33.

1298 Kata

Perihal sakit tidaknya biar aku yang merasa, cukup kamu jadi apa-apa yang buatku tertawa. *** "Lo dari mana nggak bawa motor?" Pertanyaan itu terlontar dari bibir Tegar yang baru saja berpapasan dengan Bangkit saat mereka sama-sama melewati tangga, sayangnya Bangkit enggan menjawab, ia terus melangkah masuk ke dalam kamarnya tanpa menoleh sedikit pun. Tegar menghela napas berat, saudaranya masih saja begitu dingin meski ia sudah meminta maaf berkali-kali. Akhir-akhir ini memang mereka sangat jarang berbicara, sejak kejadian malam itu seolah Bangkit menutup diri pada siapa pun, kalau lapar ia akan meminta dibawakan makanan ke dalam kamarnya pada pembantu, Bangkit enggan berbaur dengan siapa-siapa. Pernah Siska masuk kamarnya dan meminta Bangkit untuk ikut makan malam bersama, tapi Bangki

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN