Hampa. Begitulah isi hati dan pikiran Kikan saat ini. Setelah seharian dia mengurus persiapan pernikahannya baik dari menentukan desain undangan, poto prewedd sampai fitting baju juga menentukan dekorasi untuk hari H nanti, Kikan pulang dengan perut lapar.
Bukan semata-mata Kaisar tak memperhatikannya, Kaisar kerap kali membujuk Kikan untuk makan tetapi semakin lama Kikan semakin merasa bibirnya mati rasa akibat gigitan semut di kue gemblong terkutuk itu. Syukurnya hasil foto Prewedd masih terlihat bagus karena make-up yang mumpuni.
Kali ini Kikan merebahkan dirinya di kasur, menatap langit-langit kamar dengan pikiran yang melanglangbuana ke depannya.
“Kurang lebih sisa sepuluh harian lagi gue bakal tidur sendiri, abis itu gue bakal tidur berdampingan dengan Bang Kai … gue masih gak percaya, cuma gegara wasir dia sampai rela nikahin gue!” gumam Kikan. Jari telunjuknya aktif membersihkan kotoran hidung di dua lubang kanan dan kiri. Seharian berpergian membuat produksi upil Kikan meningkat 200%.
“Bang Kai ngasih mahar, tapi mahar itu malah mau gue jual biar bisa bayar biaya operasi. Lagian BPJS kenapa cuma ngecover lima belas persen aja sih? Penyakit wasir loh ini! Bagian dari dalam diri gue bakalan dipotong! Heran, padahal ini penyakit serius yang selalu menyiksa pasiennya setiap waktu, tapi cuma di cover lima belas persen aja? Gilaaa … gilaaaa!” geram Kikan.
Kegelisahannya bertambah ketika ia menghitung menggunakan Hp-nya. “Kalau mahar gue dijual boleh gak sih? Tapi gimana kalau nanti orang rumah nanyain? Masa iya gue jawab ganti model?”
Pikiran Kikan melayang. Memang benar, mahar yang di berikan Kaisar pada Kikan adalah sejumlah perhiasan yang harganya lumayan, tetapi bagi Kikan akan sangat disayangkan jika mahar itu dia tukar dengan nilai bagian tubuh yang harus dia potong.
Kikan tak bisa berpikir lebih jauh lagi, sebab kepalanya sudah mumat. Ia ingin berhenti memikirkan tentang pernikahan maupun wasir yang sedang di deritanya. Untuk kali ini dia igin tidur dengan nyaman. Perlahan matanya terpejam meski sesekali keningnya berkerut karena rasa senut-senut di bagian belakang tubuhnya mulai memberi sinyal tanda sakit dan perih yang mengusik Kikan.
***
Dua hari kemudian Kaisar mendapat kiriman ke rumahnya, sebuah paket yang cukup tebal dan berat berisi lima ratus kartu undangan. Kaisar dan Kikan sengaja tak mengundang banyak orang karena mereka pikir sebaiknya hanya orang-orang terdekat saja yang perlu tahu mengenai pernikahan keduanya.
Dilihatnya sample kartu undangan tersebut. Warna cream, cokelat muda serta hiasan gold persis seperti yang Kaisar inginkan. Ia membaca kedua nama mempelai yang bersanding. Ada sebuah senyum kecut yang tampak di wajah tampan Kaisar. Sebuah senyuman yang mengambarkan rasa pasrah juga menghibur diri karena ia harus menikah dengan gadis yang belum memiliki tempat di hatinya.
“Bang Kai mau ngapain lo? Berangkat kerja?”
“Enggak, gue mau begal!” jawab Kaisar seraya menaruh jas putihnya di bangku penumpang. Kedua matanya menderling saat salah satu sahabatnya datang dengan motor ninja biru kesayangannya.
“Kai, apaan tuh?”
“Apanya? Lo nanya gak jelas kaya Bang Jaja Mihardja!” balas Kaisar sementara Satria mensejajarkan motornya dengan pintu penumpang. Hampir saja Satria menabrak kaki Kaisar yang masih berdiri di depan pintu penumpang jika Satria tidak segera mengerem motornya.
“Apaan sih? Oh! Kartu undangan?”
“Nah itu lo tahu, masa iya kartu gapleh?”
“Gak, gue kira itu kartu keluarga!” sanggah Satria.
“Haha lucu.” Kaisar meledek.
