Langit, bisakah kau turunkan hujan dan petir? Aku ingin hanyut saja sekarang, aku tidak ingin menanggung malu seperti ini – Kikan Rengganis.
Berulang kali Kikan mengutuk kebodohannya karena tidak tahu apa arti kata ‘akhir pekan’ yang dimaksud Kaisar. Miss-komunikasi yang terjadi membuat semua persiapan buyar. Nasi sudah jadi bubur, pakaian yang di siapkan sudah bau asam, alhasil Kikan hanya mengenakan kain batik panjang serta kebaya putih milik Bu Suryani saat Bu Suryani melangsungkan acara lamarannya dulu, iya … kebaya yang sudah berumur itu berubah warna dari putih menjadi warna gading, kumal lebih tepatnya. Tapi mau bagaimana lagi? Tak ada pakaian lebih pantas daripada itu.
Mecca tak membawa pakaian lebih yang bisa dipinjamkan untuk Kikan agar adiknya mengenakan pakaian yang lebih pantas di acara tersebut, karena semua pakaian Kikan hanya kaos dan celana, satu-satunya rok yang dia punya ya tinggal rok kerja saja yang biasa dia pakai sehari-hari.
Lupakan tentang pakaian, toh sekarang kedua keluarga sudah terlanjur bertemu dan berkumpul dalam satu tempat. Sebagian keluarga Kaisar duduk di lantai beralaskan karpet permadani merah di ruang tamu, sisanya duduk di teras. Maklum, rumah minimalis keluarga Pak Atang tidak bisa menampung semua orang yang hadir, jadi hanya keluarga utama Kaisar yang masuk ke dalam rumah.
“Jadi maksud kedatangan kami kemari adalah untuk meminang Nak Kikan Rengganis, pujaan hati anak saya Dewangga Kaisar Bakrie. Kalau sekiranya Nak Kikan dan keluarga menerima permintaan kami, maka silakan diterima semua bingkisan kami yang tak seberapa. Tetapi, jika Nak Kikan tidak berkenan maka silakan berikan jawaban yang jelas dan kami akan kembali tanpa memutus silaturahmi. Bagaimana Pak, Bu?” jelas Tuan Dirga ketika acara di mulai belum cukup lama.
Pak Atang yang sudah berpengalaman menerima lamaran, dengan mudah menjawab. “Terimakasih pada keluarga besar Bakrie yang bersedia hadir dan repot-repot membawa bingkisan untuk putri kedua saya, Kikan. Kalau saya, tidak menentang niat baik seseorang. Yang penting serius, sholeh dan bisa bertanggungjawab saja sama anak saya. Karena jujur, anak kedua saya ini sangat special, butuh kesabaran tinggi ngadepinnya Pak, Bu …,” ujar Pak Atang membuat beberapa orang tertawa renyah begitu pun dengan Kaisar yang tertawa sampai matanya menyipit.
Kikan yang sedang sebal dibuat lebih gondok dengan perkataan ayahnya, tetapi begitu Kikan melihat Kaisar tertawa, luruh semua kekesalan itu. Kikan sampai bersandar pada Mecca, rasanya seluruh tulangnya menjadi lembek melihat wajah manis Kaisar.
“Duduk yang bener!” bisik Mecca merasa jengah saat adiknya mulai bersandar.
“Aku mleyot kak, bang Kai cakep banget!” balas Kikan berbisik pada Mecca. Mecca menderlingkan matanya, ada rasa iri pada adiknya. Dia merasa tak adil, adiknya yang jarang bersih-bersih rumah dapat calon suami yang seganteng itu, beda dengan dia yang sering bersih-bersih. Padahal dulu saat mereka berdua masih gadis, Bu Suryani selalu bilang siapa yang rajin bersih-bersih bakal dapet jodoh yang ganteng, nyatanya itu semua hanya mitos!
“Nah sekarang gimana jawabannya Nak Kikan? Apakah diterima lamaran Abangnya?” tanya seorang pria yang lebih berumur dari Tuan Dirga, tetapi beliau masih terlihat bugar.
“Ayo bang, Bang Kaisar langsung yang minta ke si Eneng, biar semanget jawabnya!” sambung pria itu lagi.
Seketika Kaisar dan Kikan jadi pusat perhatian, mereka yang duduk bersebrangan menjadi gugup dalam hitungan detik. Entah mengapa Kaisar pun jadi gugup seperti sekarang ini. Jantungnya memompa lebih cepat membuat tangannya berkeringat dingin. Padahal dia sudah biasa jadi pusat perhatian, saat melakukan penyuluhan, saat mengajar Coass atau bahkan menangani para bumil. Tapi kali ini situasinya berbeda, yang bisa Kaisar lakukan adalah berdehem sebelum angkat suara.
“Ekhem, ekhem! Kikan Ayu Rengganis … saya datang kesini dengan maksud yang baik, untuk menunaikan dan menyempurnakan ibadah saya, ibadah terlama bahkan sampai akhir hayat saya. Bersediakah kamu menerima saya menjadi imam-mu sampai tutup usia?”
Hampir meledak jantung Kikan setelah Kaisar menyelesaikan kalimatnya. Kalimat manis yang bisa membuat setiap wanita langsung mimisan. Kalimat yang membuat Kikan mematung dengan raut muka menjadi pucat seolah kehabisan oksigen untuk menyuplai kebutuhannya.
Mecca yang sudah gregetan segera mencubit lengan Kikan, menyadarkan adiknya yang sedari tadi bertingkah konyol di depan keluarga besar Kaisar. Kikan meringis setelah mendapat cubitan pedas dari ibu satu anak itu, dia kembali melihat Kaisar yang masih menatapnya dengan tatapan lembut.
“Saya terimahahahh~” maksud hati ingin menjawab dengan lantang tetapi saking gugupnya maka Kikan menjawab dengan suara bergelombang seperti kambing, membuat setiap orang yang mendengarnya tak bisa menahan tawa termasuk Kaisar.
Malu? Sudah pasti! Tapi mau bagaimana lagi? Akhirnya pertanyaan menentukan tanggal pernikahanlah yang bisa mengalihkan topik suara kambing Kikan. Cukup singkat dan tanpa perdebatan panjang, kedua belah pihak memilih untuk menikahkan Kikan dan Kaisar awal bulan agustus lebih tepatnya tanggal 5 Agustus, sekitar dua minggu lagi dari sekarang.
Dan acara pun ditutup dengan makan bersama, tak ada hidangan mewah yang bisa diberikan karena masakan kemarin sudah terlanjur dibagi-bagikan. Jadi yang tersaji adalah bubur ayam, lontong sayur dan gado-gado ma Eha yang baru saja buka. Tetapi meski makan makanan seperti itu tetap tidak mengurangi nikmat dan rasa kekeluargaan dua belah pihak.
“Mulai saat ini kita akan lebih sering ketemu, mungkin Ibu juga akan sering nelpon kamu,” ucap Kaisar saat keluarganya siap-siap untuk berpamitan. Karena jalan kompleks kecil maka ketiga mobil milik keluarga Kaisar harus bergantian berputar arah.
Kikan yang mendapat bisikan seperti itu dari Kaisar segera bersemu merah di kedua pipinya.
“Jangan ada miss-com lagi, kalau ada yang kurang jelas harus buru-buru dipastikan. Omong-omong kamu memilih keputusan yang bagus, saya akan segera reservasi untuk jadwal operasimu nanti. Nanti teman baik saya yang akan mengurus semuanya setelah kita menikah.”
Kikan tercengang mendengar penuturan Kaisar, hampir saja dia lupa bahwa dirinya mau dipinang Kaisar adalah karena penyakit wasir yang di deritanya selama ini.
“Jaga Kesehatan, makan yang bener dan istirahat yang cukup. Jangan bikin masalah sampe hari H!” pinta Kaisar dengan tatapan tajam pada Kikan lalu ia pergi untuk berpamitan pada Pak Atang dan Bu Suryani sebelum benar-benar masuk mobil.
Kikan yang melihat Kaisar bisa berubah-rubah mode seperti itu merasa kesal, Kaisar seolah meruntuhkan kerajaan cinta yang mulai terbangun di hati Kikan.
Kira-kira, kalau gua udah dioperasi dan wasir gue sembuh, pernikahan gue sama Bang Kai bakal langgeng gak, ya?
***
Malam harinya ketika keluarga pak Atang kembali berkumpul di lantai satu, semuanya sibuk becengkrama mengingat kejadian tadi pagi sambil membuka bingkisan yang dibawakan keluarga Kaisar. Hampir semuanya memasang wajah ceria dan antusias, tidak terkecuali Kikan yang memilih bengong menghadap tv.
“Itu mama sama Mecca kan lagi masak, kaget banget pas kalian buru-buru masuk rumah dan bilang calon besan datang! Tahu gak, mama nyari-nyari serum gak ada, kata si Mecca teh ‘Udah mamah ga usah dandan, muka mamah udah glowing!’ padahal mama baru beres goreng tempe! Atuh itu mah bukan glowing yah, tapi hinyai! Wakakakak~” gelak tawa Bu Suryani diikuti kedua anaknya serta sang suami.
“Si papa pan hampir pingsan Ma! Kalau ga cepet-cepet Mawar sambat badannya pasti ngegelepar lagi tuh ngeliat Bang Kai! Sumpah ih dia cowok tapi kinclong gitu mukanya! Oplas apa ya? Oplas pasti ya, kan dia kaya, seserahannya aja ngasih duit segini banyak!”
“Ah kebiasaan kamu, War! Tiap liat cowok ganteng pasti dikira oplas! Perawatan dong bujang! Emang skincare sekarang buat cewek doang? Cowok juga perlu perawatan, skincare-an!” balas Mecca, tak terima calon adik iparnya dikatai oplas sembarangan.
“Ah masa cowok skincare-an? Jadi bencong dong?”
“Itu sih mindset kamu yang bermasalah, War! Kalau mau keren modal dikit! Kalau kamu merasa insecure, ya harusnya berbenah dirilah bukan malah hujat orang! Kek netijen aja kamu, julid!”
Mawar tak berkutik lagi ketika kakak tertuanya mulai nyinyir. Dia memilih membantu ibunya untuk membuka setiap bingkisan milik Kikan. Pak Atang yang menyadari sedari tadi putrinya menatap layar televisi dengan tatapan bengong mulai menghampirinya dan mengusap pucuk kepala Kikan.
“Ki … kenapa?” tanya pak Atang dengan lembut. Kikan yang tersadar segera nyengir kuda menutupi rasa resah dalam hatinya.
“Kamu gak ketempelan kan, Ki?”
“Enggak kok Pa! Kikan cuma ga nyangka aja kalau dua minggu lagi Kikan bakal nikah sama Bang Kai.”
“Ya kita juga gak ada yang nyangka Ki, para tetangga julid tuh udah mulai menduga-duga kamu pake pelet apa? Atau kamu udah tekdung duluan?” sambar Mecca seraya menderlingkan matanya.
Pak Atang tak terima mendapat rumor seperti itu bagi putrinya.
“Siapa yang ngomong gitu Mec? Sini papa keramasin palanya biar bisa berpikir bersih!” ujar Pak Atang tersulut emosi.
“Sabar Pa … papa tahu sendiri lingkungan disini gak sehat, apalagi anak-anak perawannya sama emak-emaknya juga sih,”
“Ah bapak-bapaknya juga sama Ki, kalau papa lagi ngeronda kena bully verbal mulu, pengen papa giling rasanya bapak-bapak itu!” balas Pak Atang mengadu pada putrinya.
“Udah udah … yang penting sekarang kita fokus aja sama acara besar Kikan, dua minggu lagi itu gak berasa! Cepet banget loh, jadi daripada pernikahannya tanpa persiapan kaya acara lamaran tadi mending kita semua fokus aja! Nah Mecca kan kerjanya rapi, mending kamu bikin list aja Mec, apa-apa aja yang perlu disiapin!” kata Bu Suryani mengalihkan topik.
“Kalo gitu acara ini jadi tanggungjawab Mecca? Artinya gapapa dong kalo Mecca ketemu Kaisar terus?” tanya Mecca seraya memasang senyum seringai.
“Ya gapapalah, kamu aja yang urusin kamu yang ketemu Kaisar dan keluarganya. Daripada sama si Kikan entar gak beres lagi!” jawab Bu Suryani dengan enteng.
“Oh ya udah deh, kalo gitu nanti Mecca ketemu Kaisar, titip Bintang ya Ma, Ki~” ujar Mecca tersenyum meledek pada Kikan.
Kikan tak bisa mengelak, yang Kikan lihat dari raut wajah kakaknya sepertinya dia senang sekali jika bisa bertemu dengan calon suami Kikan, Kaisar.
Semoga Bang Kai tebal iman supaya tahan sama demit satu ini – Kikan Rengganis.
***