Rumah Baru

1176 Kata
satu minggu telah tiba... Elvrince yang baru keluar dari kelas berjalan menyusuri koridor menuju kantin untuk membeli makan. Ia tidak pernah makan di tempat, Elvrince selalu membungkus makanan dan mencari tempat yang dia rasa cukup nyaman. Bukan ia tidak mau bergaul tetapi ia tidak mau percaya dengan sembarang orang. Sejauh ini ia lebih nyaman hidup tanpa teman. Waktunya hanya belajar dan pergi bekerja. Ya, ia telah mulai bekerja sebagai delivery laundry selama satu minggu ini. Saling bekerja sama dan mengantar dari rumah ke rumah, menyapa berbagai orang dengan bermacam-macam karakter, sesuatu hal yang begitu menyenangkan yang belum pernah ia temui. Setelah mendapat apa yang ia inginkan,Elvrince melangkah pergi dari keramaian. Suasana kantin yang ramai mahasiswa membuatnya kesusahan mencari tempat duduk. ia selalu mencari tempat yang menurutnya tenang, taman belakang kampus adalah tempat ia menghabiskan waktu istirahat. ia berjalan sambil bersenandung kecil. Beberapa mahasiswa yang kebetulan bersimpangan dengannya sesekali menyapa, meski Elvrince menutup diri untuk tidak memiliki teman dekat bukan berarti ia di kucilkan. Kecerdasan Elvrince dan sikap yang terbuka membuat banyak mahasiswa sering meminta bantuan Elvrince. Mulai dari tugas yang tidak dimengerti, bahkan terkadang Elvrince menjadi model dadakan jika teman dari bidang fotografi memerlukan seseorang untuk di potret. Ia pun sampai di taman dan mencari tempat duduk dekat danau, tempat yang teduh dan di tepi danau tumbuh bunga teratai. Elvrince mengeluarkan tikar kecil seukuran satu meter yang selalu ada di dalam tasnya,ia menggelar tikar itu lalu duduk melantai sambil menikmati makan siang. Udara yang semilir dengan langit yang begitu cerah menenangkan. Drrrrtt Getar ponsel Elvrince membuyarkan lamunan yang sedari tadi membawa dirinya melayang ke dunia fantasi. Ia meraih ponsel yang tergeletak di atas tikar, Agensi rumah calling itu lah yang terpampang di layar ponsel Elvrince. Elvrince menggeser tombol hijau yang tersedia di layar lalu menempelkan benda pipih itu ke sebelah telingannya ‘’hallo...’’ sapa Elvrince [hai Nona, rumah anda siap untuk di tempati. Dokumen kepemilikan akan saya antar ke Apartemen anda] ‘’baiklah..anda bisa datang sore ini dan terima kasih” ucap Elvrince dan sambungan panggilan itupun mati setelah orang yang di seberang menjawab. Elvrince segera mengemasi barang dan pulang. Ia harus membersihkan penthouse yang seperti kapal pecah. setelah masuk bekerja Elvrince memang tak sempat untuk membersihkan, ia belum terbiasa melakukan pekerjaan cepat bahkan di tempat kerja ia sering di bentak oleh temannya karena menurut sang teman dirinya sangat lamban. Ia berlari menuju halte dan mencari transportasi, beberapa menit ia menunggu namun bus umum tak kunjung datang. Ia mengambil ponsel lalu memesan taksi online. Keesokan harinya.... Sejak pagi Elvrince telah disibukkan oleh pekerjaan rumah,celemek yang membalut tubuhnya dengan keringat yang membasahi dahi, penampilannya akan terlihat sexy jika ada seorang pria melihat Elvrince saat ini. Elvrince membiasakan diri untuk memasak setiap hari, apapun hasilnya ia akan tetap memakan. Inilah jalan yang ia pilih, hidup sederhana dan mandiri. Hari ini ia meminta libur kepada pemilik laundry tempatnya bekerja karena mulai hari ini ia akan pindah ke rumah sederhana yang ia beli tempo hari. Sebelum ia pergi ia akan membereskan penthouse terlebih dahulu. Lewat kaca besar di depan, Elvrince mengamati dirinya sendiri dari ujung rambut sampai ujung kaki. Tidak ada barang bermerek yang ia kenakan, hanya barang biasa yang ia beli di toko pinggiran. Dengan langkah pasti ia keluar menggeret koper kecilnya, taksi online yang ia pesan juga sudah menunggu di bawah. Empat puluh lima menit perjalanan akhirnya ia sampai, ia turun dari taksi menatap rumah yang ada di depannya dengan bibir yang keangkat ke atas sehingga membentuk lengkungan. Ia melangkah memasuki halaman namun saa ia melangkah semakin masuk pandangannya tidak sengaja jatuh pada seorang pria paruh baya yang kini menatapnya dengan sejuta arti. Ketika Elvrince akan menyapa pria paruh baya itu masuk dan menutup pintu sedikit keras. Tanpa ada rasa curiga Elvrince masuk ke dalam rumah lalu menutup pintu. ia terus menuju kamar miliknya untuk menaruh koper dan tas kecil miliknya. Karena belum terbiasa bekerja,seluruh tubuh Elvrince serasa remuk, ia membuka koper dan mencari handuk. Berendam dengan air hangat selalu membuat Elvrince nyaman. Baru ia melangkah masuk terdengar bunyi bel rumahnya Ting Tong Ia segera berbalik dan berjalan menuju ruang utama. Entah siapa yang datang seakan tahu bahwa rumah ini sudah berpenghuni. Ceklekk Pria paruh baya dengan wajah misterius yang sempat ia lihat dan saat ingin menyapa sang pria paruh baya malah berbalik masuk ke dalam rumah. kini yang tidak ia sangka sama sekali pria paruh baya tadi datang ke rumah dengan seorang wanita seusianya yang begitu ia kenali. ‘’Bibi Grace....’’ seru Elvrince ‘’El...! oh ya Tuhan, aku tidak menyangka jika yang membeli rumah ini kau’’ ucap Grace wanita paruh baya yang juga sedikit tak percaya. ‘’masuklah bibi..!’’ ucap Elvrince sambil membuka pintu lebar mempersilahkan kedua paruh baya masuk. ‘’john memberitahuku jika pembeli rumah ini datang dan aku tidak menyangka jika itu kau’’ ucap Grace begitu ia sudah duduk di sofa. ‘’jadi ini,gadis yang kau ceritakan padaku setiap malam’’ ujar John sambil mengamati Elvrince sehingga membuat Elvrince canggung. ‘’ah,iya paman’’ ‘’El, kami membawa Cheese cake untukmu. Jika ada yang kau butuhkan jangan sungkan minta tolong pada kami’’ ucap Grace sambil menyodorkan kotak kue kepada Elvrince. ‘’baiklah El,kita pamit dulu. Berkunjunglah ke rumah setiap saat kau mau dan jangan sungkan jika kau membutuhkan bantuan. Maaf kami tidak bisa berbincang lama karena kami ada janji bertemu dengan kerabat’’ ucap John sedikit tidak enak. ‘’siap paman’’ jawab Elvrince dengan mengacungkan jempol. Setelah kepergian John dan Grace,Elvrince menutup pintunya kembali. Sebelum masuk ke kamar ia tidak lupa memasukkan kue yang diberikan Grace tadi ke dalam kulkas. Ia tidak menyangka bahwa pemilik Laundry tempatnya bekerja adalah tetangga sendiri. Semoga hari-hari selama ia di Amerika tidak ada masalah. Ia berharap tidak akan ada rintangan berat kedepannya sampai ia menyelesaikan pendidikan. Auston corp. Seorang pria bertubuh tegap dengan wajah datar dan tegas, sedang berkutat di depan laptop. Memeriksa detail setiap kertas yang bertumpuk di atas meja kerja. Penyelundupan dana proyek tempo hari telah ditangani. Dreyhan.pemimpin perusahaan terbesar dan jaringan terluas di Amerika. Tok tok tok ‘’Masuk!’’ teriak sang pria ‘’10 menit lagi rapat dimulai Tuan’’ ucap Asisten mengingatkan. ‘’ya’’ jawab Dreyhan singkat. Lalu Asisten itu undur diri ‘’Tunggu! Hubungi tempat laundry untuk mengganti orang yang biasa mengantar jasku.’’ Perintah Dreyhan. ‘’apa ada kesalahan Tuan? Saya akan mencarikan tempat laundry yang lebih bagus jika pelayanannya ceroboh’’ tanya Asisten ‘’cukup minta ganti saja. Bagaimana pun juga pemilik tempat itu sahabat mommy. Pergilah! Siapkan berkas dan tunggu aku di ruang rapat.’’ Ucap Dreyhan ‘’baik Tuan.’’ Jawab sang Asisten. Ia segera keluar dari ruangan sang bos sebelum mendapat amukan yang tidak masuk akal seperti kemarin. *** ‘’El...’’ panggil Grace si pemilik tempat laundry ‘’aku disini bi,’’ jawab Elvrince yang sedang melipat baju untuk dibungkus. ‘’El, mulai sekarang kau akan mengantar Jas milik Tuan Clief. Tolong antar tepat waktu. Jangan sampai dia mengamuk karena Jas miliknya telat diantar.’’ ucap Grace dengan mewanti. ‘’baik bi. Aku tidak akan mengecewakanmu’’ ‘’kau bisa tanyakan pada Nora,karena hanya dia yang mengurus Jas milik Tuan Clief’’ seru Grace lagi sebelum pergi dari hadapan Elvrince.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN