07

1732 Kata
Lucas terbangun dari tidurnya, dengan leher yang terasa agak pegal. Ia menolehkan kepalanya ke samping, dan menemukan Gemma yang masih tertidur di bahunya. Orang tua Gemma sepertinya tidak pulang. Entah kemana mereka. Lucas mengangkat kepalanya dari atas kepala Gemma, kemudian merenggangkan tulang-tulang lehernya. Ia tersentak saat merasakan sesuatu tiba-tiba mendarat di atas pahanya. Lucas menundukan kepalanya, dan menemukan telapak tangan Gemma di sana. Lucas terdiam sejenak, sebelum akhirnya mengulurkan tangannya mendekati tangan Gemma. Dengan sangat perlahan, Lucas meraih telapak tangan Gemma dan mengenggamnya. Sampai beberapa detik berlalu. Gemma tiba-tiba menggeliat membuat Lucas sontak melepas genggaman tangannya pada tangan Gemma. Gemma mengerang kecil sembari mengangkat kepalanya dari bahu Lucas. Matanya mengerjap, mencoba menyesuaikan indra penglihatannya dengan cahaya. "Kita tidur di ruang tengah ya?" Tanya Gemma dengan nada suara serak khas orang bangun tidur. "Ya." Balas Lucas singkat. Gemma menggaruk kepalanya. Ia kemudian beranjak berdiri. "Kita harus siap-siap sekolah." Ucap Gemma. Dan dengan langkah sempoyongan, ia berjalan mendekati tangga untuk naik ke lantai atas. "Hari ini tanggal merah." Ujar Lucas dengan nada agak tinggi agar Gemma dapat mendengar suaranya. "Hah? Benarkah? Tapi hari ini bukan hari minggu." "Ya memang. Tapi sekarang tanggal merah." "Oh. Kok aku tidak tahu ya? Ya sudah aku mandi saja." "Mau mandi saja tidak mau pakai baju?" Gemma seketika membalikan wajahnya ke belakang dan menatap Lucas dengan mata memicing. "Nanti aku tendang dari rumahku, kalau bicara yang aneh-aneh lagi." -- -- -- "Apa yang akan kita lakukan setelah ini?" Tanya Lucas sembari memasukan sesendok nasi beserta lauknya ke dalam mulut. "Biasanya kalau hari libur kau pergi dengan teman-temanmu kan?" Timpal Gemma. "Tapi hari ini teman-temanku ada acara semua. Biasanya kami memang pergi ke game center." "Ohh..." "Kalau kau hari libur melakukan apa? Aku tidak pernah melihatmu kemana-mana." "Aku hanya tidur, dan tidur, sampai pusing. Nanti sorenya aku akan lari agar keluar keringat dan tidak pusing lagi." "Mmh. Aneh ya? Kita bertetangga dari kecil, tapi tidak tahu banyak soal dari kita masing-masing." "Karna kita memang musuh." "Eum ya." Kemudian hening untuk beberapa saat. Sampai akhirnya suara Lucas memecah keheningan. "Bagaimana, kalau hari ini kita jalan-jalan? Nonton, makan-makan, ke salon, ke spa. Yahh... melakukan hal-hal yang menyenangkan, sebelum kembali ke sekolah besok." Ujar Lucas. "Kau sering ke salon dan spa?" Tanya Gemma dengan kening mengkerut. "Yahh... itu sebabnya kau jangan heran kalau ketampananku terus bertambah setiap hari." Gemma seketika memutar kedua bola matanya malas. "Tampan dari sudut mana ya?" Penuturan Gemma sukses membuat ekspresi Lucas jadi datar. "Jadi... mau tidak hari ini kita jalan-jalan? Tenang saja, kita bayar sendiri-sendiri." "Ya sudah, oke." Lucas berjingkrak di dalam hati. Hari ini ia akan menghabiskan waktu yang menyenangkan. -- -- -- Gemma merapihkan alisnya, seusai ia memoles tipis bb cushion pada wajahnya. Blush on, dan liptint pun ditambahkan. Gemma tersenyum tipis, sebelum akhirnya ia menyisir rambut, dan menge cek pakaiannya sekali lagi. Ripped jeans denim, dan kaos abu-abu membalut tubuhnya. Kamarnya tiba-tiba di ketuk. "Gem! Sudah belum?! Jangan lama-lama!" "Sebentar! Aku mau pakai maskara dulu, hampir lupa! Astaga!" "Kau itu sudah can-" "Apa?!" "Cepatlah!" "Iya, iya! Sabar sedikitlah." -- -- -- "Kau yakin mau jalan-jalan dengan sepeda?" Tanya Lucas sembari mengeluarkan sepedanya dari bagasi mobil. "Yakin seratus persen." Ucap Gemma dengan berkacak pinggang. Lucas pun menaiki sepeda berwarna ungunya, sebelum akhirnya mengayuh keluar halaman rumahnya. "Tolong tutup pagar rumahku." Titah Lucas. "Lima ribu ya?" Sahut Gemma sembari menutup pagar rumah Lucas seraya terkekeh. Setelah menutup pagar rumah Lucas, Gemma menaiki besi-besi yang berada di kedua sisi sepeda Lucas. "Pegangan yang erat." Ucap Lucas. Dan Gemma malah menjambak rambut Lucas. "Hei!" Protes Lucas. Gemma tertawa kemudian beralih memegangi bahu Lucas. Lucas pun mulai mengayuh sepedanya. "Aku berat tidak?" Tanya Gemma. "Sedikit." Balas Lucas. "Kita mau kemana dulu sekarang?" "Eumm... nonton dulu bagaimana? Aku dengar ada film bagus yang sedang tayang." "Oke." "Oh iya. Nanti bioskop pasti ramai dan padat karna hari ini hari libur. Jadi jangan terpisah dariku ya? Bisa repot nanti." -- -- -- Karna di pesankan begitu oleh Lucas. Gemma akhirnya terus memegangi lengan jaket bomber Lucas. Lucas tersenyum kecil saat sesekali Gemma mendekap lengannya erat. Saat beberapa kali ada pemuda atau anak laki-laki usil yang sengaja menyenggolnya atau hendak menggodanya. "Makanya jangan pakai blush on dan lipstick tebal-tebal, kau kan jadi di sangka gadis kecentilan." Kata Lucas. Mereka saat ini tengan antri beli tiket. Gemma merengut. "Tebal apanya? Tipis begini!" "Pipi dan bibirmu itu sudah merah. Tidak butuh di tambah apa-apa lagi." "Berisik!" "Yahh aku bilang begitu jadi tambah merah pipimu." Gemma mencubit cukup keras lengan Lucas, hingga anak laki-laki itu seketika memekik. Cukup mengundang sebagian besar orang. Lucas seketika menatap tajam Gemma yang malah menjulurkan lidahnya meledek. -- -- -- Lucas dan Gemma duduk saling berdampingan pada baris kedua kursi paling depan. Karna datang terlambat, dan sedang ramai karna hari libur. Jadi mereka dapat tempat duduk yang kurang nyaman. Film sudah diputar selama 20 menit, lama-lama Gemma merasa pusing karna menonton dari jarak terlalu dekat. "Lucas, aku pusing lama-lama." Bisik Gemma. "Kenapa?" Tanya Lucas. "Kira menontonnya dari jarak sedekat ini." Balas Gemma. Lucas seketika mengedarkan pandangannya ke belakang. Berharap ada kursi kosong. Namun tidak ada. "Ya sudah tidur saja." Ucap Lucas. "Tapi aku kan masih mau menonton. Bagaimana kau ini?" "Ya mau bagaimana lagi? Tidak ada kursi kosong di belakang. Kalau kau mengeluh lagi nanti aku cium." Gemma otomatis mengerucutkan bibirnya. Ia akhirnya tetap memaksakan diri menonton, meskipun agak pusing. Tangan kanan Lucas tiba-tiba menyelinap dari belakang tubuh Gemma. Jari telunjuk dan tengahnya, menekan pelipis Gemma kemudian memijatnya, membuat Gemma mengernyitkan keningnya. "Apa yang kau lakukan?" Tanya Gemma sembari melirik Lucas, yang sedang fokus menatap layar. "Agar kau tidak pusing." Balas Lucas. "Dasar bodoh." Gumam Gemma. Namun gadis itu tidak dapat menyembunyikan senyuman kecilnya. __ __ __ Gemma dan Lucas baru saja selesai menonton. Lucas membuang sampah bekas popcorn dan sodanya pada tong sampah. Gemma pun akhirnya mengikuti, ia segera ikut membuang gelas bekas s**u coklatnya. Popocorn memang mereka hanya beli satu dimakan bersama. Gemma merasa hidungnya berminyak, jadi ia merogoh tasnya. Namun sesuatu benda asing di dalam tasnya, mengurungkan niat awal Gemma. Gemma lebih memilih mengambil benda tersebut. Rupanya sebuah permen lolipop besar, dan ada sticky note kecil di tengah-tengah permen lolipop itu. Kening Gemma mengernyit, dan ia mulai membaca tulisan yang ditorehkan pada sticky note tersebut. 'Semoga harimu menyenangkan, semanis lolipop ini, dan seceria warna-warna lolipop ini. _penggemar rahasia.' "Apa itu?" Tanya Lucas yang tiba-tiba muncul di belakang tubuh Gemma. "Dari penggemar rahasiaku. Sepertinya orang yang sama. Tapi dia memberiku permen lolipop sekarang. Kapan dia meletakannya pada tasku ya?" "Jangan-jangan dia penguntit." Gemma seketika bergidik mendengar ucapan Lucas. "Yah, semoga dia bukan orang yang berbahaya." Gumam Gemma berusaha mengesampingkan rasa khawatirnya. Ia mulai membuka bungkus lolipop tersebut, kemudian memasukannya ke dalam mulut. "Aku mau dong." Pinta Lucas dan tiba-tiba mencondongkan wajahnya ke depan dari belakang. Gemma segera menghindari Lucas. "Beli sendiri." Ucap Gemma sembari menjulurkan lidahnya, kemudian melangkah keluar gedung bioskop. Lucas mendengus, ia kemudian tersenyum kecil, sebelum akhirnya mengikuti Gemma keluar bioskop. -- -- -- "Sekarang kita mau kemana?" Tanya Lucas seraya mengayuh sepedanya. "Eummm... makan ramen yuk." Balas Gemma kemudian menunjuk kedai ramen yang berada tak jauh dari mereka saat ini. "Oke." Lucas segera membelokan sepedanya ke arah kedai mie tersebut. Begitu sampai, Gemma segera turun. Ia membenarkan kaosnya sedikit, sebelum akhirnya memasuki kedai mie tersebut. "Selamat datang di kedai kami, mau pesan ap- Gemma?" "Jiwan?" Lucas yang baru memasuki kedai, mengernyitkan keningnya melihat interaksi Gemma dengan pelayan yang seharusnya menyambut mereka di kedai. -- -- -- "Jadi kau kerja paruh waktu disini?" Tanya Gemma. Jiwan menganggukan kepalanya sembari tersenyum. Lucas menatap sengit mereka berdua, sembari memasukan segulung mie ke dalam mulutnya. "Dia ini siapa sih Gem?" Lucas bertanya sembari menunjuk Jiwan menggunakan dagu. "Sahabatku saat SMP. Sudah lama tidak bertemu. Kami lost contact. Sebenarnya kemana saja kau selama ini?" Jiwan tampak tersenyum getir sebelum membalas pertanyaan Gemma. "Eum... aku tidak bisa melanjutkan SMA, karna orang tuaku terlilit hutang. Jadi aku terpaksa menghabiskan masa SMA ku dengan bekerja. Aku malu untuk menemuimu lagi, dan... menghubungiku. Jadi aku lebih memilih menghilang." "Astagaaa... untuk apa kau malu? Kalau kau memang dalam kesulitan, aku kan bisa membantumu." "Justru itu. Aku takut jadi merepotkanmu. Karna kau pasti akan membantuku." "Astaga. Mana ada kata repot untuk sahabatku sendiri." Jiwan menggaruk tengkuknya merasa kikuk. "Lalu... pria ini siapa?" Tanya Jiwan hati-hati sembari melirik Lucas. "Apa kekasihmu?" Lucas seketika tersedak. Dan Gemma tertawa kikuk. "Bukan... dia musuhku." "Apa?" "Kau lupa? Dia anak laki-laki jelek yang sering menggangguku. Aku selalu satu sekolah dengannya. Dan saat SMP kita juga satu sekolah dengannya. Hanya saja kelasnya memang beda." "Ooh... Lucas ya? Ak-aku tidak ingat sama sekali." "Ya dia memang tidak pantas diingat." Lucas seketika mendelik tajam pada Gemma. Gemma terkekeh pelan. "Kalau kalian musuh kenapa sekarang kalian jalan bersama?" Gemma menggendikan bahunya. "Semalam dia menginap di rumahku karna orang tua dan adiknya pergi. Dia penakut. Kau tidak lupakan? Jika bertetangga dengan Lucas dari kecil. Jadi... jika ada apa-apa. Yaaa... satu-satunya jalan untuk minta bantuan ya padaku, begitu juga sebaliknya." Jiwan menganggukan kepalanya mengerti mendengar cerita Gemma. "Hei Gem, ramenmu di makan. Nanti keburu dingin. Jangan ke asikan mengobrol." Ujar Lucas. "Oh ya. Jadi keasikan mengobrol begini. Dimakan Gem. Aku juga masih harus bekerja." -- -- -- "Jiwan semakin tampan. Dia rajin dan pekerja keras lagi. Mau susah payah membantu orang tuanya mencari uang dan rela putus sekolah. Kau tahu? Setelah Jiwan kerja di toko ramen, dia akan kerja di minimarket, lalu di cafe, dan terakhir di restoran untuk cuci piring. Sebelum kerja di toko ramen, dia kerja di kontruksi bangunan, dan pasar untuk mengangkut barang. Astagaa... sahabatku tiba-tiba jadi pria idaman." Lucas memutar kedua bola matanya malas mendengar ocehan Gemma, yang rasanya tak kunjung henti dari tadi. "Tapi masa depannya bisa saja suram. Dia tidak sekolah, dan sekarang kerja serabutan." Ucap Lucas dengan nada agak sarkastik. "Sekolah tidak menentukan masa depan cerah. Bisa saja dari kerja serabutannya, masa depannya jadi cerah. Dia bisa saja ditawari kerja yang lebih baik, saat orang terenyuh melihat kerja kerasnya." Lucas akhirnya memilih diam saja. Dia hanya berusaha fokus pada jalan. Meskipun kepala dan hatinya sebenarnya merasa panas. Jika ia berada di film animasi, mungkin kepalanya sudah mengepul. "Kau juga pria idaman kok." "Apa?" "Idaman wanita-wanita ganjen, terutama tante-tante kesepian. Hahaha." Lucas tiba-tiba membuat jalan sepedanya jadi berkelak-kelok. "Lucas! Apa yang kau lakukan?!" Pekik Gemma yang merasa takut. "Aku mau menjatuhkanmu." Gemma otomatis memeluk leher dan bahu Lucas erat. "Lucas!" Brak!   
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN