“kemana pria k*****t itu membawa Nancy” gumam nya.
Ia sudah berkeliling menyusuri jalan berharap menemukan petunjuk tapi hasilnya tetap saja. Malam semakin larut,jalanan juga mulai lenggang. Seseorang yang ia cari tak bisa di temukan. Meskipun kehebatan sahabatnya tidak diragukan namun tetap saja sahabatnya hanya seorang perempuan. Entah bagaimana keadaan sahabatnya sekarang,bagaimana jika sahabatnya diperlakukan yang tidak baik. Semua hal buruk berlarian di otak Elvrince,perasaan resah dan gelisah bercampur dalam hati Elvrince.
“Sial! “ umpat Elvrince sambil memukul setir mobil.
Sekelebat lampu terang muncul di otak Elvrince. Ia meraih ponselnya mencari nomer kontak ayah Nancy. Ya.tidak ada jalan lain selain meminta bantuan pada paman Edr.
Dua kali panggilan tidak ada jawaban, dan panggilan ke tiga panggilan itu tersambung
“hallo paman...paman maafkan aku yang tidak bisa menjaga Nancy” ucapnya panik begitu sambungan terhubung.
[apa maksudmu nak?]
“Nancy dibawa kabur sama pria asing dan aneh, paman harus segera bertindak Dan mengerahkan para pengawal. Ponselnya juga mati” adunya
[tenang lah nak]
“bagaimana bisa tenang paman,bgaimana kalau Nancy dianiaya.bagaimana kalau Nancy tidak baik baik saja paman,hiks hiks..’’
Tidak ada jawaban dari sebrang hanya terdengar helaan nafas panjang.
[dengankan paman nak.Nancy baik-baik saja.pria asing yang kau maksud itu orang kepercayaan keluarga Agatha yang paman kirim untuk menjaga acara Prom kalian. Dan tadi, pria aneh yang kau katakan juga telah menelfon paman kalau dia membawa Nancy untuk membicarakan kerja sama] terang orang yang di panggil paman.
Elvrince tak menyangka dengan apa yang didengar. Pria seperti itu bisa menjadi kepercayaan keluarga Nancy. Oh astaga. Lalu ada hal yang dibicarakan, memangnya hal apa? Kenapa dirinya tidak dilibatkan.Entahlah, semua membuatnya pusing kepala. Dan sekarang ia seperti orang linglung yang tak tau jalan pulang. Kenapa tidak dari tadi ia menelfon paman Edr,kenapa ia harus terpikir setelah berjam-jam berkeliling. Kalau tahu begini lebih baik tadi ia langsung pulang dan bergelung dengan selimutnya yang lembut.tapi dirinya malah mengkhawatirkan yang jelas baik-baik saja.
‘’aku lega jika Nancy akan baik-baik saja paman, dan sampaikan pada Nancy kalau besok aku akan pergi ke Italia’’ pesan Elvrince kepada orang yang di panggil paman Edr.
[terimakasih sudah mengkhawatirkan anak brandal itu nak, jaga dirimu baik-baik] pesan paman Edr menasehati sebelum menutup panggilan telfonnya.
***
Seminggu kemudian....
‘’second mommy..................’’ teriakan kencang yang memenuhi mansion membuat dua orang paruh baya menghentikan kegiatan sarapannya kedua paruh baya.
Nancy yang baru menginjakkan kakinya ke rumah Elvrince semenjak prom. Kedatangannya ke rumah Elvrince mungkin tidak tepat. Kedua paruh baya itu biasanya akan menyambutnya dengan hanya akan tetapi hari ini mereka benar-benar lain.Nancy melangkah menghampiri, ia memilih duduk disamping ibu Elvrince yang tersenyum dengan terpaksa.
“ada apa mommy...apa aku mempunyai salah pada kalian?” tanya Nancy pada kedua paruh baya.
“kau tidak salah apa-apa nak, maafkan mommy dan papi. Ini hanya...” jawab ibu Elvrince yang menggantungkan suara sambil menatap sang suami penuh permusuhan sedangkan yang ditatap biasa saja.
