Perdebatan panjang yang memakan waktu berhari-hari membuahkan hasil. Saat kau mulai dewasa saat itulah kau dituntut untuk memutuskan kemana langkahmu akan membawa. Berbagai pilihan yang akan berderet di depanmu,saat itulah kau harus menggunakan logika dan niat hatimu. Jalan yang terjal penuh duri pasti akan selalu ada di setiap langkah, bahkan jalan yang muluspun masih terdapat kerikil dan berdebu.
Seorang gadis dengan penampilan yang begitu sederhana,rambut coklat yang dibiarkan tergerai dan topi berwarna hitam yang bertengger di kepala menyeret koper sedangnya menuju gate keluar area bandara, namun di sela langkahnya tiba-tiba seseorang dari arah belakang menabrak bahunya lumayan kuat hingga sang Gadis hampir terjungkal. Beruntung ia segera mengambil langkah sigap hingga dirinya tidak sampai tersungkur ke lantai.ya. gadis itu Elvrince. Tanpa sepatah kata seseorang itu terus berjalan melenggang,bahkan menoleh pun tidak. Elvrince yang tidak terima segera menyusul orang yang menabrak bahunya dengan langkah cepat.saat jarak antara Elvrince dengan seseorang itu sangat dekat,Elvrince meraih kupluk jaket yang menjuntai ke belakang dan menarik dengan kuat. Hingga membuat seseorang yang ternyata pria itu terjatuh kebelakang dengan posisi telentang. Raut wajah yang terkejut dan menahan marah tercetak jelas. Detik berikutnya sang pria itu segera bangkit,namun Elvrince sudah melenggang pergi dari hadapan sang pria.rahangnya yang kokoh terlihat mengeras serta gertakan gigi yang beradu menandakan bahwa pria itu siap meledak. Sang pria mencoba mengejar Elvrince namun area yang ia pijak cukup padat sehingga menghalangi pandangan dan Elvrince lolos dari pangejaran. Sang pria meraih koper dan segera melangkah keluar.
Elvrince yang memang sudah mengenal negeri yang ia pijak,maka tidak akan ada ketakutan akan hilang arah. Meski dalam hati masih jengkel level atas,ia coba melupakan. Ia melangkah keluar dan mencari transportasi. Untuk sementara ia akan tinggal di Penthouse miliknya dan besoknya ia akan mencari rumah sederhana. Rumah yang berdampingan dengan tetangga.segala kemudahan itu ada tapi sungguh,semua itu membuatnya sangat bosan. Disini ia akan menjalani hidup yang sesungguhnya,hidup tanpa aturan,tanpa kendali orang tua yang tidak boleh begini dan begitu.
Sepanjang perjalanan di dalam taksi Elvrince memandang ke arah luar jendela,gedung-gedung yang menjulang tinggi dan lalu lintas yang begitu padat karena ini jam pulang kerja. Berbagai rumah makan yang terlihat sesak oleh para pengunjung, Elvrince yang tak sengaja pandangannya jatuh pada restoran kecil dan klasik secara spontan menyuruh sopir taksi untuk berhenti sejenak. Ia juga meminta sang sopir untuk menunggu dan akan memberikan uang tambahan,tentu saja dengan senang hati sang sopir menyanggupi. Elvrince turun dan mulai memasuki rumah makan itu, tempat yang bersih dan rapi,meski terlihat sangat sederhana namun tempat makan ini begitu romantis. Ia mulai memesan makan untuk dua porsi. Sambil menunggu makanannya siap, ia mengamati sekelilingnya dan pandangannya turun pada rak yang berada di pojok. Aneka camilan ringan juga tersedia, ia meraih beberapa bungkus dan membawa ke kasir .tepat ia sampai Seorang pelayan datang menyerahkan bungkusan yang Elvrince pesan.
Gedung raksasa yang menjulang tinggi telah di depan Elvrince. Ia melangkah memasuki lobby dan menuju lift khusus yang akan membawanya ke depan rumah. Karena ia yang belum menyiapkan tempat tinggal maka ia akan menempati Penthouse miliknya untuk sementara dan besok ia akan mencari rumah yang sesuai dengan ia inginkan. Tidak peduli dimana, yang penting ia merasa nyaman dan dekat dengan Universitas. Meski tidak ada yang menghuni rumahnya tapi pihak kebersihan akan datang setiap hari untuk membersihkan. Tak heran begitu ia datang semua perabotan bersih tanpa debu. Ia segera berjalan ke dapur mengeluarkan makanan yang dibeli tadi dan menyiapkan. Setelah puas mengisi perutnya ia beranjak menuju kamar. Saat ia membuka pintu dan melihat sesuatu yang pertama kali di jangkau pandangannya ia tersenyum,figura besar dengan berbagai foto dari foto keluarganya,foto bersama sahabatnya saat liburan disini.Elvrince selalu menempatkan foto orang-orang yang disayanginya di seluruh rumah atau hunian seperti apartement atau Penthouse di berbagai negara.
Elvrince berjalan ke balkon membuka pintu kaca sebagai pembatas antara balkon dan kamarnya. Ia melangkah mendekati pagar pembatas, kedua matanya memandang jauh ke hamparan kota yang luas,suasana malam yang ramai di tambah lampu kota yang berkelip menambah keindahan yang luar biasa. Elvrince menarik bibirnya ke atas sehingga membentuk lengkungan ‘’selamat datang California’’ gumamnya lirih. Inilah tempat yang seharusnya ia butuhkan. Tempat yang jauh dan tenang, tempat yang akan ia taklukkan. Berbagai hal yang akan ia jumpai semakin membuatnya berambisi untuk masuk dan menelusuri. Tanpa Elvrince sadari, di tempat lain lebih tepatnya balkon sebelah gedungnya ada seseorang yang mengamati. Malam yang semakin larut,Elvrince memutuskan untuk masuk ke dalam dan menutup pintu kaca. Sebelum ia masuk kamar mandi Elvrince meraih benda persegi lalu memencet satu tombol dan detik kemudian korden besar yang panjang bergeser menutupi pintu kaca yang sebagai pembatas balkon dan kamar.
***
Di tempat lain seorang pria yang berdiri di balkon penthouse tidak sengaja pandangannya jatuh pada seorang wanita yang berdiri di dekat pembatas. Ia terus mengamati tanpa mengalihkan pandangan.jarak pandang yang begitu minim membuat dirinya tak bisa melihat wajah gadis itu dengan jelas.sang pria mengalihkan pandangannya ke arah hamparan kota,menatap jauh dan ingatannya kembali saat kejadian di bandara. Dirinya yang berada di benua Asia dan tiba-tiba mendapat kabar dari asisten tentang penggelapan dana proyek membuat ia pulang saat itu juga. Fikirannya yang kacau karena ulah sang pegawai yang membawa uang perusahaan, hingga ia menabrak seorang gadis dan berakhir memalukan. Entah hal apa yang membuatnya sedikit tertarik dengan gadis yang berhasil membantingnya ke lantai dan lebih parahnya di tempat umum.
“Dre” panggil wanita paruh baya. Sang pria menoleh ke arah suara. Senyum manis ia persembahkan untuk wanita tercinta.
Dreyhan Clief Auston pengusaha muda yang tampan dan mapan,penerus kerajaan bisnis terbesar di Amerika.dan kini mulai mengembangkan bisnisnya ke benua Asia. Kinerja yang tidak diragukan membuat sang ayah mewariskan bisnis kepadanya.
‘’Mommy’’ ucapnya heran. Karena selama ini sang mama tidak pernah datang ke Penthouse dan sekarang sang mama berdiri di depannya.
Dreyhan berjalan ke kursi yang tersedia di balkon. Wanita paruh baya itu melangkah mendekat,ia menyentuh bahu Dreyhan dan sedikit memijat. Dreyhan memejamkan mata menikmati pijatan sang ibu.
‘’apa yang membuatmu lebih nyaman di sini Dre?’’ tanya sang ibu di sela aktifitas memijat.
‘’Dre juga tidak tau mom’’ jawab Dreyhan seadanya
‘’kau terlihat sangat kacau. Mommy bawakan sesuatu untukmu, ayo masuk dan tutup pintunya. Angin malam tibak bagus untuk kesehatan’’ ucap sang mama sambil menggiring masuk.
‘’ini sungguh lezat mommy’’ desah Dreyhan setelah ia menghabiskan makanan yang di bawa sang ibu.
‘’pulanglah ke mansion nak, buang yang menyakitkan. Tidak akan ada yang bisa di rubah. Tuhan telah memperlihatkan apa yang terbaik untukmu’’ ucap sang mama sambil membereskan piring bekas makananan.
‘’Mommy benar. Dreyhan akan kembali ke kantor dan membuat papa sama mommy bangga’’ ucap Dreyhan sambil menikmati teh mint.
‘’kau putra kami yang hebat Dre’’ ucap sang mama sambil menepuk bahu Deyhan pelan.
‘’terimakasih mommy’’
‘’ oiya Dre, papa ingin bertemu denganmu besok. Jadi temui dia dulu! Salah satu pihak kantor pasti sudah mengabarimu tentang dana proyek. Dia sudah di amankan Diego’’ seru sang mama dari dapur.
“iya mom” jawab Dreyhan singkat sambil beranjak menuju kamar.
***
Elvrince yang sudah bersiap untuk tidur harus di kejutkan dengan dering ponsel. Ia bergeser meraih ponsel yang berada di atas nakas. Tertera nama Mommy Love ia tersenyum lalu menggeser tombol hijau.
“El....” suara lantang dari seberang telfon menyapa pendengaran Elvrince.
“iya mommy...” jawab Elvrince
“apa kau baik-baik saja nak? Bagaimana perjalananmu?apa badanmu sakit karena duduk terlalu lama? Apa kau sudah makan? Jangan makan sembarangan“ rentetan pertanyaan yang dilontarkan sang mommy membuat Elvrince memutar bola mata asal.
“El , baik-baik saja mommy. Tidak perlu sepanik itu”
“Kau anak mommy satu-satunya El,” bantah sang ibu
“Mommy,El sudah makan. El lelah mau tidur. El tutup dulu telfonnya ya, aku mencintaimu’’
‘’mommy menyayangimu juga’’ jawab ibu Elvrince.
Setelah mematikan panggilan dari sang ibu, Elvrince merebahkan kembali tubuhnya. Ia berusaha tidur namun matanya terus terjaga. Elvrince menyibak selimut lalu turun menghampiri tas ransel untuk mengambil Laptop. Setelah mendapatkan barang yang di cari, Elvrince berjalan kembali ke ranjang. Ia duduk dan membuka laptop mencari agency rumah yang dekat dengan tempat kuliah. Dua jam ia mencari dan memilih rumah yang ia inginkan, pandangannya jatuh pada rumah sederhana yang lokasinya dekat dengan kamus dan pantai. Suasana yang cukup ramai dan tenang. Ia mencoba menghubungi nomor Agency yang tertera berharap sang pemilik belum tidur. Dua kali tak ada jawaban akhirnya ia mengurungkan niat. Saat akan meletakkan ponsel, dering dari nomor yang baru saja Elvrince hubungi masuk. Ia segera mengangkat dan mengatakan tentang maksudnya menghubungi. Jawaban dari seberang telfon sontak membuat Elvrince bahagia, tanpa menunda Elvrince mengatakan bahwa besok akan melihat ke lokasi langsung.
Hampir tiga puluh menit perbincangan dengan pihak agency rumah, akhirnya Elvrince bisa tenang. Rumah yang ia inginkan ternyata masih kosong dan pemilik sebelumnya belum lama menjual. Bahkan sang pemilik menjual beserta perabotannya. Tentu saja membuat Elvrince mengiyakan tanpa berfikir panjang. Ia tidak perlu susah payah membeli perabotan meski harga rumah berbeda karena sudah lengkap.