Satria mengambil satu pack kartu undangan dan memeluknya, membuat Kaisar membulatkan matanya, ia mulai panik. Takut kalau Satria tiba-tiba berbuat hal-hal aneh dengan kartu undangan pernikahannya.
“Mau ngapain lo Sat?” hardik Kaisar sembari berusaha merebut kembali satu pack kartu undangan tersebut, tetapi Satria dengan tegas menepis tangan Kaisar.
“Apa sih? Gue cuma mau bantu lo Kai, ini mau lo kasih ke calon istri lo, kan?”
Kaisar mengangguk perlahan. “Ya udah, biar gue yang anterin. Lo kan mau masuk kerja, jadi daripada jam kerja lo ke ganggu mending gue yang anterin!”
Sebenarnya Kaisar merasa ada hal janggal yang Satria coba untuk tutupi, karena tak biasanya Satria mau seperti ini. Tetapi untuk kali ini Kaisar tak mau ambil pusing, dia memilih untuk mengijinkan Satria membantunya memberikan pack kartu undangan untuk Kikan.
“Ya udah kalau lo maksa lo aja yang anterin. Kalau jam segini dia pasti udah kerja, jadi lo samperin aja ke tempat kerjanya. Nanti gue share loc, ya?”
Satria tersenyum mengembang seraya mengangguk ringan.
“Kalau gitu gue duluan ya, Sat! makasih udah mau bantu gue,” pamit Kaisar lagi-lagi hanya diiringi anggukan ringan dari Satria.
Kaisar beralih ke kursi pengemudi dan perlahan melajukan mobilnya. Ketika mobil Kaisar sudah menghilang di balik tikungan serta lokasi Kikan yang sudah ada di tangan Satria membuat Satria segera menghubungi dua member geng kunchup lainnya.
“Hallo Kurt, Kee! Gue udah dapet nih lokasi tempat cewek itu kerja. Sekarang waktunya kita ngasih tes buat dia!”
***
Wingstar Propertindo.
Seorang gadis dengan kemeja lavender dan rok kerja bermotif sulur cokelat s**u melenggang di antara meja para karyawan. Dari suara sepatu heels yang dia kenakan jelas sekali terdengar bahwa gadis itu tengah kesal. Tentu saja semakin lama kekesalannya tak bisa di sembunyikan sampai dia membuka salah satu ruangan dengan cara menggebrak pintu, berhasil membuat para penghuni ruangan tersebut terkejut bersamaan.
“Ya ampun Vera! Ada apa sih? Datang-dateng malah marah, kaya orang kesurupan macan biskuat tahu gak lo?!”
“Diem Jeje!” hardik Vera sang sekertaris PIC agency Wingstar.
“Napa sih, Ver …?” kini giliran Kikan yang angkat suara membuat Vera menghampiri mejanya.
“Nah ini dia biang keladinya!” umpat Vera. Jeje dan Kikan yang mendengar hal itu menautkan kedua alis mereka secara bersamaan.
“Apa sih?” Kikan bertanya dengan rasa penasaran tinggi. Tetapi bukannya menjawab, Vera malah menaruh beberapa lembar kertas di meja Kikan.
“Baca!” titah Vera yang sudah kalut karena emosi.
“Apaan?”
Vera menderlingkan matanya, ia merasa bahwa Kikan sedang berakting pura-pura bodoh.
“Lo liat dong baik-baik Ki! Performa lo bulan ini tuh gosong! Lo belom jual satu rumah pun! Jangankan rumah, kavling buah yang harganya dua puluh lima juta juga gak closing!” jelas Vera. Kikan yang mendengar keluhan Vera hanya sebatas itu seketika menderlingkan matanya dengan malas.
“Ki lo liat baik-baik data buyer yang lo undang survey serentak. Iya sih mereka pengajuan, tapi BI-Checkingnya ini loh … ancur semua! Mereka gak pernah bayar utang atau gimana sih? Lo ga pernah kroscek dulu?”
“Ya apa gunanya BI-Checking kalau apa-apa harus gue yang cek dulu?” sanggah Kikan dengan entengnya.
“Kikan!” Vera memekik, membuat beberapa orang di ruangan itu terkesiap.
“Sabar sabar Ver, lo jangan marah gini nanti darah tinggi lo naek, Ver …!” ujar Jeje menenangkan.
Jeje si gadis humble perlahan membawa Vera untuk duduk di kursinya, mencoba agar bisa menekan amarah Vera pada Kikan.
“Ki, jadi gimana? Lo ga ada calon buyer lain? Nih gue lihat grafik lo anjlok Ki, bisa-bisa lo dipecat kalo kaya gini,” terang Jeje sambil menyodorkan kembali kertas yang dibawa Vera.
“Ya gue juga gak tahu, Je. Gue cuma iklanin biar produk property kita laris!” bela Kikan.
“Tapi sampe sekarang pun lo tetep ga ada penjualan kan?” ledek Vera.
Memang benar apa yang di katakana Vera, sehingga Kikan tak mampu lagi menyangkal. Kala itu seorang pegawai lari tergesa-gesa menuju ruangan Kikan. Pegawai dengan rambut keriting dan kacamata tebal itu hampir tersandung di pintu akibat terburu-buru mencari Kikan.
“Ya ampun Ahong! Hati-hati dong, kalo bibir lo nyium lantai gimana jadinya? Lo mau bibir lo jadi kaya ikon lambe turah??” nyinyir Jeje sedangkan pria yang dipanggil Ahong itu mencoba mengatur napasnya. Maklum saja dia berlari menaiki tangga dari lantai satu ke lantai tiga tempat dimana Kikan bekerja.
“Ada apa Hong? Pak Denis nyuruh gue balik ke ruangannya?” tanya Vera tetapi Ahong segera menggeleng dengan cepat.
“Kikan!” panggilnya membuat ketiga gadis itu mengkerutkan kening mereka.
“Ki … ada tiga cowok blasteran dunia dan alam surga nyari elo, Ki! Katanya ada urusan penting!” sambung Ahong menjelaskan.
Bukannya tambah jelas tetapi malah tambah ambigu. Tentu saja ketiga gadis itu saling melempar pandang dengan tatapan bingung.
“Apaan sih? Maksud lo siapa makhluk blasteran surga?” tanya Kikan seraya mendekati Ahong di ambang pintu.
“Ki, mending lo liat aja sendiri, hayuk!” tanpa permisi Ahong menarik tangan Kikan dan membawanya berlari menuruni tangga ke lantai satu.
“Woy pelan-pelan dong Ahong ah!!! Tangan gue sakit! Lo kenapa gini sih?!”
“Sorry Ki! Soalnya gue cuma di kasih waktu lima menit sama mereka!”
Lagi, penjelasan Ahong malah membuat pikiran Kikan semakin mengambang. Kikan tak banyak mengelak, ia membiarkan teman satu profesi-nya untuk membawanya ke lantai loby.
Setibanya Kikan di loby, ia melihat ketiga pria dengan postur tubuh tinggi sekitar serratus delapan puluh centi, memiliki badan tegap dan rupa-rupa warna kulit yang cantik serta kharisma unik dari setiap kepribadian mereka.
Ahong yang telah menyelesaikan misinya segera melepas tangan Kikan dan berlalu begitu saja, sementara Kikan masih terpukau dengan ketampanan tiga pria itu.
Ini yang dibilang Ahong manusia blasteran surga? Pantesan … mereka bercahaya kaya malaikat! Bathin Kikan dengan mata berbinar.
Salah satu diantara mereka mendekati Kikan, dia adalah Satria otak dari semua ini. Satria tersenyum pada Kikan dan bertanya dengan ramah.
“Benar kamu yang bernama Kikan?”
Kikan segera mengangguk dengan patuh membuat ketiga pria itu tersenyum seringai. Kurta memasukkan tangannya ke dalam saku celana sedangkan Keenan melipat tangannya di depan d**a. Keduanya tetap kharismatik meski berdiri di belakang Satria. Beda lagi dengan Satria yang membungkukkan tubuhnya dan mensejajarkan wajah tampannya dengan wajah Kikan. Lagi, dengan suara lembut Satria mulai jujur maksud dan tujuan mereka datang menghampiri Kikan. Meski mereka menjadi pusat perhatian sekarang, Satria tetap tak peduli. Bagaimana pun Satria harus mengutarakan tujuannya pada Kikan.
“Kikan Ayu Rengganis calon pengantin Dewangga Kaisar Bakrie tangan kananku, aku dan teman-teman geng kunchup datang kemari, bukan hanya untuk memberikan salam dan perkenalan …,” ungkap Satria membuat Kikan menautkan kedua alisnya.
“… tetapi, juga untuk memberikan tes pada calon pengantin baru, bagian keluarga baru geng Kunchup! Jadi, apa kamu sudah siap untuk tes ini?”
***