Lucas melihat melalui jendela kamarnya, Gemma yang baru pergi bersama Ong. Dengan secepat kilat ia segera berlari ke kamar Ibunya.
Memoleskan bedak tebal-tebal ke wajahnya, memoleskan lipstick merah asal-asalan diwajah dan bibirnya, membuatnya tampak seolah-olah darah.
Ibu tiba-tiba masuk kamar, ia melebarkan matanya melihat anak laki-lakinya yang sekarang tengah membuat lingkaran seperti mata panda dimatanya, menggunakan eyeliner.
"Apa yang kau lakukan?!" Seru Ibu.
"Shuttt... aku sedang latihan dandan untuk main teater, sudah dulu ya?" Lucas berlari keluar dari kamar Ibunya.
-- -- --
Adik Lucas menatap Kakaknya aneh saat melihatnya menggunakan jubah putih kebesaran dan wig panjang hitam yang acak-acakan. Entah dari mana semua benda itu, yang jelas sekarang Lucas tampak seperti orang sinting.
"Kak, kau mau apa sih?" Tanya adik laki-laki Lucas sembari memasukan segenggam keripik ke dalam mulutnya.
"Kau diam saja. Ini bukan urusanmu." Bocah berpipi gembil itu memutar kedua bola matanya malas, mendengar jawaban Kakaknya.
"Pasti mau mengganggu kencan Kak Gemma dengan pacarnya kan? Ck, sudahlah Kak. Kenapa sih? Mengganggunya terus? Biarkan Kak Gemma berkencan dengan aman dan damai." Kata anak laki-laki itu.
"Kau tahukan prinsipku? Aku tidak akan membiarkan Gemma aman dan damai. Sudah ya, aku pergi dulu." Bocah laki-laki kemudian hanya diam sembari memperhatikan Lucas yang akan bergegas.
Namun ia tanpa sengaja menginjak rok jubah putihnya, hingga ia jatuh tersungkur kedepan.
"Akhhh!!! Hidung tampanku!"
Dan anak laki-laki itu sama sekali tidak berniat membantu Kakaknya, ia lebih memilih tetap menyantap keripiknya dengan tenang. Seolah Kakaknya terjatuh, adalah sebuah tontonan komedi garing di bioskop.
-- -- --
Gemma dan Ong pergi ke taman yang cukup ramai. Berjalan-jalan sambil makan kue ikan dan minum soda. Ong sesekali melontarkan lelucon konyol yang sukses mengocok perut Gemma.
Ong bisa dibilang kekasih yang sempurna meskipun dia sedikit bodoh. Dia humoris, penyayang, tampan, dan sebagainya. Dan Gemma beruntung, tidak ada murid perempuan yang menyukai Ong secara khusus hingga berniat menjadi perusak hubungannya dengan Ong.
Meskipun sering dikagumi murid perempuan karna ketampanannya, mereka tidak berfikir, berkencan dengan Ong adalah hal yang bagus. Karna satu hal, ya itu, Ong terlalu polos atau bodoh?
Langkah Gemma tiba-tiba terhenti saat ia melihat sekelebat orang berpakaian putih dan berambut panjang hitam acak-acakan, berjalan disudut taman dekat lampu-lampu jalan dan pohon rindang.
Ong otomatis ikut menghentikan langkahnya juga.
"Ada apa?" Tanya Ong.
Gemma menunjuk ke tempat dimana ia melihat sekelebat makhluk aneh itu.
"Aku tadi melihat ada orang berpakaian putih disitu, rambutnya panjang acak-acakan." Kata Gemma.
Ong seketika menelan ludahnya.
'Jangan-jangan apa yang Lucas katakan benar?'
"Mungkin hanya halusinasi." Ucap Gemma sembari memutar kepalanya menghadap ke arah Ong. "Kau takut?" Tanya Gemma.
"Eum? Tidak kok." Ucap Ong sembari mencoba tersenyum.
Namun tiba-tiba sosok itu muncul lagi. Kening Gemma mengernyit. Sosok itu terus mondar-mandir sembari mengangkat rok jubahnya, dan Gemma dapat melihat sepatunya.
"Tunggu disini." Kata Gemma sembari menepuk bahu Ong sejenak, sebelum akhirnya berlari mendekati pohon-pohon dan lampu jalan tersebut.
Ong sudah menegang di tempatnya, perkataan Lucas terngiang dibenaknya. Ia bergidik, kalau Gemma benar-benar punya six sense, ia lebih baik putus lagi dengan Gemma, dari pada harus terus menerus mengompol setiap berkencan Gemma, karna takut.
Sekarang saja Ong merasa ingin buang air kecil. Oh Tuhan, selain polos Ong adalah manusia penakut.
-- -- --
Lucas langsung memanjat pohon saat melihat Gemma berjalan kearahnya. Lucas keringat dingin melihat ada sebatang ranting yang cukup besar di tangan Gemma.
"Hei! Keluar kau iblis!" Teriak Gemma. "Aku akan membunuhmu pakai cidori!"
"Hei bodoh! Mana ada-" Lucas langsung menutup mulutnya, hampir saja mulutnya kelepasan berbicara.
Sekarang Gemma tengah mendongakan kepalanya, mencari-cari keberadaan hantu gadungan.
Srak
Lucas melebarkan matanya saat merasakan ujung rok jubahnya tertarik.
"Kau disini rupanya," desis Gemma dan secara kasar menarik rok jubah Lucas, membuat anak laki-laki itu hampir terjatuh dari atas pohon.
Tapi Lucas segera memeluk erat salah satu cabang pohon, untuk mempertahankan dirinya agar tidak jatuh. Namun Gemma mulai memukuli kakinya menggunakan ranting yang ia bawa.
"Turunkan kau iblis! Dasar b******n! Turunkan!" Teriak Gemma, dan seperti orang gila menarik-narik kaki Lucas.
Namun Lucas tetap mempertahankan dirinya agar tidak jatuh dari atas pohon. Akhirnya Gemma memilih memanjat pohon, setelah sampai disana, ia menatap Lucas dengan mata melotot.
"Kau mau menganggu kencanku dengan Ongkan?" Geram Gemma.
"Kalau iya kenapa?" Tanya Lucas dengan nada menantang sembari menjulurkan lidahnya.
"Oh begitu?" Gumam Gemma.
Gemma tiba-tiba mencubit hidung kiri Lucas bahkan memelintirnya, membuat Lucas berjenggit terkejut dan mengerang kesakitan.
Gemma sudah sangat hafal letak benda kecil itu pada d**a Lucas tanpa perlu melihat atau merabanya, karna ia sudah sering melakukannya.
"Hei sakit!" Teriak Lucas sembari menjambak rambut Gemma.
Gemma beralih mencakar-cakar tubuh Lucas. Dan pertengkaran mereka semakin menjadi hingga dedaunan layu dan kering yang berada di pohon berjatuhan ke tanah.
Brak
-- -- --
Ong terkejut dan sekujur tubuhnya menegang saat melihat Gemma yang tengah saling mengejar dengan sosok berjubah putih dan berambut hitam panjang acak-acakan itu. Di tangan Gemma terdapat ranting pohon.
'Jadi itu sungguhan hantu atau bukan? Kenapa aku bisa melihatnya? Jangan-jangan aku bisa melihatnya karna aku berkencan dengan Gemma? Hwaaaaa.'
Ong akhirnya memilih segera pergi dari taman. Ia sungguh takut melihat sosok berjubah putih dengan wajah hancur itu. Wajah putih, leher hitam, dan banyak noda merah juga ada lingkaran hitam dimata.
Sosok itu benar-benar mengerikan.
-- -- --
"Yahh... ditinggal." Ledek Lucas saat Gemma kembali ke tempatnya bersama Ong, namun pria bersurai hitam itu sudah tidak ada.
"Masih mau dipertahankan saja pria cemen seperti itu." Lucas kembali mengoceh. Membuat Gemma segera memberinya tatapan mematikan.
"Ini semua salahmu! Awas saja kau!" Teriak Gemma geram.
Lucas menggendikan bahunya santai.
"Kau selalu bilang 'awas saja kau' padahal kau tidak melakukan apapun." Kata Lucas dengan nada meremehkan.
Gemma mengepalkan tangannya. Lucas tidak menyadari sebuah seringaian sudah tercetak jelas diwajah Gemma.