"Dengan rasenggan! Aku bunuh kau Lucas! Hyaaaaa-"
"Aku pakai cidori! Hyaaaaaa-" brak!
Gemma seketika membelalak dengan matanya yang memerah, ia menoleh ke segala penjuru kelas dengan pandangan bingung.
Dengan tidak menyadari seseorang sudah menatapnya tajam dari depan kelas.
"Gemma." Panggil wanita cantik yang sebenarnya sudah berumur 30 tahun, namun wajahnya yang awet muda dan cantik bisa membodohimu.
"I-iya, Ibu Irene?" Tanya Gemma dengan ling lung sembari menatap ke depan kelas. Menatap wanita dengan kulit seputih susunya juga bibir berlapis lipstick merah yang selalu jadi ciri khas.
Ia tampak mengepalkan tangannya yang terisi oleh spidol. Namun ia berusaha tidak langsung meluapkan emosinya.
"Kau tidak dengar, ada suara-suara aneh di kelas?" Tanya wanita yang dipanggil Ibu Irene itu, berusaha terlihat tenang.
Kening Gemma mengernyit. Dan akhirnya ia baru menyadari sesuatu. Gemma seketika menurunkan pandangannya, ke arah laptopnya yang masih menayangkan serial anime naruto.
'Astaga, mati aku.' Batin Gemma.
Gemma seketika mengeluarkan aplikasi media, dan mematikan laptopnya.
"Menonton sepuluh menit sebelum kelas dimulai, kemudian tidur, dan lima belas, Aku!-" brak! Bu Irene menjeda kalimatnya sejenak untuk menggebrak papan tulis dan mengatur nafasnya yang mendadak tidak teratur. "Aku! Sudah membangunkanmu! Dengan berbagai cara! Dan kau tidak bangun-bangun! Malah berteriak nama Lucas!"
Gemma menggigit bibirnya. Ia antara takut dengan amukan wali kelasnya itu, juga risih dengan tatapan semua murid di kelasnya, yang mengarah padanya.
"Sekarang-" ucap Ibu Irene dengan nada penuh penekanan. "Keluar dari kelas, punguti semua daun-daun kering di lapangan. Satu lagi, sekalian saja kau nyatakan cinta pada Lucas, agar perasaanmu lega, dan tidak memimpikannya lagi."
'What?!'
-- -- --
Gemma dengan malas memunguti daun-daun kering menggunakan tangannya yang dilapisi kantung plastik. Sinar matahari sangat terik, dan dia harus menjalani hukuman berat ini.
Setelah memunguti daun, Gemma memasukannya ke dalam karung yang memang disediakan untuk menjadi tempat sampah daun-daun kering.
'Aku benci Lucas.'
'Dia penghuni neraka.'
'Lucas jelek, Lucas bodoh.'
'Lucas tiang jemuran.'
'Lucas tukang ngupil.'
'Lucas-'
"Hei,"
Umpatan Gemma terhenti karna ada seseorang yang tiba-tiba menyapanya. Ia menolehkan kepalanya ke samping, dan matanya seketika membola, saat melihat pria berambut hitam dengan wajah bak karya seni terindah itu, tengah tersenyum padanya.
"Ka-Kak Ong?" Gumam Gemma.
"Halo Gemma. Kau kenapa disini? Bukannya kau sedang ada kelas?" Tanya pria yang disebut Kak Ong itu dengan ramah.
"Iya, tapi aku dihukum, karna ketiduran di kelas dan tidak bisa dibangunkan sampai 15 menit."
Ong tertawa kecil, dan tiba-tiba mengacak rambut Gemma.
"Makanya jangan suka tidur larut malam, kau jadi ngantukan siang harinya? Ya sudah, sini biar aku bantu membersihkan daun-daun keringnya, agar hukumanmu cepat selesai. Matahari sedang tidak bersahabat."
Gemma hanya terdiam, termenung menatap Ong yang sekarang tengah mengutipi daun-daun kering dengan tangan kosong, alias tanpa kantung plastik melapisi tangannya.
Ong itu sebenarnya bukan Kakak kelas, kan Gemma yang anak peringkat akhir. Tapi dia Guru magang yang mengajar pelajaran olah raga, sekaligus Guru termuda di sekolah. Perbedaan umur Ong dengan Gemma tidak terlalu jauh, begitu juga dengan murid lainnya.
Hanya beberapa tahun. Ong Guru yang asik dan gaul, itu sebabnya dia juga ada di grub chat sekolah, yang seharusnya hanya diisi murid-murid.
Tapi... Ong sebenarnya sedikit polos, entah polos atau bodoh, itu semua beda tipis. Saat awal-awal jadi Guru, Ong justru malah dibully murid-muridnya sendiri, hanya murid laki-laki, termasuk Lucas.
Dan yeahhh, bisa ditebak siapa yang membela Ong saat dibully, sudah jelas Gemma. Hanya dia yang berani melawan Lucas.
Dan saat itu lah, benih-benih cinta pun muncul. Lamunan Gemma seketika buyar. Aku hanya anak SMA, cintanya hanya cinta monyet belaka.
"Gemma, aku minta maaf ya atas kejadian kemarin? Aku sangat bodoh karna sudah percaya dengan foto editan, tidak seharusnya aku begitu. Maafkan aku ya?"
Gemma tersentak saat Ong tiba-tiba sudah berdiri di depannya, dan berbicara padanya. Terik matahari sedikit membuatnya pusing, ditambah ia banyak melamun dari tadi.
"Iya, tidak apa-apa Kak." Hanya itu yang keluar dari mulut Gemma.
"Kalau begitu... apa kita bisa kembali? Kembali seperti dulu? Kau mau?"
Untuk kesekian kali mata Gemma melebar pada siang ini.
"Iya! Aku mau!" Seru Gemma dengan bersemangat.
Dan sesuatu tiba-tiba menimpuk kepalanya dari belakang. Membuat kepala Gemma semakin pening, dan tak lama gadis itu ambruk.
Ong terkejut dan segera menangkap tubuh Gemma yang tidak sadarkan diri.
"Hei! Siapa yang melemparkan kaleng soda pada Gemma?!" Teriak Ong.
Tak lama Lucas muncul dari balik sebuah pilar besar dan berlari menghampiri Gemma serta Ong.
"Hei?! Apa yang kau lakukan pada Gemma?!" Seru Lucas sembari berjongkok di samping Gemma.
"Aku tidak melakukan apapun, seseorang melemparkan kaleng soda dan mengenai kepala Gemma. Jangan-jangan itu kau."
"Hei! Mana mungkin aku menimpuk sahabatku sendiri! Lagi pula aku dimana letak tong sampah."
Lucas tiba-tiba menggendong Gemma membuat Ong terkejut. Dengan berlari, Lucas meninggalkan Ong dan membawa Gemma ke ruang kesehatan.
-- -- --
Lucas melipat kedua tangannya di depan d**a sembari berdecak. Ia kemudian memutar tubuhnya ke belakang, ke arah Ong yang berdiri dibelakangnya.
"Kau yakin mau mengajak balikan Gemma? Aku yakin ada rumor miring sedikit tentang Gemma, kau pasti akan langsung memutus hubungan kalian lagi." Ujar Lucas dengan raut wajah serius.
"Aku tidak akan begitu lagi. Aku percaya pada Gemma mulai saat ini."
Salah satu alis Lucas terangkat.
"Sebenarnya ini bukan rumor miring, hanya fakta yang harus kau tahu tentang Gemma. Yahhh... aku hanya ingin sahabatku ini mendapat pasangan terbaik yang mau menerimanya apa adanya. Jadi... aku akan beberkan satu fakta tentang Gemma."
"Apa itu?"
"Gemma itu punya six sense. Dia bisa melihat hantu."
Ong menatap tidak percaya.
"Benarkah? Dia tidak pernah bilang."
"Tentu saja dia tidak mau bilang, dia mana mau kehilanganmu? Kau tahu? Setiap malam minggu, dia bisa melihat segala jenis hantu yang berlalu lalang. Bahkan dia jadi tidak bisa membedakan mana hantu dan mana manusia."
Lucas bisa melihat Ong tengah menelan ludahnya takut.
"Jangan mengada-ngada, setiap ak kencan dengannya, Gemma tampak biasa saja."
"Karna Gemma sudah biasa dengan hal itu. Maksudku sudah biasa melihat hantu, jadi dia bersikap baik saja, apa lagi ingin jaga imej di depanmu."
"Tidak, aku tidak percaya. Lebih baik kau keluar, dan aku akan menjaga Gemma sampai bangun."
Lucas menggendikan bahunya.
"Terserah kalau kau tidak percaya. Aku kelaur dulu." Lucas pun bergegas keluar dari kamar yang ditempati Gemma sembari menyeringai.