“Elvrince ada di kamar. Sudah satu minggu ia berdiam diri di kamar. Bujuklah ia untuk makan” lanjut ibu Elvrince sedikit menutupi apa yang terjadi.
“ya.bujuklah dia untuk membatalkn keinginan konyol nya itu” seru ayah Elvrince sambil beranjak pergi.
Nancy hanya bisa diam.entah hal apa yang membuat ayah Elvrince begitu marah. Setahunya minggu lalu Elvrince menitipkan pesan jika ia ke italia. Kalaupun ada masalah pasti dia akan bercerita padanya. Lantas ia pamit kepada ibu Elvrince untuk menemui putrinya. Sepanjang menuju kamar Elvrince ia terus bertanya-tanya, hatinya begitu tidak tenang. Dengan langkah lebar ia mempercepat jalannya untuk segera menemui Elvrince.
Ceklekk
‘’El...kau dimana?’’ panggil Nancy saat masuk ke kamar Elvrince dan mendapati pemilik kamar.
Nancy menelusuri setiap sudut kamar yang luas dan mewah, ia terus berjalan menuju balkon kamar. Semakin ia mendekat isak tangis mulai terdengar. Ia melihat Elvrince meringkuk di sudut balkon dengan menekuk kedua lututnya dan membenamkan wajahnya,ia melantai dan merengkuh tubuh Elvrince tanpa berucap sepatah kata pun. Entah apa yang terjadi dengan sahabatnya,saat ini yang Elvrince butuhkan hanya dukungan dari orang-orang terdekatnya. Ia akan sabar menunggu Elvrince untuk bercerita apa yang terjadi dan alasan apa yang membuat ayahnya begitu marah besar.
‘’dia menghianatiku Nanc..hiks hiks’’ ucap Elvrince dengan tangis yang semakin keras. ‘’kurang apa aku Nanc, apa aku tidak pintar? Apa aku kurang cantik? Apa karna aku tidak bisa memuaskannya? Hiks hiks’’ ucapnya lagi.
Ucapan Elvrince jelas menandakan bahwa dia sedang terluka,kemarahan yang begitu besar,kobaran api yang jelas memenuhi seluruh hati dan jiwa raganya. Kenapa kebrengsekan pria itu harus diketahui Elvrince dulu. Ia sudah mengetahui tentang pacar Elvrince,bahkan ia rela datang pagi-pagi ke rumah Elvrince untuk menjelaskan pelan-pelan. Tapi ternyata, Vie punya rencana lain. Ia berfikir akan membongkar kebusukan pacar Elvrince secara perlahan agar sahabatnya tidak terlalu terpukul. Rencana hanya rencana dan semua jalan takdir,pertemuan,perpisahan hanya Tuhan yang mengatur.
‘’aku mengerti kesedihanmu El..’’ ujar Nancy sambil mengelus punggung Elvrince untuk menenangkan. ‘’apapun masalahmu, ceritakan padaku. Ingatlah bahwa kau tidak sendiri El, masih ada aku di sampingmu.bukankah kita sudah sepakat untuk saling menjadikan rumah singgah dalam segala masalah.kau harus mampu hidup di masa depan El,jangan biarkan pria b******k itu tertawa bisa melihatmu terpuruk seperti ini. Kau harus menciptakan duniamu,dunia yang bisa kau kendalikan.bukan dirimu yang dikendalikan’’ Ucap Nancy bijak.
Mendengar kata-kata Nancy, Elvrince mendongak menatap sahabatnya dengan bibir melengkung. Matanya yang bengkak,hidungnya yang merah,matanya yang sendu,membuat Nancy juga ikut merasakan sedih. Namun inilah Elvrince,sesedih apa pun keadaannya dia akan mendengarkan perkataan orang terdekatnya.
‘’aku memutuskan akan pergi dari London dan hidup sederhana di suatu negara, tapi Daddy marah besar. Aku pun tidak mau menjelaskan apa alasanku, karena sungguh aku masih mencintanya meski dia telah menghianatiku Nancy. Aku tidak mau Daddy menghancurkan bisnis yang dia bangun susah payah’’ jelas Elvrince sambil melepas pelukan Nancy. saat ia sudah mulai tenang dan nyaman untuk bercerita.
Nancy yang mendengar penjelasan Elvrince memutar bola matanya asal. Entah Vie menciptakan hati sahabatnya ini dengan berapa lapis. Kekasih yang jelas menghianati masih saja ia lindungi dan menyelamatkan kedudukannya, apakah ini yang dinamakan cinta buta. Oh bukan. Cinta bodoh lebih tepatnya. Jika ia yang berada di posisi Elvrince sudah tentu akan dijadikan abu. Penghianat harus membayar mahal,setidaknya kehancuran itu harga yang pantas.
Elvrince yang melihat Nancy terdiam, sudah ia tebak pasti ada banyak hal yang direncanakan otak licik sahabatnya. Ia mengenal benar bagaimana sahabatnya itu bertindak dengan tangan dingin. Ia tidak mau ada drama pertumpahan darah atau saling menghancurkan. Dengan Nancy yang akan menjadikan debu kekasihnya, tentu akan mengundang musuh baru.ia hanya ingin ketenangan di suatu tempat saat ini. Ia sudah muak dibohongi,terlebih pria itu hanya mengincar kedudukan dan kekayaan keluargannya. Ia memicingkan matanya pada Nancy,mengamati kening Nancy yang berkerut dan menganggukkan kepala sedikit,pandangan matanya yang terlihat jauh.
‘’jangan memandangku seperti itu El!’’ seru Nancy yang sadar diperhatikan sahabatnya.
Elvrince mengangkat sedikit bahunya dan beranjak dari tempatnya melantai. Ia berjalan menuju ranjang dan menghempaskan tubuhnya, di ikuti Nancy yang melakukan hal yang sama.
‘’El...’’
‘’hmm’’
‘’ayahmu benar. Maksudku,ia melarangmu karena posisi dan kedudukan yang di miliki. Banyak pesaing bisnis dan orang-orang yang tidak suka akan kesuksesan ayahmu, ia takut orang-orang seperti itu mengincarmu untuk menjatuhkannya.terlebih kau anak satu-satunya’’ Ucap Nancy mencoba memberikan alasan yang kemungkinan sama dengan apa yang dipikirkan.
Elvrince berguling ke arah Nancy dengan posisi miring dan tangan sebelah untuk menyangga kepala.
‘’apa tidak ada cara lain?’’ tanya Elvrince
‘’tentu saja ada. Tapi sebelum itu, pergilah mandi! Kau sungguh bau dan berantakkan’’ jawab Nancy sambil mengibaskan tangannya.
‘’baiklah’’ ucap Elvrince dan segera masuk ke kamar mandi.
Nancy hanya bisa menghembuskan nafas lega. Ia segera bangun dari ranjang dan memanggil pelayan untuk mengantarkan makanan. Tidak lama kemudian beberapa pelayan masuk dengan membawa banyak makanan.
Elvrince yang baru keluar dari kamar mandi segera menghampiri meja, entah kapan terakhir dirinya makan. Bau makanan langsung membuat cacing di perutnya berbunyi. Ia menyambar s**u dan meminumnya hingga tandas lalu di susul dengan menu makanan lain.
‘’ kau makan seperti zombie El’’ ucap Nancy
‘’yeah. Lebih tepatnya Zombie yang kelaparan. Aku bukan Tuhan yang akan baik-baik saja melihat pria yang ku cintai begelora dengan wanita lain’’ sunggutnya
‘’melihatmu seperti ini membuatku takut untuk mengenal apa itu jatuh cinta dan aku berharap tidak akan jatuh cinta’’kata Nancy
‘’terserah kau saja. Apa kau akan mengajakku ke suatu tempat setelah makan?’’ tanya Elvrince.
Nancy tampak berpikir untuk menentukan tempat apa yang cocok untuk suasana hati sahabatnya. Dan ia sudah menemukan tempat yang tepat. Ia menampilkan senyum miringnya. Melihat senyum aneh Nancy tentu saja sesuatu yang konyol dan menyenangkan. Sarapan pagi yang penuh drama itu pun akhirnya selesai.
Keduanya telah siap dengan penampilan, mereka menuruni tangga dengan obrolan ringan dan sesekali di iringi canda tawa. Sesampainya ruang tamu, seruan lelaki paruh baya membuat keduanya berhenti.
‘’apa kau merubah permintaanmu Nona Aurzach?’’
‘’jika Daddy tidak memberikan jalan, tentu aku akan meminta jalan dari paman Edr’’ ucap Elvrince tanpa menghadap ayahnya.
Elvrince melenggang pergi dari ruang tamu meninggalkan Nancy yang terbengong. Sedangkan sang ayah yang mendengar jawaban Elvrince, kedua matanya membulat tak percaya. Untuk pertama kalinya Elvrince membantah ucapannya. Nancy hanya bisa menyatukan kedua telapak tangannya tanda akan permintaan maafnya tidak bisa membujuk pemikiran Elvrince.
‘’aku tidak mau putriku bersedih.aku ingin kau melakukan sesuatu dan turuti permintaannya’’ ucap ibu Elvrince tanpa mengalihkan pandangannya dari arah Elvrince keluar.
''jangan memanjakan dia sayang,kau tau sendiri betapa bahayanya di luar sana’’ jawab ayah Elvrince
‘’aku tidak peduli.gunakan isi kepalamu dan jangan menyentuhku jika kau tak bisa mengembalikan senyum putriku’’ bantah ibu Elvrince sambil beranjak pergi meninggalkan suaminya.
Ayah Elvrince menghembuskan nafasnya kasar. Setuju atau tidak, ia akan lakukan. Istrinya dan putrinya memang pinang dbelah dua, sama-sama keras kepala dan tidak akan ada yang bisa membantahnya.
Kini Elvrince dan Nancy menyusuri sebuah perdesaan yang hijau dan damai, desa yang bersebrangan dengan danau yang indah.tidak heran kawasan ini selalu ramai pengunjung. Selain tempatnya yang sejuk dan indah, para warga memastikan kebersihan. Beruntung mereka berkunjung bukan di akhir pekan. jadi, begitu mereka sampai di tempat tujuan tak banyak orang hanya para fotografer yang datang dari berbagai negara dan para penggemar seni alam lainnya.
Elvrince mulai menghampiri para pedagang makanan satu persatu, berbincang sedikit tentang makanan yang ditawarkan. kehidupan warga yang hidup berdampingan tanpa melibatkan untung rugi dalam segala hal inilah yang selalu memberikan kesan indah untuk Elvrince. Setelah membeli semua makanan yang dijual para warga, Elvrince pun menghampiri Nancy yang sedang berbaring nyaman di bawah pohon beralaskan tikar yang selalu tersedia di mobil.
‘’Nancy...lihatlah apa yang ku bawa’’ teriak Elvrince dengan kedua tangan penuh dengan bungkus plastik makanan dan bermacam-macam minuman.
Suara lantang Elvrince menyadarkan Nancy dari lamunan dan terduduk karena kaget dengan apa yang dibawa Elvrince. Ia memang membiarkan Elvrince berkeliling tempat ini, mungkin dengan begitu dia akan melupakan kesedihannya. Hal yang bisa mengembalikan dunianya hanya memberikan dia berada di dalam kerumunan publik. Jika para gadis kaya raya sepertinya hanya peduli dengan belanja barang-barang mewah tapi lain hal dengan Elvrince. Ia menyukai kehidupan rakyat bawah,mobil mewah pun lebih memilih dari hasil balapan. Sungguh anak konglomerat yang ajaib.
‘’ oh tuhan! Kau membeli camilan atau memborong’’ ucap Nancy yang dibuat menganga dengan makanan yang memenuhi tikar mereka.
‘’aku hanya membeli beberapa dan juga sesuai dengan harga, tapi para pedagang itu memberiku lebih. Rejeki tidak boleh ditolak kan?’’ jelas Elvrince.