“Gila lo Kai, bisa dapet daun muda! Keren juga, ya?”
Kaisar tersenyum simpul saat teman-temannya memuji keberhasilannya menggaet wanita yang usianya terpaut delapan tahun lebih muda darinya. Mereka ga tahu aja daun muda yang di dapat Kaisar itu wujud dan kelakuannya kaya gimana.
Setelah perbincangan berat di meja makan dan Kaisar berhasil meyakinkan teman-temannya, maka keempat pria itu berpindah lokasi ke sebuah mall. Mereka mencari butik milik Kurtajaya yang mana akan memilihkan baju untuk acara seserahan Kaisar besok.
Ketika ketiga temannya sibuk memilih outfit, Kaisar memilih untuk duduk dan memasang kartu di hape barunya. Baru saja ponsel itu bisa digunakan beberapa menit, ribuan notifikasi meluncur memenuhi ponsel Kaisar. Layaknya selebriti yang dihujani berbagai notif dari macam-macam aplikasi sehingga wajar saja jika panggilan, chat juga sms dari Kikan tenggelam oleh yang lain.
Seperti saat ini, Nyonya Shinta ---ibunya Kaisar--- langsung menelpon dan Kaisar segera menjawab panggilan itu.
“Hallo, Bu?”
“Kai kenapa baru bisa dihubungin sih? Ibu kan bingung mau tanya dari tadi gak bisa!” keluh Nyonya Shinta di ujung panggilan sana.
“Tanya apa?”
“Ini loh, buat make up sama Skincare-nya Mawar, dia suka pakai merk apa?”
Kaisar menepuk jidatnya, lupa memberitahukan bahwa Mawar itu adalah nama adik lelakinya Kikan, bisa berabe kalau besok orangtuanya selaku juru bicara kembali mengulang kesalahan Kaisar untuk meminang Mawar.
“Bu, panggilannya Kikan bukan Mawar!”
“Loh, kamu ganti calon?” ada nada terkejut dari suara Nyonya Shinta.
“Bukan! Maksudku Mawar itu nama adiknya!” jelas Kaisar.
“Maksudmu kamu mau turun ranjang Kai??”
Kaisar menghela napas, sepertinya ibunya sedang tidak fokus mendengarkan karena beliau sedang sibuk di sana sehingga pembicaraan ini malah melenceng kemana-mana.
“Bu, nama calon mantu ibu itu Kikan Rengganis!”
“Hah? Ikan goreng asam manis? Mau dong satu, nanti ibu share-loc kamu kirimin kesini yaa ibu belom makan soalnya!”
Kaisar memasang wajah datar tanpa ekspresi, pantas saja dari tadi ngobrol ga nyambung, rupa-rupanya Nyonya Shinta tengah kelaparan, wajar jika beliau gagal fokus.
“Iya nanti aku kirimin, udah dulu ya Bu!”
“Eeehh jangan tutup dulu, itu calon mantu ibu Sukanya pakai make up sama skincare merk apa?” ulang Nyonya Shinta sekali lagi.
“Gak tahu, beli yang paling bagus aja! Kai tutup telponnya ya Bu, bye!”
Kaisar lagi-lagi menghela napas, baru saja ia akan memeriksa notifikasi lain teman-temannya sudah memanggil agar Kaisar mencoba pilihan baju dari mereka.
“Buruan sini, Kai!” panggil Keenan dan bersemangat memberikan pilihan outfit untuk Kaisar gunakan besok.
Kaisar segera menghampiri Keenan yang sudah cengar-cengir membawa beberapa pakaian.
“Nih coba!” titah Keenan, Kaisar menaikkan sebelah alisnya melihat pakaian yang diberikan Keenan untuknya.
“Ini kok item-item semua?”
“Gapapa biar swag!” jawab Keenan dengan gaya cool miliknya.
“Buruan pake!” sambung Keenan dan mendorong Kaisar ke kamar ganti. Kali ini Kaisar patuh, dia memakai outfit yang diberikan Keenan lalu keluar dari kamar ganti setelah selesai.
“Gimana?” tanya Kaisar pada ketiga sahabatnya.
“Kaya mo ngelayat, anjir!” ujar Kurta
“Kaya buronan lo!” timpal Satria
“Buronan yang mau ngelayat, cool!” imbuh Keenan diakhiri tepuk tangan. Sementara ketiga sahabat Keenan hanya memberikan tatapan dingin berbeda dengan Kaisar yang sekaligus memberikan tatapan tajam, membuat Keenan ciut, berhenti tepuk tangan dan hanya mampu nyengir kuda.
Kurta dan Satria mencoba menghibur Kaisar dengan memberikan outfit pilihan mereka.
“Kai mending lo pake pilihan gue nih,” ujar Satria.
“Apaan gaya lo kaya orang vintage, Sat! Kai, nih lo pake punya gue aja!” kata Kurta seraya menyodorkan outfit pilihannya.
“Outfit lo terlalu santai Kurt, kaya orang mau maen! Kaisar lebih cocok pake outfit gue! Serius Kai lo lebih cocok pake outfit pilihan gue, percaya sama yang lebih tua.”
“Nah ini si Bang Sat mulai sotoy, ini kan era millennial-gen Z ma bro! Outfit lo itu kolot sama kaya umur lo! Kai lo mendingan pake outfit pilihan gue, percaya sama gue! Lagian ini kan butik punya gue!” sahut Kurta mengotot supaya Kaisar memakai outfit pilihannya.
“Percaya sama lo? Jangan mau Kai, musyrik!” cicit Satria dengan wajah mode julid.
“Maksud gue bukan kaya gitu anjir!”
“Oya? Tapi tadi lo bilang suruh Kai percaya sama lo tuh? Musyrik kan nanti temen gue gara-gara elo?”
“Bang Sat sekali ucapan lo, lo mau baku hantam?” tawar Kurta yang mulai naik pitam.
Kaisar mengusap pelipisnya saat Satria menerima tawaran itu, alhasil kedua pria berusia matang itu saling merangkul berusaha untuk saling memiting kepala lawannya masing-masing. Keenan tak ingin ketinggalan moment ini, dia kembali mendokumentasi adegan ini dimana Satria dan Kurta berkelahi tepat di belakang Kaisar.
Sedangkan Kaisar? Dia kembali di sibukkan dengan menerima telpon dari ibunya.
“Ya ada apa Bu? Di sini agak berisik memang, ada apa?”
“Kai, calon mantu ibu pake beha ukuran berapa?”
Pertanyaan Nyonya Shinta berhasil membuat Kaisar membelalakan matanya, dia merasa canggung membicarakan pakaian dalam wanita dengan ibunya sendiri.
“Aku gak tahu, Bu! Ukuran standar aja!” jawab Kaisar.
“Iya … berarti 37-38 ya?”
Hah? Apanya yang 37-38 nih? Beratnya? Masa iya? Bathin Kaisar.
“Kayanya 2 kilo juga gak nyampe,” balas Kaisar dengan mode bingung.
“Apanya yang dua kilo sih Kai? Udahlah nanti ibu pilihin yang 37-38. Kalau cup-nya ukuran berapa Kai?”
Lagi, pertanyaan aneh dari Nyonya Shinta membuat Kaisar kebingungan. Baginya menentukan ukuran d**a seseorang lebih membingungkan daripada algoritma matematika. Pasalnya, Kaisar hanya sekilas melihat bagian tubuh itu, itu pun dalam kondisi terbungkus. Kaisar belum pernah menyentuhnya sehingga tidak bisa memperkirakan ukuran mana yang sekiranya cocok bagi calon istrinya.
“Kai!” panggil Nyonya Shinta menyadarkan.
“Ya … aku gak tahu Bu, orang aku belom pernah grepe-grepe anak orang! Pokoknya yang standar ajalah!” ungkap Kaisar frustasi.
“Yee nanti kalau kekecilan atau kebesaran gimana? Kasian kan jadi gundal-gandul?”
“Ya ampun, ibu … udah gapapa toh itu cuman syarat aja kan? Nanti kalau udah nikah Kai beliin yang baru, semua yang dia mau Kai penuhi!”
“Oke, itu baru anak ibu. Bye~” Nyonya Shinta menutup telponnya sehingga Kaisar bisa kembali pada teman-temannya. Kaisar membalikkan tubuhnya dan menemukan ketiga sahabatnya sedang saling merangkul dengan wajah dibuat sok imut menatap Kaisar.
“Kalian kenapa?” tanya Kaisar dengan raut wajah kebingungan.
“Ciee … pacarannya sehat ga pernah grepe-grepe~” goda Keenan
“Nanti kalau udah nikah semua yang dia mau Kai penuhi, mau dong dipenuhi~” Kurta pun tak ingin kalah menggoda Kaisar.
“Gue mau nikah sama Kaisar aja biar semua skin chara mobile legend gue dia yang bayarin. Kai nikah yuk?” timpal Satria sambil berlutut layaknya orang yang sedang melamar Kaisar.
“Gak waras,” lirih Kaisar.
“Cieciecieee~”
Dan sekali lagi, Kaisar harus dibuat pusing oleh kelakuan tiga sahabatnya yang kerap kali mempermalukan dirinya dimana pun mereka berada, sampai malam tiba dan mereka berada di sebuah taman. Satria dan Kurta menaiki jungkat-jungkit sambil berdiri, sementara Keenan naik kuda-kudaan membuat dirinya terjengkang dengan mudah. Kaisar yang berdiri melihat aksi ketiga temannya yang bar-bar mulai memijit kepalanya.
“Aduh, gue kok tiba-tiba jadi pusing ya? Apa karena udah lama gak keluar atau ada sesuatu?”
***
Minggu pagi sekitar jam setengah sembilan di rumah keluarga pak Atang sudah ramai. Pak Atang yang sudah bangun dari subuh kini sedang memandikan burungnya di depan rumah. Burung Lovebird Parbue yang berbulu hijau dan kuning itu menjadi satu-satunya burung yang dipelihara dan disayangi Pak Atang layaknya anak sendiri.
Ditemani Mawar yang sibuk mencuci motor beat milik kakaknya, Mecca. Ayah dan anak itu saling beradu nasib bahwa mereka malu karena kejadian kemarin pada akhinya keluarga mereka menjadi bahan gibah satu kampung.
Mecca dan Bu Suryani pun begitu, meski sedang masak tapi keduanya aktif curhat dan balik menggunjing para tetangga yang mulutnya pedas luar biasa. Tanpa mereka sadari bahwa Kikan sudah keluar kamarnya dan memakan ketan kuning bertabur serundeng yang kemarin Bu Suryani buat. Sambil mendengarkan lagu munajat cinta, Kikan menumpahkan isi hatinya dengan sengaja membesarkan volume sound system hingga terdengar sampai keluar rumah.
“Yang galau mulai bertindak, Pa!” ujar Mawar
“Udah biarin, biar dia puas War, papa juga kasian, mana masih muda.”
Keluarga itu tak ada satu pun yang tahu bahwa tiga buah mobil mewah berjalan perlahan dari depan gang menuju rumah mereka. Padahal, dari depan gang kompleks perumahan Bangbarung Indah hampir setiap warga mengintip bahkan keluar dari rumah mereka untuk melihat iring-iringan mobil mewah yang melewati rumah mereka.
"Tuhan kirimkanlah akuuuu, kekasih yang baik hatiiii! Yang mencintai aku, apa adanyaaaa!"
Suara Kikan yang melengking fals mengikuti lagu membuat Pak Atang dan Mawar cekikikan, beda lagi dengan Kaisar dan beberapa keluarganya yang sudah turun dari mobil, Kaisar mengkerutkan keningnya, dia bingung apakah Kikan tidak mendengarkan ucapan dia bahwa Kaisar akan datang kerumah untuk melamarnya bahkan sekalian seserahan?
Tapi kenapa yang menyambut adalah pak Atang dengan singlet dan sarung kotak-kotak warna ungu yang sedang memandikan burung juga Mawar yang memakai baju merah dengan warna pudar juga kolor doraemon persis seperti tukang cuci motor?
Ketika bagian reff lagu kembali berputar, saat itu pula suara cempreng Kikan kembali terdengar, seolah akan memecahkan gendang telinga siapapun yang mendengarkan nyanyiannya.
“Assalamualaikum?” sapa Kaisar. Pak Atang menoleh dan terkejut melihat kedatangan Kaisar yang rapi beserta keluarga besarnya.
“Allahu akbar!”
Mendengar teriakan Pak Atang yang tengah terkejut membuat Mawar segera menyambut bapaknya, sebelum pria tua itu kembali pingsan.
“Papa!”
Teriakan Mawar membuat Kikan memilih untuk keluar rumah, ingin melihat apa yang terjadi di teras rumahnya. Dilihatnya Mawar sedang menahan tubuh Pak Atang hingga Kikan bergegas membantu Mawar menahan tubuh gempal Papanya.
“War, papa kenapa?” tanya Kikan cemas.
“Ki …?” sapa Kaisar. Kikan membulatkan matanya, jantungnya berdebar berharap dia berhalusinasi. Tetapi dia mau tak mau menoleh dan mendapatkan Kaisar berdiri di sampingnya dengan pakaian rapi juga beberapa keluarga Kaisar yang berdiri di belakang sambil membawa bingkisan seserahan.
Kedua mata Kikan semakin membola saat menyadari dirinya belum mandi dari kemarin, rambutnya diikat asal kaya gembel, dengan wajah kubil kebanyakan menangis belum lagi kantung matanya menghitam karena gadang. Pakaiannya pun sedang tidak rapi, hanya kaos dan celana pendek persis seperti anak yang mau main kelereng dan yang paling parah adalah disalah satu gigi milik Kikan terdapat bumbu serundeng juga cabe yang nyelip. Dengan penampilan seperti itu cukup untuk membuat Kaisar ilfeel dan memilih untuk pulang.
“Ka … kamu, kenapa kesini?” tanya Kikan lirih. Kaisar mencoba sabar dan bermode ramah, ia tersenyum cerah dan menjawab pertanyaan Kikan dengan nada lembut.
“Ini kan akhir pekan, dan sesuai janji saya bahwa saya akan melamarmu.”
***