SIKEMBAR

1027 Kata
"Jadi kau marah padaku karena membunuh wanita itu?" "Aku pikir kau berbeda Khazayn," ucapan Sera melemah kali ini. Wajahnya menunduk penuh ironi. "Aku pikir wujudmu saja yang seperti iblis namun tidak dengan sikapmu. Tapi ternyata aku salah .... Kau bahkan tidak memikirkan bagaimana perasaanku. Kau bertindak semaumu. Kenapa Khazayn? Kenapa kau tidak menghargai nyawa orang lain? Kau bahkan tidak tahu kesulitan seperti apa yang mereka alami selama ini. Kau tidak memikirkan dari sudut pandang orang lain." ucap Sera menatap nya penuh tuntutan. "Aku tidak mengerti dengan jalan pikiran mu Sera. Wanita itu berkali-kali berusaha membunuhmu dan berusaha membuatmu hancur ... "Tapi aku tidak mati. Aku tidak hancur." Sera menyela ucapan Khazayn dengan tajam. Tanpa menunggu Khazayn menyelesaikan ucapannya. "Lihatlah Arnold yang baru saja menyesali perbuatannya. Bukankah dulu dia juga jahat padaku. Tapi sekarang dia berubah. Tidakkah kau berpikir bahwa Merlyn juga bisa melakukan hal yang sama Khazayn !!" "Cukup Serafina Le Loullie, sudah cukup. Terserah kau mau menilaiku seperti apa. Yang jelas, aku tidak menyesal sama sekali karena telah membunuhnya." Sera mendongakkan wajahnya dan semakin menantang. "Ya, seperti itulah dirimu Khazayn De Flourenc. Seperti inilah wujud dirimu yang sebenarnya. Kejam dan tidak punya perasaan. Aku membencimu, aku sangat membencimu Khazayn De Flourenc." Ucapan Sera bagaikan hantaman cambuk yang mengenai tubuhnya. Mata Khazayn berkilat penuh murka. Namun dia tidak bisa melampiaskan nya disini. Khazayn berbalik dan melangkah pergi meninggalkan Sera yang masih bergeming disana. Sera hanya menatap kepergian Khazayn. Tubuhnya tersentak saat Khazayn menutup pintu dengan cara membantingnya keras. Entah mengapa kepergian Khazayn justru membuat perasaannya gusar. Bukannya seharusnya dia senang, karena telah jauh dari pria itu. **** BRAAKKKKKK Khazayn menghancurkan setiap benda yang ada dihadapannya. Matanya berkilat penuh amarah. Sementara tangannya tidak berhenti mengobrak abrik ruangannya. Khazayn nyaris berteriak karena begitu kesal. Seumur hidupnya, dia tidak pernah segila ini dalam menghadapi sesuatu. Setiap kali dia marah, maka dia lansung membunuh orang itu saat itu juga. Namun kali ini khawatir tidak bisa melakukannya, Karena penyebab kemarahannya adalah wanita yang dicintainya. Century yang mendengar suara gaduh, langsung masuk tanpa permisi dan menyaksikan betapa murkanya Khazayn. Bahkan Tempat itu tidak layak lagi untuk dihuni. Pecahan kaca dan rongsokan barang berserakan dimana-mana. Ditambah tembok yang retak karena hantaman tangan Khazayn. Membuat Century menatapnya penuh pertanyaan. "Ada apa ini pangeran? Apa yang membuatmu marah?" Khazayn sengaja ambruk dan berlutut membelakangi Century. Matanya yang tadinya menggelap kini telah meredup. Namun tatapannya nampak kosong. "Serafina ... Dia membenciku Century. Dia membenciku karena aku membunuh saudara tirinya." lirih Khazayn yang terdengar pilu. Century menghela nafasnya. Sesuai dugaannya, jadi karena wanita itu. "Sebenarnya itu bagus pangeran, lebih baik seperti ini." ucap Century dengan nada tenang. Khazayn langsung bangkit dan berjalan kearahnya. Matanya yang tadinya redup kini kembali menyala seakan ucapan Century sengaja menyulut kembali api kemarahannya. "Apa maksudmu Century?" tanya Khazayn dengan menarik kerah baju Century dengan kuat. "Tenanglah pangeran. Dengarkan aku dulu ... Kalian memang lebih baik seperti ini. Karena bagaimana pun juga kau tidak akan bisa bersama dengan gadis itu. Kalian sangat berbeda. Gadis itu adalah manusia biasa, Sementara kau adalah mahkluk penghisap darah. Karena itulah lebih baik kalian berpisah saat ini sebelum cinta diantara kalian semakin besar. Hal itu akan semakin sulit bagi kalian untuk saling meninggalkan." Khazayn melepaskan cengkramannya. Dan menatap bingung pada Century. "Aku tidak mengerti Century. Dan aku tidak ingin mengerti. Aku tidak peduli dengan perbedaan sialan ini. Yang aku tahu, aku menyukainya dan aku akan mendapatkan apapun yang aku inginkan." "Jika kau masih memaksakan ingin memilikinya, maka itu sama saja kau membunuhnya pangeran." "Apa maksud ucapanmu Century?" "Serafina adalah manusia. Kau adalah vampir. Jika menyatukan dirimu dengan gadis itu maka dia akan mati. Dia tidak akan sanggup menampung anakmu untuk berada didalam rahimnya. Sedangkan kau, akan dituntut oleh keluargamu untuk menciptakan penerus kerajaan Flourenc. Jika tidak, maka kerajaan dan seluruh kaum kita akan musnah dan diambil alih oleh pemimpin kejahatan. Itu artinya semua pengorbanan dan usaha orang tuamu sia-sia. "Kerajaan Flourenc? Keluarga? Jadi maksudmu aku masih punya keluarga dan kerajaan ... Itulah sebabnya selama ini kau memanggilku pangeran, begitu?" "Ya," "Lalu dimana mereka sekarang?" "Mereka akan datang untuk menjemputmu, jika waktunya sudah tiba." ****** Sementara itu di Kenshington. Alger telah berhasil mendapatkan keturunan dari Lily berupa anak kembar. Keduanya memiliki ketampanan dan auranya tersendiri. Pada umumnya mereka hanya bersikap layaknya Elf seperti Lily. Namun ternyata ketika kekuatan mereka disatukan. Mereka menciptakan kekuatan yang hebat. Bahkan Mereka telah berhasil mengalahkan ratusan monster dan penyihir jahat yang pernah mereka temui. Hal itu membuat Alger yakin, bahwa mereka sudah siap untuk ikut andil dalam penyerangan nanti. Alexis dan Alden. Keduanya memiliki keunikan masing-masing. Alexis memiliki kekuatan elemen yang berasal dari keturunan Alger sendiri. Sementara Alden memiliki kekuatan merubah wujud menjadi apapun yang dia inginkan yang berasal dari nenek buyut Lily. Sebagai cara untuk mengelabui musuh. Sejauh ini mereka masih banyak belum menyadari kekuatan mereka. Namun meski begitu mereka sudah cukup puas dengan keahlian yang diturunkan dari kakek buyut mereka. "Alexis, Alden. Ayah ingin memberi kalian sebuah misi untuk pergi kedimensi manusia. Temui mahkluk penghisap darah yang bernama Khazayn. Dan bawa dia kesini." ucap Alger memberi perintah pada kedua putranya. "Tapi ayah, disana pastinya ada banyak mahkluk penghisap darah. Bagaimana cara kami mengenalinya, bahwa dia mahkluk yang kita cari?" tanya Alden bingung. Sementara Alexis hanya menyimak dan mendengar kan. Sangat berbeda dengan Alden yang lebih suka banyak bicara, Alexis tipe orang yang pendiam dan dingin. Sama seperti Alger. "Gelombang energinya sangat dahsyat. Kalian pasti bisa mengenalinya saat berada disana." "Benarkah? Aku jadi penasaran seberapa dahsyat gelombang energinya. Kalau begitu kami akan pergi susuai perintah mu ayah. Tapi... " Tapi apa?" tanya Alger yang meninggikan suaranya karena yakin putranya yang satu ini pasti mengharapkan sebuah imbalan darinya. "Heheh ... Jangan marah dulu ayah. Kau terlihat semakin tua jika seperti itu. Apa ayah tidak takut jika ibu nanti berpaling mencari pria lain yang lebih muda dan tampan," Lily yang mendengar hal itu langsung menyikut tubuh anaknya, hingga Alden sedikit meringis. "Cepat katakan apa maumu Alden !!" PLETAKK Awww Alden kembali meringis memegang kepalanya yang di pukul oleh Alexis karena jengah dengan sikapnya. "Jangan dengarkan dia ayah. Kami akan pergi sesuai perintahmu." ujar Alexis tegas. Dan menyeret Alden untuk beranjak dari sana. SIKEMBAR ALEXIS & ALDEN
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN