MENGHUKUM

1103 Kata
"Apa yang kau lakukan Merlyn !! Sudah kukatakan jangan mengganggu Sera lagi. Apa kau tidak tahu bagaimana Khazayn jika dia marah. Dia bukan hanya akan membuat kita jadi gelandangan. Tapi juga akan membuat kita mati secara perlahan. Kau mau hal itu sampai terjadi !!" Arnold nyaris frustasi saat mengetahui apa yang telah dilakukan Merlyn pada adik tirinya itu. Jika sampai Khazayn tahu maka habislah mereka. Namun Merlyn tidak merasa bersalah sedikitpun. Wajahnya terlihat semakin angkuh. "Tenanglah kakak. Aku yakin Serafina bukanlah wanita yang penting bagi Khazayn. Kau tahu sendiri bahwa selama ini Khazayn suka bergonta-ganti wanita. Mungkin Serafina hanya salah satu teman ranjangnya saja." saut Merlyn dengan wajah tanpa dosa nya. Hal itu membuat Arnold menggeleng tidak percaya. Dia pikir selama ini dialah sosok iblis bagi adik tirinya itu. Namun ternyata dia salah. Merlyn lah yang pantas dijuluki sebagai Ratu iblis sesungguhnya. "Aku tidak ingin ikut campur kali ini Merlyn. Jika sesuatu terjadi padamu, maka itu sudah nasibmu karena tidak mengindahkan ucapanku." Arnold segera melangkah pergi, meninggalkan Merlyn sendirian dikamarnya. Sementara Merlyn hanya memutar matanya. Merasa tidak akan terjadi apapun padanya. Namun ternyata dugaannya salah. Tiba-tiba angin berhembus begitu kencang, hingga membuat tirainya berterbangan. Disusul dengan aura mencekam yang mengelilingi ruangan itu. Merlyn bisa merasakan kengerian dan sedikit ketakutan. Namun dia menepisnya dan berusaha tidak menghiraukan hal itu. Sampai akhirnya lampu kamarnya padam secara tiba-tiba. Dan membuatnya semakin kaget. "Sial. Kenapa lampunya mati," maki Merlyn. Lalu mencari senter atau alat apapun yang bisa dia gunakan untuk menerangi kamarnya. Samar-samar Merlyn mendengar suara kekehan dan langkah kaki seseorang yang mendekat kearahnya. Merlyn pikir itu adalah kakaknya Arnold. "Kakak?" Tidak ada jawaban, namun langkahnya semakin dekat. "Kakak, jangan bercanda. Aku tidak takut sama sekali !!" Merlyn mulai ragu. Arnold tidak suka bermain-main seperti ini. Kakanya itu bukanlah tipe pria yang suka bercanda dan jahil. Jika bukan Arnold, lalu siapa? Apa pencuri? pikirannya. Namun belum selesai dia menebak siapa orang itu. Lampu kamarnya tiba-tiba hidup, namun tidak seterang sebelumnya. Hanya sedikit cahaya remang disana. Namun Merlyn masih bisa mengenali siapa orang yang berada dihadapanya saat ini. "Tu-tuan Khazayn !!" Merlyn terbelalak kaget melihat Khazayn yang datang dengan penampilan berbeda. Ternyata aura mencekam yang dia rasakan berasal dari pria ini. Mata Khazayn nampak menghitam, wajahnya semakin pucat Sementara kukunya berubah menjadi panjang dan tajam. Merlyn semakin takut saat melihat Khazayn menyeringai dengan mengeluarkan taringnya. Aaaaaaaa Merlyn berteriak histeris. Namun teriakannya tidak akan ada yang mendengar. Khazayn selalu membuat ruangan tempatnya mengeksekusi para korbanya menjadi kedap suara akibat sihirnya. Merlyn mundur Beberapa langkah dan mencoba melarikan diri. Namun tangan Khazayn menarik lehernya hingga Merlyn meringis kesakitan. "Mau lari kemana kau iblis betina !!" Suara Khazayn yang terdengar pelan, namun membuat Merlyn bergidik ngeri mendengar nya. "Tu-tuan ... Aku menyesal, maafkan aku. Aku berjanji tidak akan melakukannya lagi," ucap Merlyn dengan ketakutan yang luar biasa. Keringat dingin telah membanjiri sekujur tubuhnya. "Penyesalanmu sudah terlambat !! Kau harus membawanya sampai keneraka." CRAaaaassshhhhhhh Aaaaaa Khazayn mencakar tubuh Merlyn hingga membuat luka dengan garis panjang yang menganga. Darah segar mengucur deras dan baunya menyeruak diudara. Membuat Khazayn seolah sedang menikmati aroma masakan yang begitu nikmat. Khazayn bahwa baru ingat bahwa sudah begitu lama dia tidak melepaskan dahaganya dengan meminum darah. Dan kali ini dia akan menenggak habis darah Merlyn sampai puas. Namun sebelum itu, Khazayn masih ingin menyiksanya terlebih dulu. Merlyn berteriak kesakitan. Tubuhnya bergetar karena begitu ketakutan melihat sisi iblis dari Khazayn yang tidak pernah Merlyn sadari sebelumnya. Belum puas hanya dengan cakaran, Khazayn membenturkan kepala Merlyn dengan keras, hingga dahinya berdarah. Belum sempat Merlyn merasakan sakitnya benturan keras didahinya, kini dia harus merasakan sakitnya cengkraman tangan Khazayn yang membuat tubuhnya koyak akibat tancapan kuku tajam yang dimiliki Khazayn. Aaaaaaaa Merlyn semakin melolong kesakitan. Penderitaannya tidak sampai disitu saja. Kini, Khazayn telah mendekatkan wajahnya keleher Wanita itu. Menancapkan taringnya dalam-dalam hingga Merlyn merasakan panas dan nyeri disekujur tubuhnya. Kepala Merlyn terasa begitu sakit seolah ditimpa oleh batu Yang teramat besar. "Ampu-ni a-ku .... Khazayn menyedot habis darah Merlyn dengan rakus. Tanpa memperdulikan rintihan kesakitan dari mulutnya. Merlyn merasakan sakit yang luar biasa, sampai akhirnya dia ambruk tak bernyawa. Khazayn menyeringai puas Melihat wanita itu mati dalam keadaan mata terbelalak serta tubuh yang carut marut. Keadaan Merlyn sangat menyedihkan serta mengerikan. ***** Arnold hanya menatap lurus kedepan. Pikirannya begitu kalut memikirkan adik tirinya saat ini. Entah bagaimana keadaan Sera saat ini. Dalam hatinya yang teramat dalam Arnold begitu mencemaskannya. Arnold mengakui kebodohannya selama ini, karena telah menyakiti Sera tanpa sebab. Arnold begitu lemah dihadapan ibunya dan Merlyn yang selalu saja mendesaknya untuk membenci Serafina. Padahal dalam hatinya dia tidak pernah sedikitpun membenci gadis malang itu. Jika saja ibunya tidak memaksanya untuk membenci Sera, pasti saat ini mereka tengah hidup damai. Arnold sangat menyesal. Ingin sekali rasanya dia meminta maaf pada adik tirinya itu. Namun dia tidak yakin, bahwa adiknya akan memaafkan perbuatannya. Ditambah perlakuannya yang kasar, bahkan hampir menjual Sera dipelelangan. Arnold semakin tidak yakin bahwa Sera akan memaafkan nya. Namun meski begitu, Arnold tidak bisa berdiam diri dengan mengkhawatirkan keadaan Sera. Dia ingin sekali menjenguknya saat ini juga. Dan memastikan bahwa Sera baik-baik saja. ("Aku harus melihat kondisi Sera saat ini juga. Tidak perduli dia mau menerimaku atau tidak. Yang pasti aku tidak boleh berdiam diri dan berkubang dengan rasa penyesalan ku seorang diri disini. Dan Merlyn, aku harus mengajaknya. Dia juga harus memohon pengampunan Sera atas perbuatannya.) Arnold segera bangkit untuk mengajak Merlyn menemui Sera. Dan meminta maaf padanya. Arnold sudah sangat bertekad untuk memaksa Merlyn bagaimana pun caranya. Sudah cukup mereka membuat Serafina menderita selama ini. Kini saatnya mereka harus berdamai. Namun saat Arnold membuka kamar Merlyn. Matanya terbelalak, tubuhnya membeku melihat kondisi adiknya itu yang sudah tak bernyawa lagi. Arnold begitu histeris saat melihat adiknya mati dengan cara yang menggenaskan. MERLYN ... !! **** Khazayn menyelusuri lorong rumah sakit dengan tergesa-gesa. Meski dia baru saja melampiaskan kemarahannya. Namun kecemasannya terhadap Sera belumlah berakhir. Langkahnya semakin cepat, saat menyadari kehadiran Century yang telah duluan berada disana. "Century, Bagaimana keadaan Sera?" Bukannya menjawab, Century malah bertanya balik padanya. "Pangeran kau dari mana saja? Dan, kenapa kau membawa wanita itu ketempat ini." Khazayn sendiri bingung. Dia tidak pernah berurusan dengan rumah sakit sebelumnya. Jadi dia tidak punya pilihan lain selain membawa Sera kesini. "Memangnya aku harus membawanya kemana lagi Century? Cepat katakan bagaimana keadaanya?" Khazayn nyaris mengerang, saat mendengar pertanyaan yang tidak masuk akal dari mulut Century. "Tentu saja dia tidak sedang baik-baik saja pangeran. Dokter bahkan memfonisnya akan mati dalam beberapa jam kedepan." saut Century dengan wajah datarnya. Sontak hal itu membuat Khazayn semakin frustasi. "APAAA !! Aku tidak akan membiarkannya mati. Dia harus hidup. Serafina harus tetap hidup !!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN