BAGIAN 42

1711 Kata

"Jangan senang dan bangga dulu, Ran! Memangnya kamu yakin kalau janin itu darah dagingmu? Bukankah dia sempat bertemu dengan laki-laki itu saat di Bandung dulu?!" Suara Mbak Selly kembali terdengar. Cukup halus, tapi kata-kata yang diucapkannya begitu tajam menghunus jantung. Mas Amran menghentikan langkah lalu membalikkan badan dengan cepatnya. Sorot matanya tajam, menjurus kakaknya yang masih duduk di samping mama. Mbak Selly yang ditatap seperti itu tetap bersikap seperti semula yang seolah tanpa dosa. "Apa mbak bilang? Coba ulangi lagi?" Mas Amran semakin mengeratkan genggamannya. "Jangan bangga dulu, belum tentu darah dagingmu. Belum tentu anak itu berasal dari spermamu! Ada banyak kemungkinan yang nggak kamu tahu, Amran. Tak perlu sepolos itu, apalagi dia sempat bertemu dengan

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN