Bab 8. Pindah ke Apartemen

1441 Kata
Arsenio menuntun Diane berjalan menuju mobil. Saat sudah memastikan istrinya sudah masuk ke dalam mobil, Arsenio menunjukkan amarahnya kepada Max. "Ma-maaf, Tuan!" seru Max yang sebenarnya masih tidak tahu apa kesalahannya saat ini. Salah satu orang kepercayaan Arsenio itu menundukkan kepala dan seolah sedang menyesali kesalahannya. Dan untung saja dirinya tidak sempat menyapa istri dari Tuannya itu. andai itu terjadi, pastilah akan ada peluru berdesing dan masuk ke dalam kepalanya. "Aku tidak ingin istriku tahu identitasku! Jangan panggil aku Tuan saat ada dia!" bentak Arsenio lagi semakin murka. "Ba-baik, Tuan," sahut Max semakin menundukkan kepalanya. Bahkan saat ini dagunya sudah menyentuh lehernya yang berurat. "Sekali lagi kau buat kesalahan, akan ku pastikan kau akan memilih sendiri antara Glock atau Raging Bull. Mengerti?!" bentak Arsenio lagi sambil menyebutkan dua jenis pistol kesayangan yang tidak pernah terlepas dari tubuhnya itu. "Bawa barang-barang itu ke apartemen! Pastikan perjalananku tidak ada yang mengganggu!" lanjut Arsenio mengancam Max dan Arsenio terlihat tidak main-main dengan ucapannya. "Siap, Tuan!" jawab Max tanpa berani mendongak barang satu cm pun. Dalam perjalanan, Arsenio tampak masih sangat kesal dengan Max, namun di waktu yang sama lelaki itu juga bingung bagaimana dia akan menyikapi istrinya andai gadis itu bertanya. Ah, tentu saja dia akan bertanya. "Kak," tegur Diane berusaha menahan diri untuk tidak membuat suaminya marah. Entah kenapa Diane seperti telah mengenal suaminya dengan baik. Saat dia akan mengucapkan sebuah kalimat, ada rasa hati-hati agar tidak mengucapkan kalimat yang salah. "Ya?" sahut Arsenio sesekali menoleh kemudian kembali fokus dengan kemudinya. Dalam hati lelaki itu mulai bergetar. Pasti gadis ini akan menanyakan soal mobil mewah yang saat ini mereka kendarai. "Aku ingin bertanya suatu hal," beri tahu Diane terdengar menggantung. "Katakan!" Jelas Arsenio sedang mempersiapkan diri untuk banyak pertanyaan yang mungkin akan dilontarkan oleh Diane, istrinya. "Emm, kita ini sebenarnya kenapa pindah? Apa ada masalah sama pemilik rumah?" tanya Diane tampak sangat ragu saat memberikan pertanyaan untuk suaminya. Gadis itu tentu saja tahu kalau suaminya pasti merasa tidak nyaman dengan pertanyaannya itu. Tapi entah bagaimanapun dia berhak tahu, bukan? Arsenio tidak lantas menjawab pertanyaan istrinya. Lelaki tiga puluh tahun itu memilih untuk diam sejenak untuk memikirkan jawaban yang tepat. Berharap istrinya tidak akan pernah rewel dengan apa yang akan menjadi jawaban dari pertanyaannya tadi. "Kita...." "Tidak perlu dijawab kalau Kakak tidak nyaman untuk menjawabnya," sahut Diane memotong pembicaraan Arsenio yang mungkin akan mengatakan alasan kenapa mereka harus pindah. Padahal rumah itu baru dalam hitungan jam mereka tempati. Arsenio kembali terdiam. Tidak berniat melanjutkan ucapannya karena memang menurutnya Diane sudah tidak membutuhkan jawaban itu. Menghela napas lega, Arsenio memutuskan untuk tidak menjawab pertanyaan istrinya. "Good girl. Cukup bersikap baik dan menurut saja kepada suamimu ini. Okay?" Arsenio memilih untuk memberi nasehat untuk istrinya yang sebenarnya masih sangat penasaran. Diane kini terdiam. Benar-benar terdiam karena ucapan suaminya baru saja. Aksen seorang supir tapi terasa seperti orang yang sangat berpendidikan tinggi. Nada bicara yang begitu berkelas. Mobil yang tidak semua orang mampu beli meski memiliki satu gedung pabrik pupuk pun tampak sangat bersahabat dengan suaminya. Mengemudikan Porsche tanpa rasa kaku atau canggung. Terlihat seperti sudah terbiasa. Hal itu tidak lepas dari pemikiran Diane yang kini mencengkram sabuk pengaman yang terpasang di dadanya. Setelah melakukan perjalanan yang hanya membutuhkan waktu tiga puluh menit saja karena super car milik Arsenio sangatlah sepat. Keduanya saat ini telah sampai disebuah apartemen yang sangat mewah. Namun tidak seperti saat tiba di Rumah Indah, kini Diane memilih diam dan bersikap biasa saja. Tidak ingin banyak tanya atau menunjukkan rasa penasarannya soal bangunan yang tampak sangat berbeda dari sebelumnya ini. "Ini tempat tinggal sementara kita." Arsenio duduk di sofa yang harganya puluhan ribu dollar, namun tentu saja Diane tidak menyadari akan hal itu. Sementara Diane terdiam sejenak baru melangkahkan kaki dan mendekat ke arah suaminya. "Kenapa jauh-jauh? Kemari!" titah Arsenio pada istrinya yang sengaja menjaga jarak dengannya. Diane menoleh ke arah Arsenio. Tampak lelaki itu berwajah datar tanpa ekspresi apa pun, namun tampak menatapnya begitu lekat. Menepuk sofa samping tempatnya duduk. Seperti terhipnotis, Diane menurut begitu saja. Menggeser tubuhnya ke kiri agar bisa duduk tepat di sebelah suaminya. Terdengar Arsenio menghirup udara sebanyak mungkin kemudian dengan berat menghembuskannya kembali. "Look at me!" Arsenio menarik dagu istrinya agar mereka bisa saling bertatap muka. Sementara Diane masih seperti orang ling lung. Yang ada hanya menurut tanpa bisa menolak atau sekadar memikirkan hal lain. Pikirannya saat ini benar-benar kosong. Hanya bisa menatap Arsenio. Dan hanya Arsenio yang ada di pikirannya saat ini. "Aku minta padamu, tolong hanya dengarkan apa yang aku katakan. Jangan pedulikan apa pun yang ada di depan matamu. Kamu hanya perlu melihatku. Mengerti?" ucap Arsenio terdengar bertuah dan berhasil menembus alam bawah sadar Diane. Kalimat Arsenio seperti sebuah permintaan namun diucapkan menggunakan kalimat perintah. Diane benar-benar dibuat bingung oleh suaminya. Entah apa yang dimaksud oleh suaminya saat ini. Namun yang jelas Diane menangkap makna bahwa dia tidak perlu memusingkan apa lagi mempertanyakan hal yang mungkin menurutnya aneh. Gadis dua puluh satu tahun itu hanya bisa mengangguk. "Ya," jawab Diane tanpa mengalihkan pandangannya yang masih terkunci oleh mata elang Arsenio. Mata yang tidak sama seperti milik orang Los angeles- pada umumnya. Dan itu sangat mengagumkan bagi Diane. Cup! "Nice." Arsenio tersenyum begitu indahnya sesaat setelah mendaratkan ciuman sekilas di bibir istrinya. Namun bersamaan dengan itu juga, Diane kini telah tersadar dari buaian mata Arsenio. Diane merubah posisinya yang awalnya duduk menghadap Arsenio dengan wajah yang mendongak, kini dia tengah berusaha mengondisikan degup jantungnya yang mulai berdetak tanpa aturan di dalam dadanya. Ya, dia tidak pernah melakukan hal seperti ini sebelumnya. Tidak ada teman lelaki. Semua yang dilakukan Arsenio terhadap tubuhnya benar-benar menjadi pengalaman pertama baginya. Diane sangat gugup saat berada di posisi seintim itu bersama Arsenio. Dan itu sangat menyebalkan baginya. "Emm, lalu bagaimana dengan pekerjaanku?" tanya Diane berusaha mengalihkan pikirannya sendiri dengan mempertanyakan status kepegawaiannya kepada sang suami. "Lupakan. Lebih baik kamu masuk kamar, ambil laptop dan segera daftarkan dirimu di universitas terbaik di Los Angeles. Setelah itu lanjutkan istirahatmu," jawab Arsenio kali ini benar-benar tidak mau bernegosiasi. Diane seketika terhenyak. Jadi soal rencana Arsenio yang ingin dirinya melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi itu bukanlah hanya sekadar omong kosong? 'Astaga! Benarkah nasibku akan berubah semakin membaik? Ataukah justru lebih mengerikan dibanding saat masih hidup bersama keluarga Ayah?' gumamnya dalam hati. Banyak pertanyaan di dalam kepala Diane yang masih tidak bisa keluar dalam bentuk kalimat melalui bibirnya. Diane benar-benar mematuhi apa yang dikatakan oleh Arsenio. Yaitu tidak perlu memikirkan hal lain selain Arsenio, suaminya. Tapi bagaimana bisa? Sedangkan apa yang kini di depan matanya justru membuatnya semakin gila untuk bertanya. Ah, entahlah. Diane juga merasa kini Arsenio telah berubah setelah kepergiannya dari rumah pertama yang dia tinggali hanya dalam hitungan jam itu. Arsenio awalnya mempunyai sifat yang lembut, sopan bahkan tidak pernah menatap Diane dengan tatapan tajam seperti beberapa menit belakangan ini. Namun kali ini, semua berubah 180 derajat. Arsenio terlihat sedikit mengerikan. Nada bicaranya pun seolah mampu membuat siapa pun tidak berani membantah setiap kalimat yang dia lontarkan. Diane benar-benar menyadari akan hal itu. Namun pada akhirnya Diane memilih untuk melupakan apa yang ada di dalam pikirannya. Berusaha membuang jauh-jauh ribuan pertanyaan yang terus menguasai isi kepalanya. Berjalan menuju kamar yang ditunjukkan oleh suaminya Diane melihat ke sekeliling kamar utama dalam unit apartemen mewah ini. "Indah sekali," ucapnya saat melihat sebuah lukisan bergambar seorang tokoh yang mahsyur di masyarakat. "Raksasa yang terkenal jahat karena menginginkan cintanya," ucap Diane lagi masih dengan posisi mendongakkan kepala. Melihat gambaran yang terlihat sangat gagah menghiasi dinding tepat di atas tempat tidur, Diane sangat terkagum dengan selera suaminya. Puas menikmati lukisan yang entah siapa penciptanya itu kini Diane mengalihkan pandangannya ke sebuah meja kerja berukuran kecil, Diane melihat apa yang dia cari. Ya, laptop. Menyentuh benda yang terlihat sangat mahal itu, Diane kembali tercengang. Ya, komputer lipat dengan fitur yang lengkap kini berada di tangannya. Dalam hati Diane terus bertanya-tanya soal benda itu. Milik siapa? Apa iya seorang supir membutuhkan benda secanggih ini untuk pekerjaannya? Sepertinya tidak mungkin. Diane terus saja berdebat dengan dirinya sendiri soal apa dan siapa. Namun dari pada memikirkan itu semua, Diane memilih segera menyalakan benda itu dan melakukan apa yang seharusnya dia lakukan. Yaitu mendaftarkan diri di sebuah universitas seperti apa yang telah dititahkan oleh Arsenio. "Kamu harus pilih universitas terbaik di negeri ini. Ambil jurusan bisnis. Dan itu perintah." "Hah? Tapi..." Diane saat ini sedang memilih universitas yang menurutnya bagus namun tidak terlalu mahal. Dia terus membanding-bandingkan biaya antara universitas satu dengan yang lainnya. Awalnya, Diane ingin menjadi seorang dokter spesialis anak, namun dia tahu bahwa biaya fakultas itu tidaklah murah. Saat ini dia sudah sangat bersyukur diberikan kesempatan oleh suaminya untuk melanjutkan pendidikan. Tentu dia tidak ingin terlalu banyak menuntut.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN