Bab 10. Ditangkap

1542 Kata
Arsenio benar-benar telah hilang akal. Lelaki itu seperti sedang terobsesi dengan tubuh sang istri namun masih sedikit enggan untuk menikmatinya sekarang. Entah apa yang dia inginkan sebenarnya. Kalimat yang dia dengar dari bibir Diane hanya sebatas lewat dan kemudian hilang bersama uap air hangat yang merendam tubuh mereka berdua. "Tanganku bersedia menggantikan andai kau sudah lelah." Dengan lembut namun dengan sedikit paksaan, Arsenio menarik kedua tangan Diane yang kekeh menutupi aset berharganya. "T-tidak!" cicit Diane yang sebenarnya percuma saja melakukan penolakan itu. "Tapi aku menginginkannya." Arsenio akhirnya berhasil mendapatkan tangan yang masih terus mencoba memberontak karena tidak ingin miliknya dilihat apa lagi disentuh oleh Arsenio. Meski dia saat ini adalah seorang istri, namun tentu saja hal ini sangatlah tabu baginya. Tidak terbiasa dan di dalam hatinya hanya ada rasa takut dan malu yang terus menggerogoti jiwa. "Tolong, jangan!" rintih Diane sambil tetap memejamkan mata berharap Arsenio akan mengasihani dirinya. Namun nyatanya harapan Diane tinggalah sebuah harapan. Arsenio sudah tidak dapat lagi mendengar suara kecil Diane. Perlahan tangan Arsenio mulai memainkan dua benda kembar milik istrinya. Memijat, meremas dan sesekali memilin pucuk dari benda milik Diane yang paling sensitif. "Kak," lirih Diane yang kini hanya bisa memasrahkan nasib dirinya di tangan Arsenio. Gadis itu sungguh tidak berdaya. Tanpa gadis itu sadari, air matanya kini perlahan meleleh dan membanjiri wajahnya yang basah. "Hmm, kau hanya perlu merasakannya, Honey. Rasakan dan nikmati saja, right?" balas Arsenio yang kini semakin menggila. Tangan yang awalnya hanya mempermainkan benda kembar milik Diane, kini tidak cukup hanya di sana. Tangan kanan Arsenio membelai setiap lekuk tubuh sang istri dengan cara yang begitu s*****l. Perut rata, pinggang yang tidak terlalu ramping namun juga tidak bergelambir. Sungguh ini adalah bentuk yang paling disenangi oleh seorang Arsenio. Kulit mulus yang membalut seluruh tubuh itu terus dimanjakan dengan sapuan jari kekar sang lelaki. Sementara Diane, meski awalnya dia merasakan sesak dan sakit di dalam dadanya karena perlakuan Arsenio yang menurutnya adalah sebuah pesakitan yang maha dahsyat. Kini gadis yang mempunyai nama lahir Diane Braxton itu seakan turut tenggelam dalam permainan Arsenio. Rintihan kalimat permohonan agar Arsenio menghentikan aksinya, kini berubah menjadi lenguhan yang berhasil memacu adrenalin Arsenio semakin liar dan mengerikan. Lenguhan demi lenguhan yang keluar dari mulut Diane seolah menjadi kayu bakar untuk menyulut api gairah di dalam diri Arsenio menjadi semakin membara. Jemari Arsenio kali ini tidak banyak melakukan pergerakan. Telapak tangan kiri masih dengan lincah mempermainkan dua bukit kembar yang kini sepertinya menjadi bagian favorit baginya. Sementara tangan yang lainnya mulai menyentuh inti tubuh dari gadis itu. Satu kali sapuan, Diane menggelinjang. Gadis itu merasakan tubuhnya tersengat listrik bertegangan tinggi dengan durasi nol koma satu detik. Melihat reaksi sang istri, Arsenio tersenyum puas. Lelaki itu tampaknya tahu bahwa saat ini sang istri sudah benar-benar di bawah kendalinya. Arsenio melakukannya sekali lagi. Namun yang kedua ini dia sengaja menekan belahan itu sedikit lebih dalam. Mata elang Arsenio tidak berpaling sedikit pun dari wajah Diane yang saat ini mendongak bertumpu di d**a kekarnya. Mata terpejam serta mulut yang sedikit terbuka karena terus mengeluarkan suara s*****l. "Aaargh!" Kedua mata Diane terpejam erat saat Arsenio melakukan sentuhan yang ke dua. Melihat bibir yang terus mendesah semakin kuat Arsenio tidak tahan lagi untuk tidak melahapnya. Memiringkan kepalanya, Arsenio memulai inti pemanasan. Terus melumat bibir Diane dengan ganasnya. Kedua tangan yang terus bekerja di dua bagian yang berbeda. Arsenio terus menyapu bagian inti tubuh Diane dengan ritme yang teratur. Tangan kiri tak berhenti untuk memilin, meremas dan sesekali mencubitnya. Dan hal itu sungguh berhasil membuat sang gadis menjadi semakin gila. Merasakan tubuh sang istri semakin menegang. Arsenio semakin mempercepat permainannya di bawah sana. Menggerakkan jari semakin cepat dan lebih cepat lagi. Diane saat ini tidak mampu memikirkan apa pun. Yang ada di dalam jiwanya hanyalah perasaan ingin meledak. Seketika itu juga Diane menarik wajah agar ciuman panas keduanya cepat berakhir. Entah apa yang dia rasakan dia tidak tahu. Seperti akan buang air kecil namun kenapa rasanya begitu dahsyat? Dan pada akhirnya Diane merasakan tubuhnya bagai meledakkan sebuah bom atom dan berhasil memporak porandakan tubuhnya. "Aaarrrgggghhh!" Lenguhan Diane kali ini terdengar seperti teriakan yang melegakan. Ya, gadis itu akhirnya mendapatkan puncak kenikmatan dunia meski hanya dengan jemari seorang Arsenio. Sementara si lelaki, dia benar-benar puas mempermainkan tubuh gadis lugu itu. meski terkesan jahat, namun Arsenio melakukannya bukan karena ingin mempermalukan Diane atau hal buruk lainnya. Justru Arsenio turut senang akhirnya sang istri merasakan bagaimana nikmatnya b******a dengannya. Meski saat ini hanya dengan sapuan jari yang kurang ajar, namun ini cukup bisa membuat Diane berlatih untuk permainan yang sesungguhnya di lain waktu. *** Di sebuah gedung perwakilan rakyat, tepatnya di pusat ibu kota Los Angeles. Banyak para reporter sedang memburu berita yang baru saja rilis. Para pemburu berita itu rela menunggu dan mengantre di sebuah gedung yang luar biasa megah itu. "Saya tidak melakukan hal yang menjijikan itu!" bentak seorang lelaki dengan tubuh gempal serta rambut yang sudah sepenuhnya memutih. "Silakan anda sampaikan semua keterangan yang menurut anda benar di Lembaga Pemberantasan Korupsi," ucap salah seorang yang sepertinya pemimpin dari pasukan yang berniat mengamankan lelaki bertubuh gempal itu. "Siapa namamu?" tanya lelaki yang berambut putih meraih name tag yang bergantung di leher sang pemimpin pasukan. "Anda bisa membaca cepat, kan?" ledek pria yang bernama Dave. Lelaki itu rupanya adalan kepala divisi operasi tangkap tangan dalam lembaga pemberantasan korupsi di kota Los Angeles. "Akan ku ingat namamu. Akan ku pastikan juga kalau aku tidaklah bersalah. Setelah itu tunggu saja kehancuranmu, Tuan Dave yang sok paling berkuasa," desis lelaki tua itu. "Pak Jordy, lebih baik simpan tenagamu untuk pemeriksaan yang lebih lanjut di kantor kami nanti." Kemudian para aparat bertubuh besar kembali mendekat untuk menyekap kedua tangan lelaki tua yang bernama Jordy itu. Membawa paksa Jordy menuju keluar untuk mereka bawa ke gedung berwarna merah milik Lembaga Pemberantasan Korupsi. Sampainya di luar gedung, tentu saja para pemburu berita itu langsung menyerbu pasukan yang sedang membawa Jordy dengan tangan yang di gapit dua aparat bertubuh besar di kanan dan kiri tubuhnya. "Pak Jordy! Bisa anda ucapkan satu kata saja untuk penjemputan anda kali ini?" "Pak Jordy? Apa benar anda melakukan korupsi dana bantuan sosial untuk korban gempa bumi di bagian timur negara Amerika?" "Pak Jordy! Beri sedikit saja jawaban, Pak!" Teriakan demi teriakan dari reporter satu dengan yang lainnya terus menggema di halaman gedung perwalian rakyat kota Los Angeles. Namun Jordy tampaknya sangat enggan untuk menjawab. Lelaki itu sepertinya sedang memikirkan sesuatu untuk kasus yang menimpanya saat ini. Sampai di sebuah gedung yang tidak kalah megahnya, Jordy tampak sangat gelisah karena sebentar lagi dia akan diinterogasi oleh penyidik. Dalam hati lelaki yang sudah tidak lagi pantas dikatakan muda itu merutuki pengacaranya yang tak kunjung datang untuk melakukan pembelaan atas dirinya. Hingga satu jam pun berlalu, seorang lelaki muda dengan balutan jas mahal kini datang membawa koper jinjing di tangan kanannya. "Kenapa kau lama sekali! Sialan!" umpat Jordy kepada lelaki itu yang ternyata adalah Damian Dustin. Damian adalah seorang pengacara kelas atas dan sekaligus pemilik firma hukum terbesar di Los Angeles yang bernama DD Law. "Apa anda tidak sadar diri bahwa anda saat ini sedang menjadi trending topik di seluruh sudut negara ini? Bahkan aku sampai kesulitan membungkam seluruh media di negeri ini hanya demi kau!" balas Gery mencibir klien langganannya itu. "Tidak perlu banyak bicara! Segera hubungi Tuan Justin! Aku tidak mau di sini!" perintah Jordy berbisik di telinga Damian namun tentu tidak mengurangi sedikit penekanan dalam ucapannya. "Kau yakin kali ini dia akan mengampunimu?" "Tentu saja, Damian. Aku yakin hanya dia yang bisa menolongku." "Kau terlalu percaya diri." *** Setelah puas bermain dengan tubuh lugu istrinya, kini Arsenio membiarkan Diane tidur untuk beristirahat. Gadis muda itu tidak mengucapkan sepatah kata pun setelah kejadian di kamar mandi sekitar satu jam lalu. Tentu saja dia sangatlah malu dan rasanya ingin mati saja. Diane mengingat saat dirinya dengan sangat lantang mendesah merasakan nikmat hanya karena sentuhan jari. Bukankah itu sangat memalukan? Diane terlihat tidur begitu pulas. Masih dengan jubah mandi putihnya, Diane sungguh tidak terpikirkan lagi untuk sekadar mengenakan pakaian. Sementara Arsenio memilih menikmati sampanye mahal kesukaannya. Sama halnya dengan Diane, Arsenio saat ini pun masih mengenakan jubah mandinya yang berwana senada dengan sang istri. Teringat akan suatu hal, Arsenio meraih ponselnya. Mengetik sebuah pesan untuk ayah mertuanya. Meminta maaf karena tidak sempat memberi kabar lebih awal bahwa dirinya telah sampai di tempat tujuan. Meski dirinya tidak akan menceritakan soal rumah indah apa lagi apartemen mewah ini, tetap saja Arsenio akan mengatakan hal yang melegakan untuk keluarga Diane. Baru saja Arsenio selesai mengirimkan pesan, tiba-tiba ponsel mahal dengan tiga kamera di belakang itu berdering. Tanda sebuah panggilan masuk, Arsenio dengan malas mengangkat panggilan itu. "Hmm!" sambut Arsenio sangat enggan sekali berbicara. "Tuan, ada masalah besar di gedung Perwakilan Rakyat." "Ada apa?" "Jordy kembali melakukan kesalahan, Tuan." "f**k! Apa katamu?" "Jordy kembali tertangkap lagi, Tuan. Dan kini sedang menjalani proses interogasi." "Bunuh saja dia. Aku tidak butuh manusia bodoh seperti cacing tanah itu! Siapkan calon ketua Dewan Perwakilan Rakyat yang baru dan suruh Damian menghadapku!" Sesaat setelah menerima panggilan dari seseorang yang mengabarkan soal Jordy, Arsenio bergegas mempersiapkan diri untuk segera pergi. Berjalan tergesa menuju walk in closet, Arsenio masih belum sadar bahwa saat ini ternyata Diane tidaklah benar-benar tertidur. Gadis yang baru saja menemaninya berendam itu masih merasa malu dan terus berpura-pura tertidur.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN