Balap Liar

1509 Kata
Mereka berjalan menuju area parkir, ruangan yang sangat luas dan hanya barisan mobil mewah yang berjejer. Di ujung ruangan terdapat tangga naik untuk menuju ke rooftop. Mengingat kekayaan keluarga Agatha yang bercecer ke berbagai belahan dunia, di manapun mereka punya mansion pasti memiliki fasilitas lengkap dan mewah. Lima belas menit mereka berputar area memilih kendaraan mana yang akan dipakai. Tidak lama kemudian sebuah mobil dari sudut ruangan mulai bergerak menelisik mencari ke dua temannya. Elvrince yang sudah menemukan mobil yang pas untuknya. Tak lama dua mobil dari arah samping kanannya menghampiri, ketiga mobil sport dengan modifikasi khusus mulai bergerak keluar dari area parkir menuju gerbang utama. ketiga mobil itupun melesat keluar dari area Mansion, jarak mansion ke area padat penduduk lumayan jauh. Samping kanan dan kiri hanya pohon pinus yang berjajar dan hanya lampu remang yang menerangi sepanjang jalan. beberapa menit kemudian mereka memasuki area padat penduduk, perkampungan kecil dengan penduduk yang cukup ramai. Ada yang saling memberikan sesuatu kepada tetangga sebelahnya, mengadakan makan malam di depan rumah, bercengkrama dengan warga lain, suasana inilah yang Elvrince impikan. Berbaur dengan semua orang, bertukar cerita dengan camilan ringan atau sekedar minum teh bersama. Sepanjang perjalanan Elvrince terus menikmati pemandangan kota , setiap sudut yang ia lalui begitu indah akan kesibukan orang. Dari para pengantar makanan online,rumah makan yang begitu ramai pengunjung, segerombolan muda mudi yang tertawa riang, ada juga pasangan kekasih yang duduk di bangku sambil menikmati ice cream. “Kenapa hidupku berbeda,aku juga ingin seperti mereka yang bebas bergaul. Hidup terlalu kaya ternyata membosankan juga” gumamnya sambil tetap fokus mengemudi. Ia pun berpikir sejenak dan sesuatu melintas di kepalanya. Yah walaupun sang ayah tidak akan mengijinkan tapi ia harus mencoba meyakinkannya. Bagaimana pun caranya. Hampir kepala dua tapi hidupnya hanya belanja, balapan, belajar. Hidupnya benar-benar mengerikan,serasa abu-abu saja. ‘’apa yang tidak mungkin,daddy akan menuruti kemauanku. Jika tidak, masih ada rencana cadangan yang tidak mungkin ia tolak. Cerdas!’’ gumamnya lagi sambil menyunggingkan senyum tipis. Mobil yang ia kendarai kini mulai memasuki kawasan terpencil, beberapa pohon besar yang tumbuh rindang berjejer di sepanjang jalan. Lampu remang di sepanjang perjalanan yang menerangi jalan,meski tempat ini jauh dari peradapan namun lumayan ramai. Karena jalan yang di lalui nya saat ini satu-satu nya jalan menuju satu tempat. Tempat yang tak sembarangan bisa masuk hanya orang-orang yang mempunyai member saja yang di perbolehkan masuk atau booking online di website jika tidak memiliki member. Elvrince yang mengemudi dengan pikirannya sendiri harus mengakhiri rencananya dalam otak untuk sementara waktu, karena kini ia sudah sampai di gerbang utama Dragon Light. Beberapa mobil mewah dengan modifikasi yang menakjubkan berjajar untuk memasuki area satu per satu. Saat dirinya dengan santai mengantri dan mulai menjalankan maju mobilnya, sebuah mobil Ferrari yang luar biasa menakjubkan menyalip dan masuk ke antrian depannya. Jika saja dia menjalankan sudah pasti bagian depannya akan penyok. ‘’oh shiit! ‘’ umpatnya ‘’jika dia ikut balapan, akan ku habisi dia’’ desisnya sambil menyunggingkan senyum miring. Meski ia begitu jengkel dengan pemilik mobil tadi, ia harus tetap menjaga auranya yang dingin. Ia harus tetap fokus dengan pertandingannya malam ini. Dan pastinya harus menderek satu mobil mewah milik peserta untuk mengisi koleksinya. Sisi inilah yang membuat nya bahagia. Ia pun bergerak masuk setelah menunjukkan kartu gold-member pada penjaga gerbang. Mengintari taman depan bangunan yang sekilas seperti mansion lalu menuju arah jalan samping bangunan, perlahan ia memasuki lapangan luas dan menuju area parkir yang dikusus untuk para pembalap. Ia pun mematikan mesin mobilnya dan meraih topi putih yang tertulis brand terkenal juga meraih kaca mata hitam dari dashbord lalu menenggerkan sekilas ia memandang penampilanya dari spion atas. Ia pun segera keluar mobil, tepat ia menutup pintu mobil,Ferrari yang tadi menyerobot terparkir disampingnya yang artinya si pemilik juga mengikuti pertangdingan. Kini senyum licik tercetak di di bibirnya. Segera ia melangkah mencari ke dua temannya ‘’kemana saja kau! Bukankah tadi kau dibelakangku’’ omel Nancy ‘’ada Ferrari sialan yang menyelip ke depanku’’ jawab Elvrince Seorang pria tampan dengan setelan mahalnya berdiri di atas podium menjabarkan ketentuan apa saja dan syarat apa saja yang wajib di ketahui para peserta dan jebakan apa yang akan ada di ujung rute sebelum finish. Semau peserta mendengarkan dengan seksama namun tiba-tiba ponsel dalam saku Elvrince bergetar, ia merogoh sakunya lalu ditatap layar benda pipih berbentuk persegi dengan nama Daddy calling. Ia menyingkir dari kerumunan untuk mengangkat panggilan sang ayah, “Hallo Dad..” sapa nya [Hey! Anak nakal. Kemana kau pergi] “Aku pergi ke pekan raya bersama Nancy Dad” jawabnya bohong sambil menggigit bibirnya [Kenapa tidak membawa pengawal? Bagaimana kalau kau terluka, bagaimana jika ada yang mecoba mencelakaimu] rentetan pertanyaan juga omelan sang ayah itu lah yang selalu ia dengar ketika dirinya berada diluar tanpa pengawal. “Aku dengan Nancy Dad, it’s okey. Daddy tidak perlu berlebihan” jawabnya meyakinkan. Terdengar hembusan nafas kasar dan gerutuan dari sebrang, namun masih bisa Elvrince dengar. [Baiklah. Kali ini Daddy kalah] Klik Sambungan telepon berakhir. Elvrince mengangkat sedikit bahunya sambil menggeleng pelan. ‘Aku sudah dewasa tapi kau masih memperlakukan aku seperti anak di bawah umur’ ucapnya lirih sambil berjalan menuju tempat perlombaan tadi. Setelah sampai ia segera menghampiri Nancy dan mendengar penjelasan sang panita yang sempat ia lewatkan. “Nanc...apa kau yakin kita akan menang?” tanya nya berbisik “kita akan menang dengan cara apapun” ujar Nancy yang berbisik disamping telinga Elvrince. Nancy merogoh sesuatu dari balik jaket yang ia kenakan. Sebuah kotak permen ia sodorkan pada Elvrince. ‘’aku kan tidak suka permen’’ tolak Elvrince Nancy memutar bola matanya asal. tanpa ijin Elvrince, Nancy memasukkan kotak itu ke dalam saku jaket Elvrince. Ia mendekat kan wajahnya ke telingan Elvrince. “itu bukan permen tapi pelambat mesin El...” bisiknya pada Elvrinc. Lalu membisikkan lagi bagaimana cara penggunaannya. Seorang panita menyerukan suara nya lantang. Pertanda perlombaan akan dimulai. Para peserta berlari menghampiri mobil masing-masing. Evrince memasang earphone dan menyambungkan kepada Nancy. Ia meneliti mobilnya.dari kaca spion dan sabuk pengaman. Setelah semua persiapan yang di rasa cukup, ia pun menyalakan mesin dan melajukan mobilnya ke area dan menempati posisi. Tak berbeda dengan peserta lain yang sudah siap dengan posisi masing-masing. Semua mata tertuju ke arah depan, tepatnya di tengah jalan. Seorang wanita berdiri dengan membawa bendera, deru mesin yang bersautan hingga suara tembakan bebas terdengar memekakkan telinga bersamaan dengan jatuhnya bendera yang di pegang wanita tadi. Para peserta melaju dengan kecepatan penuh. Saling menyalip dan menghalangi peserta lain untuk mempertahankan posisi. Tikungan demi tikungan berjalan mulus dan kini lima tikungan tersisa dan tempat ini lah akan ada exsekusi peserta. Dor! Dor! Dor! Tiga tembakan yang entah dari mana sudah mengenai ban mobil peserta. Kecelakaan beruntun pun tak terelakan. Beruntung Elvrince dan Nancy bersembunyi diantara pembalap. sehingga, begitu exsekusi mengenai sasaran ia segera menghindar. Walau tadi sebuah mobil sempat berguling di depan nya, ia mampu membelokkan mobilnya ke jalur aman. Yah, meski harus menerobos semak-semak. Kini tinggal mobil yang tersisa. Masih 2 tikungan yang tersisa. “Nanc...apa kau mendengarku?” panggil Elvrince melalui alat yang terpasang di telinganya. “Iya” jawab nya singkat. “Ferrari sialan itu berada di belakang kita” peringat Elvrince “Sialan! “ umpat Nancy sambil melihat kaca spion nya atas “kau pertahankan posisimu Nanc! Aku akan menghabisi Ferrari sialan itu.” Ucap nya. Seketika ia ingat saat di gerbang masuk tadi. “Tidak! Mobil mu tidak cukup kuat untuk membenturkan ke tebing” cegah Nancy “aku tidak akan mati Nanc. Hanya mobil mu yang akan babak belur” jawab nya enteng “Ingat Prom dan gaun indah El...” Nancy coba mengingatkan. Karna bukan tidak mungkin jika sahabat nya itu akan nekat. “aku tidak menginginkan tahta itu Nancy. Aku mau mobil dia. Buat aku pamerin di Prom” Elvrince yang mencoba bernegoisasi. “percaya padaku El...kalau kau menang, akan ku ambil kan untukmu” jawab Nancy meyakinkan. Tanpa menunggu jawaban Elvrince, Nancy merogoh kotak permen dari saku nya. Lalu membuka penutup kecil yang berada di dekat kemudi. Ia memasuk kan butiran-butiran kecil yang ada di dalam kotak ke dalam lubang yang tadi Nancy buka tadi. Setelah selesai, ia mengurangi kecepatan sedikit untuk berada di belakang Elvrince. Ia terus mengahalangi mobil Ferrari itu, dan sesekali mobil itu menabrak bagian belakang mobil Nancy. Persaingan semakin memanas saat tinggal satu tikungan lagi. Nancy segera mengambil langkah, kini ia bersejajar dengan mobil lawan dan dengan cepat ia menekan tombol khusus. Tepat seperti perkiraannya, butiran itu menempel pada ban mobil. Kecepatan yang tinggi dan pergesekan antara roda dengan jalanan, mempercepat reaksi butiran itu melebur. Butiran yang melebur akan berubah seperti lem. Setelah rencana nya dilakukan, ia segera menginjak pedal gas dalam. Dan tiba beberapa meter garis finish ia bersejajar dengan mobil Elvrince dan mengedipkan mata. Alasan Nancy menembakkan ke roda mobil, di karena kan ia tidak mau usahanya gagal. Jenis mobil modifikasi akan sulit untuk dilumpuhkan. Ia berinisiatif menembak ke roda mobil. Beruntung modifikasi poros roda selesai satu bulan yang lalu. Satu tahun ia dan kakaknya menciptakan senjata cadangan. Menyatukan senjata dengan poros roda. Kemenangan mutlak diraih. Mobil mewah, tahta Dragon Light dan bebas membawa satu mobil dari para peserta.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN