Bab 9. Bathtub

1493 Kata
Saat Diane memeriksa rangkaian biaya salah satu universitas swasta, tiba seseorang masuk ke dalam kamar. "Kamu harus pilih universitas terbaik di negeri ini. Ambil jurusan bisnis. Dan itu perintah." Ya, siapa lagi kalau bukan Arsenio. Tampaknya lelaki itu tidak ingin terlalu terlihat miskin di hadapan sang istri. "Hah? Tapi...." "Kamu keberatan?" sahut Arsenio terus menginterupsi. Seolah tidak menginginkan kalimatnya terbantah sedikit pun. "Tidak, Aku hanya mau kuliah di kampus biasa saja. Aku sudah membandingkan biaya dan aku tidak ingin terlalu membebani Kakak," jawab Diane polos. Gadis itu beranggapan bahwa pilihannya kali ini akan didukung oleh sang suami. Namun nyatanya tidak, jelas raut wajah sang suami tampak sangat tidak suka. Menurut Diane, entah di mana dia akan menimba ilmu, bukankah sama saja asal dirinya melakoninya dengan sungguh-sungguh? Arsenio mengerutkan dahi. Sungguh di dalam hatinya ingin sekali berteriak bahwa dia pun mampu membiayai seluruh calon mahasiswa di negeri ini. "Lupakan. Temani aku tidur!" sahut Arsenio tidak ingin banyak bicara. Tampaknya lelaki itu sedang kesal. Berjalan tergesa kemudian menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang berukuran king size. Dan lagi, Diane hanya bisa menurut. Menutup laptop lalu segera mendekat ke arah ranjang. Duduk sambil melamunkan sesuatu. Memunggungi Arsenio yang saat ini sudah berbaring dengan lengan yang bertumpu di dahinya. "Aku bilang temani aku tidur," ucap Arsenio mengulangi perintahnya dengan nada bicara yang menggunakan sedikit tekanan. Diane terhenyak. Kalimat yang baru saja dia dengar sungguhlah terasa aneh. Namun anehnya, dia seakan selalu bisa memahami apa yang sebenarnya diinginkan oleh sang suami. Meski kali ini Diane benar-benar terkejut dengan kalimat suaminya yang menurutnya sedikit kasar dan terdengar sangat otoriter. Kenapa? Ada apa? Alih-alih mengungkapkan apa yang ada di dalam pikirannya, Diane memilih segera mendekat dan ikut merebahkan tubuhnya tepat di samping suaminya. Tidak banyak melakukan pergerakan karena tidak ingin membuat suaminya naik pitam karena tidurnya terganggu. Diane hanya diam sambil memikirkan nasib buruk yang mungkin akan terjadi dalam hidupnya. 'Ya Tuhan, sebenarnya siapa lelaki yang kini tidur di sampingku ini? Kenapa di dalam hatiku terbesit rasa takut? Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa dia berubah?' Diane memejamkan mata, mencoba menenangkan dirinya yang sedang bermanufer dengan keadaan. Hingga sampai terdengar dengkuran halus dari mulut suaminya yang kini sudah tertidur. Diane membuka mata dan menatap wajah lelaki itu lekat. Membayangkan betapa manisnya seorang Arsenio sejak kemarin hingga siang tadi. Namun seolah sikap manis itu telah menguap dan lenyap bersama hembusan nafas si lelaki misterius ini. 'Meski pada akhirnya akan sama menderitanya, itu akan lebih baik karena mungkin ada rasa yang berbeda," ucap Diane dalam hatinya sambil mengagumi wajah tampan sang suami. Meski menurutnya pernikahan paksa ini tidak akan berakhir bahagia, namun setidaknya dia bisa merasakan penderitaan dengan rasa yang lain dari sebelumnya. Entah itu gila atau apa, namun yang jelas Diane merasa dia patut menikmati setiap nasib yang telah digariskan oleh Tuhan padanya. Arsenio bukanlah jenis manusia yang berwajah biasa saja. Nyatanya Tuhan memberikan anugerah wajah yang begitu sempurna. Rahang tegas dengan wajah yang terlihat sangat lembut dan halus, bibir merah ranum, kulit yang tidak terlalu gelap serta yang paling menakjubkan bagi Diane adalah kedua alis sang suami. Hitam lebat. Menurutnya itu sangatlah indah. Dalam perasaan takut akan sikap suaminya, Diane nyatanya masih bisa menikmati keindahan lainnya. Sudah cukup puas menikmati visual sang suami yang tengah terlelap, kini dia merasa kehadirannya sudah tidak dibutuhkan lagi. Diane memilih segera beranjak dari tempat tidur untuk ke kamar mandi. Pengantin muda itu merasa tubuhnya sudah sedikit lengket. Baru satu langkah Diane memasuki ruangan beraroma sangat wangi. Namun mata gelapnya kembali disuguhi pemandangan yang sangat memukau. Dalam hati Diane terus memuji design interior dalam kamar mandi itu. 'Woah, bagaimana bisa sebuah kamar mandi bisa semewah dan sewangi ini ini?' tanya Diane pada dirinya sendiri. Kemudian pandangannya tertuju pada sebuah bath tub dekat dinding transparan di ujung ruangan. Rencana Diane yang awalnya hanya ingin mandi kini seketika berubah. Diane ingin sekali berendam. Karena seumur-umur dia belum pernah melakukannya. Mengisi bath tub dengan air hangat hanya dengan memutar sedikit kran di samping benda berwarna hitam itu, maka air hangat otomatis mengalir dan perlahan memenuhi tempat itu. Tidak mau mengulur waktu lebih lama, Diane bergegas meloloskan seluruh pakaiannya. Perlahan gadis itu melangkahkan kaki untuk masuk ke dalam bath tub. Duduk, lalu menyenderkan kepala sambil melihat pemandangan kota super sibuk di Los Angeles. Muncul lengkungan samar di bibir Diane. Seumur-umur ini adalah yang pertama kali baginya. Apakah ini mimpi? "Tuhan, andai ini hanya mimpi. Aku tidak ingin terbangun," ucapnya sambil memejamkan kedua matanya erat. Diane merasakan tubuhnya sangat nyaman dan tenang. Air hangat yang kini memanjakan tubuhnya sepertinya berhasil melemaskan otot yang tegang karena sikap Arsenio terakhir ini. Namun siapa sangka kalau pada akhirnya kenyamanannya di dalam bak air hangat itu berubah menjadi hal yang sangat mencekam karena kehadiran seseorang di belakangnya. "Kau meninggalkanku sendirian di tempat tidur. Sepertinya kau harus di hukum." Seketika kedua bola mata Diane terbuka begitu lebarnya. Kedua tangannya dengan sangat cepat bergerak ke atas untuk menutupi dua gundukan daging yang pastinya sudah terekspose secara jelas. Kakinya mulai gemetar dan jangan tanya bagaimana kondisi jantung Diane saat ini. Bahkan organ pemompa darah dalam tubuhnya itu seakan ingin sekali melompat keluar dan meninggalkan tubuhnya. Diane terus memejamkan mata dengan tangan yang tidak ingin pergi dari dadanya. Tentu dia sangat mengenali suara berat itu. Ya, siapa lagi kalau bukan Arsenio. Dia bahkan tidak menyadari bahwa suaminya telah datang dan kini sudah berdiri dengan sangat gagah di belakangnya. Gadis itu terus merutuki dirinya sendiri karena lupa mengunci pintu kamar mandi. Namun apa mau di kata. Semua sudah terjadi, dan kini dia harus menanggung akibatnya sendiri. Arsenio berjalan memutar untuk menyalakan beberapa lilin aroma terapi dengan alat pemantik api yang tersedia. Kemudian kembali mendekat dan berjongkok tepat di samping kanan istrinya. "Kau seharusnya membangunkanku, kita bisa bersenang-senang di sini," bisik Arsenio dengan seringai yang membuat Diane ketakutan. Kedua bola mata elang itu terus menatap ke arah dua gunung yang kini ditutupi oleh kedua telapak tangan sang pemilik. Sungguh Arsenio kali ini benar-benar hampir gila saat melihat istrinya tanpa sehelai benang pun sedang berada di dalam air yang jernih. Semua tampak terpampang nyata dan Arsenio sangat menyukainya. "Seharusnya bukan hanya dua benda itu yang kau tutupi. Kecuali kau dengan sengaja agar aku bisa melihatnya," bisik Arsenio lagi. Diane semakin tegang, ingin rasanya dia menghilang dari muka bumi ini. Lagi-lagi dia menyalahkan dirinya sendiri karena terlalu ceroboh. Tangan kiri lelaki itu kini sudah tidak mau diam. Melingkar di leher sang gadis dan membelai wajah ayu yang sedikit basah karena percikan air yang merendamnya. "Lihat aku," titah sang lelaki sambil menarik paksa wajah takut itu agar mau menghadap dirinya. Dalam hati Diane menolak, lehernya pun terasa kaku, mencoba untuk bertahan agar Arsenio tidak berhasil menemukan wajah yang ketakutan itu. Cup! Emhh! Arsenio meraih bibir sang istri dan melumatnya penuh dengan gairah yang kini kian membara. Mengecap, menggigit dan sesekali memainkan lidahnya yang seperti sudah sangat terlatih mempermainkan bibir seorang wanita. Mengabsen deretan gigi sang istri tanpa ada satu pun yang terlewat. Sedangkan sang wanita hanya bisa pasrah dengan apa yang dilakukan oleh suaminya. Diane sungguh tidak pernah melakukan hal ini sebelumnya, tidak pernah. Dan Arsenio adalah pelaku utama dalam menjajah tubuh lugu seorang Diane. Tahu bahwa sang istri sudah hampir habisan oksigen, Arsenio menghentikan pagutannya. Lelaki itu dengan sangat berat hati melepas kenikmatan yang belum pernah dia rasakan sebelumnya. Mencium bibir seorang gadis yang masih sangat lugu bahkan kaku ternyata menjadikan dirinya semakin b*******h. Nafas Diane terengah-engah, saat ini dirinya berusaha meraup oksigen sebanyak mungkin setelah ulah suaminya yang telah berhasil mengendalikan tubuh hingga sistem pernafasan dalam tubuhnya. "Kau suka?" goda Arsenio sambil tersenyum puas. Lain halnya dengan Diane, lelaki itu begitu cepat mengondisikan diri setelah ciuman panas yang baru saja terjadi. Diane hanya terus diam dan semakin menundukkan kepalanya. Gadis itu seperti baru saja tertusuk pedang yang bernama 'malu' hingga menembus jantung. Rasa malu yang rasanya lebih baik mati saja. Sementara Arsenio, dia tidak mau mengulur waktu lebih lama lagi. Secepat kilat dia membuang seluruh pakaiannya. Kemudian turut masuk ke dalam bath tub. Mengangkat tubuh sang istri hanya dengan satu gerakan saja, dan kini posisi keduanya sungguh mengagumkan. Gadis itu memilih tetap memejamkan kedua matanya dengan sangat kuat. Arsenio duduk dengan Diane berada di atas pangkuannya. Adegan yang pasti berhasil membuat Diane terus bergetar karena rasa malu, takut dan entah perasaan apa lagi yang kini menyelimuti jiwanya. "Open your eyes!" desis Arsenio meminta sang istri untuk membuka kedua matanya. Namun Diane justru hanya menggeleng samar dengan kedua tangan masih mencengkram kuat di bagian dadanya. Bahkan kulit mulus berwarna putih s**u itu kini sedikit berubah kemerahan karena ulah pemiliknya sendiri. Arsenio tersenyum dan semakin gemas. Sungguh mempunyai seorang istri adalah hal yang paling tidak bisa dia pikirkan sebelumnya. Terlebih wanita yang saat ini menjadi pendampingnya kini adalah wanita yang tidak pernah mengenal sosok lelaki. Keluguan yang ada di dalam diri Diane adalah hal yang paling disukai Arsenio saat ini. Mempermainkan seseorang yang sedang menahan malu adalah hal yang sangat menyenangkan baginya. "Tanganku bersedia menggantikan andai kau sudah lelah." "T-tidak!" "Tapi aku menginginkannya." "Tolong, jangan!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN