Chesa mencebik kesal. Mulutnya kini tidak henti-hentinya mencibir dengan mengeluarkan semua sumpah serapah pada Alden yang yang bersikap seenaknya. Memperlakukan dia dengan serampangan. Harga diri Chesa benar-benar merasa dinodai.
Lintah sialan! Beraninya dia mempermainkan ku!! Sampah tidak berguna.
Mata Chesa kini menatap nyalang pada sebuah kastil yang berada ditengah-tengah hutan dan tutupi oleh banyaknya pohon Venus yang berjajar rapi mengelilingi kastil itu. Suasana yang tidak kalah mencekam dari sebelumnya, saat mereka memasuki hutan itu. Dan kini ... Aura mengerikan bertambah melingkupi mereka seolah mengurung mereka dibawah kengerian itu.
Alat pendeteksi milik Chesa kini bergetar lebih cepat dan menghasilkan alarm tanda bahaya bahwa disini terdapat banyak mahkluk penghisap darah. "Sepertinya tempat ini sarang mereka," gumam Chesa dengan menelan ludahnya berkali-kali. Rasa takut itu menjalar ditubuhnya. Meski seringkali ia tutupi agar Alden tak mengejeknya.
"Jika kau tidak punya nyali untuk masuk, lebih baik diam disini," ujar Alden dengan nada mengejek. Lalu meninggalkan Chesa begitu saja mengikuti langkah Khazayn dan Alexis yang sudah lebih dulu meninggalkan mereka.
Tentu saja Chesa menatapnya penuh permusuhan. Setiap kata yang terlontar dari mulut Alden tak ada satupun yang tidak mengusiknya. Ketika kedua orang itu dipertemukan maka yang terjadi hanyalah pertengkaran.
"Sudahkah aku mengatakan bahwa aku sangat membenci iblis itu, hari ini."
Lagi-lagi Chesa mencibir Alden yang selalu saja memprovokasi dirinya. Sembari menyusul langkah Alden dengan berlari kecil.
Chesa tidak punya pilihan. Bahkan menunggu disini sama berbahayanya, dia tidak ingin mati konyol dengan menjadi bulan-bulanan mahkluk penghisap darah lainnya disini. Perjuangannya selama ini akan sia-sia. Padahal dia sudah bersusah payah sampai sejauh ini. Chesa tak ingin mengecewakan dirinya sendiri.
*****
Pintu gerbang kastil itu telah terbuka. Seolah mempersilahkan Khazayn dan sikembar vampir masuk. Namun tidak dengan Chesa yang terpental karena tidak bisa masuk kedalam sana. Seolah tubuhnya tengah ditendang keluar setiap kali dia menginjakkan kaki di kastil itu. Tentu saja hal itu karena telah dibentengi oleh dinding sihir, yang tidak akan bisa membuat manusia biasa sepertinya bisa masuk kedalam sana.
Hal itu membuat Alden, lagi-lagi memutar matanya. Kehadiran Chesa benar-benar menyusahkannya. Lalu matanya tertuju pada alat pendeteksi Chesa yang berkedip.
Tanpa permisi, Alden menarik alat itu dan membuangnya asal. Membiarkan Chesa membulatkan matanya karena sangat terkejut dengan sikapnya yang secara tiba-tiba itu.
Sontak hal itu membuat Chesa geram dan menendang kakinya keras, membuat Alden terkesikap dan jatuh, karena tidak siap dengan serangan itu.
"Auhhh ...
Apa yang kau lakukan !!" Bentak Alden sembari menahan sakit dibokongnya.
"Seharusnya aku yang bertanya padamu. Apa yang kau lakukan? Kenapa kau membuang alat pendeteksi ku?"
Alden bangkit dan menatapnya tajam. Sementara giginya menggertak kesal. Lalu mendorong tubuh Chesa masuk kedalam kastil itu. Chesa yang berpikir akan mental kebelakang justru kaget saat tubuhnya justru terhuyung kedepan yang membuatnya tersungkur dengan cara yang memalukan. Dia telah berhasil masuk kedalam kastil itu. Tapi... Kenapa bisa? Padahal tadi dia jelas-jelas tidak bisa menembusnya, Batin Chesa.
"Lihatlah ...
Alat pendeteksi sialanmu itu penyebabnya, alat itu bahkan sama seperti pemilik nya. Sama-sama tidak berguna !!" hardik Alden setengah mendesis. Menggeleng kepala dengan kebodohan Chesa.
Baru saja Chesa ingin menyela dengan mengeluarkan semua umpatan didalam mulutnya. Namun suara Alexis menghentikannya.
"Apa yang kalian lakukan? Ini bukan saatnya untuk bermain-main." Alexis serius dengan ucapannya. Bahkan Alden yang seringkali terkekeh, kini terdiam saat Alexis bicara.
("Apalagi si bodoh ini. Siapa juga yang sedang bermain-main. Apa dia tidak bisa melihat wajahku yang tengah kesal, Dasar sampah !!") Batin Chesa menggerutu. Dan hal itu tentunya bisa didengar oleh Khazayn.
"Berhenti mengumpat. Atau akan kupatahkan lehermu sekarang juga." ucap Khazayn menahan geramannya.
Bukan tanpa alasan Khazayn berkata seperti itu. Melainkan setiap kali mendengar rutukkan serta umpatan Chesa membuat kemampuan prediksi serta konsentrasi nya buyar. Dan Khazayn akan kesulitan menemukan keberadaan Serafina disana.
Melihat ancaman yang tidak main-main. Serta aura yang mengerikan dari wajah Khazayn membuat Chesa bungkam. Tidak ada nyali sedikitpun baginya untuk melawan kali ini. Chesa benar-benar merasa terintimidasi oleh tatapan Khazayn yang mematikan.
Mereka akhirnya masuk kedalam sarang iblis itu dengan langkah waspada. Gelombang energi yang kuat mulai mereka rasakan. Sekujur tubuh Chesa merasakan ketegangan saat menginjakkan kaki kedalam sana. Matanya menatap awas pada banyaknya kelalawar yang bergantungan di langit-langit kastil itu seolah sedang mengawasi gerak-gerik mereka. Bulu kuduk Chesa berdiri seakan ikut serta merasakan aura yang mencekam.
Lalu mereka dikagetkan dengan kemunculan mahkluk berupa manusia setengah kelalawar yang menghadang mereka. Mahkluk itu begitu mengerikan dengan taring panjang dikedua sisi mulutnya. Serta kuku tajam dan panjang yang siap mencabik siapapun yang berurusan dengannya. Matanya yang merah menatap lapar pada Khazayn dan kedua vampir kembar serta Chesa yang berdiri kaku dibelakang mereka. Seperti predator lapar yang telah menemukan mangsanya.
"Aku tidak punya waktu untuk menghadapi mahkluk sampah ini !!" Ucap Khazayn dingin. Lalu matanya menatap Alexis seakan memberi isyarat padanya untuk menghadapi mahkluk itu.
Alexis yang mengerti maksud Khazayn langsung melempar tatapan yang sama dengan Alden, yang membuat pria itu mendengus. Dan mencebik kesal.
Khazayn langsung mengambil jalan lain untuk masuk kedalam sana. Yang disusul oleh Alexis. Sementara Alden yang harus menghadapi mahkluk mengerikan itu.
Chesa terjingkat kaget. Saat mata Alden menatapnya dengan pandangan yang sama seperti yang Khazayn dan Alexis lakukan. Chesa langsung mengangkat tangannya dan menggeleng kuat.
"Tidak !! Kau tidak bisa memaksaku untuk melawan iblis itu sendirian. Kalian tidak bisa melemparkan masalah padaku begitu saja." Chesa nyaris mengerang mengatakan hal itu. Dia sadar dia tidak akan mampu melawan mahkluk mengerikan itu seorang diri. Karena dia tidak pernah berhadapan dengan mereka. Selama ini Chesa hanya menghadapi iblis biasa yang terkesan lemah. Tidak pernah sekalipun berurusan dengan mahkluk seperti ini.
Alden hanya terkekeh melihat tingkah Chesa yang menyedihkan. Ingin sekali dia menjahili gadis itu saat ini. Namun sekarang bukanlah saat yang tepat untuk melakukan hal itu. Yang terpenting sekarang dia harus membunuh mahkluk mengerikan ini dulu.
"Berhenti tersenyum sinting seperti itu! Lawan mahkluk itu kalau kau memang hebat." Chesa mendelik kearah Alden yang senantiasa mengusiknya. Menjahili dengan berbagai macam cara yang membuatnya merasa dipermalukan.
"Tentu saja itu mudah. Tapi... Bukankah lebih baik kau saja yang melawannya? Bukankah kau juga pembunuh monster."
"Berhenti menghinaku. Kau juga sama tidak berguna nya."
"Ckck, menyedihkan!"
To be continuee