‘’ya ya ya...tapi kalau sebanyak ini kita tidak akan bisa menghabiskan El’’ kata Nancy yang menatap horor semua makanan. Sedangkan Elvrince hanya bersikap biasa saja.
‘’jangan pikirkan kalau tidak habis. Sebagian makanan kita bagikan dengan pengunjung lain’’ jawab Elvrince santai sambil mengunyah roti isi daging panggang.
‘’terserah kau saja’’ ucap Nancy mengakhiri perdebatan mereka.
Tempat yang teduh, area parkir yang luas, danau yang berair biru jernih,bukit hijau sebagai pembatas,sungguh pemandangan yang luar biasa indah. Ditambah para penduduk yang gotong royong menjaga kebersihan membuat tempat ini begitu sempurna bagi pecinta alam. Tak heran. Meski bukan hari libur tempat ini banyak pengunjung. Tak jauh dari area lapang tersedia penginapan dan restoran kecil dengan berbagai menu.
‘’aku akan menjual dua atau tiga mobil yang jarang kupakai untuk merenovasi kedai kecil yang disana’’ ucap Elvrince sambil menunjuk pada deretan penjual makanan ringan.
Nancy menoleh pada Elvrince dan mengikuti arah yang ditunjuk. Ia melihat deretan kedai kecil yang sederhana bahkan hanya ala kadarnya, jika hujan pasti mereka akan basah karna deretan kedai itu hanya bangunan terbuka yang terbuat dari kayu hanya bagian atas yang tertutup untuk melindungi dari panas terik matahari. Bahkan bangunan itu jika diamati beberapa kedai sedikit doyong. Nancy juga bisa membayangkan jika ia berada disini ketika hujan atau turun salju pasti mereka akan tidak nyaman. Siapa yang tahu jika mereka menggantungkan hidup dengan berjualan di area sini. Meskipun banyak tempat yang indah di dekat danau tetapi area yang ia singgahi saat ini memang area yang paling ramai. Tempat parkir yang luas sehingga memudahkan para wisatawan yang menggunakan mobil,banyak objek indah untuk mengambil gambar,melukis,membuat video dengan latar belakang alam, atau hanya sekedar berkumpul atau berkemah.
‘’aku setuju. Aku akan ikut mendanai renovasinya dan aku akan membuat rumah pondok tepat di tempat yang kita duduki ini’’ ucap Nancy dengan bayangan desain dengan tersenyum-senyum.
Elvrince yang mendengar tentu saja senang,tidak masalah ia kehilangan dua atau tiga mobilnya, ia bisa mengikuti balapan lagi dan mendapatkan. Satu hal yang selalu ia bersyukur,ia bisa membantu orang-orang yang membutuhkan. Lihatlah mereka yang kemungkinan menggantungkan hidupnya dengan berjualan untuk bertahan hidup sedangkan di tempat lain ada orang yang layaknya raja dan ratu apapun tersedia tanpa berfikir apa yang besok akan dimakan,membagi penghasilan dari upah yang didapat. Berada di tempat seperti inilah ia bisa belajar bercermin,memahami ekonomi kelas bawah. Perlakuan ramah yang selalu ditunjukkan kalangan bawah pada orang asing itu suatu hal yang melekat dari jaman ke jaman. berbeda dengan kalang atas yang kebanyakan akan disanjung ketika seseorang itu mempunyai kedudukan yang tinggi dan menguntungkan berbagai hal.
Nancy meraih tas kecilnya dan merogoh ponsel, ia mencari nomor seseorang. Begitu seseorang yang ia hubungi tersambung,Nancy memerintahkan pada orang kepercayaannya untuk membuat surat kuasa. Surat kuasa itu untuk bangunan kedai yang akan direnovasi dan diserahkan pada pedagang sebagai pemilik sah. Nancy juga menyuruh untuk mengirimkan material serta pekerja untuk merenovasi kedai sampai selesai.
Seperti kata Elvrince bahwa sebagian makanan ia bagikan pada pengunjung juga memborong semua dagangan dan kini semua orang berkumpul di tengah menunggu matahari terbenam. Saling bercanda,saling berbagi cerita,ada yang memberikan lelucon, ada yang sengaja membawa gitar dan memetikkan senar diiringi alunan nada yang indah. Nancy yang tak pernah banyak bicara kali ini ikut bernyanyi di tengah-tengah kerumunan,
sesekali bergoyang heboh. Elvrince sangat bersyukur memiliki Nancy di hidupnya. Setelah apa yang terjadi padanya kemaren, ia berjanji akan membuat dunianya bahagia. Ada atau tanpa orang yang di cintai.
‘’El. Kenapa kau hanya duduk saja? Apa kau masih sedih?’’ tanya Nancy yang menghampiri dan duduk melantai di atas rumput hijau dengan nafas yang terengah-engah.
‘’tenang saja, aku menikmati semua ini. Sungguh hari ini seperti hembusan angin yang bertiup ke hatiku dan melupakan luka itu.yeah, aku memang masih sedih tapi tidak seburuk sebelumnya. Lebih tepatnya aku sudah mulai memikirkan hal apa yang harus aku lakukan’’ jawab Elvrince jujur tanpa ditutupi.
‘’aku ikut bahagia jika kau bisa melupakan b******n itu El’’ ucap Nancy sambil memandang jauh ke arah danau.
‘’lalu, bagaimana kau tahu jika dia b******k’’ tanya Elvrince yang sejak tadi ingin ia lontarkan.
‘’aku tidak sengaja bertemu dia di pesta para kolega. Kakakku tidak punya pasangan jadi dia memintaku untuk menemaninya. Beruntung dia tidak mengenaliku’’ terang Nancy
‘’aku juga tidak menyangka dia begitu tega menyakitiku. Ah, ya sudahlah. Buat apa juga dipikirkan’’ kata Elvrince.
‘’Hei,bolehkah kita memotret kalian?’’ seru salah satu pria dengan empat temannya dibelakang yang sudah berada di depan Elvrince dan Nancy dengan tangan memegang kamera.
‘’tentu saja.kalian boleh memotret seberapa banyak yang kalian mau’’ jawab Elvrince antusias.
Berbagai gaya yang dilakukan dua gadis itu membuat para fotografer kagum. Kecantikan yang alami,tawa yang lepas,pose yang konyol, sinar matahari yang menerpa wajah dengan latar belakang alam sungguh semua terlihat sempurna.
Drrrrtt drrrttt
Getar ponsel di saku Nancy tepat dengan aksinya yang menjadi model dadakan selesai menghentikan tawa diantara keduanya. Nancy merogoh ponselnya tertera Migael calling ia menggeser layar yang berwarna hijau lalu menempelkan benda pipih itu di dekat telinga.suara panik dari sebrang menegakkan tubuhnya yang tadi setengah berbaring dengan kedua siku tangan yang menyangga tubuh, kini duduk tegak dan mendengarkan baik-baik apa yang di sampaikan Migael. ‘’Nanc kau kemana?’’ tanya Migael tanpa basa basi begitu tersambung
‘’aku mencari udara segar dengan Elvrince, dari nadamu bicara kau sedang panik.kenapa?'' tanya Nancy
''pria b******k itu datang dan berteriak mencarimu.segera pulang dan hentikan kegilaannya itu!’’ ucap Migael dan menutup sambungan telfon tanpa menunggu jawaban dari Nancy.
Nancy menghembuskan nafasnya kasar lalu menoleh ke Elvrince yang sejak tadi mengamati obrolan Nancy dengan seseorang yang di sebrang. Tatapan Elvrince isyarat pertanyaan siapa orang yang menelfonnya.
‘’pria gila itu lagi’’ ujar Nancy sambil berjalan menuju mobilnya dan diikuti Elvrince.
Mereka mulai meninggalkan tempat itu dan menuju ke mansion Nancy. Dengan kecepatan sedang Nancy mulai menyusuri jalan,begitu memasuki kawasan kota ia melajukan mobilnya dengan kecepatan yang lumayan ngebut. Tak butuh waktu lama mereka sampai di Mansion Nancy,berhubung hati Elvrince sedang kacau,Nancy membawa serta ke Mansionnya. Sesampainya ia di rumah ia dibuat naik darah dengan seorang pria yang tak tahu diri. Siapa lagi kalau bukan Diego.pria yang menculik Nancy di Prom.dan pria yang kata Migael berteriak seperti orang gila itu sedang tertidur pulas di sofa ruang tamu.
‘’wow! Ajaib.’’ Seru Elvrince sambil menghempaskan bokongnya di sofa sebrang.
‘’bagaimana kalau kita bakar dia hidup-hidup El?’’ ucap Nancy yang menahan gejolak emosi dalam jiwa. Bagaimana tidak jengkel,ia mengendarai mobil ngebut takut hal buruk terjadi dan ternyata tersangka malah tidur pulas.
‘’hahaha..kau konyol Nanc, aku tidak mau jadi pembunuh. Bagaimana kalau kita...’’ ucapan Elvrince menggantung dengan senyum licik dan Nancy tau apa yang dipikirkan sahabatnya.
Mereka menyuruh tiga pengawal untuk mengangkat tubuh Diego dan membawanya kesamping rumah. Begitu sampai di tempat yang mereka tuju,Elvrince menyuruh untuk melempar tubuh Diego dan....
Byuuuurrrr
Gelak tawa ke dua gadis yang menggelar memenuhi samping rumah Nancy dan mereka saling tooss. Sedangkan Diego yang merasa begitu lelah tak merasakan sesuatu yang menggoncang tubuhnya hingga hentakan air yang menghantamnya membuat Diego gelagapan.beruntung ia ahli dengan segala situasi yang bahaya. Ia menimbulkan kepala dan melihat dua gadis yang sedang mertawakan dirinya.
‘’oh hai...’’ sapa Elvrince sambil melambaikan tangannya kepada Diego dan disusul suara tawa lagi
‘’ouch shiit! Kalian...’’ umpat Diego sambil menunjuk ke dua gadis yang masih terbahak menertawakan dirinya. Kini dirinya bagaikan tikus yang tercebur dari got.
Dengan rasa jengkel dan marah yang luar biasa, Diego berenang ke tepi kolam dan mulai naik ke atas. Kaos hitam yang ia kenakan melekat membentuk tubuh atletis Diego dan terlihat sexi. Diego menyambar handuk yang tergeletak di kursi dan mendekati dua gadis itu. Tatapan tajam dan rahangnya yang mengeras tanda dirinya benar-benar murka tetapi ke dua gadis di hadapannya seakan tidak gentar sedikit pun.
‘’gadis terhormat yang tidak punya etika’’ maki Diego
‘’rumahku bukan hotel tuan’’ jawab Nancy
‘’aku kesini hanya mengambil ponselku tapi kau tidak ada. Aku menunggu hingga ketiduran dan kau melemparku ke kolam’’ oceh Diego dengan nada tinggi.
‘’itu sepadan dengan caramu kemarin memperlakukanku’’ jawab Nancy dengan nada yang tak kalah tinggi. ‘’dan untuk ponselmu,sudah aku lempar di street 23’’ imbuhnya.
Mendengar ponselnya yang dilempar dan sudah di pastikan hilang tentu membuatnya semakin murka tak terkendali. Ia berlalu begitu saja dan meninggalkan rumah Nancy.berdebat dengan gadis itu membuatnya semakin pusing dan naik darah. Kata yang ia lontarkan seakan sudah ada jawaban di otaknya jdi percuma saja ia berlama-lama berada di rumah itu.
‘’memangnya benar kau lempar ponsel itu?’’
‘’tidak. Aku menyimpannya, aku hanya ingin mengerjai dia’’ jawab Nancy dan mereka terbahak
‘’kau orang yang kejam Nanc’’ ucap Elvrince di sela tawanya
‘’baiklah. Ayo kita masuk dan pesan makanan sebanyak mungkin karena aku di London hanya tinggal beberapa hari lagi. Kuharap kau menyusulku ke Italia ‘’ ucap Nancy sambil beranjak masuk kedalam rumah dan diikuti Elvrince.
‘’aku berencana ke California Nanc,dan kau harus mengunjungiku’’ kata Elvrince begitu mereka masuk ke kamar Nancy
‘’kenapa jauh sekali El,tapi kalau aku sibuk kau yang harus mengunjungiku’’ seru Nancy
‘’aku disana hanya gadis miskin Nanc,jdi sebelum pendidikanku usai aku tidak bisa mengunjungimu karena aku tidak akan menggunakan fasilitas milik daddy’’ terang Elvrince yang terlentang di tengah ranjang.
‘’apa kau tidak kesulitan El?’’ sahut Nancy yang mendekat dan duduk disamping Elvrince
‘’aku akan mencari part time buat bekerja Nanc,beberapa tahun aku sudah belajar melepas fasilitas dari daddy dan aku yakin pasti bisa’’ tekat Elvrince
‘’hubungi aku jika kau kesulitan disana,aku akan datang El! Dan berjanjilah padaku jika kau akan baik-baik saja.besok aku akan menguruskan dokumenmu sekolah dan identitas jika paman Samuel tetap tidak mengijinkan, lagi pula second mom tadi mengirimiku pesan tentang itu’’ ucap Nancy dengan meraih telapak tangan Elvrince dan menggenggam, dengan isak kecil.
Elvrince bangun dan memeluk sahabatnya,tangis itupun pecah. Dirinya dan Nancy yang tumbuh bersama meski bukan sedarah tapi ia dan Nancy layaknya saudara yang saling melengkapi. Mungkin malam ini adalah malam terakhir ia dengan Nancy menghabiskan malam bersama, ia yang akan ke Amerika dan Nancy ke Italia. Terbiasa bersama rasanya seperti aneh dan kurang. Sejak kehadiran Nancy dalam hidupnya ia merasa memiliki warna baru,saling berbagi cerita dengan seumuran dengannya ditambah ayah Elvrince sahabat ayah Nancy. Hanya saja ibu Nancy lebih dulu menghadap tuhan itulah yang membuat Nancy menjadi pendiam dan bertemu Elvrince adalah hal terindah yang tuhan berikan padanya. Dengan adanya ibu Elvrince, ia menemukan sosok ibu lagi.