Aku menutup mulutku, bagaimana mungkin? Buku ini ada di dalam tas ku. Bukankah tadi sudah ku taruh kembali. Terlepas dari keterkejutan ku, tantang kehadiran buku tersebut. Yang membuat ku lebih terkejut adalah, buku ini. Ini buku milik Rindu? Penulis artikel tentang korban-korban di sekolah, yang tadi ku bacakan.
Aku penasaran, tapi aku tidak bisa membuka buku ini sendiri. Aku bingung, harus bagaimana. Tapi aku juga penasaran. 'Huft' aku menghela nafas. Dengan seganap rasa penasaran yang sudah di ubun-ubun. Aku memutuskan untuk membukanya.
Halaman pertama....
Namaku Rindu, Rindu Sartika Dewi. Hari ini, aku masuk sekolah untuk pertama kalinya. SMA Gemilang, aku tinggal di asrama putri lantai 4 dengan nomor 225.
Aku meneguk silvahku, kamar ini? Jadi ini adalah bekas kamar rindu?
Alasan ku untuk sekolah di sini. Karna aku tidak kuat, jika harus berlama-lama tinggal di rumah. Bagi semua orang, rumah adalah tempat yang sangat berperan penting dalam kehidupan. Tapi, tidak denganku. Bagiku, rumah adalah neraka. Why? Aku selalu mendengar pertengkaran Mama dan Papa. Mereka semua egois. Jadi kuputuskan saja untuk sekolah di sini.
Baru pertama masuk sekolah, aku mendengar rumor tentang lantai 3. Ada apa dengan lantai 3? Setelah ku telusuri, di lantai 3 sering di temukan mayat perempuan yang bersimpa darah. Aku jadi penasaran. Aku janji akan menguak semua ini.
Setelah membaca itu, aku menghela nafas. Tiba-tiba semilir angin, menerbangkan tirai di jendela kamar ku. Aku mengerutkan kening, bukanya tadi sudah ku kunci? Jendela kamar ku. Tapi kenapa? Ah mungkin aku lupa menguncinya.
Aku bangkit, lalu menutup jendela kamar. Dinginnya angin malam sudah tak ku rasakan lagi. Hening, hanya suara jarum jam, serta air yang menetes dari dalam kamar mandi.
Huh, aku membuang nafas. Menaruh buku Rindu di atas meja belajar. Aku juga mematikan saklar lampu. Hanya lampu yang berada di nakas yang ku hidupkan.
Aku membaringkan tubuh ku, saat akan memejam kan mata. Aku mendengar suara dentingan piano? Siapa malam-malam begini bermain piano? Ku balikan tubuh ku kearah samping. Mengeratkan selimut yang ku kenakan.
Heeem... Heem... Heem.... Heem... Heem...
Heeem... Heem.... Hem.... Hem.... Heem..
Heeem.... Heem.... Heem.... Heem... Heem..
Jika tadi dentingan piano, sekarang di tambah dengan suara gumaman, seseorang perempuan dengan nada yang begitu pas mengikuti alunan nada piano.
Aku menarik satu bantal untuk menutup telinga ku. Aku mencoba memejamkan mata ku.
****
Aku menatap sebuah lorong, lorong ini begitu sepi. Dan sepertinya aku tidak asing dengan lorong ini.
Tap...tap....tap....
Suara langkah kaki ku, begitu menggema disini. "Hallo?" aku sedikit berteriak.
Disini masih sunyi, langkah kaki ku menuntun ke arah untuk sampai pada ujung lorong. Aku melihat, seorang perempuan sedang duduk bersimpuh. Di depannya terlihat seorang berjubah merah dengan kampak yang ia bawa.
"Kamu sudah ikut campur terlalu dalam." Si jubah hitam itu berkata. Suaranya sedikit tersamarkan.
"Maaf..."
Si jubah hitam itu tertawa.
"Tidak ada kata maaf untukmu. Selamat datang di neraka Rindu!" seru si jubah hitam sebelum menancapkan kampak yang ia bawa. Kampak itu menebas kepala seorang gadis bernama Rindu.
"SUDAH CUKUP!" teriak ku ketika si jubah merah itu menancapkan kembali kampak pada bahu kiri Rindu.
"Jangan!" teriak ku, dengan nafas, tersengal.
Sinar matahari membuat mata ku sedikit menyipitkan mata. Aku mengusap keringat di kening. Aku hanya bermimpi, tapi kenapa mimpi itu seakan nyata?
Apa benar, yang ku lihat di dalam mimpi itu adalah Rindu? Dan mengapa Rindu hadir dalam mimpi ku.
