Lucas masuk menerobos kerumunan murid-murid yang mengelilingi mading. Suara gelak tawa yang meledeknya memenuhi seluruh indra pendengar Lucas.
Dan begitu sampai di depan mading, nafasnya seketika tercekat. Foto-foto masa kecilnya yang sudah di copy terpajang di papan mading.
Foto saat ia dipakaikan kostum anabella, wajahnya juga di rias mengerikan. Saat bokongnya dipukul Ayahnya. Saat ia sedang ingusan. Dan foto-foto memalukan lainnya semasa kecil yang benar-benar aib baginya.
"GEMMA!"
-- -- --
Lucas berjalan memasuki kelas Gemma dan menemukan gadis itu tengah tertawa terbahak-bahak dengan beberapa anak gadis.
"Kalian masih mau menganggap Lucas cool dan tampan? Lihatkan? Semasa kecilnya dia sangat memalukan! Aku sudah bersamanya sejak kecil, jadi tahu. Lebih parahnya lagi apa coba, dulu itu, Lucas hobi pilek dan ingusnya kemana-mana! Sampai-sampai Ibunya memasangkan sapu tangan dibajunya menggunakan peniti. Dia seperti itu sampai umur 12 tahun!"
Lucas menggeram pelan. Ia berjalan cepat menghampiri Gemma, kemudian menarik kerah belakang kemeja Gemma. Membuat Gemma tertarik sampai keluar keluar.
Tidak peduli dengan teriakan gadis itu, juga ringisannya karna tubuh dan kakinya membentur meja juga kursi.
Lucas membawa Gemma ke tengah lapangan.
"Apa maksudmu hah?!" Teriak Lucas.
"Maksudku? Aku kira kau sudah tahu. Sejak semalamkan aku sudah bilang. Aku akan membalasmu." Gemma berucap dengan santai.
"Tapi tidak dengan begini caranya bodoh!"
"Apa yang salah dengan caraku? Kau lebih sering mempermalukan aku!"
"Aku akan memajang fotomu saat masih gendut nanti di depan sekolah! Aku akan membuatnya jadi poster!"
"Lakukan saja! Aku akan kebiri kau!"
"Lakukan saja! Kau tidak akan bisa!"
Gemma menatap geram Lucas. Mereka saling bertatapan dengan sengit.
"Kenapa sih kau selalu menggangguku? Aku salah apa? Kenapa tidak bisa membiarkan aku hidup tenang sedikit hah?!"
Lucas mencebikan bibirnya.
"Karna aku memang tidak suka melihatmu senang. Kenapa?"
Duak!
Semua anak yang melihat kejadian di lapangan seketika berteriak histeris saat melihat Gemma menendang s**********n Lucas, hingga remaja laki-laki itu, ambruk ke tanah.
Gemma menaiki perut Lucas kemudian menjambak rambutnya, membuat Lucas berteriak histeris.
Ia segera membanting tubuh Gemma ke tanah. Lucas mencengkram erat kerah kemeja Gemma. Gemma kira, Lucas akan memukulnya seperti biasa.
Namun apa yang di lakukannya, diluar dugaannya. Lucas-- tiba-tiba menciumnya. Tepat dibibir.
Gemma berteriak histeris dengan suara teredam kemudian mendorong kasar Lucas hingga Lucas menjauh darinya. Dan mundur hingga beberapa centi dari Gemma.
"Apa yang kau lakukan hah?!" Teriak Gemma, dan Lucas dengan susah payah beranjak berdiri untuk berlari. Gemma tanpa membuang waktu segera mengejarnya.
Gemma tidak menyadari jika ada Ong yang melihat semua kejadian tadi. Sedangkan Lucas. Dia sudah pasti tahu ada Ong di sana.
-- -- --
Gemma masih mengejar Lucas yang terus berlari.
"Hei! Dasar sialan!" Teriak Gemma seperti orang gila. Ia mengambil pot-pot kecil yang tersusun di pinggir teras. Kemudian melemparnya ke arah Lucas yang bisa menghindar.
Meskipun sesekali pot yang Gemma lempar tepat sasaran.
"Astagaaaaa!!! Apa yang kalian lakukan?!" Suara seseorang yang sangat familiar di telinga Gemma dan Lucas. Sukses menghentikan langkah mereka.
Mereka segera memutar tubuh mereka ke belakang. Menghadap ke arah seseorang yang sudah berteriak tadi.
Seorang wanita dengan mata sipitnya, menatap mereka tajam.
"Ikut aku. Sekarang!"
-- -- --
Gemma mendengus sembari memunguti pecahan-pecahan pot bunga, sedangkan Lucas membersihkan tanah-tanah yang tersebar di lantai.
"Ini semua salahmu." Gerutu Gemma.
"Kenapa jadi salahku?" Sahut Lucas.
"Aku benar-benar muak ya denganmu. Sangat-sangat muak. Ingin rasanya aku mati saja dari pada harus terus-terusan berurusan denganmu. Apa lagi tadi! Bisa-bisanya kau menciumku. Kau kira aku tidak punya harga diri apa?" Lucas seketika menatap Gemma. Merasa tidak terima dengan apa yang di ucapkan gadis itu.
