APAAA!! Aku tidak akan membiarkannya mati. Dia harus hidup. Serafina harus tetap hidup !!"
"Tenanglah pangeran ...
"Bagaimana aku bisa tenang Century? Sera, dia ...
"Kau bisa menyembuhkannya."
Ucapan Century membuat Khazayn terperangah. Matanya menatap bingung sementara dia berharap bahwa yang diucapankan oleh Century barusan bukanlah sebuah lelucon. Jika Century sedang melawak, maka bisa dipastikan kepalanya tidak lagi berada ditempatnya karena amukan Khazayn.
"Pangeran. Kau memiliki keturunan darah abadi. Dengan sihirmu, kau bisa menyembuhkan siapapun."
"A-apa? Bagaimana bisa?" tanya Khazayn menatap nanar matanya.
"Ikutlah denganku."
Khazayn tidak menolak, saat tangan Century menuntunnya mendekati tubuh Sera yang terbaring lemah. Gadis itu nampak memprihatinkan dari sebelumnya. Wajar saja jika dokter mengatakan waktunya tidak akan lama lagi.
"Cepatlah Century jangan membuang-buang waktu. Katakan bagaimana caranya?" ucap Khazayn menggeram tidak sabar.
"Arahkan tanganmu pada tubuhnya. Kau harus berkonsentrasi penuh. Kerahkan semua tenaga dalammu untuk memunculkan semburat api penyembuh. Lakukan dengan teliti. Saat api itu telah keluar. Arahkan keseluruh tubuhnya seolah sedang menyapu bersih."
Khazayn mengangguk paham dan segera melakukan sesuai intruksi dari Century.
Sebelum melakukannya Khazayn menarik nafas panjang agar tidak gagal dalam konsentrasi nya. Lalu tangannya dia letakkan diatas tubuh Sera dengan jarak satu kilan dari atas tubuhnya. Khazayn nyaris menggeram tidak sabar, saat berusaha memunculkan api yang dimaksud oleh Century. Namun api itu belum menunjukan wujudnya sedikitpun. Tapi Khazayn tidak menyerah. Dia semakin berkonsentrasi dan menatap tajam seolah memberi perintah pada tangannya untuk segera mengelurkan api penyembuh.
Dalam waktu beberapa menit setelah peluh, keringat dingin membanjiri tubuhnya. Akhirnya api penyembuh itu menampilkan wujudnya dengan memercik sedikit demi sedikit. Dan lama kelamaan menjadi sebuah kobaran api berwarna ungu kemerahan. Khazayn menatap takjub dengan bakatnya yang baru saja dia temukan hari ini.
Tanpa menunggu lagi, Khazayn menyapu keseluruh tubuh Sera dengan gerakan lambat. Rasa pening dan keringat dingin ditubuhnya seolah tidak berpengaruh sedikitpun dibanding dengan semangatnya untuk menyembuhkan Serafina. Perlahan namun pasti, tubuh Sera yang tadinya bak mayat hidup. Kini berubah kewujud semula.
Api penyembuh itu kini semakin kecil dan perlahan padam. Seiring dengan mata Sera yang terbuka secara perlahan. Khazayn tidak kuasa mengembangkan senyuman nya. Dan menghambur memeluk Sera tanpa memperdulikan kehadiran Century yang menatap jijik kearahnya.
"Syukurlah kau bangun."
Sera menatap bingung dengan yang terjadi. Tubuhnya terasa kaku, mungkin karena terlalu lama berbaring. Matanya menatap Century penuh pertanyaan. Sementara Century hanya menaikan bahunya seolah tak perduli.
Century bahkan enggan untuk beranjak dari sana. Seakan tak memiliki pengertian sedikit Pun pada Khazayn untuk meluapkan semua perasaannya pada Sera.
"Apa yang terjadi? Apa seperti ini rasanya mati?" gumam Sera yang terdengar jelas oleh Khazayn dan Century.
"Kau tidak mati Sera. Kau masih hidup," saut Khazayn antusias dan tersenyum senang.
"Tapi ... Merlyn, dia menembakku dengan racun. Ayahku mati karena itu." ucapnya polos.
"Sudahlah Sera, Lupakan hal itu. Kau masih hidup, dan bernafas sekarang. Bukankah seharusnya kau senang!"
Sera tidak sempat menjawab karena Century lebih dulu mengalihkan perhatian mereka dengan dehemannya.
"Ck, Century pergilah. Dan carilah wanita untuk kau jadikan kekasih agar berhenti mengikutiku," ucap Khazayn karena begitu sebal. Sementara Sera hanya terkekeh geli mendengarnya.
Wajah Century tidak berubah sedikitpun mendengar nya. Namun Century mengikuti keinginan Khazayn untuk pergi dari sana.
Khazayn mendesah lega dengan kepergian Century. Khazayn sempat berfikir, bahwa dia bagaikan orang yang tak tahu berterimakasih pada Century. Berkat bantuannya, Khazayn jadi tahu bakat yang selama ini dia miliki. Namun siakap Century yang menyebalkan membuatnya lupa akan semua kebaikan Century padanya. Khazayn bahkan tidak merasa bersalah sedikitpun telah mengusir pria itu. Untungnya Century sudah begitu paham sifat alami Khazayn yang bersikap seenaknya. Bahkan Century sudah terbiasa dengan mulut pedas Khazayn serta makian yang keluar dari mulut jahatnya. Namun meski begitu, Khazayn melindungi Century dengan segenap jiwa dan raganya. Karena bagi Khazayn Century lah keluarga Satu-satunya yang dia miliki.
"Tidakkah kau begitu kasar padanya?" Sera berucap dengan pelan namun sedikit menekanya.
"Aku hanya kesal," sautnya santai seolah tak merasa bersalah sedikitpun.
Khazayn mendekatkan tubuhnya kearah Sera. Dan membawa gadis itu kedalam pelukannya. Sesekali Khazayn mengecup puncak kepala gadis itu. Sera sendiri bingung Kenapa dia tidak memberontak dan menolak seperti yang biasa dia lakukan pada Khazayn. Sera Bahkan menghirup aroma tubuh Khazayn dengan memejamkan matanya, seolah menikmati aroma yang menyenangkan.
"Apa kau menyukai aroma tubuhku?" ucap Khazayn sengaja menggodanya.
Sontak Sera membuka matanya dan terkesikap. Sera mencoba menggeser sedikit tubuhnya untuk memberi jarak namun tangan Khazayn menahannya.
Sera bahkan tidak bisa menyembunyikan semburat merah yang mewarnai pipinya. Dan hal itu membuat Khazayn menarik sudut bibirnya dan terkekeh geli.
"A-aku hanya ....
Suara Sera langsung terhenti saat menyadari hembusan hangat dari nafas Khazayn yang mendekati wajahnya. Sera yang setengah duduk seakan tak berdaya jika saja tangan kekar Khazayn tidak menahan tubuhnya.
Mereka kini semakin dekat hingga hidung mereka saling bersentuhan. Dan sesekali menggesekkannya disana. Tatapan Khazayn seolah sedang meminta persetujuan pada Sera untuk melakukan hal yang sangat dia inginkan.
Perlahan. Khazayn menyentuh benda lembut dan kenyal itu dengan ibu jarinya. Sampai akhirnya giliran bibirnya yang berlabuh disana. Menyesap dan menikmati kelembutan bibir Sera yang menyenangkan.
Hanya sentuhan kelembutan, namun menyiratkan perasaan yang dalam. Perasaan ingin memiliki yang menggebu-gebu.
****
Sera menatap awas pada Khazayn yang menatap Arnold dengan tajam. Terdengar suara gertakan dari gigi Khazayn yang sedang menahan amarahnya.
"Serafina, bagaimana keadaanmu?"
Ucapan Arnold membuat Sera menatapnya bingung.
"Untuk apa kau menemui Sera? Apa kali ini giliranmu ingin menyakiti nya?" Khazayn bertanya dengan tatapan tajam. Dan penuh peringatan.
Arnold menatap Sera dengan penuh penyesalan. Sera menyadari hal itu, namun lidahnya terasa keluh, untuk sekedar berucap dihadapan kakaknya ini.
"Serafina. Aku tahu aku bukan kakak yang baik untukmu. Aku juga sadar bahwa aku tidak pantas mendapatkan pengampunan darimu. Aku datang kesini untuk menjengukmu, aku sangat mengkhawatirkan keadaanmu,"
Sera terperangah dengan apa yang baru saja dia dengar. Arnold, kakanya ini tidak pernah sekalipun berucap begitu lembut padanya. Apalagi memberikan tatapan yang sendu seperti itu. Yang dia tahu, Arnold sangatlah kasar. Suka membentak dan menyiksanya. Tapi sekarang .....
"Cih, menyesal? Aku tidak percaya dengan penyesalanmu. Siapa yang tahu, apa saja yang ada diotak licikmu itu. Kau bisa saja memanfaatkan kebaikan Sera untuk kembali menyiksanya. Tidak akan aku biarkan kau sampai menyentuhnya, ingat itu." Khazayn lagi-lagi memperingati nya. Namun Arnold tidak tersinggung sama sekali. Dia tidak begitu perduli dengan yang dikatakan Khazayn. Dia hanya ingin mendengar pendapat adik tirinya itu.
Dalam keheningan itu. Arnold menanti tanggapan dari Sera. Namun Sera tidak mengeluarkan suara sedikitpun. Adiknya itu hanya menatapnya, yang dia sendiri tidak mengerti arti dari Tatapan itu. Lalu suara Khazayn semakin membuatnya ingin mundur dan segera pergi.
"Sebaiknya kau pergi. Sera sepertinya tidak ingin memaafkan perbuatanmu,"
Arnold menunduk lesu dan berbalik ingin melangkah pergi, meninggalkan ruangan itu. Namun tiba-tiba suara Sera menghentikan langkahnya.
"Aku baik-baik saja kakak."
Arnold berbalik dan tersenyum haru mendengar suaranya. Apalagi dengan panggilan yang dia rasa, tidak pantas dia dapatkan.
"Terimakasih sudah mengkhawatirkan ku. Dan sebelum kau meminta maaf, aku sudah memaafkan kalian terlebih dulu," ucap Sera memberikan senyuman ketulusan.
Arnold tak kuasa menahan haru dan kebahagiaan atas kemurah hatian adik tirinya itu. Dengan reflex Arnold melangkah lebar dan memeluk Sera dengan erat.
Sera sedikit kaget dengan hal itu. Hal yang pertama kali Arnold lakukan padanya. Sebuah pelukan hangat sebagai saudara yang selama ini tidak pernah dia rasakan. Dengan senang hati, Sera membalas pelukan itu. Buliran bening tanda kebahagiaan mengalir diwajahnya tanpa bisa dicegah. Sera juga bisa merasakan bahunya yang basah, dia yakin pasti Arnold juga sedang menangis saat ini. Sera menepuk punggungnya pelan untuk menenangkan kakaknya itu. Lalu Sera memberanikan diri melirik kearah Khazayn yang tengah berdiri kaku dengan tangan bersidekap. Wajahnya nampak memerah menahan marah. Tapi kenapa dia marah? Pikir Sera.
Sera mengerti alasannya saat melihat pandangan Khazayn yang tertuju pada tangannya yang membalas pelukan Arnold. ("Uh, apa pria ini cemburu? Tapi diakan tahu kalau Arnold kakakku?") Sera membatin kesal.
"Sudah cukup dramanya. Sekarang lepaskan pelukanmu, atau aku yang akan melepaskannya. Jika aku yang melepaskan, maka bisa dipastikan bahwa tanganmu juga akan terlepas dari tempatnya," ucap Khazayn yang terdengar sangat mengerikan ditelinga Arnold.
Arnold langsung melepaskan pelukannya. Dia benar-benar ngeri dengan setiap ancaman Khazayn yang tidak main-main.
"Dasar cengeng!" gumam Khazayn. Untungnya Arnold tidak mendengarnya. Namun tidak dengan Sera yang tahu dari gerakan bibir Khazayn. Sera mencebik kesal melihat Khazayn yang bersikap seenaknya.
"Dimana Merlyn? " ucap Sera terdengar hati-hati. Namun hal itu membuat Arnold menunduk dan menggeleng lemah.
Sera menghela nafasnya. "Aku mengerti. Mungkin dia tidak ingin bertemu denganku."
"Tidak Sera. Bukan seperti itu. Merlyn dia ...
" Merlyn kenapa?" tanya Sera menatapnya lekat-lekat.
"Dia sudah meninggal."
Sera menutup mulutnya Tidak menyangka dengan apa yang baru saja dia dengar. Meski Merlyn telah banyak melakukan kejahatan padanya. Namun bagaimana pun juga, Merlyn juga saudaranya. Sera merasakan kesedihan yang dirasakan Arnold karena kehilangannya.
"Bagaimana bisa?" suara Sera terdengar tercekik.
"Tentu saja bisa, karena aku yang menghabisinya." batin Khazayn.
Sera memperhatikan wajah Arnold yang melirik kearah Khazayn.
"Aku tidak tahu Sera. Saat aku melihatnya dia sudah tidak bernyawa." ucapnya pahit.
"Aku turut berduka kakak," ucap Sera tulus.
Arnold mengangguk. "Terimakasih Sera. Terimakasih karena telah memaafkan kami. Meski aku merasa tidak pantas mendapatkanya tapi aku sangat bahagia."
Sera hanya tersenyum tipis menanggapinya.
"Sera, Jika kau bersedia. Kembalilah bekerja diperusahaan ayah. Aku akan merasa sangat senang, jika kau ikut andil dalam hal itu. Kau bahkan lebih pantas dariku." ucap Arnold membujuknya.
"Aku akan memikirkannya kak," saut Sera tersenyum kecut.
*****
Setelah kepergian Arnold. Kini tinggalah mereka berdua. Sera menatap Khazayn dengan pandangan datar. Sementara Khazayn kembali mendekat kearahnya.
"Berhenti disana !"
Suara Sera menghentikan langkah Khazayn. Dan membuat pria itu menatapnya bingung.
"Jangan bersikap baik padaku, hanya karena ingin menyembunyikan sisi iblismu," ucap Sera tajam. Mata Sera berkilat penuh amarah.
"Apa maksudmu Sera?"
Sera mendengus. "Kau membunuh Merlyn. Kaulah penyebab kematiannya."
"Ya, aku membunuhnya. Aku melakukannya untukmu Sera," saut Khazayn santai, tanpa rasa berdosa sedikitpun.
"Untukku? Apa kau pikir aku menginginkan hal itu?" jawab Sera lantang.
Khazayn menggeleng tidak mengerti. Ada apa dengan wanita ini. Bukankah seharusnya dia mendapatkan ucapan terimakasih, karena telah membalaskan dendamnya. Tapi kenapa Sera malah meledak marah padanya? Pikir Khazayn.
"Sera, aku hanya ...
" Sudah cukup Khazayn De Flourenc. Aku muak dengan sikapmu yang seenaknya. Kau tidak bisa seenaknya mengambil nyawa orang lain. Kau tidak punya hak untuk itu."
"Aku membunuh puluhan bahkan ratusan manusia Sera, dan aku hanya membunuh manusia yang tidak pantas untuk hidup seperti wanita itu. Dan lagi, wanita itu adalah bagian dari masa lalumu yang buruk. Dengan membunuhnya akan membuat hidupmu lebih damai."
Ucapan Khazayn membuat Sera tertawa hambar. Dan hal itu membuat Khazayn semakin bingung dengannya. Entah apa yang ada dipikiran Sera saat ini. Rasanya ingin sekali Khazayn menyelam kedalam otaknya dan mencari sendiri jawabannya.
"Kau membunuh seseorang dengan seenaknya. Kau tidak menghargai nyawa orang lain."
"Hidupnya tidak berharga Sera, maka dari itu aku membunuhnya."
Sera menatap tak percaya. Bisa-bisanya Khazayn dengan mudah mengatakan hal seperti itu. Meski dia tahu pria ini tak memiliki perasaan, namun setidaknya tidak dengan membunuh orang begitu saja. Bahkan tanpa meninggalkan rasa bersalah sedikitpun. Sera merasa tidak sepemikiran dengan Khazayn hingga hal itu menimbulkan kesalahpahaman diantara duanya. Sedangkan Khazayn hanya ingin melenyapkan siapa saja yang telah berani mengusik kehidupan wanitanya.
"Kau memang iblis tak berperasaan Khazayn. Apa itu Satu-satunya cara yang kau miliki, dengan membunuh mereka?"
"Ya, mereka pantas mendapatkannya."
BERSAMBUNG ....