05

1819 Kata
Gemma hendak masuk ke dalam kelasnya. Namun perbincangan para gadis yang menyertakan kekasih Lucas, mengurungkan niatnya. "Gila, kau pacaran dengan Lucas. Lalu pacarmu yang ada di sekolah sebelah bagaimana?" "Lucas itu hanya untuk koleksi, habis dia tampan dan manis sekali." "Wah parah. Kalau Lucas tahu bagaimana?" "Dia tidak akan tahu. Aman."                "Kalau Gemma tahu?" "Aku rasa tidak apa-apa. Gemma sepertinya membenci Lucas, meskipun Lucas selalu bilang mereka bersahabat." Gemma tidak tahu harus bereaksi bagaimana. Seharusnya ia senang mendengarnya, karna Lucas hanya dijadikan selingkuhan. Jadi tanpa perlu ia bermain kotor, Lucas sudah bisa tersakiti. -- -- -- Gemma memperhatikan dari atap sekolah. Lucas yang sedang makan siang dengan pacarnya di taman sekolah. Mereka tampak sangat mesra dan tidak menghiraukan murid lain yang berlalu lalang. Gemma tak lama turun dari atap. Ia pergi ke toilet. Mengambil ember bersih dan mengisinya penuh dengan air. Gemma berjalan menuju taman dengan wajah memerah. 'Tidak akan aku biarkan kau bermesraan. Kau harus merasakan apa yang aku rasakan. Menunggu sampai pacarmu ketahuan sudah punya pacar sebelumnya, terlalu lama.' Gemma akhirnya sampai di taman. Ia sudah berdiri di depan Lucas dan kekasihnya, namun dengan jarak yang agak jauh, sehingga mereka tidak menyadarinya. Gemma mengangkat ember yang ia bawa, sebelum akhirnya membanjur Lucas beserta pacarnya. Byuurrr! Dan setelahnya Gemma melempar embernya tepat ke kepala Lucas, hingga kepala anak laki-laki itu masuk ke dalam ember. Kekasih Lucas itu tampak terkejut dan tidak bisa berkata apa-apa. Ia malah lebih memilih berlari pergi dan berteriak tidak mau ikut campur. Lucas mengangkat ember yang menutupi kepalanya, kemudian menatap tajam Gemma yang juga tengah menatapnya tajam sembari melipat kedua tangannya di depan d**a. "Apa yang kau lakukan?" Tanya Lucas dengan menggeram kecil. "Enak? Enak kalau kencanmu di ganggu? Akhirnya kau merasakan apa yang aku rasakan. Ini saja belum cukup. Aku belum sampai merusak hubungan kalian." Balas Gemma. Lucas seketika beranjak berdiri dan berjalan menghampiri Gemma, sembari membanting ember yang ada di tangannya ke tanah. Gemma sudah ambil ancang-ancang jika Lucas tiba-tiba menyerangnya. Dan benar saja, Lucas langsung melayangkan pukulan pada Gemma, namun Gemma dengan gesit menangkisnya. Lucas mengerang kesal. Buk! Gemma tiba-tiba memukul perut Lucas. Tak terima, Lucas kembali hendak melayangkan pukulan pada Gemma. Dan akhirnya, mereka berakhir saling memukul. Menjadi tontonan para murid yang malah menyoraki mereka untuk memberi semangat. Hingga tercipta dua kubu. Sebelum akhirnya dua orang Guru datang. Satu Guru bk dan satu lagi Guru yang biasanya menjaga ruang kesehatan. Guru bk mencoba menengahi Lucas dan Gemma, yang sudah babak belur. Sedangkan Guru penjaga ruang kesehatan, beralih mengambil Gemma untuk di bawa ke ruang kesehatan. Dan yang membawa Lucas ke ruang kesehatan, adalah Guru bk. -- -- -- Gemma dan Lucas berjalan saling beriringan memasuki gang perumahan mereka. Wajah mereka sudah diberi obat dan ditempeli plester. Tidak ada yang berbicara sedari tadi. Hanya ekspresi sengit yang terpasang di wajah mereka. Namun tak lama Lucas berdecih, sembari tertawa kecil. Sebelum akhirnya menatap Gemma yang hanya menatap lurus ke depan. "Kau menyukaiku kan?" Pertanyaan tiba-tiba Lucas, sukses membuat Gemma memalingkan wajahnya pada Lucas. Ia menatap anak laki-laki itu dengan tatapan tajam. "Menyukaimu? Apa aku tidak salah dengar?" "Buktinya kau merusak kencanku dengan Hana." "Hei. Aku melakukannya karna aku dendam. Kau sudah sering mengganggu kencanku. Sudah seharusnya aku membalas perbuatanmu itu." "Bilang saja kau melakukannya karna menyukaiku." "Dengar ya Wong Lucas. Pria yang lebih tampan dan baik darimu masih banyak. Untuk apa aku menyukai pria tukang ngupil sepertimu?" "Mungkin memang banyak yang lebih tampan dan lebih baik dariku. Tapi mereka belum tentu mau denganmu. Aku saja tidak mau, apa lagi mereka?" Gemma menatap geram Lucas yang hanya memasang ekspresi datar. Namun tak lama Gemma memalingkan wajahnya ke arah lain. "Selamat ulang tahun." Ucap Lucas tiba-tiba sembari melemparkan sesuatu pada Gemma. Hingga langkah Gemma terpaksa terhenti. Gemma menundukan kepalanya, untuk melihat apa yang sudah di lempar Lucas padanya. Hingga membuat benda itu jatuh di samping kakinya. Lucas ikut menghentikan langkahnya. Menunggu Gemma untuk mengambil kotak berukuran sedang yang di bungkus kertas kado itu. Gemma akhirnya berjongkok untuk mengambil kotak tersebut. "Itu sudah lewat seminggu yang lalu. Seminggu lebih." Ucap Gemma. "Aku tahu. Kemarin aku demam saat kau ulang tahun. Makanya lima hari aku tidak sekolah. Bukan karna aku bolos." Balas Lucas dengan nada datar. Gemma terhenyak. Bagaimana bisa ia tidak tahu? Ibu Lucas juga tidak bilang apapun. Gemma membuka kertas kado yang membungkus kotak. Setelah kertas kado terbuka seluruhnya, Gemma akhirnya membuka kotak dus tersebut. Matanya melebar saat melihat benda yang berada di dalam kotak. Sebuah kotak musik berukuran kecil berwarna hijau tosca dengan bentuk bundar. Gemma mengambil kotak musik tersebut, kemudian membukanya. Seketika terdengar bunyi musik klasik, dan sebuah kuda berwarna perak berputar di dalamnya. Lucas tiba-tiba berjalan meninggalkan Gemma. Namun dengan langkah lamban. "Apa maksudmu?" Tanya Gemma seraya menutup kotak musik tersebut. Membuat langkah Lucas terhenti. "Tidak ada. Itu hanya hadiah ulang tahun biasa. Kau bisa membukanya saat merasa kesepian." Balas Lucas, sebelum akhirnya melanjutkan langkahnya. "Terimakasih." -- -- -- Lucas menatapi kaca jendela kamar Gemma yang tertutup tirai. Lampu kamar Gemma tampak sudah mati. Pertanda gadis itu mungkin sudah tidur. Lucas tak lama keluar dari kamarnya, dan dengan langkah perlahan, Lucas menuruni tangga rumahnya, sebelum akhirnya keluar dari rumah. Berusaha untuk tidak membuat suara sedikitpun. Lucas berjalan menuju rumah Gemma. Ia memanjat pagar sebelum akhirnya melompat masuk ke pekarangan rumah Gemma. Lucas mengambil tangga yang ia sembunyikan di semak-semak. Sebelum akhirnya menyandarkan tangga tersebut pada balkon kamar Gemma. Lucas segera menaikinya, setelah merasa posisi tangganya sudah pas. Sampai akhirnya ia sampai di balkon kamar Gemma. Dari sini, Lucas bisa mendengar suara musik klasik dari kotak musik yang ia berikan. Lucas mengintip sedikit ke dalam, melalui kaca jendela yang tidak tertutupi tirai. Ia bisa melihat Gemma sudah tertidur, dengan kotak musik berada di genggaman tangannya. Lucas tersenyum simpul, sebelum akhirnya ia memilih kembali pulang. __ __ __ Gemma duduk di salah satu meja makan setelah ia selesai membuat sarapan. Sebelum akhirnya ia membuka kotak musiknya, agar membuat sarapannya tidak terasa sepi. Ia menatap kursi-kursi lain yang kosong. Pilu rasanya setiap hari begini. Namun kotak musik pemberian Lucas, entah kenapa sedikit menaikan moodnya. Mungkin Lucas sudah memberinya mantra, agar kotak musik itu benar-benar bisa menghilangkan rasa kesepiannya. -- -- -- "Astaga Lucasss... Memang tidak seharusnya aku meninggalkanmu kemarin. Akhirnya kau jadi babak belur begini." Lucas mendengus seraya menepis tangan Hana yang sedari tadi merabai wajahnya. "Aku pacarmu yang keberapa?" Tanya Lucas to the point. Kening Hana mengernyit. "Apa yang kau katakan-" "Aku tahu, tidak usah mengelak. Aku melihatmu kemarin dengan pacarmu yang pertama. So, sekarang kita putus." "Tapi Lucas-" "What?" Gadis bernama Hana itu menundukan kepalanya saat Lucas memotong ucapannya dengan ketus sembari memberi tatapan tajam. "Kita berakhir. Oke? Kita selesai. Kau kira aku boneka dikoleksi?" Setelah berucap demikian, Lucas pun pergi meninggalkan Hana begitu saja, di koridor sekolah yang masih sepi. Lucas menyeringai kecil. Dia sebelum berpacaran dengan Hana juga sebenarnya sudah tahu, kalau gadis itu sudah memiliki pacar. Tapi ia berpura-pura tidak tahu. Alasannya simple. 'Hanya untuk melihat reaksi Gemma.' -- -- -- Gemma membuka lokernya, matanya melebar saat melihat ada sebungkus permen jelly di dalam lokernya. Gemma segera mengambil permen jelly tersebut, dan ia menemukan secarik note kecil di belakang bungkus permen. 'Semoga harimu ceria dengan banyak warna cerita seperti permen jelly ini. Juga tentunya, semanis permen jelly ini. ^^ _penggemar rahasia.' Kening Gemma mengernyit. Tiba-tiba seseorang dari belakang merampas permen jellynya. "Hahahaha, apa-apaan ini? Dari penggemar rahasia? Masih zaman seperti ini?" Gemma menatap tajam Lucas. Dia yang baru saja merebut permen jellynya. "Kembalikan!" Seru Gemma. Namun Lucas malah membuka bungkus jelly tersebut, dan memakannya beberapa buah. "Lucas!" Teriak Gemma dan hendak merebut kembali permen jellynya, namun Lucas segera menjauhkan permen jelly itu dari Gemma. "Lucas! Kembalikan!" Lucas seolah tidak punya telinga dan malah kembali memasukan satu buah permen jelly ke dalan mulutnya, seraya memunggunginya. Gemma mengerang kesal, ia kemudian mencekik Lucas dari belakang, dan mencoba kembali merebut permen jellynya. Namun Lucas mengangkatnya tinggi-tinggi. Sampai-sampai Gemma tidak sadar telah memanjat tubuh tinggi Lucas. Yang mengherankan Lucas tetap bisa berdiri tegak, meskipun Gemma berada di punggungnya, dengan posisi seperti memanjat pohon. "Lucassss...." erang Gemma kesal. Wajah Gemma sampai setara dengan wajah Lucas. Gemma mencondongkan wajahnya, tangannya terulur untuk mengambil permen jellynya. Lucas menyeringai kecil. "Hei." Panggil Lucas. Gemma sontak menolehkan kepalanya ke arah Lucas, karna merasa di panggil. Tanpa terduga Lucas tiba-tiba mendekatkan wajahnya pada Gemma, dan menyelipkan permen jelly yang tidak sepenuhnya masuk ke dalam mulutnya, pada kedua belah bibir Gemma. Gemma seketika mematung. Ia menatap Lucas dengan mata melebar. Lucas tiba-tiba menurunkan tangan yang memegangi bungkus jelly tersebut, kemudian memberikannya pada Gemma. Gemma menerimanya dengan masih shock. "Turun." Titah Lucas. Gemma pun dengan hati-hati turun dari punggung Lucas. Lucas kemudian bergegas pergi tanpa mengucapkan apapun. Gemma baru tersadar dari lamunannya. Ia melepas salah satu sepatunya, kemudian melemparnya ke arah Lucas. Buk Dan sepatu itu akhirnya tepat mengenai punggung Lucas. Gemma mengusap bibirnya menggunakan punggung tangannya. Ia masih bisa merasakan bibir Lucas yang menempel pada bibirnya. "Berhenti menciumku! Kau fikir aku jalang yang bisa seenaknya kau cium?!" Teriak Gemma. Lucas tidak menjawab. Hanya menolehkan kepalanya ke samping, dan ia tidak menunjukan ekspresi apapun. -- -- -- Gemma tidak bisa fokus belajar. Selain karna merasa penasaran dengan penggemar rahasianya yang sudah memberikannya permen jelly, namun berujung masalah. Ia juga tidak habis fikir dengan tingkah Lucas, yang seenaknya mencium dirinya. Bukankah Lucas sering bilang, dia merasa geli dengan dirinya. Kenapa sekarang sering menciumnya? Sudah terhitung tiga kali. Dan sekarang ia yang merasa geli dengan dirinya sendiri. Dicium seorang pria dalam status musuh. Bahkan ia tidak pernah melakukannya dengan mantan-mantan kekasihnya dulu. Gemma sesekali mengusap bibirnya dengan punggung tangannya. -- -- -- Gemma tersentak saat ia melihat Lucas ada di kamarnya, saat ia baru masuk ke dalam kamarnya. "Aku heran. Kenapa kau bisa masuk ke kamarku. Kau memanjat lewat mana?" Lucas menggendikan bahunya mendengar pertanyaan Gemma. "Bukan urusanmu." Ucap Lucas. Gemma mendengus sembari membuka tas ranselnya. Kemudian meletakannya di sudut kamarnya. "Ada urusan apa kau kemari?" Tanya Gemma. Lucas hanya diam. Dia malah membaringkan tubuhnya pada ranjang Gemma, sebelum akhirnya menarik selimut untuk menutupi tubuhnya. Gemma memutar kedua bola matanya malas. "Lucas-" "Ibu dan adikku sedang ke rumah Nenek, Ayahku ada tugas di luar kota. Aku mau menginap disini. Karna aku butuh makan dan tidak bisa tidur sendirian." "Karna kau penakut?" "Ya." Gemma mengernyit mendengar Lucas tidak menyangkal tuduhannya yang jelas-jelas, seperti olokan. Gemma akhirnya memilih ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Lucas memang pulang lebih awal dari Gemma, karna jam pelajaran terakhir di kelas Lucas ditiadakan. Guru yang seharusnya mengajar harus ke rumah sakit. Lucas menurunkan selimut yang menutupi dirinya sampai wajah sebelumnya. Ia kemudian beranjak duduk sembari mengeluarkan ponselnya. From: Adikku yang paling jelek Bagaimana? To: Adikku yang paling jelek Dia sepertinya oke-oke saja aku menginap di rumahnya. Diakan memang kesepian lagi pula. From: Adikku yang paling jelek Kata Ibu jangan macam-macam. Kalau macam-macam Ibu tidak jadi menginap di rumah Nenek. To: Adikku yang paling jelek Iya-iya, tenang saja.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN