"Anda harus makan malam, Tuan." Lexion menghela napasnya pelan, menatap Herlena yang masih Setia memejamkan matanya. "Terkadang aku penasaran, Joe. Apa yang sedang Herlena lakukan kenapa aku merasa sedari tadi dia tersenyum? Apakah benar yang dikatakan orang-orang jika dalam keadaan begini ada peluang bertemu orang yang sudah meninggal?" ujarnya, memperbaiki tatanan rambut Herlena. "Dia bahagia, Joe. Tersenyum seolah-olah disanalah tempat yang bisa membuatnya bahagia," lanjutnya lagi, Lexion ikut tersenyum saat melihat wajah tenang perempuan yang berhasil membuatnya jatuh Cinta. "Tidak perlu khawatir, Tuan. Bukankah Dokter sudah mengatakan ini hanya perihal waktu saja? Tugas kita hanyalah menunggu," ia menghela napas lagi, melihat jam ternyata sudah pukul 9 lewat. "Minta mereka meny