Gemma balik menatap Lucas dengan tatapan sengit.
"Aku tidak mengerti. Aku ada salah apa padamu? Kita ada masalah apa sebenarnya? Kenapa kau memusuhiku? Why?"
Lucas hanya diam. Tidak tahu harus berkata apa.
"Kalau kau memang membenciku. Aku akan pergi. Aku akan sewa apartemen agar tidak menjadi tetanggamu lagi dan pindah sekolah." Lucas seketika melebarkan matanya, menatap Gemma dengan tatapan tidak percaya.
"Tidak usah repot-repot kau lakukan itu. Aku tidak akan menganggumu lagi." Ucap Lucas dengan cepat.
"Bagus kalau begitu." Balas Gemma. "Aku merasa lega. Awas saja kalau tetap menggangguku."
Entah kenapa tapi dilubuk hati Gemma yang terdalam, ia sama sekali tidak merasa lega. Itu lah sebabnya wajahnya tetap merengut meskipun Lucas telah berkata demikian.
-- -- --
Ini sudah seminggu, dan Lucas benar-benar menepati kata-katanya untuk tidak mengganggunya lagi.
Gemma menatap langit yang cerah siang ini. Ia tengah berada di atap sekolah dan sedang berbaring di sofa usang.
Tapi entah kenapa Gemma merasa jadi ada yang hilang. Dunianya serasa kurang asik lagi.
'Apa yang aku fikirkan? Seharusnya aku merasa senang.' Batin Gemma.
'Mungkin itu karna Kak Ong memutuskan aku lagi.' Berbagai pemikiran terus berkelebat di benak Gemma. Sampai akhirnya suara ribut-ribut di bawah, lebih tepatnya pada lapangan, terdengar.
Gemma beranjak dari sofa dan berjalan menuju pinggir atap, untuk melihat apa yang terjadi.
Rupanya ada Lucas di tengah lapangan dengan seorang gadis yang sedang menyatakan perasaan padanya. Banyak siswa yang mengelilingi lapangan dan bersorak.
"Terima!"
"Terima!"
Gemma hanya diam mengamati. Tak di sangka Lucas tiba-tiba memutar ke kiri kepalanya, kemudian mendongak menatap Gemma sejenak.
Bagaimana mungkin Lucas sadar jika ada dirinya di atap sedang memperhatikan? Atau hanya kebetulan?
Lucas tak lama kembali menatap gadis yang berdiri di depannya. Mata Gemma seketika melebar, saat melihat Lucas tiba-tiba mencium gadis itu.
__ __ __
Lucas tiba-tiba masuk ke kamar Gemma melalui jendela, dan duduk di atas ranjang gadis itu. Gemma yang sebelumnya sedang duduk di meja belajarnya, menatap sinis Lucas.
"Apa yang kau lakukan disini?" Tanya Gemma. Ingin rasanya ia menendang bocah ini dari kamarnya segera.
Lucas melipat kedua tangannya di depan d**a, kemudian menatap Gemma dengan bibir kiri terangkat ke atas.
"Hari ini aku di tembak seorang gadis." Ucap Lucas. Oh wow, mungkin dia hendak berbagi cerita.
Gemma hanya bergumam membalas perkataannya, sembari mengalihkan pandangannya ke arah buku.
"Dia awalnya mengajakku ke lapangan, kemudian tiba-tiba memberiku coklat dan menyatakan perasaannya." Lucas berujar sembari masih tetap menatap Gemma, yang tampak tidak peduli.
"Lalu? Kau menerimanya?" Tanya Gemma. Lucas tahu dari nada suaranya, Gemma benar-benar tidak peduli dengan ceritanya.
"Kau pasti tahu. Aku mengatakan ya dan langsung menciumnya. Lagi pula dia memang cantik. Aku suka lip gloss yang dia pakai." Balas Lucas.
Gemma kemudian hanya diam. Begitu pun dengan Lucas.
alis Lucas tak lama bertaut begitu juga keningnya, bibirnya menjebik, menunjukan kejengkelannya.
Lucas beranjak berdiri, ia mendekati meja belajar Gemma dan tiba-tiba menggebraknya, membuat Gemma tersentak dan sontak mendongakan kepalanya menatap Lucas.
"Cih, kenapa kau tidak ada cemburu-cemburunya sama sekali sih?!" Teriak Lucas.
Gemma mengernyitkan keningnya.
"Apa? Cemburu?"
Lucas tiba-tiba menatap serius Gemma.
"Aku itu sebenarnya menyukaimu, aku menyukai Gemma, bukan gadis lain." Gemma melebarkan matanya, ia menatap tidak percaya Lucas.
Namun hanya bisa terdiam, sembari terus menatap Lucas.
Beberapa detik berlalu, tawa Lucas tiba-tiba pecah.
"Hahahahahaha, serius sekali menanggapinya. Mana mungkin aku menyukaimu? Hahahaha."
Pipi Gemma seketika memerah karna merasa malu. Ia menatap geram Lucas yang masih tertawa lepas.
Gemma langsung beranjak berdiri, ia meraih kerah kaos Lucas hingga tubuh Lucas jadi merunduk, dan hidungnya menubruk hidung Gemma.
"Keluar dari kamarku sekarang, atau aku akan memukulmu habis-habis-an." Ucap Gemma dengan nada penuh penekanan.
Lucas tiba-tiba malah memajukan bibirnya, hingga bibirnya bersentuhan dengan bibir Gemma.
Gemma melebarkan matanya, ia sontak melepas cengkramannya pada kaos Lucas dan menampar pipi kanan Lucas dengan keras.
"Keluar dari kamarku sekarang!" Teriak Gemma, sembari menyeret Lucas dengan menarik kaosnya, kemudian membuka pintu kamarnya. Sebelum akhirnya menendang Lucas keluar.
Blam!
Gemma membanting pintu saat menutup pintu. Senyum Lucas dari sisa tawanya menghilang. Ia menatap kosong pintu kamar berwarna putih itu.
Sebelum akhirnya ia melangkah pergi meninggalkan rumah Gemma.
Rumah Gemma sepi. Orang tuanya sibuk bekerja dan Gemma anak tunggal. Tidak seperti Lucas, yang dimana Ibunya Ibu rumah tangga biasa dan ia memiliki adik.
Gemma selalu kesepian. Dan Lucas tahu itu.
-- -- --
Gemma menaiki atap rumahnya, melalui balkon kamarnya. Gemma naik menggunakan tangga.
Orang tuanya tiba-tiba mengetuk pintu saat mereka baru pulang kerja. Gemma malas bertemu mereka. Ia sudah bisa menebak apa yang akan mereka lakukan.
Meminta maaf, memberi kado dan yang jelas mengucapkan selamat ulang tahun yang sebenarnya sudah lewat sejak seminggu yang lalu.
Gemma merayakannya sendiri. Biasanya Lucas dan adiknya akan datang mengganggunya di jam tepat 12 malam. Dan memberinya kue mainan yang akan meledak seperti bom. Ledakannya hanya ledakan kecil, dan di saat kuenya sudah hancur, akan muncul hadiah kecil yang konyol.
Tapi itu semua rencana adik Lucas. Lucas mana sudi merayakan ulang tahunnya dan memberinya hadiah.
Terbukti saat ulang tahunnya seminggu yang lalu. Adik Lucas sedang berada di rumah Neneknya, dan Lucas tidak mendatanginya seperti biasa.
Apa lagi, saat itu Lucas juga sudah berjanji untuk tidak mengganggunya lagi.
Gemma membaringkan tubuhnya begitu ia sampai di atap. Menatap langit yang sebenarnya tidak memiliki bintang. Hanya ada satu dua bintang yang bertengger di langit.
Sekelebat, muncul bayangan saat Lucas menciumnya di lapangan. Entah apa maksudnya, dan tadi...
Tapi Lucas sekarang sudah punya pacar. Apa... dia harus mengganggu hubungan Lucas dan pacarnya juga? Balas dendam.
Mungkin ia harus melakukannya.
Tapi untuk apa?
Gemma sendiri tidak habis fikir kenapa Lucas sering mengganggu hubungannya dengan beberapa pria. Untuk apa Lucas susah payah melakukan semua itu?
Gemma seketika mendudukan tubuhnya, ia menatap rumah Lucas yang berhadapan dengan rumahnya. Lebih tepatnya ke arah kamar Lucas yang lampunya masih menyala. Tanda anak laki-laki itu belum tidur.
"Kau enak ya? Ibumu di rumah, punya saudara. Tapi kenapa masih mengusik hidupku? Aku sudah cukup sengsara. Orang tuaku tidak pernah di rumah, tidak punya saudara. dan kau membuatnya semakin buruk."
Tak terasa air mata Gemma meluncur dari kedua matanya. Ia iri dengan Lucas. Dia begitu bahagia.
-- -- --
Gemma merasa kepalanya agak pusing pagi ini. Mungkin karna terlalu banyak menangis semalam. Dan begitu ia membuka pintu, ia menemukan bertumpuk kado di depan kamarnya.
Sayang. Orang tuanya sudah tidak ada di rumah. Rumah kosong seperti biasanya saat ia keluar kamarnya.
Gemma berjalan lunglai mendekati lokernya. Baru saja ia membuka pintu lokernya, seseorang yang baru saja melewatinya, menarik perhatiannya.
Lucas dan pacar nya. Sedang bergandengan tangan dengan santainya di koridor sekolah.
Padahal kalau Guru-Guru melihatnya, mereka bisa di hukum.
Gemma mencoba tidak memperdulikannya. Namun matanya berakhir tidak bisa lepas dari mereka, yang tak lama menghilang di belokan.
Gemma mencengkram erat tali tasnya.
"Aku akan balas dendam. Kau tidak bisa senang-senang dengan pacarmu. Kau harus merasakan, saat hubunganmu dirusak juga."