“Bang! Bang Kai kamu kenapa?” tanya Kikan melihat Kaisar yang berwajah linglung. “Vanila …,” gumam Kaisar. Dia melepaskan tangannya yang sedang menangkup wajah Kikan dan berusaha menyingkirkan tubuh ketiga temannya. “Minggir lo pada! Vanila!” panggil Kaisar setelah berhasil mengenyahkan ketiga bujang itu. Namun sayang, di depan meja barista itu sudah tidak ada siapa-siapa lagi. Kemana perginya sosok gadis yang memesan Vanila Latte tadi? Kenapa dia pergi begitu cepat? Padahal Kaisar belum sempat memastikan! “Kai, kenapa sih? Mau pesen minuman?” tawar Satria, membuyarkan isi kepala Kaisar. “I-iya Sat, gue haus!” “Lo mau minum apa?” “Vanila … vanilla latte.” Satria tersenyum kecut mendengar jawaban asal Kaisar. “Lo masih suka aja sama vanilla?” pertanyaan Satria membuat Kaisar tertohok

