Bab 11. Kemarahan Arsenio

1543 Kata
Arsenio mengenakan kemeja berwarna putih serta jas warna hitam yang diciptakan oleh desainer terkenal di Paris. Tidak lupa jam tangan rolex yang harganya fantastis saat ini melingkar begitu cantik di pergelangan tangannya yang kekar. Selesai dengan penampilannya yang paripurna, Arsenio berhenti sejenak di samping ranjang tempat di mana istrinya sedang pura-pura tertidur. Menatap wajah yang tampak masih pucat saat ini tengah memeluk guling begitu eratnya. Dan dari situlah baru Arsenio menyadari bahwa sebenarnya saat ini dia telah dibohongi oleh Diane. Ya, Arsenio tahu bahwa sebenarnya sang istri tidaklah sedang tertidur. Hanya pura-pura tidur. "Aku akan pergi sebentar, ada hal sepele yang harus aku selesaikan." Sambil melihat reaksi Diane yang semakin menguatkan cengkramannya, Arsenio mengangkat salah satu sudut bibirnya. "Buka matamu atau akan kulakukan hal yang sama seperti satu jam yang lalu," ancam Arsenio pada istrinya yang terus berpura-pura tertidur. Dalam hati Diane merasa ragu. Apakah benar suaminya itu tahu bahwa sebenarnya dia hanya berpura-pura? Atau dia hanya mencoba menebak saja? Hingga beberapa saat Diane masih enggan membuka matanya. Gadis itu mengira sang suami telah menyerah dan akan segera pergi seperti yang baru saja dia katakan. Namun ternyata salah. "Okay, aku anggap kau benar-benar menginginkan permainan yang sesungguhnya hari ini," ucap Arsenio sambil mendekatkan wajahnya di wajah Diane yang kini sudah semakin terlihat sangat panik. Kedua bola matanya yang tertutup kini semakin terlihat jelas bergerak-gerak ragu apakah dia harus membuka mata atau tidak. "Mari kita mulai, aku yakin kau akan semakin menyukainya," desis Arsenio tepat di telinga sang istri. Saat ini kedua tangannya dengan gagah menggamit tubuh Diane seperti seekor singa yang akan menerkam mangsanya. "Tidak, aku mohon!" cicit dengan nada yang tertahan. Perlahan kedua bola matanya terbuka. Menatap wajah sang suami yang kini sudah sangat dekat dengannya. Mungkin hanya berjarak sekitar satu cm saja. Diane sejak tadi merasakan hembusan nafas yang terasa hangat beraromakan mint yang sangat menyegarkan. Dan saat ini dia telah membuka matanya dengan sempurna. Menatap kedua bola mata elang sang suami yang sedang menatapnya begitu tajam. Seketika tubuh Diane kembali bergetar. seolah jarak yang sangat dekat itu mampu menyalurkan energi listrik yang sangat luar biasa ke dalam setiap aliran darahnya. Arsenio tersenyum licik. Lelaki itu ingin sekali menjahili istrinya lagi. Melihat pipi Diane bersemu kemerahan sungguh membuatnya semakin gemas. "Aku akan pergi. Seseorang akan mengirimkan makan malam untukmu. Aku juga sudah menghubungi Ayahmu," beri tahu Arsenio menyebut Lucas sebagai ayah Diane saja. Seakan dia tidak menganggap bahwa Lucas adalah ayah mertuanya. "A-ayahmu?" beo Diane membelalakkan kedua matanya. Tidak menyangka bahwa Arsenio tidaklah sesopan yang dia lihat sebelumnya. "Ya, ayahmu. Karena ayahku tidak sejahat dia yang rela membuang anak gadis demi nama baiknya." "Aku akan terlambat. Akan ada penjaga di depan pintu unit ini. Jadi jangan macam-macam," lanjut Arsenio terlihat sangat biasa saja. Tidak merasa bersalah sedikit pun, Arsenio dengan percaya diri mengakui bahwa dia tidak ingin menyebut Lucas sebagai ayahnya. Mencium kening sang istri sekilas, juga mengusap pucuk kepala sang gadis sebagai isyarat bahwa dia akan segera pergi. Hingga Arsenio kemudian pergi meninggalkan Diane seorang diri di kamar yang sangat luas dan mewah itu. *** Di sebuah bangunan yang tidak terlalu besar di pinggiran kota, beberapa penjaga saat ini sedang berdiri di depan pintu masuk. Terlihat sangat sederhana namun memiliki sistem keamanan yang sangat luar biasa. Arsenio yang baru saja tiba disambut dengan begitu hormat oleh para penjaga tersebut dengan cara membungkukkan tubuh mereka. Arsenio memasuki bangunan itu. Dan ternyata sudah banyak orang yang saat ini tengah menunggu kehadirannya. Mulai dari usia yang paling muda hingga orang yang tidak lagi berambut hitam karena uban, dengan gelisah menunggu kedatangan seorang Arsenio. Seluruh petinggi negara yang berjumlah sembilan orang itu serentak menundukkan tubuh mereka sebagai tanda hormat atas kedatangan Arsenio Christopher Alexander. Berharap kali ini mereka masih bisa selamat berada di kedudukan mereka masing-masing dalam pemerintahan. Design interior ruangan itu tampak seperti sebuah bar. Ya, itu memang bar. Hanya saja tidak ada musik atau suara apa pun di dalam sana. Itu karena Arsenio tidak menyukai kebisingan. Dengan tatapan dingin, Arsenio tetap berjalan lurus menuju meja bartender seolah dia adalah seorang lelaki penjual minuman di dalam bar itu. Arsenio melepas jas mahalnya. Seseorang dengan sigap meraih jas itu seperti sebuah patung tempat menggantungkan pakaian. Menggulung kemeja putih miliknya, Arsenio benar-benar akan membuat sebuah minuman. Dengan tangan yang sangat terampil, Arsenio menyuguhkan satu gelas minuman berwarna coklat terang lengkap dengan es batu yang dia pahat sendiri sebelumnya. "Come on! Kenapa muka kalian tegang begitu?" tanya Arsenio memecah keheningan malam. Namun sangat aneh. Orang-orang berpakaian rapi nan mahal itu tidak tampak senang dengan kalimat yang baru saja terlontar dari mulut Arsenio. Justru mereka tampak semakin tegang dan gelisah. Tampaknya mereka semua sedang menyesali sebuah kesalahan. Arsenio tersenyum angkuh. "Jordy. Si tua bangka itu akhirnya tahu bagaimana akhir dari mulut yang rakus. Kalian ingin sepertinya?" tanya Arsenio menatap nyalang ke arah petinggi negara yang tengah menunduk karena takut itu. "Tidak, Tuan!" seru orang-orang itu secara bersamaan. "Alvian!" seru Arsenio sambil menggerakkan ujung telunjuknya maju mundur. Menandakan itu adalah sebuah perintah agar orang itu duduk berseberangan dengannya. Lelaki berusia sekitar lima puluh tahun itu berjalan perlahan menuju meja bar, meja milik Arsenio. Arsenio Sang penjual minuman. Arsenio mendorong gelas berisi minuman coklat dingin itu sedikit lebih dekat. Alvian tahu maksud dari Tuannya itu. Ya, lelaki itu harus meminumnya. Sebagai tanda hukuman bahwa dirinya baru saja melakukan kesalahan. Dengan cepat Alvian menenggak minuman itu dan akhirnya lenyap hanya hitungan detik. "Kau tahu kesalahanmu?" tanya Arsenio tersenyum dengan smirk iblis menatap lekat wajah keriput itu. "Tahu, Tuan." Alvian tidak berani sedikit pun membalas tatapan Arsenio. Aura Arsenio benar-benar mengerikan saat sudah membuat satu gelas minuman. "Apa?" "Harusnya saya menyingkirkan Jordy sebelum hal ini terjadi. Saat ini kejaksaan tengah menyelidiki seluruh aliran dana yang keluar masuk di setiap rekening milik Jordy. Maafkan saya, Tuan. Saya bersalah." Semakin menundukkan kepala, Alvian sang pemimpin seluruh jaksa di kota Los Angeles itu benar-benar menyesali kesalahannya. "Lalu menurutmu apa yang harus kau lakukan?" Alvian semakin menunduk dan tidak dapat memberikan jawaban atas pertanyaan tuannya. Dan tentu saja hal itu membuat Arsenio terlihat semakin marah. "Paul!" panggil Arsenio sambil kembali meraih es batu untuk dia pahat kemudian akan membuat satu gelas minuman lagi. Lelaki yang mempunyai usia hampir sama dengan Arsenio itu berjalan tergesa mendekat menuju meja bar. "Apa kabar di bagian kepolisian?" tanya Arsenio. "Masih aman, Tuan. Saya akan pastikan kasus Jordy tidak akan menyenggol Kepolisian Los Angeles dan tentunya itu tidak akan mengganggu anda." Braakk!!! Seketika tangan kekar milik Arsenio menggebrak meja bar. Hingga dua gelas minuman di atasnya turut bergetar dan menciptakan gelombang yang melingkar. "Apa kau bilang? Tidak menggangguku? Kau pikir aku bodoh atau apa?" bentak Arsenio kini sudah hilang kendali. Paul seketika turun dari tempat duduk kemudian berlutut di hadapan banyak orang bersimpuh menghadap meja bar di mana Arsenio ada di sana. "Ampun, Tuan. Saya terlalu bodoh untuk tidak mengetahui bahwa ada kekeliruan dalam kinerja saya," sesal Paul. Lelaki itu sangat ketakutan kedua tangannya mencengkram erat kedua lututnya yang saat ini masih menempel di ubin warna hitam yang sangat dingin itu. Arsenio tertawa jahat. Menatap nyalang tubuh Paul yang masih berlutut, Arsenio sangat marah karena Paul tidak menyadari apa kesalahannya. "Kau tau? Wanitaku hampir mati karena anak buahmu tidak becus menjaga rumah indah saat aku pergi! Kau bilang kau ingin menjadi Jenderal bintang lima?" Paul sang Jenderal bintang dua termuda sepanjang sejarah di kota Los Angeles itu menengadahkan wajahnya. "T-tuan? Benarkah itu? Kalau begitu bunuh saja saya, Tuan! Saya akan sangat bangga andai peluru dalam Glock ini bersarang di jantung saya melalui tangan agung anda !" Sambil mengeluarkan pistol Glock miliknya, Paul benar-benar menyerahkan nyawanya kepada Arsenio. Polisi berbintang dua itu sangat menyesal karena tidak bisa menjaga wanita dari tuannya. Arsenio berdecih, lelaki itu kembali memahat sebongkah es batu di tangan kirinya tanpa alas apa pun. "Kau masih sangat setia sekali. Tapi sungguh sayang, kau tidak mampu melindungi keluargaku." Sambil meraih gelas dan menuangkan minuman beserta pahatan es batu, Arsenio menatap tajam ke arah Alvian yang masih duduk membeku karena tidak tahu apa yang harus dilakukan. Seketika, Alvian semakin menundukkan kepala meski sebenarnya lehernya sudah mulai terasa kebas. Sementara Paul masih dengan posisi berlutut dengan Glock yang dia junjung tinggi di kedua telapak tangannya. "Kemari!" "Siap, Tuan!" sahut Paul mulai pasrah. Mengira mungkin hari ini adalah benar-benar hari terakhirnya berada di dunia ini. "Cari seorang pengantar makanan yang pernah datang ke rumah indah dan bawa dia ke sini." Paul terkejut dengan apa yang baru saja dikatakan oleh Arsenio. Apa dia salah dengar? Lelaki itu tidak jadi menembaknya? "A-anda masih mempercayai saya, T-tuan?" tanya Paul tidak percaya. Sampai-sampai suaranya terbata saat menanyakan kepastian perintah dari Arsenio untuknya. "Pergilah, bawa penjual ayam itu kemari hidup-hidup!" "Besok pagi akan saya seret dia ke sini, Tuan." Arsenio menoleh sekilas ke kanan, tanda bahwa Paul boleh pergi meninggalkan tempat itu. Kini masih tersisa delapan orang petinggi negara yang salah satunya adalah paling sial yaitu Alvian. Pak tua itu sungguh tidak diberi kebebasan untuk bernafas sedikit pun. Dadanya seperti terasa sesak, memikirkan andai jabatannya akan di copot. Sementara tujuh orang lainnya adalah para menteri kabinet yang seharusnya dia mengabdi dan membantu pekerjaan presiden. Namun mereka lebih memilih untuk mengabdi kepada Arsenio. Karena mereka yakin pengaruh Arsenio lebih besar dari pada presiden. Jelas saya, bahkan bisa dikatakan Arsenio adalah pemilik hampir seperempat lahan di kota Los Angeles.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN