Lucas makan malam dengan lahap, seolah ia sudah tidak makan bertahun-tahun. Gemma menggelengkan kepalanya melihat itu.
"Masakanku terlalu enak ya?" Pertanyaan Gemma sukses membuat Lucas tersedak.
"Tidak, aku hanya kelaparan." Lucas membalas perkataan Gemma dengan mulut penuh. Gemma memutar kedua bola matanya malas.
'11-12 dengan masakan Ibuku. Bagaimana mungkin tidak enak?'
"Hei, setelah ini ayo kita main game." Kata Lucas dengan bersemangat.
"Aku tidak suka main game." Timpal Gemma.
"Halah, paling kau takut kalah."
"Tidak! Aku memang tidak suka game."
"Tapi kenapa ada play station di bawah tv? Mmh?" Lucas bertanya sembari menaik-turunkan alisnya.
"Aku hanya punya. Tapi jarang memainkannya." Balas Gemma.
"Ayolahhh... sayang sekali play stationnya tidak pernah di mainkan." Kata Lucas sembari memasang ekspresi memohon.
Gemma menghela nafasnya. Akhirnya ia menganggukan kepalanya setuju. Lucas segera menghabiskan makanannya dengan semangat.
-- -- --
"Kalau kalah harus menuruti kemauan yang menang, bagaimana?" Gemma tampak berfikir sejenak mendengar tawaran Lucas.
"Tidak bisa yang lain?" Tanya Gemma.
"Kenapa? Kau takut kalah? Hanya tiga permintaan kok." Gemma mendengus.
"Ya, ya, oke. Baiklah, aku setuju dengan taruhannya." Lucas seketika tersenyum lebar.
"Begitu dong. Ayo duduk di samping pangeran." Ucap Lucas sembari menepuki tempat kosong di sampingnya.
Gemma menatap jijik Lucas, sebelum akhirnya ia mendudukan dirinya di samping Lucas.
Lucas mulai menyalakan televisi, kemudian baru memasukan dvd gamenya. Gemma hanya diam memperhatikan gerak-gerik Lucas sembari menelan ludahnya.
Jujur, ia sangat buruk dalam bermain game. Dan Gemma tahu Lucas sangat mahir.
Ia tidak bisa membayangkan jika ia kalah. Entah perintah aneh apa yang akan Lucas ajukan padanya.
Jangan sampai Lucas meminta.... ciuman? Lalu mereka berakhir melakukan yang tidak-tidak.
Gemma seketika menggelengkan kepalanya. Mencoba menyingkirkan fikiran negatif sekaligus bodohnya itu.
Setelah Lucas selesai dalam urusan memasang dvd dan sebagainya. Mereka mulai siap bermain.
Gemma menggigit bibir bawahnya gugup. Tanpa ia tahu, Lucas menyadarinya.
Mereka mulai pada round pertama, tangan Gemma keringat dingin selama bermain, anehnya, lima belas menit bermain, ia terus menang mengalahkan Lucas.
Lucas mengerang kesal dan tampak menekan-nekan tombol-tombol pada stiknya secara asal.
Gemma jadi merasa bersemangat karna ia akhirnya menang dalam round pertama. Gemma tidak menyangka dan mulai merasa ketagihan untuk bermain.
Mereka sampai pada round 5 dan terus dimenangkan oleh Gemma.
"Woahhhh! Aku tidak menyangka!" Teriak Gemma senang.
Lucas diam-diam melirik Gemma seraya tersenyum kecil.
"Wahh... oh Tuhan, aku tidak menyangka bisa terus menang! Kau akan kalah Lucas! Kau harus menuruti semua permintaanku!"
"Oh s**t!" Lucas memaki seraya memasang ekspresi kesal dan frustasi. Ia kemudian menundukan wajahnya dan menutupinya menggunakan lengan. Hanya untuk... tersenyum.
"Dua round lagi, dan kita tentukan, siapa yang akhirnya benar-benar menang." Ujar Gemma.
"Oke." Balas Lucas seraya mengangkat kepalanya.
Mereka kembali bermain, hingga keripik dan kue yang menjadi santapan untuk bermain, hampir habis.
"Ya Tuhan, Ya Tuhan, aku hampir menanggg..." desis Lucas.
"Yash! You loser!" Teriak Gemma sembari melompat berdiri dan berjingkrak-jingkrak senang.
Lucas melempar stiknya sembari mendengus kesal.
"Jadi kau mau apa?" Tanya Lucas. "Hanya tiga permintaan."
Gemma tak lama kembali duduk di tempatnya semula, senyuman lebar mengembang di wajahnya.
"Pertama. Aku ingin kau mengantar jemputku ke sekolah." Lucas mengernyitkan keningnya mendengar permintaan pertama Gemma.
"Hei, aku saja ke sekolah naik bus."
"Kau punya sepedakan? Aku ingin besok kita ke sekolah naik sepeda."
"Ck, kita sudah besar. Seperti anak SD saja naik sepeda."
"Hei, orang tua saja ada yang ke kantor naik sepeda. Untuk mengurangi polusi dan kemacetan. Ingat? Kau tidak bisa membantah kemauan pemenang."
Lucas mendengus.
"Fine."
"Permintaan kedua. Berhenti. Menggangguku. Terutama kalau suatu saat aku punya pacar."
Kali ini Lucas hanya terdiam. Namun ia tidak bisa menyembunyikan matanya yang melebar. Lucas sebisa mungkin mencoba terlihat biasa saja.
"Dan permintaan terakhir." Gemma berkata dengan serius. Membuat Lucas otomatis menatap Gemma juga dengan serius. "Stop kissing me. I'm not slut."
Lucas bungkam. Ia menatap Gemma tepat pada matanya. Dimana mata gadis itu seperti mengisyaratkan, dia benar-benar serius dengan ucapannya.
"Kita bukan sepasang kekasih, kita bukan teman, kita bukan sahabat, kita musuh. Apa pantas kita melakukannya? Aku bahkan tidak pernah berciuman dengan pacarku."
Lucas kemudian membuang mukanya dari Gemma.
"Oke." Ucap Lucas.
"Just..... oke? Kau tidak mau menjelaskan kenapa kau menciumku selama ini? Kau tahu? Itu menggelikan bagiku. Aku merasa murahan."
Lucas menatap Gemma dengan wajah memerah dan ekspresi tampak marah.
"Tidak usah di perpanjang. Kau tidak perlu tahu alasanku menciumku. Yang jelas aku tidak akan melakukannya lagi. Puas? Itu kan yang kau mau? Ya sudah."
Gemma yang sekarang membuang muka dari Lucas. Ia menatap kosong pada layar televisi yang sudah mati, begitu juga dengan Lucas.
"Dimana kotak musik pemberianku?" Tanya Lucas setelah hening cukup lama.
"Ada." Balas Gemma singkat. "Aku menyimpannya."
"Kau sering mendengarkannya?"
Gemma tertawa kecil sebelum membalas pertanyaan Lucas.
"Untuk apa?" Lucas menyeringai kecil mendengar jawaban Gemma. Ia tahu gadis itu berbohong. Namun Lucas memilih tidak berkata lebih lanjut. Entah itu bertanya, menunjukan rasa kesal, atau menggoda Gemma karna tahu gadis itu berbohong.
"Aku benci hidupku." Ucap Gemma tiba-tiba. "Ayah Ibu yang tidak pernah di rumah. Dan kau tahukan? aku sering disiksa baby sitterku dulu. Untung Ibumu sering datang menyelamatkan aku. Dan di saat aku bisa mendapat rasa cinta dari orang lain. Saat aku mulai berkencan. Kau merusaknya."
Lucas terdiam sejenak mendengar penuturan Gemma. Entah kenapa ia merasa ikut sedih, dan dadanya terasa sesak mendengar perkataan Gemma.
"Bagaimana jika ternyata salah satu mantanmu itu b******n? Yang hanya ingin memoroti uangmu? Ingin merenggut hal-hal indah darimu? Bagaimana?" Pertanyaan yang dilontarkan dengan sarkastik keluar dari mulut Lucas.
"Aku tidak bodoh dengan memilih asal seseorang untuk jadi kekasihku."
"Ya meskipun kau tidak bodoh. Kau tetap tidak tahu seluk beluknya-"
Kalimat Lucas terhenti saat seluruh lampu di rumah Gemma tiba-tiba mati. Gemma tiba-tiba merapatkan tubuhnya pada Lucas, membuat Lucas terkejut.
"Gem, kau tidak apa-apa?" Tanya Lucas di tengah kegelapan, saat merasakan bahu Gemma yang menempel pada bahunya bergetar.
Tidak ada jawaban dari Gemma. Namun tak lama, terdengar isakan tangis dari gadis itu.
"Gemm... kau tidak apa-apakan?"
"Aku takut..... seseorang mengunciku."
"Kau tidak dikunci siapa-siapa. Hei, kita ada di ruang tengah, oke?"
Gemma tiba-tiba berteriak histeris minta tolong. Lucas mencoba mencari tangan Gemma di tengah kegelapan, dan begitu menemukannya. Ia segera menarik tangan tersebut. Sebelum akhirnya membawa Gemma ke dalam pelukannya.
Gemma memberontak, namun tenaga Lucas jauh lebih kuat untuk mempertahankan Gemma di dalam pelukannya. Lucas mencoba membuatnya tenang.
Dan beruntung itu berhasil. Meskipun Lucas masih bisa merasakan deguban jantung Gemma yang keras.
"Seseorang mengunci kita." Cicit Gemma dengan deru nafas yang tidak teratur.
"Tidak Gem, kita ada di ruang tengah, oke? Ini hanya mati lampu."
"Tidak! Seseorang mengunci kita! Baby sitter itu!"
"Gemma dengar! Ini aku Lucas! Dan kita berada di ruang tengah. Sadar Gem. Tempat ini tidak sempit."
Lucas mengambil ponselnya, dan melayakan layarnya. Ia mengitari ruangan dengan cahaya ponsel, Gemma mengikuti arah cahaya tersebut. Lucas begitu bodoh, ia lupa jika ada ponsel. Karna sudah panik dengan Gemma yang seolah kerasukan.
Tak lama Gemma merasa tenang. Ia mulai menjauhkan tubuhnya dari Lucas, seolah baru tersadar dari tidurnya dan ia baru saja mengalami mimpi buruk.
"Maaf. Aku... merasa panik." Ucap Gemma.
"Tidak apa-apa. Sekarang tidur saja." Balas Lucas.
"Aku tidak mau ke kamar. Takut. Aku takut."
Lucas mengerti. Ia akhirnya meraih kepala Gemma dan meletakannya di bahu kanannya. Gemma tidak menolak. Ia membiarkan kepalanya bersandar di sana.
Lucas sudah tahu apa yang membuat Gemma seperti ini. Saat usianya lima tahun ia di kunci pada kamar mandi tidak terpakai di samping gudang, yang kecil, sempit dan gelap oleh baby sitternya. Kamar mandi itu berada di halaman belakang.
Bahkan ia yang menemukan suara tangis Gemma, saat sedang mengambil bolanya yang tanpa sengaja masuk ke halaman rumah Gemma. Sebelum akhirnya ia memanggil Ibunya minta bantuan.
Mungkin selama ini Lucas sudah kelewatan mengusik hidup Gemma.
Seharusnya ia tidak melakukan itu, terutama saat Gemma berkencan. Seharusnya ia membiarkan Gemma menemukan kebahagiaannya.
Tapi Lucas...... merasa tidak rela. Perasaannya akan terasa buruk melihat Gemma berkencan dengan pria lain.
Ia tahu perasaan apa ini. Ia hanya tidak mau mengungkapkannya.