Tragedi Gemblong

2200 Kata
Hari-hari berikutnya baik Kaisar atau pun Kikan, kedunya menjalani seperti biasa. Kedua calon pengantin itu melimpahkan kesibukannya pada orangtua dan kakak mereka. Nyonya Shinta sibuk dengan persiapan lain terutama mengundang sanak keluarga juga teman-temannya. Beda lagi dengan Mecca yang menjadi ketua panitia acara pernikahan adiknya. Ada rasa gondok ketika Mecca mengharapkan kehadiran Kaisar tetapi yang datang adalah Nyonya Shinta, banyak juga perdebatan-perdebatan ringan antara keduanya. Nyonya Shinta yang ingin acara pernikahan tersebut bernuansa elegan harus bersinggungan pendapat dengan Mecca yang memilih nuansa kekinian ala-ala anak muda. “Sepertinya kalau adik saya pakai gaun ini, bakal keliatan lebih tua dari usianya deh, Tante! Gimana kalau yang ini aja?” Mecca menunjukkan gaun pengantin yang mengekspos bagian punggung membuat Nyonya Shinta membelalakan matanya. “Aduuhhh ini auratnya terlalu keliatan! Lagian kasian Kikan. Kalo dia masuk angin gimana? Ini terlalu seksi tahu Mec!” “Tapi ini kekinian Tante, daripada gaun yang Tante pilih, kalau Tante yang pake baru cocok!” debat Mecca. Nyonya Shinta kembali membelalakkan matanya dia tak menyangka bahwa omongan Mecca bisa sepedas ini. Tanpa bicara Nyonya Shinta segera menaruh gaun yang diberikan Mecca lalu pergi meninggalkan Mecca. Malam harinya ketika Kaisar pulang dari rumah sakit BMC, Nyonya Shinta segera mengadu pada anak semata wayangnya. Beliau mengeluhkan perbedaan pendapat antara dirinya dan Mecca juga perilaku dan ucapan Mecca yang menyayat hatinya. “Nanti kamu ambil cuti aja, kamu urus semuanya sendiri sama Kikan!” pinta Nyonya Shinta. “Ibu aja, aku ngikut aja bu. Lagian jadwal aku padat, minggu ini ada 3 pasien yang mau melahirkan secara Caesar, aku ga enak kalo cancel atau pindahin ke dokter lain.” “Tapi kan kamu belum fitting baju, belum prewedd, belum cetak undangan! Minggu ini undangan harus di sebar loh Kai! Jadi besok kamu cuti aja, ya? Kasih tahu Kikan juga!” gerutu Nyonya Shinta. Kaisar sudah hapal betul sikap keras kepala ibunya, jika tidak dituruti maka Nyonya Shinta akan merajuk sampai permintaannya itu dikabulkan. Maka dengan anggukkan ringan Kaisar meng-iyakan. Selepas itu Kaisar masuk ke dalam kamarnya, membuka tiga kancing kemeja yang membungkus tubuhnya lalu bersandar di kursi kerja. Jarinya dengan cekatan mencari nomor telpon Kikan untuk ia hubungi. “Hallo?” suara gadis itu terdengar menyahut dengan lembut. “Besok kamu cuti kerja ya, besok kita fitting baju sama poto prewedd. Detailnya saya kirim via chat!” ujar Kaisar dan mengakhiri perbincangan sebelum Kikan memberikan respon. Kaisar menghela napasnya dalam-dalam. Sebenarnya jauh di lubuk hatinya ada perasaan yang mengganjal, entah itu perasaan dosa atau perasaan menipu dirinya sendiri. “Gue tahu pernikahan kaya gini gak bener, tapi gimana ya caranya kalau gue mau batalin? Semua orang udah saling klop satu sama lain, kalo gue batalin secara tiba-tiba kasian juga bocah itu. Hah … kenapa akhirnya gue terjebak sama permainan gue sendiri sih?” *** Keesokan harinya sesuai permintaan Nyonya Shinta bahwa Kaisar mengambil cuti di hari rabu ini. Dari pukul sembilan pagi selepas sarapan, Kaisar pergi menuju sebuah lokasi vendor pernikahan yang direkomendasikan salah satu teman kerjanya. Setelah melihat profil dan testimoni dari beberapa orang maka Kaisar memilih untuk menyerahkan acara pernikahannya itu pada salah satu WO yang cukup ternama di Bogor. Baru saja Kaisar akan masuk ke dalam gedung, seseorang menepuk bahunya dari belakang. “Bang Kai!” panggil seorang wanita dengan suara lembut. Kaisar segera menoleh dan terkejut melihat kehadiran Mecca. “Mecca? Kikannya mana?” tanya Kaisar sambil celingak-celinguk mencari sosok calon istrinya. “Kikan kerja, gak bisa cuti. Dia sibuk banget karena hari ini ada survey serentak gitu deh, jadi aku yang wakilin, gapapa kan Bang?” Kaisar tak menanggapi, dia hanya menatap Mecca dengan ekspresi wajah dingin. “Eh kamu kan calon adik ipar aku, tapi usia kamu lebih tua dari aku. Jadi aku mending panggil kamu apa? Bang Kai atau Kaisar aja?” tanya Mecca mencoba mencairkan suasana. “Terserah.” Mendapat jawaban Kaisar yang begitu singkat dan terkesan judes membuat Mecca mengkerucutkan bibirnya, kemudian dia segera menyusul Kaisar yang sudah lebih dulu meninggalkannya masuk ke gedung itu. Beberapa saat kemudian akhirnya Mecca menemukan Kaisar yang sedang berbicara dengan seorang wanita paruh baya, nampak Kaisar tersenyum ramah pada wanita itu. “Kai, tunggu aku dong!” ujar Mecca, membuat perbincangan antara Kaisar dan wanita itu terjeda. “Oh ini calon pengantin wanitanya, ya?” Hidung Mecca sudah kembang kempis saat wanita tersebut mengira bahwa dirinya cocok bersanding dengan Kaisar sebagai pengantin. “Bukan. Dia calon kakak ipar saya, calon istri saya lebih cantik dan lebih atraktif lagi,” jawab Kaisar lagi-lagi membuat senyum di wajah Mecca luntur. “Tante Diana kita langsung aja bicarakan untuk prosesi weddingnya, waktu saya gak banyak,” timpal Kaisar membuat wanita bernama Diana itu segera menggiring Kaisar dan Mecca ke dalam ruangannya. Beberapa waktu berlalu, Kaisar merasa tak nyaman karena Mecca begitu mengatur, memang ada perbedaan pendapat antara dirinya dan Mecca. Mecca selalu saja ngotot dengan pendapatnya dengan dalih bahwa Kikan akan lebih suka dengan pendapatnya karena dia adalah kakaknya Kikan, dia lebih tahu segalanya tentang Kikan daripada Kaisar. Sebenarnya bisa saja Kaisar menyerah dan membiarkan Mecca melakukan apapun sesuka hati, tetapi jika dipikir lagi kenapa jadi terkesan menciptakan pernikahan impian Mecca, ya? Lagipula Kaisar bertekad bahwa pernikahannya itu sekali seumur hidup, jadi meski Kaisar belum mencintai Kikan tetapi ia ingin pernikahannya yang sakral itu berkesan dan sesuai dengan keinginannya. “Mecca, kayanya pendapat kita gak cocok ya? Saya harus pergi untuk bernegosiasi sama Kikan secara langsung.” “Loh, terus aku?” “Terserah, kalau mau tetap di sini silakan, kalau mau pulang juga gapapa. Saya pergi. Tante Diana, saya pergi ya, nanti saya hubungi Tante lagi!” pamit Kaisar dan melenggang begitu saja meninggalkan Mecca sendiri. Di dalam mobilnya, Kaisar menggerutu. Akhirnya ia bisa mengeluarkan semua kekesalannya pada Mecca di perjalanan menuju tempat Kikan bekerja. *** Wingstar propertindo. Kikan menselonjorkan kakinya saat duduk di teras sebelum ia masuk ke loby. Pergelangan kakinya terasa pegal karena seharian memakai hak tinggi. Kala itu seorang pria berjongkok dan memijit perlahan pergelangan kaki Kikan yang seolah membengkak. “Eh apaan nih? Barra? Ngapain?” tanya Kikan terkejut, tetapi pria itu terus memijit pergelangan kaki Kikan. “Kaki kamu keliatan bengkak, jadi aku pijit.” Yaelah kaki gue mah tiap hari juga bengkak kali, dia gak tau aja gue bengkak seluruh badan! Bathin Kikan menjerit. “Kasian kamu kecapean, habis makan siang ke lokasi lagi gak? Nanti bareng aja sama aku naik motor biar hemat ongkos ga perlu pesen ojol,” tawar Barra. “Ah, ga usah. Gue jadi repotin lo mulu,” jawab Kikan, ia merasa tak nyaman karena Barra begitu peduli dan baik padanya. “Eh kamu udah makan siang belum? Mau makan bareng gak? Tuh di sebrang ada tukang seblak baru, mau nyoba gak?” “Gak usah! Jangan cari-cari penyakit deh sama calon pengantin!” cegah pria bersuara baritone. Keduanya segera menoleh ke sumber suara dan Kikan berhasil membulatkan matanya saat sosok Kaisar berdiri sambil melipat tangannya di depan d**a, menatap Kikan dan Barra dengan tatapan sinis. “Siapa nih, Ki?” tanya Barra. Kikan segera menarik kakinya agar Barra berhenti memijat kakinya lalu berdiri menyambut Kaisar, Barra pun mengikuti Kikan. “Barra ini calon …,” “Calon suami!” serobot Kaisar, dia merasa geram karena Kikan seperti ragu-ragu memperkenalkan Kaisar pada Barra. “Calon suami? Kok aku gak tahu sih?” cicit Barra tetapi Kikan tak kunjung menjawab, Kaisar pun tak angkat suara, dia sedang mengamati keadaan. Dia takut kalau posisinya adalah merebut pacar orang. Bisa runtuh reputasi Kaisar jika seperti itu. “Oh, jadi karena ini kamu nolak aku terus, Ki? Kenapa ga jujur sih? Ya tapi gapapalah itu hak kamu. Btw congrats ya Ki, semoga kalian langgeng, Sakinah mawadah–” “Ya makasih ya, doanya langsung ke Tuhan aja. Kita mau pergi dulu, sibuk ngurus acara pernikahan!” potong Kaisar lalu menggendong Kikan di depan dadanya. Baik Kikan maupun Barra keduanya lagi-lagi dibuat terkejut oleh Kaisar. “Permisi~” ucap Kaisar berpamitan pada Barra dan membawa Kikan menuju mobil brio putihnya. “Bang Kai, ngapain? Turunin aku, gak?” “Udahlah ga usah jual mahal kalo memang sedang menikmati,” jawab Kaisar membuat semburat merah muncul dikedua pipi Kikan. “Kaki kamu lagi sakit kan? Jadi daripada saya salah narik anak orang sembarangan, mending saya gendong. Saya juga bukan tukang pijit soalnya,” sindir Kaisar lalu berupaya memasukkan Kikan ke dalam mobil. Kikan menggelengkan kepalanya saat mendengar sindiran itu. Masa iya Bang Kai cemburu sama Barra? Kaisar masuk ke dalam mobil dan mulai menyalakan mesin mobil, tak ada perbincangan lagi selanjutnya. Padahal Kikan kira Kaisar akan menanyainya dengan berbagai macam pertanyaan atau merasa kesal karena yang datang menemuinya adalah Mecca bukan dirinya. Tibalah di lampu merah, Kikan merasa kecanggungan yang sangat merajalela antara mereka berdua. Sampai perut Kikan yang keroncongan berbunyi dan suara tawa Kaisar terdengar renyah. Kikan menoleh dan melihat Kaisar menyembunyikan tawanya itu. “Kalau mau ketawa ya ketawa aja kali, emang bener kok suara perut aku bunyi. Aku laper!” ujar Kikan, matanya menderling pada Kaisar namun terhenti di sebuah makanan yang menurutnya bisa mengganjal rasa lapar. “Eh apa nih? Wah gemblong! Bang Kai aku mau ya, lumayan buat ganjel perut!” dengan sigap Kikan mengambil gemblong itu dan melahapnya dengan rakus padahal Kaisar belum mengijinkan. Beberapa detik kemudian Kaisar baru ingat bahwa gemblong itu terakhir ia beli dua minggu yang lalu, bagaimana rasanya sekarang? “Ki, jangan makan itu Ki! Itu gemblong basi!” ujar Kaisar dan menarik tangan Kikan, menjauhkan gemblong yang sudah dilahap setengah dari mulut Kikan. “Muehehehe …,” rengek Kikan entah mengapa. “Ki? Kamu kenapa? Sakit perut? Mual?” Kikan menggeleng dengan cepat, tetapi ada yang tak wajar di mulut gadis itu. Kaisar mendekatkan wajahnya dan menelisik mulut Kikan yang Kaisar kira dipenuhi remahan gula aren nyatanya bibir ranum itu di penuhi oleh semut-semut kecil yang menggigit bibir Kikan, membuat bibirnya perlahan membengkak. “Astagfirullahaladzim! Itu bibir kenapa di semutin?!” Kaisar terkejut, ia memberikan sebotol air mineral juga membantu mencabuti semut-semut yang menggigit bibir Kikan. “Sakit Bang! Panas sama ngejeletit!” rengek Kikan. “Ya maaf ya … maaf saya baru inget itu gemblong dua minggu yang lalu!” Kikan membulatkan matanya mendengar hal itu. “Bang Kai jorok banget sih?!” “Ya lagian kamu maen makan aja! Terus itu emang rasanya gak aneh? Udah dua minggu loh itu, kamu gak bisa bedain mana gemblong baru sama gemblong basi Ki?” Kikan menggeleng perlahan. “Hah … kacau!” Pada akhirnya mereka dikejutkan oleh suara klakson dari mobil di belakang karena lampu lalu lintas sudah berubah menjadi hijau. *** Dan di sinilah Kaisar berada, di sebuah studio foto yang dihias dadakan seperti tahu bulat. Dengan background dan properti ratusan bunga mawar merah menghiasi ruangan persis seperti taman bunga. Kaisar yang telah siap mengenakan tuxedo putih sedang menanti kehadiran Kikan yang masih di make up. Kaisar tidak bisa membayangkan, bisa-bisanya bibir Kikan jadi bengkak di hari poto prewedding mereka. “Kira-kira gimana kondisi mulutnya ya? Itu bibir bisa-bisanya jadi jeding gitu hahaha,” tawa Kaisar mengingat bibir Kikan tadi siang. “Calon pengantin wanita udah selesai, lihat deh Bang Kaisar!” ujar Tante Diana. Sejurus kemudian Kikan datang dibantu dua orang asisten yang memegang ekor gaun yang di kenakan Kikan. Kaisar terperangah, bisa-bisanya gadis itu berubah menjadi cantik, layaknya itik menjadi angsa, para MUA pasti sudah bekerja keras. “Gimana Kaisar, Kikan cantik banget kan? Bibirnya yang penuh, tebal dan seksi kita kasih make up bold jadi terkesan lebih seksi dan elegan kan?” Kaisar tak peduli dengan pertanyaan tante Diana, ia hanya memerhatikan Kikan si gadis muda belia yang terlihat lebih dewasa dan anggun. “Ayo-ayo kita mulai sesi fotonya sebelum sore yooo!” ujar tante Diana. Beberapa asisten membantu kedua calon pengantin ini untuk berpose tetapi keduanya sangat kaku, juga canggung satu sama lain. “Aduh masih pada malu-malu nih kayanya, yang santai aja! Kenapa jadi kaya mau poto buat KTP gini sih? Mukanya pada tegang? Rileks … rileks!” ujar sang fotografer, dia dan kawannya yang lain sudah gregetan karena Kikan dan Kaisar hanya berdiri berdampingan tanpa ekspresi. “Ayo dong jangan malu-malu, Kaisar duduk, Kikan duduk dipangkuannya Kaisar, ya?” suruh sang fotografer mengarahkan pose, jelas saja keduanya membelalakkan mata. “Hah? Dipangku??” Kikan sampai menyuarakan ketidak percayaannya tetapi Kaisar yang ingin segera menyelesaikan hal ini langsung mengikuti arahan sang fotografer. Kaisar duduk dan menarik Kikan untuk duduk dalam pangkuannya. Kedua tangan Kaisar melingkar dipinggang Kikan yang ramping lalu menyandarkan kepalanya pada bahu Kikan. “Jangan tegang atau wasir kamu jadi bengkak, kalau bengkak nanti akan makin sakit bahkan sampai berdarah. Jangan mengotori gaun ini, ini gaun harga sewanya lima belas juta!” bisik Kaisar. Kedua mata Kikan semakin membola, entah ucapan Kaisar benar atau tidak yang pasti Kikan harus berhati-hati mengenakan gaun tersebut. Kaisar kembali berbisik pada Kikan, dia berbisik dengan ekspresi menggoda sementara hal yang didengar Kikan membuat Kikan mengeluarkan ekspresi terkejut. Tetapi para fotografer merasa puas dengan hasil poto yang di dapat karena dari ekspresi mereka terkesan sangat realistis. Ingin tahu apa yang dibisikkan Kaisar sehingga membuat Kikan lebih terkejut dari sebelumnya? “Sekedar informasi, biaya operasi wasirmu sekitar tiga puluh lima juta, dan BPJS hanya mengcover lima belas persen!” ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN