," gumam Sera menipiskan bibirnya. ***** "Wow. Luar biasa, rupanya dimensi manusia lebih menyenangkan dari yang aku duga. Aku menyukai udaranya yang menyegarkan. Dan aroma darah yang lezat menyeruak dimana-mana." Alexis memutar matanya melihat tingkah saudara kembarnya ini yang begitu berlebihan. Ditambah wajah Alden yang begitu sumringah dengan mulut terbuka. "Jangan bertingkah memalukan Alden. Bersikaplah seperti manusia biasa. Ingat, jangan selalu menggunkan sihir disini. Akan sangat berbahaya jika kaum kita diketahui oleh manusia," ucap Alexis memperingati nya. "Ck, iya-iya aku mengerti." "Dan ingat bahwa kita ini vegetarian. Kita tidak meminum darah manusia, melainkan hewan." Alden berdecak kesal mendengar kotbah Alexis yang tiada hentinya. Sampai dia melangkah duluan seolah tidak mendengar apa yang baru saja Alexis katakan. "Heii Alden !! Kau mendengar ku tidak?" teriak Alexis sembari menyusulnya. Namun langkahnya terhenti saat melihat wanita yang telah menghadang mereka didepan.  "Sepertinya aku bertemu dengan sikembar lintah disini," ucap wanita itu menyeringai jahat. ("Gawat, sepertinya wanita ini mengenali kami. Tapi dari mana dia mengetahuinya?") batin Alexis memperhatikan wanita itu. Rambutnya yang berwarna merah dengan postur tubuh yang kecil. Lalu perhatiannya tertuju pada alat pendeteksi mahkluk dimensi lain. Hal itu membuat Alexis mengerti. ("*Dia ... Pemburu mahkluk kegelapan*.") Alden kembali berdecak. "Sial ... Baru saja menginjakkan kaki disini, sudah ada yang mencari masalah. Tidakkah kau membiarkan kami beristirahat dulu. Dasar manusia tidak punya perasaan !!" maki Alden kesal. Sementara wanita itu hanya tertawa sinis. "Tenang saja, aku akan membuat kalian beristirahat. Beristirahat untuk selamanya dineraka, hahahah ..." Suara tawa wanita itu membuat Alden menutup telinganya. Sementara Alexis sudah bersiap untuk menyerang wanita itu. Alexis tidak suka banyak bicara dan membuang waktu seperti Alden. Dia lebih suka bertindak cepat dan gesit kemudian menghancurkan musuh seperti debu. Wanita itu memulai dengan menembakkan sebuah peluru perak yang akan membuat mahkluk seperti Alexis dan Alden mati seketika jika mengenai jantungnya. Sayangnya tembakkan itu selalu meleset. Alexis dan Alden dengan gesit menghindari setiap serangan wanita itu. Alexis telah berubah wujud menjadi monster mengerikan dengan kuku tajam dan sekeras baja sebagai alat untuk mencabik wanita itu. Tangannya bergerak cepat berusaha menyerang balik dengan kecepatan penuh. Herannya Wanita itu seakan memiliki kekuatan hebat untuk menangkis setiap serangan mereka. Wanita berambut merah itu mengeluarkan kepingan benda tajam yang terbuat dari perak. Lalu melemparkan nya kearah Alexis secara bertubi-tubi. Kecepatan lemparan itu membiat Alexis kesulitan mengindarinya, hingga akhirnya salah satu kepingan perak itu menggores bahunya. Darah segar berwarna hitam mengalir deras disana. Hal itu membuat Alexis murka dan kembali menyerangnya. Namun sama hal nya seperti tadi, meski wanita itu memiliki tubuh yang kecil, namun kelincahan dan kecepatannya sangat luar biasa. Hingga dengan mudahnya wanita itu mengindar dan menyerang balik. Namun sayangnya fokus sirambut merah itu hanya tertuju pada Alexis yang nampak bringas menghadapi nya. Dia terlalu lengah dalam memperhatikan Alden yang sudah mengeluarkan rantai pengikat dari tangannya dan melemparkan kearah sirambut merah itu. SSRAKKK Sirambut merah yang tidak siap dengan serangan Alden membuat rantai itu menggulung sempurna ditubuhnya. Menjerat dengan kuat hingga ia tak dak dapat berkutik. Sementara ujungnya dipegang erat oleh Alden. "YEAH .. KENA KAU !!" ****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN