Kami sampai di kantin. Aku duduk di salah satu kursi. Sementara Haris, lelaki itu sedang memesan makanan. Tidak berapa lama, Haris datang membawa roti bakar yang yang kami pesan sebelumnya. Lelaki itu juga membawa s**u kotak. Haris tersenyum, jujur baru kali ini aku melihat senyum Haris. Lelaki itu juga tampak tampan. Pantas saja para siswi di sini menjadikan Haris sebagai idola mereka.
"Woy, ngelamun aja. Kesambet setan lo!" seru Haris yang sudah duduk di depan ku.
Aku mengerjapkan mataku beberapa kali."Apaan sih," balas ku memalingkan wajah.
"Nih pesanan lo," ujar Haris memberi sepiring roti bakar dan juga s**u kotak.
"Thanks," ucapku menerima piring tersebut.
"By the way, kesukaan lo sama ya. Sama Tiara," ucap Haris.
"Hehe, iya memang gitu. Gue suka roti bakar selai coklat. Kalau Tiara, suka roti bakar selai kacang. Eh tapi sebenarnya sama dia mah suka selai apa aja sih. Tapi ya dia paling suka kacang. Kalau bedanya aku itu, malah alergi sama kacang," jelas ku. Haris hanya mengangguk paham.
Aku memakannya, roti bakar dengan selai coklat. Rotinya masih sedikit hangat. Sensasinya sungguh sangat enak. Kembali, aku mengerjapkan mata. Ketika Haris mengusap sudut bibiku, secara tiba-tiba.
Lelaki itu tersenyum, aku menatapnya lekat. "Gue kangen sama Tiara, Ser...," lirih Haris. Aku dapat melihat matanya berkaca-kaca.
"Sekilas lo mirip sama Tiara. Gue mau peluk lo boleh?" ucap Haris menatapku memohon.
Entah kenapa aku menganggukan kepalaku. Haris langsung memeluk ku erat. "Gue kangen sama lo Ra..." lirih Haris seakan-akan aku adalah Tiara. Untung saja suasana kantin sepi.
Karena memang kita ke kantin ketika jam pelajaran sekolah. Setelah beberapa saat Haris melepaskan pelukannya.
"Maaf Ser, gue bener-bener kangen sama Tiara," ucap Haris, aku hanya mengangguk.
"Aku ngerti kok, kadang juga aku kangen sama Tiara. Sama tingkah b****k dan jahilnya," ungkapku, Haris mengangguk.
Kami memakan roti bakar lagi, dalam keadaan hening. Aku teringat sesuatuh.
"Ris?" panggilku, Haris menatapku.
Aku melirik kanan dan kiri, untuk memastikan tidak ada orang yang mendengarnya. "Kenapa?" tanya Haris.
"Kemarin malam, kamu kan jadi partner aku, nah kamu tahukan soal buku bersampul coklat yang aku temuin di rak arsip?" tanyaku. Haris mengangguk lagi.
"Dan kamu tahu kan Ris, kalau buku itu udah aku balikin ke tempat semula. Gak jadi aku ambil," kataku lagi, lagi Haris mengangguk.
"Masa semalam, waktu aku buka tasku aku menemukan buku itu ada dalam tas aku," lambungku membuat Haris melebarkan kedua matanya kaget.
"Tapi lo benar-benar balikin buku itu kan?" tanya Haris memastikan.
"Seingat ku iya, aku memang membalikan buku itu di rak. Setelah kamu bilang, jangan ambil buku itu," jawab ku.
"Dan yang lebih buat aku kaget, buku itu adalah buku diary Rindu. Kamu ingatkan Rindu, perempuan yang menulis artikel yang kemarin kita temukan?" tuturku, Haris terkejut lagi.
"Sepertinya, kita harus diskusikan lagi Ser, sama yang lain juga. Enggak enak kalau sendiri," kata Haris aku hanya mengangguk.
***
Bel pulang berbunyi, aku segera membereskan buku-buku milik ku. Aku melirik Aurel, yang tampak sama dengan apa yangku kerjakan. "Jadi kita mau ke gudang tua?" tanya Aurel, aku mengangguk.
Kami berjalan bersama. "Rel kamu semalam langsung tidur atau tidak?" tanyaku kepada Aurel.
Aurel melirik ku. "Lo ngalamin hal janggal?" tanya Aurel.
"Iya, semalam aku mendengar dentingan piano dan orang bernyanyi tapi dengan gumaman," kata ku.
"Lo ambil diary itu?" tanya Aurel.
"Enggak kok, Haris liat kalau aku taruh lagi buku itu," elak ku, Aurel mengangguk.
Tidak terasa kami sampai di gudang tua. Di sana sudah ada Langit dan Haris. Mereka duduk di sebuah sofa, lantas aku dan Aurel berjalan mendekati mereka. Aku dan Aurel duduk di sofa juga. Bersama mereka, Haris dan Langit.
"Jadi apa yang mau kita bahas sore ini?" tanya Langit memulai pembicaraan, entah kenapa raut wajahnya berubah menjadi datar.
Aku mengeluarkan buku diary Rindu, menaruhnya di atas meja.
"Kemarin malam, waktu aku dan Haris ke ruang arsip. Aku menemukan buku ini. Awalnya aku ingin mengambil buku ini. Namun, Haris melarangnya. Aku pun, menaruh kembali buku ini ke tempat semula. Dan anehnya, ketika aku sampai di kamar asrama, aku menemukan buku ini ada di dalam tas aku," jelas ku mereka semua diam saling memandang.
"Dan kebetulan sekali, buku ini adalah milik Rindu. Gadis penulis artikel yang kemarin juga aku temukan," sambung ku.
"Tapi lo yakin buku ini udah lo balikin?" tanya Langit menatap ku. Aku mengangguk.
"Tanya saja Haris dia juga melihat, aku mengembalikan buku ini," kata ku membalas tatapan Langit.
Aurel mengambil buku tersebut, ia memejamkan matanya. Aku tak tahu apa yang sedang Aurel lakukan. "Agrhhh...." Aurel berteriak, aku memegang tubuh Aurel.
"Rindu sudah meninggal," kata Aurel, kami saling berpandangan.
"Lo... Lo serius Rel?" tanya Haris, Aurel mengangguk.
"Gue liat perempuan sedang di bunuh di lantai 3. Dan pembunuhnya mengunakan topeng serta jubah," jelas Aurel, bola kedua bola mataku melebar mendengar penjelasannya.
"Berarti, Rindu adalah korban di tahun 2016," cetus ku.
"Dan ini sebabnya, di artikel yang di tulis Rindu korban di tahun 2016 tidak ada. Karena memang dia adalah korbannya," imbuh Langit memperjelas.
Jika benar, apa yang di katakan oleh Aurel tadi. Berarti mimpi ku semalam. Tentang seorang gadis yang di bunuh di lantai tiga, adalah Rindu?
"Tadi malam aku memimpikan hal itu. Aku bermimpi, melihat seorang gadis di bunuh di lantai tiga," kata ku, mereka semua menatap ku. "Orang berjubah itu mengunakan kampak kan?" tanya ku memastikan kepada Aurel.
Aurel mengangguk. "Dan yang lebih mengejutkan. Sosok Rindu ini pernah tinggal di kamar aku sekarang. Apa selama ini Rindu yang menganggu aku?" tanya ku kepada mereka.
***
Jarum jam dinding berputar, pukul 9 malam. Aku sedang menyelsaikan tugas ku. Tugas bahasa indonesia, tugas kali ini guru bahasa indonesia meminta kami untuk membuat sepenggal cerpen.
Setelah menyelsaikan cerpen tersebut, aku menatap buku yang ada di atas meja. Buku itu, buku diary Rindu. Setelah tadi berdiskusi. Mereka semua, Langit, Haris dan Aurel memintaku untuk membawa saja buku ini. Jadi ya sudah, aku pun membawanya.
Aku masih penasaran dengan isi buku ini, mengingat aku baru saja membaca satu halaman jadi, aku ingin membacanya lagi. Aku mengambil buku itu dan mulai membukanya.
Dear Diary.
Hari ini, aku berkanalan dengan kapten tim basket. Namanya Nata, lelaki tampan dengan sejuta pesona. Nata orang yang sangat di idolakan oleh sekolah.
Bukan hanya itu, Nata juga meminta kami untuk bertukar nomor telpon. Ah aku senang sekali. Apa mungkin aku jatuh cinta dengan Nata?
Dan juga aku sangat senang karena Nata mengajakku bermain piano. Ahhh aku senang, sekali.
Rindu Sartika Dewi
12 September 2016
Nata? Sepertinya aku harus mencari tahu lelaki bernama Nata itu. Dan juga, Rindu bisa bermain piano? Apa jangan-jangan yang semalam adalah, arghh... Sudahlah aku tidak ingin memikirkannya Aku menutup buku Rindu, aku sudah mengantuk.
Aku merebahkan tubuhku di ranjang. Baru akan memejamkan mata, suara dentingan piano terdengar. Aku membuka mataku.
"Nata mau bermain piano denganku."
Aku teringat dengan sepenggal kalimat yang baru saja k*****a. Apa itu artinya?!