Aku bangun dari tidur, sepi dan senyap. Tidak lupa juga dengan suara jarum jam yang terus berputar. Kedua mataku melirik, melihat jam dinding. Pukul 2 dini hari. Tidak seperti biasanya aku akan terbangun di tengah malam. Tenggorokanku rasanya sangat kering.
Aku memutuskan untuk membuka selimut, lalu berjalan kearah kulkas di sudut ruangan. Aku meminum air yang baru saja ku tuangkan kedalam gelas.
Heeem... Heem... Heem.. Heem... Heem...
Gumaman itu kembali ku dengar, kali ini di sertai dengan angin yang menerpa leher bagian belakang.
"Sera....."
Dengan susah payah, aku menelan silvah. Ketika mendengar suara itu. "S... Siapa?"
Heeem... Heem... Heem.... Heem.... Heem...
Heeem... Heem... Heem.. Heem... Heem...
"Ja.... Jangan bercanda!"
Ah, tidak mungkin jika bercanda. Bukankah ini tengah malam? Saat satu langkah akan kembali ke ranjang, aku mendengar suara kran air yang berbunyi. Nafas ku memburu, taku. Aku akui saat ini aku sangat-sangat takut. Apa semua ini ulang Rindu? Apa dia marah? Karena buku diarynya ada bersamaku? Aku bingung.
"Sera..."
Aku mendengar lagi rintihan itu.
"Tolong aku Sera...."
"Hihihihihihihi....."
"Hihihihihihihi....."
Suara itu benar-benar jelas di telingaku. Keringat mulai membasahi tubuhku. "Si... Siapa kamu? Jangan ganggu saya!" kata ku, memberanikan diri untuk menatap sekeliling ku.
"Tolong aku Sera...."
"Hihihihihihihihi...."
"Rindu! Aku nggak pernah ganggu kamu. Jangan seperti ini!" ucap ku,
"Hihihihihihihihi...."
Tiba-tiba, hordeng kamar ku bertebangan. Angin sangat kencang menerpa ku. Samar-samar dapat ku lihat ada sesuatuh melayang, wujud seorang perempuan mengunakan baju seragam sekolah.
Aku menatap kaku, mahkluk tersebut, sebelum akhirnya kesadaranku hilang.
***
Sinar matahari menyinari wajahku, kepala ku terasa sangat pusing. Aku bangkit, ternyata aku terjatuh di lantai yang dingin ini. Saat duduk, aku dapat mengingat semuanya. Kejadian semalam, benar-benar di luar dugaan.
Aku bangkit, pukul 6 pagi. Semalam, Rindu benar-benar menunjukan wujudnya semalam. Dan membuatku pingsan tergeletak di lantai. Aku hembuskan nafas kasar. Lebih baik aku mandi dan berangkat ke sekolah.
***
Aku menyusuri koridor sekolah. Pagi ini benar-benar pagi yang membuat ku malas. Di koridor aku bertemu dengan Langit, lelaki itu sedang ngobrol dengan beberapa siswi di koridor.
Aku menaruh tangan ku di pinggang, Langit masih belum menyadari keberadaan ku. Lelaki itu masih senang tiasa untuk menggoda itu para siswi.
"Hay Lang," sapa ku, ketika sampai di depan Langit.
Langit melirik sekilas, lalu fokus kembali pada para siswi yang ia temui. Ada apa dengan Langit?
"Iya, nanti gue telpon lo kok. Duh, cantik banget sih," kata Langit, sebelum siswi yang ia godai pergi.
"Lang?" panggilku lagi. Baru lah Langit menatap ku.
"Kenapa?" tanya Langit, sedikit dingin.
Aku mengkerutkan kening ku, bingung. Kenapa dengan Langit. "Aku yang harusnya tanya kenapa? Kenapa kamu nggak respon aku?" tanya ku tak habis pikir.
Langit memandangku. "Gue nggak ngeliat lo," kata Langit santai. Aku melebarkan mata, apa yang dia bilang? Tidak melihat ku? Bukannya tadi dia sempat melirik ku?
"Tahu ah, aku mau ke kelas.," jawab ku kesal lalu meninggalkan Langit.
Kenapa coba? Hati ku sakit ketika Langit berbicara seperti itu? Aku terus berjalan, bukan. Tujuan ku bukan kelas, aku juga tidak tahu tujuan ku. Sampai akhirnya aku sampai di gedung terakhir di sekolah ini.
Sepi, senyap, begitulah suasana di sini. Aku baru sadar, kalau ruangan ini adalah ruang musik. Karena beberapa peralatan musik yang lengkap. Aku membuka ruangan tersebut, dencitan pintu bisa ku dengar.
Langkah kaki ku membawa ku masuk kedalam ruangan tersebut. Di ruangan ini, derap langkah ku bisa ku dengar sendiri. Benar kataku, di sini peralatan band yang cukup lengkap, ada alat musik tradisional juga disini. Pandangan ku beralih pada piano tua di pojok sana. Entah mengapa ingin sekali aku melihat secara dekat piano tersebut.
Piano ini berada di pojokan, menghadap jedela besar. Aku melongok keluar jendela untuk melihat keluar, dan aku terkejut. Bagaimana tidak? Di dapan sana gedung asrama ku. Dan hampir setiap malam aku mendengar suara orang bermain piano apa suara itu berasal dari sini.
Aku meniup kursi piano yang sedikit berdebu. Lalu menduduki kursi tersebut. Jari lentik ku menari-nari di atas tus piano.
Heeem... Heem... Hem.. Hem... Heem...
Heeem... Heem.. Hem.. Hem.. Heem..
Heeem... Heem.. Heem.. Heem.. Heem..
Mulut ku ikut bergumam menikmati sensi lagu yang entah dari mana ku dapatkan. Dan membawa ku ke alam lain...,
Aku terjatuh di koridor lantai, lutut ku sakit, untung saja tidak lecet. Aku berdiri lalu menatap sekitar. Tunggu kenapa ini aneh sekali? Wajah murid di sini sangat asing. Aku belum pernah melihat mereka sebelumnya. Dimana ini?
"Rindu!"
Aku menengok melihat ke sumber suara. "Nata," Aku melihat perempuan manis di ujung koridor sedang tersenyum di depan lelaki jangkung itu.
"Temani aku latihan piano mau?" Lelaki itu tersenyum di hadapan Rindu.
"Tentu saja yuk, aku sangat senang jika harus menemani mu bermain piano," balas Rindu aku melihat mereka berjalan pergi, aku segera mengikuti Rindu dan Nata.
Mereka masuk kedalam ruangan musik, berjalan menunju piano di pojokan. Nata duduk lalu memainkan pianonya.
Sementara Rindu berdiri di sebelah Nata.
Heeem... Heem... Hem.. Hem... Heem...
Heeem... Heem.. Hem.. Hem.. Heem..
Heeem... Heem.. Hem.. Hem.. Heem..
Lagu ini? Lagu yang selalu ku dengar setiap malam. Nata mengakhiri permainan pianonya. "Yey, permainan mu sungguh hebat Nata!" puji Rindu kepada Nata.
Nata tersenyum, lalu mendudukan tubuh Rindu di pangkuannya. Nata juga menaruh kepalanya di bahu Rindu, tangan mereka menari bersama di atas tus piano.
"Lagu ini akan menjadi lagu kesukaan kita Rindu, aku menyayangi mu..."
"Sampai mati Nata, aku akan selalu suka dengan lagu ini. Lagu ini akan abadi bersama kitaa..."
****
Aku membuka mata, begitu merasakan sedikit kuncangan di bahu ku. Aku menatap penjaga sekolah, yang sedang berjongkok menatap ku. "Maaf neng, neng ketiduran. Ini sudah bel istirahat," ujar penjaga sekolah tersebut.
Aku mengucek mata ku, terduduk lalu sedikit mengerjapkan mataku. "Ah iya pak, maaf saya tadi ketiduran," sahutku, sedikit mengulas senyum, penjaga sekolah itu mengangguk, beliau juga mengulas senyum.
"Maaf Pak, nama bapak siapa?" tanyaku.
"Nama saya Dadang Neng," jawab Pak Dadang.
"Bapak sudah lama bekerja di sekolah ini?" tanyaku tiba-tiba.
Pria paruh baya di depan ku nampak berpikir. "Saya sudah hampir 10 tahun berkerja di sini, Neng," jawab Pak Dadang.
"Bapak kenal dengan Rindu? Murid angkatan 2016?" tanyaku kepada Pak Dadang.
Penjaga sekolah itu menengok kekanan dan ke kiri untuk memastikan sekelilingnya. Aku tampak bingung, dengan apa yang di lakukan oleh penjaga sekolah itu.
"Neng Rindu? Rindu Sartika Dewi?" tanya Pak Dadang. Aku mengangguk.
"Neng Rindu itu orang yang sangat ramah, baik, pintar dan juga darmawan. Neng Rindu juga banyak di sukai di kalangan anak-anak disini Neng, tapi yang bapak tahu Neng Rindu itu dekat dengan lelaki bernama Nata."
"Nata? " kataku memastikan. Penjaga sekolah itu mengangguk.
"Gini Neng, mereka memang saling mencintai. Saya tahu karena sering melihat mereka bermain piano bersama" ucap Pak Dadang."Tepat saat hari itu, di mana den Nata mau menjadikan Neng Rindu kekasihnya, Neng Rindu di temukan meninggal tewas di lorong asrama putri lantai 3. Saat itu den Nata begitu terpukul Neng, dan akhirnya den Nata ikut menyusul Neng Rindu."
"Den Nata menjatuhkan tubuhnya di lantai gedung 5," ucap Pak Dadang menghentikan ucapannya.
Aku mengerjapkan mataku, membayangkan apa yang baru saja di ceritakn oleh penjaga sekolah. Tragis? Yah memang benar kisah cinta Rindu dan juga Nata begitu Tragis.
"Neng?" panggil penjaga sekolah tersebut, aku menatap penjaga sekolah. "Jangan melamun Neng," sambung beliau. Aku mengangguk.
"Ya sudah neng, saya mau kerja lagi. Dan juga jam masuk sekolah sebentar lagi akan di mulai, sebaiknya Neng kembali di kelas. Tidak baik jika terus di tempat ini, " kata penjag sekolah, lalu pergi dari hadapan ku.
Aku mendirikan tubuhku, begitu penjaga sekolah itu sudah tidak terlihat. Aku melangkah keluar, saat di ambang pintu, aku mendengar suara dentingan piano. Membuat leher ku merinding.
Bukan kah, tidak ada siapa-siapa di dalam ruangan musik ini?
****
"Jadi lo bolos di ruang musik?" tanya Langit saat aku mengaduk mie ayam yang ada di depanku.
Istirahat kedua, aku memutuskan untuk makan di kantin. Aurel sedang pergi, entah kemana anak itu. Di meja ini hanya ada aku, Langit, serta Haris.
"Kenapa lo sampai bolos Ser?" tanya Haris sebelum menyedot jus mangganya.
"Nggak pa-pa, aku belum buat tugas." jawab ku asal. Padahal tugas bahasa Indonesia sudah ku kerjakan semalam.
"Oh iya, tentang kasus kita gimana?" tanya ku menatap mereka satu persatu.
"Kita nggak bisa mutusin, kan nggak ada Aurel," jawab Langit, Haris mengangguk.
Tiba-tiba aku teringat dengan kejadian tadi di ruang musik. "Kalian tahu? Rindu itu menjadi salah satu korban di sekolah kita," ucapku menunduk lirih. Takut ada orang yang mendengarnya. Kompak Haris dan Langit menatap kearah ku.
"Serius lo?" tanya Haris memastikan.
"Iya tadi ada penjaga sekolah yang cerita gitu sama gue, " jawabku, Haris mengerutkan keningnya bingung.
Aku menatap Haris, yang masih menampakan ekspresi wajah bingungnya. "Kenapa?" tanyaku.
"Penjaga sekolah?" tanya Haris, aku mengangguk.
"Namanya siapa?" tanya Haris lagi, aku sedikit berpikir.
"Eum, Pak Dadang," jawab ku. Haris tampak syok, ketika aku menyebut nama penjaga sekolah.
"Nggak usah ngarang Ser! Lo tahu Pak Dadang sudah meninggal 1 bulan lalu. Dan sekolah kita belum memiliki penjaga sekolah yang baru," kata Haris membuat ku terdiam.
"Ris? Lo nggak bercanda kan?" tanya ku lirih.
Haris memijat keningnya. "Enggak Ser. Gue tahu sendiri kalau Pak Dadang sudah meninggal," ujar Haris lagi.
"Terus yang tadi ngobrol di ruang musik sama aku siapa dong?"
****
Aku menjatuhkan tubuhku di ranjang. Rasanya sangat lelah menghadapi kejadian-kejadian aneh di hari ini. Aku masih memikirkan siapa yang tadi mengobrol di bersama ku di ruang musik?
Apa benar? Dia arwah penjaga sekolah? Adzan magrib berkumandang. Aku segera bangkit membuka isi kulkas dan melihat ada makanan apa. Ternyata aku sama sekali belum belanja makanan. Hanya ada buah apel dan juga pir, s**u kotak.
Aku memutuskan untuk mengambil handuk, lalu masuk kedalam kamar mandi. Aku menghidupkan kran air, mengambil sikat gigi lalu mengosok gigi.
Hihihihihihi....
Aku terdiam, tanganku yang lainnya ku gunakan untuk mematikan kran. Aneh? Tidak ada suara apa pun. Tangan ku memutar kan kembali kran tersebut.
'Sera.... Tolong aku....'
Kali ini, yang ku dengarkan berupa bisikan. Nafas ku memburu, tak ku hiraukan bisikan-bisikan itu, ku putuskan untuk kembali melanjutkan mandi ku.