Aku menepuk kening ku, ketika melihat jam di dinding kamar ku. Pukul setengah tujuh, aku segera bangkit dan masuk kedalam kamar mandi.
***
Aku sedikit berlari, ketik pintu gerbang hampir saja di tutup oleh satpam sekolah. "Haduh neng, untung saja belum bapak tutup," kata Pak satpam, aku hanya tersenyum menanggapinya. Tiba-tiba aku teringat sosok Rindu.
"Pak, bapak udah lama kerja di sini?" tanya ku kepada pak satpam.
"Saya udah hampir 10 tahun neng, sudah lama," jawab Pak satpam.
"Bapak kenal dengan Rindu?" tanya ku to the poin.
Sekarang,aku dapat melihat raut wajah Pak satpam yang sedikit kaku, ku lirik di name tag-nya pria paruh baya itu bernama Siswoyo. "Pak?" aku mencoba memanggilnya.
"Eum, neng sebaiknya masuk. Nanti di marahin Pak Fajri loh," usul Pak Siswoyo.
Aku menghela nafas ku, aku pun segera pergi dari hadapan Pak Siswoyo. Aku berjalan, seraya menundukan kepala. Di koridor tampak sepi. Aku memikirkan kenapa Pak Siswoyo tidak mau menceritakan tentang Rindu? Siapa sebenarnya sosok Rindu? Apa dia adalah salah satu korban di sini.
Apa benar Rindu sekolah disini? Ah aku sangat penasaran. "Arghhh...." Aku sedikit berteriak ketika sesorang menabrak bahu ku.
"Lo kenapa?" Aku menatap orang yang ada di depan ku. "Ngelamun di tengah jalan," katanya seraya menarik tangan ku.
"Kamu jalan nggak liat-liat. Bahkan kamu juga melamun," ucapku. Aku bangkit dari duduk dan menepuk bagian belakang rokku. Untuk memastikan tidak ada kotoran di rok belakang.
"Lo yang nabrak gue Sera," ucap Haris menatapku.
Aku tatap mata Haris, bola mata berwarna hitam legam yang sangat indah. Lelaki jangkung itu memiliki hidung mancung dengan alis tebal sebagai pelengkapnya.
"Hey, ngelamun lagi. Lo itu, suka ngelamun ya? Beda banget sama Tiara," ujar Haris sembari terkekeh kepada ku. Tangan Haris terulur untuk mengacak-acak rambut ku.
"Lo kenapa sih? Belum sarapan? Mau sarapan sama gue?" tanya Haris.
"Tapi nanti guru masuk gimana?" tanyaku.
"Nggak usah takut, kelas lo pelajaran Pak Gunadi kan?" tanya Haris aku menganggukkan kepala ku.
"Pak Gunadi nggak berangkat kok," katanya. Aku menatap Haris.
"Kok kamu tahu?" tanya ku.
Haris tersenyum, senyumnya sangat manis. "Udah ayo, sepesial kali ini. Gue bakalan traktir lo deh."
"Wah, dalam rangka apa nih?" tanya sembari tersenyum. "Eh tapi benar kan? pak Gunadi gak ada. Nanti lo bohong lagi," sambung ku.
"Ya kali gue bohong. Gue tadi habis dari kantor guru. Makanya gue tahu," ucap Haris. Aku hanya mengangguk paham. "Jadi gak? Mumpung gue juga kelas kosong," ucap Haris lagi.
"Ya udah deh. Jadi dong," ucapku. "Tapi ini dalam rangka apaan?" tanyaku lagi.
"Udah ikut aja. Bawel banget deh," ucap Haris menarik tanganku. Menuju kantin. Jadi ada apa dengan Haris?
Kami berjalan di tengah koridor yang sepi. Karena memang sekarang jam belajar sudah di mulai. Haris masih berjalan di sampingku. Kami berjalan beriringan. Yang ku tahu dari Aurel. Haris adalah mantan kekasih Tiara. Memang benar, dulu Tiara pernah mengatakan bahwa ia sedang berpacaran dengan seseorang di sekolahnya.
"Waktu pemakaman Tiara, gue gak liat lo," ucapku tiba-tiba. Haris menghentikan langkahnya, sembari menatapku.
"Gue gak datang...,"
"Kenapa?"
Haris terdiam, sembari menatap kosong ke depan. Ini adalah kebodohan terbesarku. Kenapa harus aku menayangkan hal sesensitif ini kepada Haris.
"Eh Ris, mending kita lanjut aja yuk. Aku sudah lapar," ucapku menepuk perutku.
Haris tersenyum, lalu menggenggam tanganku. Dan akhirnya, kita pun melanjutkan perjalanan ke kantin.