34.

1514 Kata

Jangan tanya apa dan kenapa, karena aku belum jadi siapa-siapa untukmu yang terus meminta jawabnya. *** "Permata!" Si empu yang sedang melangkah di koridor utama lantas menoleh setelah namanya diserukan dengan suara yang begitu familier di telinganya, si Bangkit Gautama. Sekarang Bangkit tak pernah lagi menyebut gadis itu tukang donat setelah mereka berpacaran. Permata diam menunggunya, tapi Bangkit justru sibuk mengobrol dengan siswa lain di dekat pilar pertama, alhasil ia memilih duduk sejenak di dekat pilar sembari menunggu Bangkit selesai dengan urusannya. "Maaf lama," ucap Bangkit usai urusannya kelar dengan siswa lain. "Hari ini lo nggak ada latihan basket 'kan?" Permata beranjak, ia menggeleng. "Bagus, kalau gitu gue bisa ajak lo pergi setelah pulang sekolah." "Ke mana?" "N

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN